Jual Daster Batik

Jual Daster Batik

Strategi Sales Memikat Konsumen Rumahan



Bagi ibu-ibu rumah tangga, kayaknya udah punya pengalaman didatangin sales ke rumah-rumah ya. Biasanyanya nih sales panci, kosmetik, dan makanan. Para sales ini umumnya juga memakai rumah ibu-ibu sebagai tempat untuk demo. Yang rada nyebelin menurut saya sih, nggak jarang mereka sekaligus meminta ibu yang rumahnya ketempatan untuk  mengajak tetangga lainnya datang,  menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan, plus membersihkan sendiri begitu habis dipakai.

Kalau ada fee atau komisi beberes dan mengajak orang-orang, saya rasa, ibu-ibu tidak keberatan. Hehe itung-itung nambah uang belanja. Tetapi, kalau cuma say thank you, hmm jadi mikir lagi. Makanya sekarang, saya bisa paham alasan ibu-ibu banyak yang nolak ketika ada sales panci, kosmetik, atau jualan resep makanan yang nawarin "kerja sama" menguntungkan sebelah pihak. Belum lagi, kadang-kadang karena rasa nggak enak yang beli tidak ada, yang empunya rumah jadi terpaksa membeli. 

Menyiasati penolakan ibu-ibu, rupanya para sales produk rumahan ini nggak patah arang loh. Mereka terus gencar menelurkan strategi baru yang lumayan membuat kita terkelabui. Hhee jadi senyum sendiri nih membayangkan pengalaman didatangin sales  beberapa waktu lalu.

Suatu siang, sekitar pukul 12-an, pagar rumah saya diketuk seorang lelaki bertopi dan berpakaian kemeja hitam. Tersenyum manis, lelaki berumur sekitar 25 tahunan itu mengaku sebagai koki restoran yang mau ngetes resep masakan ayam kremes. Katanya, dalam waktu dekat, di daeah GIANT Metland Cilengsi akan dibuka restoran baru yang bernama Kee-Zu. Aku nggak tahu ejaan pastinya. Kata dia, ini restoran ayam kremes terkenal di Bandung. Mungkin teman-teman ada yang tahu ?

Jadi, dalam rangka perkenalan restoran baru itu, dia ditugaskan untuk mengetes rasa ayam kremesnya kepada penduduk sekitar. Asyik dong dikasih ayam..Hmm logikanya sih begitu ya. Tapi, rupanya, dia hanya memasakkan saja. Ayamnya kita yang menyediakan, plus minyak gorengnya. Dia yang menyiapkan tepungnya dan perangkat memasak. Dia juga tidak meminta kita untuk mengajak tetangga lainnya. Cuma keluarga sendiri. Berkali-kali dia menekankan bahwa ini hanya coba resep saja, enak atau tidak. 

Hmm..tapi aku tetap belum yakin, masa sih nggak ada embel-embel lagi. Ehh akhirnya dia bilang, nanti akan diberikan sepotong ayam gratis. Karena saya ragu, akhirnya saya tolak. "Lain kali aja ya mas. Lagipula kami jarang di rumah. Nanti deh kalau restorannya buka, kami akan berkunjung. Kebetulan anak saya suka makan ayam," tolakku halus. Aku lihat kekecewaan di wajahnya. "Coba mas ke Ibu RT aja ya. Biasanya ibu RT suka mengadakan banyak kegiatan. Kan lebih seru kalau resep mas dirasakan banyak orang," Dengan wajah tak ceria, akhirnya dia ngeloyor pergi. 

Dua hari kemudian, selepas maghrib ibuku menyampaikan, besok ada restoran yang ingin promosi resep ayam. Aku diminta membeli seekor ayam. "Loh Ma, itu bukannya kemarin udah ika tolak ?" tanyaku. 'Yang ini beda kayaknya. Perempuan orangnya, dia mau bagi-bagi ayam juga" jawab ibuku. Tapi feelingku mengatakan itu orang yang sama atau dari perusahaan yang sama. Ya udah deh nggak papa, itung-itung dimasakin ayam.

Pukul 11:00 kami sudah menyiapkan ruangan. Kebetulan, mobil dibawa suami kerja sehingga garasi bisa kami sulap jadi dapur. Yang ditunggu datang, tapi tidak membawa perangkat masak seperti yang dijanjikan melalui ibuku. "Ibu mohon maaf ya, hari ini kami masak di banyak tempat, jadi kompornya masih dipake ditempat lain. Boleh nggak kami meminjam kompornya ?" tanya seorang wanita berkerudung dengan halus. Aku melihat dari jendela kamar. Hehe rupanya ia ditemani dengan lelaki yang pernah menemui aku beberapa hari lalu.

" Wahh, nggak bisa mba. Kan perjanjiannya Mba bawa kompor sendiri," jawab ibuku. Akhirnya, disepakati lagi, jadwal memasak dimundurkan pukul 14:00 demi menunggu kompor. Tetangga  yang sejak pagi sudah diworo-woro ibuku agar datang, pulang lagi. Wah...ibuku cukup berhasil merayu sebagian besar tetangga hadir.

Pukul 14:00 kurang, perempuan berkerudung itu sudah datang dengan membawa perangkat memasak lengkap : kompor gas portable, panci dan sekardus peralatan memasak (panci, penggorengan, irus dan sebagainya). Kami sudah siap dengan seekor ayam negeri, minyak goreng, dan telur. Mba-nya sudah menyiapkan bumbu ayam dan tepungnya. Tapi sayang, jumlah tetanggaku yang hadir tidak sebanyak yang pukul 11:00 tadi karena alasan pekerjaan.

Pembawaan perempuan itu hangat dan pandai menarik simpati. Beberapa kali ibuku dipuji. Dia menjelaskan tentang bumbu ayam kremes. Intinya, katanya, bumbunya sama dengan ayam goreng pada umumnya, hanya saja ini ayamnya direbus bersama bumbu yang telah dihaluskan. Biar gurihnya mantep, bisa tambah penyedap masakan, begitu tips darinya. Trus bawang merahnya sedikit saja, nanti kurang enak.

Sayang saya lupa namanya, kalau tidak salah Ani. Ia mengakui, koki masak ayam kremes di restoran yang akan dibuka di Kota Wisata, Cibubur. Ohh bukannya di Giant-Metland Cileungsi seperti yang disampaikan rekan sekerjanya itu. Nama restorannya pun bukan Ke-Zu, tapi ayam kremes Solo-Yogya yang sudah terkenal di Bandung. Hmm jadi tambah bingung aku. Ya sudahlah yang penting sekarang lihat cara memasaknya.  Katanya, sebagai persyaratan lulus menjadi koki, dia harus memasak di 300 tempat atau 300 titik rumah masyarakat sekitar restoran. Kalau sambutan masyarakat bagus, dia lulus jadi koki.

Mama Meka, tetangga sebelahku, menanyakan tentang dus berisi perangkat masak yang tertutup rapat. "Itu dijual ya ?" tanya Mama Meka. "Ohh nggak bu, ini hanya titipan teman," jawab mba itu singkat sambil terus memasak. Tak berapa lama, ayam yang direbus sudah cukup lunak, kompor dimatikan. Ia langsung mengolah tepungnya. Katanya ini hanya tepung sagu biasa yang ditambah penyedap. Tetapi kalau mau beli, ia juga menjual tepung. Hmm sayangnya saya tidak tanya berapa harga tepung itu. Adonan tepung itu dibuat encer sekali, nyaris seperti air saja. Air yang dipakai buat menguleni tepung berasal dari air bekas rebusan. Kemudian ia menyiapkan panci khusus. "Kok pakai panci ya ngegorengnya ? Bisa pakai penggorengan juga  kan ?" tanyaku polos.

Mba itu tidak menjawab. Dia cenderung mengajak kami fokus melihat caranya menggoreng. Minyak goreng lumayan banyak digunakan sampai tergenang betul. Dia berdiri, dan mulailah menumpahkan adonan tepung ke genangan minyak. Sebanyak tiga kali tumpahan sambil diratakan. Mirp seperti mengolah martabak manis di loyang-loyang. Setelah adonan berkembang dan mengeriting, baru dimasukkan ayam yang sudah direbus tadi di dalamnya. Secepat pula, ia menggulung ayam tersebut dalam selimut adonan tepung. 'Ohh..begitu ya caranya. Baru tahu, ayamnya diselimutin tepung. Kirain, mirip cara menggoreng ayam kentuki," ujar ibuku.




"Ooo berbeda ibu, ini harus diperhatikan sekali panci tempat menggorengnya. Tidak semua panci bisa. Harus yang tidak lengket."jawabnya. Tak berapa lama hidangan matang, kami diminta mencicipi. Hasilnya lumayan enak. Gurih dan garing. Alhamdulillah, kami bisa memberikan 4 potong ayam kepada 4 tetangga yang hadir. Lah kami jadi lupa, tidak menanyakan lagi tentang ayam yang katanya akan diberikan gratis untuk kami dan peserta yang hadi.

Usai memasak, ia baru membuka kardus yang sedari tadi tidak diperkenalkan. Semula kardus bergambar panci yang dia sebut sebagai titipan teman, berubah menjadi titipan relasi restorannya yang akan berpameran di Bekasi Square minggu depan. Dia menegaskan, tehnik menggoreng ayam kremes, hanya bisa sukses dengan menggunakan panci yang tidak lengket dan berkualitas baik seperti panci yang dia tawarkan. 

Harganya panci,penggorengan dan perangkat pendukung lainnya ditawarkan  Rp 1,8 juta. Karena kami telah hadir menyaksikan proses memasak ayam kremes, maka mendapatkan harga khusus senilai Rp 1,4 juta. Bisa kredit 10 kali dengan membayar DP 250 ribu, dus panci keluaran Jerman ini akan berpindah tangan. Ooo jadi jualan toh..


Sayangnya kami sudah mempunyai panci serupa, jadi tidak bisa membeli lagi. Tetanggaku yang lainnya juga tidak berminat membeli. Mereka pikir, sudah punya panci atau penggorengan yang anti lengket. Melihat ibu-ibu tidak antusias, ia menawarkan barangkali ada yang ingin membeli tepung yang dibuatnya. Sayangnya juga, ibu-ibu tidak ada yang membeli, karena mba Ani tadi sempat bilang, tepungnya hanya tepung tapioka biasa yang diberikan telur dan penyedap. Gurihnya sudah ada di ayam yang direbus tadi. So, nggak perlu beli tepung lagi. Tak hanya itu, perempuan yang mengaku asal Bandung ini juga siap sedia dipanggil dan memasak aneka menu jika ibu-ibu membeli produk pancinya, free tanpa charge. Walah...luar biasa service-nya.

Tetapi, tetap kami tak bergeming. Karena memang, harganya cukup mahal. By the way, aku cuma bisa ngucapin ..."Semoga jualannya laku ya mba di tempat lain. Mohon maaf kami tak membeli...!"



 





6 komentar:

  1. luar biasa ya mba aku salut loh sebenarnya sama yang kerjaannya jadi sales menjual peralatan dapur seperti mba Ani ini. perjuangannya menarik perhatian konsumen untuk mau membeli produk yang ditawarkannya memang gak mudah. Kalau aku, sepertinya gak bakat deh jadi sales.. hehehe

    BalasHapus
  2. Semangat Mbak Ani luar biasa ya. Lebih bagus lagi, setiap kalimat yang diucapkan sesuai, misal panci yang baru dibuka itu titipan teman, ya memang titipan teman beneran.

    BalasHapus
  3. Baiknyaaa mama Mbak Ikaa.
    Kalau aku sih udah tolak duluan deh, apapun itu.
    Pernah waktu awal2 pindah rumah, ada mas2 jual bubuk abate juga nawarin semprot nyamuk. KIrain dari RT, ga taunya iindependen. Sejak saat itu kl gak dikenal, lagsg say "sorry" aja deh

    BalasHapus
  4. aku jadi tahu cara masak ayam kremes. Jiwa marketingnya keren

    BalasHapus
  5. Hihi... bener nih kata Mbak Astin, strategi marketing-nya oke banget, sayangnya tetep gak menarik konsumen ternyata. Kasian juga sih ya sama sales-sales gitu. Tapi mau gimana lagi, kalau kita memang lagi nggak ngebutuhin gak mungkin juga beli lagi. Apalagi harganya gak murah. Nice post Mbak Kartina, sekalian belajar bikin ayam kremesnya nih. Untung di akhir si sales gak minta fee pelatihan ayam kremesnya.

    BalasHapus
  6. Dulu bapak sy pak Rt, rmh sering bwt demo mba.
    Tapi utk Mba Ani, kok nggak jujur ya.
    Jadi males juga kan ibu2nya.

    BalasHapus

Terima kasih atas masukan dan komentarnya.