Jual Daster Batik

Jual Daster Batik
Tampilkan postingan dengan label Keluargaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluargaku. Tampilkan semua postingan

Ulang Tahun Barra dan Kakak Meili yang Murah Hati

Alhamdulillah hari ini, 15 Oktober 2015, anakku yang kedua, Barra Armansyah berulang tahun. Sebenarnya tak ada rencana kami untuk merayakan rasa syukur ini. Kecuali sama seperti tahun-tahun sebelumnya, merayakan internal keluarga saja. Beli kue ulang tahun sederhana, tiup lilin, potong kue, berbagi kue dan saling mencium sambil menguntai doa supaya selalu diberkahi kesehatan dan menjadi anak yang baik.

Tahun ini Barra ingin berbeda. Dia ingin seperti kakaknya Meili, yang mengundang teman-teman sekolahnya makan siang di rumah. Bahkan sewaktu Kakak Meili ulang tahun, yang repot malah Barra. Dia sibuk mengabarkan kepada teman-temannya kakaknya ulang tahun. Hhehe..praktis sempat heboh juga karena rumah mendadak ramai dengan teman-teman Barra.




Barra memang memiliki kepribadian yang ceria dan mudah bergaul. Dia senang membahagiakan teman-temannya. Kalau bermain pun, dia tidak menang-menangan. Selalu berbagi mainan dan bermain bersama. Cuma yang nggak nahan, bawelnya itu...Dia suka mengatur dan membuat skenario permainan untuk teman-temannya. Biasalah kalau sudah begini, ada keriuhan. Masing-masing ingin mengambil peran hehe. Barra juga sepertinya memiliki bakat entertaint. Dia senang tampil dan menciptakan hal-hal kreatif sehingga teman-temannya betah bermain bersamanya. Meski begitu Barra terkadang menjadi sasaran "kenakalan" teman-temannya. Dipukul, didorong, diambil paksa mainannya. Dia pun tak pernah membalas jika temannya memukulnya. Malah cenderung tubuhnya disodorin. Hadeuhhh....disinilah Mbahnya (ibuku) ekstra mengawasi kalau Barra sedang bermain. Biasalah anak-anak, mereka cepat akrab, cepat pula baikannya.




Jauh-jauh hari sejak dia sudah mengerti tanggal kelahirannya, selalu menagih ingin ulang tahun memanggil teman-temannya. Kami menyetujui, asalkan Barra rajin mengaji, mau makan, dan nggak malas mandi. Anakku ini susah makan. Tetapi, kalau dia mau, wahhhh...bisa makan melulu. Jam-jam makannya juga rada aneh. Jam 10 malam, 11 malam, tiba-tiba minta dibikinin nasi goreng atau makan. Hmmm..bikin kerjaan banget nih...malam-malam minta dibikinin nasi goreng. Dan suka milihan. Yang masak nasi goreng Mbahnya. Hehe tahu aja, kalau mamanya nggak enak bikin nasi goreng kesukaan Barra.

Hampir setiap hari, dia menghitung hari, sampai 15 Oktober tiba. Saya dan ayahnya sepakat, kalau syukuran ulang tahun ini, teman-temannya hanya datang saja sambil main. Biar yang kasih kado nanti kami. Ya...intinya cuma ngundang main teman-temannya di rumah Barra pada hari ulang tahunnya. Ayahnya tidak ingin merepotkan dengan memberikan hadiah. Barra pun menyampaikan ke teman-temannya agar tidak membawa kado karena udah dari mama dan ayah kadonya.








Karena sifatnya santai, persiapannya pun tidak formal alias tidak ada undangan. Ehh..tanpa disangka-sangka, Kakak Meili (10 tahun) membeli kartu undangan ulang tahun sebanyak 25 buah dengan uang jajannya sendiri. Aku baru diberitahu Barra setelah undangannya  tersebar. Waduhh...ini kan jadi terkesan resmi. Pantas saja Kakak tadi nanya-nanya mau jam berapa acaranya.

Ya sudah akhirnya kami menyiapkan lumayan matang. Ketering ayam bakar, makanan kecil sebagai bawaan pulang, dan hadiah untuk anak-anak. Meili bersemangat sekali membeli sejumlah hadiah alat tulis untuk games anak-anak nanti. Kami juga mengundang tetangga yang masih SMU untuk mendongeng. 




Untuk meramaikan acara, aku men-challenge anak-anak dengan permainan dan tebak-tebakan. Seru juga sekalian mengetes hapalan surat dan doa-doa mereka, pengetahuan mereka tentang kenegaraan, agama, cinta hewan dan kesenian. Kakak Meili pun tak disangka membelanjakan uang jajannya yang disisihkan untuk membeli hadiah berupa buku-buku dan makanan kecil. Surprise dan bikin haru. Begitu hadiah yang aku beli sudah habis, kakak  langsung menyodorkan hadiah-hadiah yang dia beli sendiri..Aahh..kakak..baik banget sih kamu...









Bangga punya anak yang senang berbagi. Aku memang kerap bilang ke Meili tentang arti namanya. Dia pun kritis suka menanyakan apa arti nama dan kenapa orang tua memilih nama itu untuknya. Hhmm..aku menjelaskan arti nama Titis Meilia Dinar.Meilia dalam bahasa Tionghoa artinya pemurah, suka memberi dan baik hati. Aku suka menyampaikan ke dia agar tidak pelit pada adiknya dan senang berbagi pada orang lain. Alhamdulillah, dalam beberapa kesempatan, dia ringan sekali untuk memberi. Dia selalu ingin menyumbang lebih kalau ada acara di sekolahnya. Memberi kado yang bagus untuk teman-temannya yang berulang tahun, membelikan hadiah untuk sepupu-sepupunya. Dan, beberapa kejadian, hadiah-hadiah itu dibeli dari uangnya sendiri. Meili juga selalu berbagi makanan yang dibawanya ke sekolah. Subhanallah, ini yang kadang membuatku bahagia banget dan bersyukur pada Allah tak henti-hentinya. Dia juga penyayang...dan care banget. Cuma ya itu, orangnya sensitif. Mudah bete dan ngambekan hehhe...

Ulang tahun Barra, sepenuhnya karya cinta Meili. Dia mempersiapkannya detil. Sepulang sekolah, yang diingatnya adalah 'Ma udah ngambil kue ulang tahun Barra ?"... Meili-meili ...semoga hatimu selalu pemurah ya Nak...









Belajar Melukis di Galeri Armain Bekasi Square



Selain memburu buku murah, aktivitas yang menyenangkan "family time" di Bekasi Square adalah mengunjungi galeri lukisan. Ada beberapa galeri lukis di sini, letaknya juga berjauhan. Galeri Armain adalah salah satu yang kami beberapa kali kunjungi. heheh belum membeli sih, baru lihat-lihat saja untuk memotivasi Meili menggambar dan melukis. 

Alhamdulillah, anakku Meili (9 tahun)   memiliki sejumlah talenta : mewarnai dan menggambar, juga menulis. Tapi sayangnya, ia begitu moody, jadi aku harus lebih kreatif memotivasinya. Salah satunya, dengan mengajakanya berkunjung ke tempat-tempat yang membuatnya termotivasi. 

Di Galeri yang terletak di Lt. LG Blok 180-183 ini, pengunjung selain melihat koleksi lulisan beraliran naturalis, memesan khusus, sekaligus juga belajar melukis. Untuk kursus melukis ini biayanya Rp 100 ribu per kedatangan. Hari dan waktunya bebas disesuaikan dengan pihak yang ingin belajar. Perlengkapannya bisa membawa sendiri atau membeli di sana. Pelukisnya juga menyediakan secara cuma-cuma kertas lukis dan materinya.

Meili mulai tertarik untuk belajar. Tetapi karena lokasi rumah kami jauh, jadi ya aku urungkan. Bolehlah nanti sekali-kali ikutan kursus singkatnya.



Oya, bagi pengunjung yang ingin dilukis, tarifnya bervariasi, tergantung bahan yang dipakai, cat, bingkai dan jumlah kepala. Untuk lukisan goresan pensil satu warna, ditawarkan seharga Rp150 ribu sudah termasuk bingkai. Kalau goresannya lebih divariasikan dengan menggunakan pensil juga, harganya Rp 300 ribuan. Dan, kalau yang tertarik dengan berwarna sesuai dengan obyeknya, bisa Rp 1 jutaan termasuk bingkainya. Hmm..jadi kepingin dilukis juga suatu hari. 



Kontak galeri lukisan Armain : 021 56161746, 081807819347.



Memburu Buku Murah dan Kebiasaan Membaca



Memburu buku murah, sebenarnya aktivitas lama yang menyenangkan. Waktu masih jadi pelajar, Senen merupakan tempat favoritku mencari buku-buku pelajaran  murah.  Berlanjut mahasiswa, Pasar Buku Murah Palasari di Jalan Palasari, Bandung, jadi kunjungan wajib begitu dapat uang bulanan atau honor nulis. Murah-murah banget harganya. Berbeda jauh dari Gramedia, Gunung Agung atau toko-toko buku di mal. Memang tempatnya kurang nyaman, tetapi kan bukan tempat yang dibeli xixixi.

Aktivitas ini sempat vakum lama karena kesibukan rutinitas pekerjaan dan Mbah Google yang sudah mulai eksis. Sempat juga memburu buku dan majalah murah ketika berkantor  di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat. Itu pun lantaran  tiap hari ke kantor lewat Stasiun Cawang (dulu sebelum ada penertiban jualan). Sambil nunggu kereta atau setelah pulang kantor, nunggu macet, nongkrongin dulu abang-abang penjual buku dan majalah. Majalah tentang destinasi dan travel jadi obyek perburuanku. Lumayan, buat inspirasi tulisan. Kala itu, aku kerja di media seputar pariwisata dan event.



Sekarang, aktivitas memburu buku murah ini mulai aku giatkan lagi. Setelah putar otak bagaimana membuat anak-anak sibuk. Anakku Meili (9 tahun) kurang suka membaca. Dia lebih suka nonton.  Beberapa kali aku belikan buku bacaan dan majalah anak yang dia suka, cuma dilihat-lihat saja dan akhirnya teronggok manis di lemari. Aku sempat belikan buku tentang kisah Nabi  yang ada remark video-nya. Jadi begitu ditempelkan di layar android yang sudah diinstal programnya, langsung menyala video. Alhamdulillah, dia baca sampai tuntas. Bisa jadi, Meili suka yang interaktif untuk menghindari kebosanan.

Sedangkan si Barra (4 tahun), adiknya agak lumayan. Dia senang melihat gambar dan berimajinasi menceritakan isi gambar tersebut. Hmm..bisa jadi anak-anakku kurang suka baca, karena orang tuanya kurang memberi contoh (jadi malu jarang baca buku sejak Mbah Google eksis). 

Kegairahan membaca Meili, baru muncul ketika  mulai diajarkan pelajaran mengarang di sekolah. Aku bilang, kalau kamu ingin bisa mengarang, kamu harus rajin membaca. Aku mencontohkan sejumlah cerita dari Majalah Bobo bekas. Dari situlah, pelan-pelan Meili mulai baca majalah. Aku minta dia menceritakan kembali isi cerita yang dibacanya secara lisan. Melihat kakaknya sibuk dengan buku, Barra adiknya pun tidak mau kalah. Senangnya..aku jadi bersemangat ikutan membaca bareng.

Jadi kepikiran mau bikin perpustakaan di rumah dan taman baca seperti rumah baca violette Bunda Hapsah. Aku sempat ceritakan rencana ini ke Meili. Mengingat di lingkungan rumahku, tak ada perpustakaan. Di sekolahnya pun, kata Meili koleksi bukunya sedikit.


Bekasi Square, Tempat Perburuan Buku Murah yang Asyik

 

Nah ini mal ini sekarang jadi favorit kami. Lokasinya dari rumahku di Cileungsi kurang lebih satu jam perjalanan. Mal yang berada di dekat pintu tol barat Bekasi ini beberapa tahun lalu sempat sepi. Agak malas juga mengunjungi mal yang kayak kuburan. Aku beberapa kali ke mal ini karena ada acara lomba mewarnai dan belanja kebutuhan rumah tangga.

Mal-mal di kawasan sekitar tol barat memang sudah bejibun. Karena itu, pengelola Bekasi Square mencoba semaksimal mencari sesuatu yang otentik dan menarik pengunjung. Diantaranya dengan menggelar berbagai acara, memasukkan tenan unik seperti galeri lukis, craft(kerajinan), toko buku murah, kain, dan sebagainya.

Toko buku murah cukup sukses memikat pengunjung. Ada dua toko buku murah di sini yaitu Gudang Buku Murah dan Bursa Buku Murah. Keduanya terletak di lantai yang sama, lantai 1. Tetapi, lokasinya berjauhan, dari ujung ke ujung. Serasa musuhan :). Kalau pengunjung yang tidak menjelajahi atau tidak bertanya ke penjaga mal, sepertinya yang satu lagi luput dari perhatian. 

Meili asyik membaca di Gudang Buku Murah.

Barra nggak mau kalah eksis dengan kakaknya di Gudang Buku Murah.



Dari segi luas, 'Gudang Buku Murah' lebih luas. Ada space berisi tempat duduk untuk pengunjung membaca. Buku-buku, majalah, komik, novel yang dijual rata-rata produk lama. Dari segi tampilan ya sesuailah dengan tahunnya. Malah tidak sedikit halaman yang bercorat-coret. Harganya mulai dari Rp 5000-an sampai 50 ribuan. Di sini tergantung kejelian kita mencari buku yang bagus. Alhamdulillah aku menemukan beberapa buku penunjang pelajaran Meili tentang alam semesta. Kalau sudah ketemu yang bagus, rasanya mau memborong, kalau tidak ingat isi dompet.

Barra senang ketemu buku yang dicarinya di Bursa Buku Murah.




Sedangkan di 'Bursa Buku Murah", buku-buku, novel, majalah yang dijual sebagian besar masih baru. Kemasannya  bagus, berplastik, kertasnya juga masih baru. Harganya itu loh yang nggak nahan, Rp 5000-an, untuk buku-buku cerita anak dwi bahasa, buku tuntunan agama, desain, seni, IT dan sebagainya. Yang agak tebal, ditawarkan hanya Rp 10.000. Malah ada novel yang tebal dengan kemasan masih baru, dijual Rp 15.000. Meski jarang baca novel, dibeli juga deh. Selain itu untuk novel-novel baru harganya standar Rp 35.000- 60 ribuan. Intinya, kalau di Bursa Buku Murah, kemasannya terawat sekali. Sayangnya di sini, tidak ada tempat duduk untuk pengunjung sekedar membaca. Hehhe mungkin biar membeli kali ya. 


Sejumlah novel dan buku cerita yang aku beli di Bursa Buku Murah.



Ini harganya Rp 10 ribu.


Meili pun jadi bernafsu memilih-milih buku. Katanya, teman-temannya suka bacain majalah dan buku cerita yang pernah aku beli untuk Meili. Dan, temannya menagih Meili lagi untuk buku-buku baru lainnya. Loh kok bisa ? padahal setahuku teman-temannya belum pernah baca buku koleksi Meili. Usut punya usut ternyata Meili beberapa kali membawa buku-buku cerita dan ilmu pengetahuan ke sekolah. Bahkan ia sudah menceritakan rencana mau buka perpustakaan. Wahh..aku dan suamiku jadi giat nabung nih buat nambahin ruangan di atas untuk perpustakaan. Kayaknya ini bisa menjadi resolusi 2015. Semoga terkabul. "Tetapi Meili, kamu juga harus rajin membaca ya..Masa udah punya perpustakaan, yang punyanya nggak suka baca,"pesanku. Meili cengar-cengir sambil ngangguk.


Mengembangkan Bakat Menulis Meili



Hari ini Meili begitu tergesa menghampiriku. Keringat membasah di keningnya. Wajah hitamnya jadi kelihatan mengkilat karena keringat. "Ma, tahu nggak Meili dapat juara berapa lomba ngarangnya ?" Aku yang masih tadarusan, langsung menghentikan bacaanku dan menoleh ke arahnya, sengaja tidak ingin menebak ;). Masih dalam hitungan detik, Meili sudah tidak sabar  memberitahuku "kabar gembira"yang dinanti-nanti sejak seminggu lalu.

'Ma, aku dapat juara 1. Naila juara 2 !" Matanya tampak berbinar sambil menunjukkan hadiahnya padaku. Barra yang sedang asyik rebahan nonton TV langsung merebut hadiahnya..'Lihat Ka..!. Meili langsung mengepit hadiahnya ketika tangan mungil Barra merebutnya. "Ntar dulu difoto sama Mama !"  Mereka sempat berebutan. Aku langsung memeluk Meili dan bilang "hebat". "Tuh De, kakak Meili juara !"

Kegiatan mengarang sebenarnya sudah dimulai Meili sejak awal kelas 4. Guru kelasnya pandai mendorong anak didiknya berprestasi. Ya, waktu itu, ramai pemberlakukan kurikulum 2013, dimana metode belajarnya dibuat kreatif, tidak monoton, dan pure mengembangkan potensi siswa. Meili sangat senang dengan metode belajar ini. Bu Lia, nama guru kelas Meili kerap menugaskan anak-anak mengarang. Awalnya Meili merasa ragu dengan kemampuannya.


Meili memang "kurang PD" terhadap sesuatu yang dia belum kuasai. Di kelas 3, aku sudah mengajak Meili untuk coba menulis dan mencoba membuatkan blog buatnya. Kami buat blog bareng. Dia yang pilih template dan fotonya (http://dunia-meilia.blogspot.com). Dia mulai suka. Hmm...harus sabar ya mengajak anak agar menyukai kebiasaan baru. 

Mengapa aku minta menekuni menulis ? pertama, karena aku melihat dia punya potensi menulis. Nilai pelajaran mengarangnya cukup bagus. Dia bisa mengembangkan imajinasinya. Kedua, aku rada prihatin dengan perubahannya yang mulai tidak menyukai kegiatan menggambar dan mewarnai. Padahal dia sangat berbakat. Sejak usia 5 tahun, dia sudah aktif mengikuti berbagai lomba mewarnai. Alhamdulillah, meski tidak selalu juara, tetapi bisa mengumpulkan sebanyak 33 piala lomba sampai kelas 2 SD. Dia merasa termotivasi dengan guru mewarnainya yang masih siswa SD itu berprestasi. Aku sempat menge-leskan mewarnai.

Hasrat berprestasi Meili cukup tinggi. Tapi juga mood-nya turun naik dan suka nggak PD-an ketika "lawannya" punya kemampuan lebih. Langsung ngeper dan mendadak menjadi tidak bagus mewarnainya. Hmm kalau sudah begini, mulutku ga berhenti memotivasi. 

"Mama nggak pa pa kok kalau Meili nggak juara. Yang penting mewarnai kamu rapih, tidak keluar garis dan selesai semua. Kalau bagus, nanti mama kasih hadiah." Meski sudah dimotivasi, tetap tidak mempan. Matanya melirik-lirik temannya ;). Kepercayaan dirinya menjadi hilang. Aku suka menjauhkan posisi duduk dengan rekannya yang pandai, biar lebih fokus.

Dan, begitu namanya tidak dipanggil sebagai juara, dia sangat sedih. Hingga akhirnya, perlahan-lahan mundurlah dari kegiatan kompetisi mewarnai. Paling sesekali ikut di lingkungan rumah.



Jam sekolahnya juga sudah melelahkan. Tiap hari, Meili yang kala itu kelas 3, pulang sekitar jam 15:00. Belum lagi mengaji setelahnya. Letih, makanya aku tidak begitu memaksakan dia untuk beraktivitas lebih. Aku pun tidak memaksakan dia ekstra belajar lagi di malam hari. Kecuali jika ada PR. Les mewarnainya sudah lama dihentikan atas permintaannya sendiri.

Sejak tak ada aktivitas lomba, aku melihat ada penurunan pada diri Meili. Dia menjadi tak begitu ambisi untuk berprestasi. Datar sekali. Dia selalu merujuk pada teman mainnya, yang memang tanpa aktivitas kecuali sekolah. Di situlah, aku mulai aktif memotivasi dengan berbagai cara. Ada rewards, jika dia berhasil melakukan sesuatu. Aku putar otakku bagaimana membuat dia antusias untuk berprestasi. Waktu itu, aku baru risain. Sedih juga. Setelah risain kok malah anak menjadi rendah motivasi. 

Teman memang kuat membawa pengaruh. Teman-teman lingkungan rumahnya, tidak dichallenge orang tuanya untuk melakukan aktivitas di luar sekolah. Meili sekolah di swasta dengan jam belajar lebih panjang  dibandingkan dengan SD negeri yang hanya 3 jam di sekolah. Kalau dihitung efektifitasnya, paling cuma 2 jam belajar. Nah, Meili kerap membandingkan perlakuan orang tua teman-teman mainnya.



Maka itu aku pilih aktivitas ngeblog. Alhamdulillah dia suka. Cuma masalahnya, hehe teknis. Kami hanya punya laptop satu. Itu pun aku  pakai untuk kerjaan menulisku untuk klien. Insya Allah, bisa beli laptop lagi buat Meili.

Dia aku dorong mengarang dengan menulis di buku. Buku harian,  salah satu medianya. Kalau dia sedang berada di sekolah, suka aku baca. Meili banyak bercerita tentang teman-temannya. Dia kesal sama siapa, suka dengan siapa. Dan, dia pun bisa memeringkat teman-temannya, mana teman yang baik hati, teman yang suka mengecewakan, teman yang suka mencontek, dan pastinya ada temen cowok yang dia suka. Wahh anakku sudah mulai menyukai lawan jenis. Aku suka pancing, dia tersipu malu.

Memasuki kelas 4, gairah menulisnya timbul lagi. Aku juga rangsang kreativitasnya dalam menentukan topik cerita. Hampir seminggu sekali, kami jalan-jalan untuk mengembangkan imajinasinya. Alhasil, setiap ada pelajaran mengarang, dia runut menceritakan pengalamannya. Dan, rata-rata cerita yang diangkat Meili seputar jalan-jalan ;). Alhamdulillah, efektif juga mengembangkan imajinasi dengan mengajak anak jalan-jalan. Mengapa jalan-jalan ? itu karena Meili suka jalan-jalan.

Ketika kompetisi mengarang di kelasnya, Meili seakan punya amunisi lebih bercerita tentang pengalamannya mudik sekaligus berwisata ke Yogya dan Candi Borobudur. Aku tidak begitu membatasi imajinasi karangannya. Aku hanya mengoreksi tata bahasa huruf besar dan kecil, titik, koma, dan tanda baca lainnya serta alur cerita yang memokus. Aduhh..jadi malu hehe mamanya nggak begitu ahli menulis ;).

Dengan prestasi ini, Meili jadi semangat bikin cerita di Majalah Bobo. Siap-siap naikin moodnya lagi nih kalo turun ;)

Khasiat Pelukan Suami


Artikel yang saya baca dari media sosial, cukup menggugah juga. Pasalnya, kami sudah 10 tahun menikah. Hmm..pastinya tak mungkin dilalui dengan mulus. Ada rintangan, masalah, dan hambatan yang selalu saja membuat kami selalu harus instrospeksi diri.

Hal-hal kecil dan mudah dilakukan seperti soal pelukan ini memang dampaknya nyata terhadap keharmonisan rumah tangga kami. Hehe di sini saya tidak mengurai bagaimana suami saya memeluk atau kami saling berpelukan ya. Tetapi hanya ingin memaparkan bahwasanya, jangan pandang enteng makna pelukan.

Sebuah penelitian menunjukkan fakta bahwa seorang suami yang memeluk istrinya paling tidak 5 kali sehari niscaya umurnya akan lebih panjang 2 hingga 3 tahun. Wow..

Menurut pakar dan motivator Dr. Mohd. Fadzilah Kamsah, bahwa fakta  ini telah dibuktikan oleh seorang pakar dari Jerman.  Menukil penetian pakar itu, Dr Mohd Fadzilllah mengungkapkan, “Seorang suami akan bertambah panjang umurnya jika memeluk isterinya setiap hari karena pelukan dan sentuhan bisa menyebabkan tubuh manusia mengeluarkan berbagai hormon termasuk endorfin yang sangat bermanfaat bagi tubuh.

Hormon endorfin adalah sejenis bahan kimia yang diproduksi oleh tubuh dan bermanfaat sebagai penahan sakit dan mengurangkan stress. Selain itu, hormon ini juga mempunyai kesan positif bagi kesehatan sentuhan.

Penelitian lain di Amerika Serikat juga menguatkan bahwa pelukan suami dapat mengurangkan tahap kolesterol dan meningkatkan kesehatan isteri. Hhhe benar juga sih. Dampak nyata adalah hati yang tenang dan merasa disayangi.

Rosulullah ketika menerima wahyu pertama di gua Hira, tubuhnya menggigil seperti demam. Beliau memanggil Khadijah dan memintanya untuk menyelimuti tubuh beliau.. Zammiluni..zammiluni...begitu pintanya. Siti Khodijah langsung menyelimuti Rosulullah dan memeluknya. Kekhawatiran Rosulullah pun perlahan sirna.

Dari segi medis, saat tubuh merasakan sentuhan, nueotransmitter di otak akan mengirimkan hormon endormorfin ke dalam aliran darah dengan cukup besar. Hormon tersebut mampu menurunkan ketegangan saraf dan tekanan darah.

So, jangan abaikan makna pelukan ya bagi yang sudah menikah.

Menikmati Sepeda Motor Listrik di Monas



Hai sobat, pasti ada yang udah pernah jalan-jalan ke Monas ya...

Minggu kemarin, kami sekeluarga jalan-jalan ke monumen setinggi 132 meter itu. Ini sebenarnya bukan kunjungan perdana. Kami sudah beberapa kali kali bermain ke sana. Hhehe kalau dari jarak rumah kami di Cileungsi cukup jauh juga ke Monas. Kurang lebih 2 jam jika kondisi lalulintas tidak begitu ramai. Kalau ramai, wahh bisa 3 jam lebih.

Tapi demi mengenalkan kepada anak-anak tentang salah satu sejarah perjuangan bangsa, hmm dibela-belain deh. Meski pada kenyataannya, gambaran sebuah museum yang ideal dari Monas itu masih jauhh sekali dari harapan. Paling daya tarik utama kebanyakan pengunjung adalah melihat kota Jakarta dari puncak tugu. Hhehe, jangan tanya ngantrinya, pake banget pokoknya deh. Dan, jujur sampai detik ini, aku belum pernah naik sampai puncaknya. Waktu kunjungan sebelumnya, sudah diniatkan mau naik, tapi sedang ada perbaikan lift.

Dalam kunjungan kami Minggu (14/12), kami tidak ke dalam Monas.  Kami hanya menyaksikan beberapa pameran di sana yaitu pameran kuliner, pameran Alusita-kerdirgantaan, dan pameran produk daur ulang. Semuanya diselenggarakan di area luar ruang Monas.

Jangan tanya mataharinya ya. Wahhh terik banget. Tapi bagi anak-anak, tak ada kata terik dan kepanasan. Mereka tetap gembira dan semangat bermain.

Salah satu permainan yang diminati anak saya adalah sepeda motor. Baru satu kali Kakak Meili belajar motor ehhh sudah bisa ngacir sendiri berboncengan dengan adiknya, Barra.


Was-was juga aku mengawasinya. Khawatir jatuh atau menabrak orang yang ramai lalu lalang. Sambil terus mengawasi gerak-gerik buah hatiku, aku mengabadikan beberapa gambar kegembiraan mereka.

Oya, harga sewa motor listrik ini cukup 'murah'.  Hanya Rp 30 ribu per 20 menit. Tetapi pada kenyataannya, kami bisa menaiki lebih dari 20 menit. Abangnya tidak mencari dan malah mendiamkan saja anak-anak bermain. Malah, kalau sedang tidak ramai, abangnya menunggu sampai secape anaknya saja. Hmm.. Aku jadi tidak enak sendiri..hehehe kesadaran aja kali ya menghentikan permainan.

Sambil menunggu Meili dan Barra bermain, aku ngobrol sedikit dengan Abangnya yang sepertinya asli Batak. Dulu -sebelum ada razia, setiap hari, si Abang mangkal di halaman Monas. Tetapi setelah ada razia, Si Abang jadi cuma akhir pekan saja leluasa mengoperasikan dagangan 'sewa sepeda motor listriknya". Sisa-sisa harinya, dia operasikan di lingkungan rumahnya. Dan, sambil melihat-lihat momen. Kalau ada momen acara di Monas, pasti Si Abang ini eksis.  Ada lebih dari 10 sepeda motor listrik yang dimilikinya baik ukuran besar maupun kecil. Lumayan juga ya.
Yuk teman-teman jalan-jalan ke Monas. Setiap akhir pekan di halaman Monas kerap ada acara. Gratis loh masuknya. Cuma bayar parkir saja. Kalau parkir di Stasiun Gambir, tarifnya Rp 4000 per kedatangan, dan Rp 3000 per kelipatan satu jam.Untuk tarif parkir di luar Stasiun Gambir rasanya tidak beda jauh, atau bisa kompromi dengan petugas parkirnya.

Meski saat ini Monas belum menjadi destinasi wisata yang bagus, tetapi rencananya Monas akan benar-benar difungsikan menjadi sebuah museum lengkap dan moderen, serta pusat kesenian Indonesia. Di sinilah nantinya ajang eksistensi seni dan budaya dari seluruh Indonesia.



Kalau melihat ide awalnya dari Bung Karno, presiden kita yang pertama, Monas memang dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan. Semangat yang terus menyala dan berkobar dilambangkan lewat  seonggok emas 81 kg yang dikreasikan bak lidah api di atas tugunya.

Hanya saja, manajeman dan pengelolaan Monas belum sesuai harapan. Padahal, Monas sudah dibuka sejak 12 Juli 1975 loh. hmm..mungkin pemerintah sebelumnya, punya prioritas lain. Tapi syukurnya, sekarang pemerintah DKI Jakarta kembali "mengurus" Monas untuk menjadikannya destinasi kebanggaan nasional. Museum lengkap perjuangan bangsa. Selain itu, rencananya di halaman Monas akan dibangun taman bunga empat musim. Wahh keren ya..Insya Allah bisa terwujud dan dilancarkan prosesnya. Mengingat Monas merupakan aset bangsa yang harus dirawat dan dipelihara

Jadi, harap maklum ya jika teman-teman yang berkunjung tidak bisa sepenuhnya menikmati ruangan demi ruangan di dalam tugu tersebut. Sebagian wilayah interior Monas sedang dalam perbaikan.  Bagi yang ingin menyelenggarakan event atau pameran, hanya diperbolehkan di depan halaman Monas setiap akhir pekan. 
Sambil menunggu persiapan mempercantik Monas, sebagai warga negara yang baik, mari kita dukung. Salah satunya, dengan menjaga kebersihan di sekeliling halaman Monas. Pasalnya, banyak banget sampah bertebaran di taman-taman dan hutan kota di Monas. Kesadaran pengunjung dan pedagang kaki lima untuk menjaga kebersihan lingkungan masih minim. Pantas saja sih, pemerintah DKI Jakarta giat melakukan razia pedangan dan gepeng di seputaran Monas. Itu semua demi menjaga keindahan Monas agar bisa dinikmati warga masyarakatnya juga.

Kejutan Meili Buat Mama


Hari Sabtu, 21 Desember 2013, merupakan hari yang ditunggu-tunggu Meili, anak pertamaku. Sejak minggu lalu, dia selalu bilang "ga sabar" mau hari Sabtu aja. Karena penasaran mau lihat hasil raport semester pertamanya. Sejak aku risain awal Januari 2013, pengambilan raport merupakan momen yang selalu dinanti Meili. Dia sangat optimis raportnya bagus. 

Memang, sejak aku "bekerja di rumah", semangat belajar Meili sangat tinggi. Tiap usai salat Maghrib, tanpa disuruh, dia sudah membuka buku-buku pelajaran sekolahnya. Tetapi, kalau kebetulan aku ada meeting di Jakarta, dan pulang larut malam (sekitar pukul 22:00 sampai rumah), menurut ibuku yang menjaga anak-anakku, Meili tidak belajar. Sekalipun belajar, kata ibuku, hanya formalitas saja membolak-balik halaman buku. Hmmm dasar Meili..Kehadiranku di sisinya, jadi alasan kuat dia mau belajar sungguh-sungguh.

Jarak rumah di Cileungsi ke kantor klien di Jakarta yang menelan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan, memang rasanya tidak mungkin bisa sampai di rumah jam 7 malam. Kalau sudah di Jakarta, biasanya aku suka mampir ke toko buku atau ke sejumlah tempat usai urusanku dengan klien selesai. 

Meski mati lampu, Meili tetap giat belajar
Gaya belajar Meili


Meili pun termasuk anak yang tidak suka membaca. Dia lebih suka mendengar dan melihat. Jadi kalau aku kasih soal, disuruh cari jawabannya, kerap tidak teliti, dan dia pun kurang sabar. Malah ganti bertanya kepadaku seputar soal-soal itu. Hmm, aku biasanya suka gertak Meili, supaya kerjakan dulu baru tanya. Memang harus extra sabar menghadapi anak yang belajarnya tidak bisa mandiri. Pelajaran benar-benar bisa nangkring di otaknya, jika aku jelaskan panjang lebar tentang isi mata pelajarannya . Wuihhh...sambil tarik nafas deh ngajarinnya. Butuh energi full untuk menjelaskan materi sesuai dengan kaca matanya.

Jadi metodenya, aku memberikan soal-soal dari topik mata pelajaran esok harinya. Soal-soal itu biasanya aku diktekan. Jawabannya semuanya ada di buku paketnya. Atau jika Lembar Kerja Siswanya (LKS) belum diisi, aku minta dia mengerjakan soal-soal tersebut. Kurang lebih setengah jam dia menjawab soal.

Sambil menunggu dia menjawab soal, aku biasanya mengerjakan pekerjaanku ( menulis untuk klien), atau mengajarkan Barra belajar. Tergantung load kerjaku juga.  Kalau pas sibuk dengan pekerjaan klien, aku menulis sambil menunggu Meili mengerjakan soal. Tapi seringnya aku concern dengan pelajaran Meili. Karena lumayan complicated pelajaran anak SD sekarang. Pembahasaan topik-topiknya pun tidak jarang sulit ditangkap anak-anak. Bisa dipahami jika model kayak Meili tidak begitu mudah memahami mata pelajaran jika tidak disertai penjelasan yang gamblang. Alih-alih rupanya, penjelasan guru di sekolah juga tidak bisa memuaskan penangkapan Meili.

Suasana pengambilan raport Meili semester 1 kelas 3
 Meili butuh dijelaskan dengan logika, banyak analogi, cerita, dan gambar. Aku menguatkan penjelasanku dengan gambar-gambar di internet yang berkaitan dengan topik. Hmm, kalau sekiranya penjelasanku memuaskannya, dia pasti berujar, 'Ma jadi guru aja !" atau "Ma, buka les aja !".....Meili-Meili, dia juga pandai memuji. Aduuhh jadi GR nih suka dibilang 'Mama pintar". Padahal modalnya cuma dari Mbah Google, dan menjelaskan dengan banyak cerita dengan Meili sendiri sebagai tokohnya. Enaknya di jaman sekarang ya, belajar bisa lebih maksimal dengan adanya internet. Itu mungkin yang membedakan cara mengajar aku dengan guru Meili di sekolah.

Anak-anak seperti Meili juga butuh contoh-contoh kongkrit. Seperti menjelaskan tentang proses hujan, proses fotosintesis, lingkungan, sifat benda dan sebagainya. Bahkan, untuk pelajaran agama, anak-anak butuh bukti tetang ketuhanan, ke-Esaan Allah, dan cerita para nabi. Dengan browsing di internet, kita bisa mengajak anak melalanlang buana, melihat makam Rosulullah, makam Nabi Ibrahim, Mayat Firaun, Perahu Nabi Nuh, dan dibalik kebesaran Candi Borobudur yang ternyata merupakan jejak Nabi Zulkifli dan Sulaiman. Alhamdulillah, Meili tambah paham dan meyakini tentang ke-Islamannya. Apalagi begitu dia tahu bahwa nilai agama sangat menentukan peringkat, dia jadi makin rajin meningkatkan pengetahuan agamanya. Alhamdulillah nilai agamanya dalam dua kali di raport selalu di atas 8 alias 9. Sebelumnya, selalu 7. Malah, beberapa ulangan nilainya 60. 

Salah satu yang menjadi PR ku dalam mengajar Meili adalah matematika. Meili memang rada lemah di matematika. Penjelasanku biar aku puter-puter tetap belum bisa membuatnya paham. Dan, dia juga kerap lupa. Hmm, kalau sudah begitu, biasanya emosiku main nih. Hehehe rada emosi dan tekanan bicara yang tinggi. Melihat emosiku mulai menaik, Meili untungnya tetap stabil. Dia diam aja dan tekun mengerjakan soal-soal yang aku berikan. Kalau memang aku sedang tidak stabil dan tidak sabar menghadapi "kebuntuan" Meili mengerjakan soal matematika, aku menyuruhnya berhenti belajar. Besoknya aku mengulangnya kembali. Jujur, aku belum bisa mengendalikan emosiku saat mengajari matematika :(.

Tibalah hari Sabtu itu..

Sabtu pagi, aku sudah bersiap-siap ke sekolah Meili. Meski dijadwalkan pukul 07:30 di sekolah karena ada acara ceramah sebelum pengambilan raport, aku tetap tak bisa berangkat. Pukul 09:00 baru aku sampai sekolah Meili. Rupanya, jadwal ceramah ngaret sehingga aku masih bisa mendengarkan isi ceramah meskipun tidak jelas juga. Suasana begitu ramai dan kapasitas mesjid yang terbatas, membuat suara Pak Ustad tidak bisa terdengar jelas. Ibu-ibu pun lebih banyak duduk-duduk di luar, berdiri di tangga masjid, dan bertebaran di hamparan halaman. Aku yang mengajak Barra mengambil posisi duduk di halaman masjid. 

Kurang lebih setengah jam, ceramah selesai. Bu Inti, guru Meili yang baru (menggantikan Pak Bagus) pun tanpa berpanjang-lebar segera membagikan raport. Di whiteboard, Alhamdulillah nama Meili terpampang berada di urutan nomor 3. Bangganya..Akhirnya berhasil juga anakku menduduki posisi lima besar di kelas, setelah sebelumnya berada di atas 10. Benar-benar kejutan nih, di hari Ibu, Meili memberikan aku kebanggaan. Catatan Bu Inti ke Meili adalah, " Tidak buru-buru dalam mengerjakan soal ujian",karena Meili termasuk yang paling selesai duluan kalau ujian. Selain itu, Bu Inti juga berpesan agar matematikanya menjadi perhatian. Di raport memang nilainya tidak jelek, 71, tapi merupakan nilai terendah diantara mata pelajaran lainnya.

Usai pengambilan raport, mulai hunting hadiah ke toko buku. Gembiranya anak-anakku saat memilih belanjaannya.



Kakak Sayang Dede Barra..

Hasil gambar Meili waktu kelas 2
Jujur menjadi ibu seutuhnya itu baru benar-benar kurasakan setelah risain dari kantor, awal Januari 2013. Selama kurang lebih 7 tahun, aku banyak meninggalkan Meilia di rumah dalam pengasuhan ibuku. Sekarang, baru kurasakan betapa sangat berharganya kehadiran ibu dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak-anak. Meski tak sempurna dan bisa menjadi ibu yang baik untuk kedua anakku, Meilia dan Barra, tetapi aku berupaya untuk selalu bisa menjadi ibu yang bisa disayangi anak-anakku dan memberikan kesan mendalam bagi diri mereka kelak. Hmm, bismillah, pintaku terus kepada Allah.

Meili mengajari adiknya Iqro
Alhamdulillah, meski banyak aku tinggal ke luar kota untuk liputan, terutama Meilia (8 tahun) tumbuh matang dengan sendirinya. Kehadiran adiknya Barra, yang 5 tahun lebih muda darinya memberikan energi kedewasaan bagi Meili secara alami. Meski yang namanya anak-anak, kerap ribut juga sesekali karena rebutan mainan, atau Barra yang mengacaukan mainan Meili, mengganggu belajar Meili, ingin ikut Meili bermain dengan teman-temannya atau tidak ingin berbagi pinjam smartphone yang berisi games. 

Saling mengolesi lotion nyamuk.

Wahhh, kadang suka ga sabaran juga melihat keributan pecah di rumah. Kalau sudah begitu, biasanya aku tarik napas dulu biar ga marah-marah, dan menasihatkan Meili agar lebih mengerti perilaku adiknya yang belum mengerti dan mulai timbul sikap egoisnya. Egoisme Meili sebagai kakak juga ada, dimana dia ingin dipatuhi, dan dimengerti. Jika keduanya tidak mau kalah, biasanya aku ajak Barra bermain di luar, jajan, atau merangkul keduanya agar bermain bersama. Hmm benar-benar harus punya energi extra dan kreatif mengajak berdamai. Yang lebih merepotkan, jika bersamaan dengan deadline menulisku untuk klien atau aku lagi update untuk proyek sosial mediaku. Ibuku biasnya langsung turun membantu. Karena kurang berpengalaman, Ibuku memang lebih jitu triknya untuk mendamaikan keributan anak-anakku. Being A Mom, Mah..

Meili mendampingi Barra lomba kelereng pada Agustusan
Untungnya setiap keributan tidak berlangsung lama. Paling sekitar 10 menit bersitegang. Setelah itu biasanya Si Barra yang tiba-tiba melunak, mau mengembalikan barang kepunyaan kakaknya, mau berbagi smartphone dan bersedia bermain bersama atau Barra asyik beralih aktivitas bersama Mbahnya.

Tetapi kalau lagi damai, bikin hati trenyuh. Bagaimana tidak trenyuh menyaksikan keduanya bermain dengan rukun. Meili kerap bermain drama-dramaan.seperti dokter-dokteran, ibu-ibuan, sekolah-sekolahan, jual beli dan sebagainya. Lucu juga melihat imajinasi mereka merangkai skenario sendiri. Barra pun juga senang bermain drama. Ruang keluarga disulap berbagai bentuk sesuai imajinasi mereka. Makanya, rumah kami kadang sulit rapinya hehehe. Begitu pulang sekolah, sudah deh, Meili dan Barra bersiap buka lapak. Yang terpenting tetap terjaga kebersihannya terus menerus-menerus.

Barra asyik ikutan kakak mewarnai
Tak hanya bermain, Meili pun kerap mengajari adiknya mengaji, mewarnai gambar, berhitung, dan membaca. Jika Meili belajar, biasanya Barra otomatis turut serta. Hehhe biasanya pola tingkah Barra suka membuat aku dan Meili tertawa dan menjadi hiburan menyegarkan. Aku selalu bilang ke Meili, "Kalau kamu ingin adikmu baik, pintar, dan menurut sama kamu, Kamu harus menjadi kakak yang baik, pintar juga dan menunjukkan kepatuhan kamu sama mama. Pasti deh, Barra ikutan. Karena dia melihat tingkah laku kakaknya dan mama juga." Kalau sikap dewasanya muncul, biasanya Meili memang lebih siap untuk menghadapi pola tingkah adiknya yang macam-macam. 

Meili menunjukkan prestasi mewarnainya
Biasanya nasihatku terselip saat mengajarkan pelajaran sekolahnya atau pada saat mengaji. Sudah hampir dua bulan, aku mengajari sendiri Meili mengaji. Waktu pulang sekolah yang menjelang sore, pukul 14:30, membuatnya letih untuk mengaji di TPA pada pukul 16:00. Sehingga, atas kesepakatan aku dan Meili, kami mengaji bersama. Bersama menghapal surat, terutama heheh. Kerena sekolah Islam, memang menjadikan hapalan surat Juz Amma dan Quran menjadi acuannya. Wah, kadang malu juga, Mamanya belum hapal Al Baqarah, Meili sudah bisa. Barra pun jadi ikutan. Alhamdulillah Barra yang baru 3 tahun, sudah hapal beberapa surat pendek, doa mau makan dan mau tidur, salawat, dan baru mengenal Iqro 1. 

Alhamdulillah rutinitas ini masih tetap terjaga hingga saat ini. Barra pun sudah otomatis, usai salat Maghrib berjamaah, langsung mengambil iqronya. Jika mamanya sedang berhalangan salat, Barra mengajak kakaknya salat berjamaah bersama ibuku. Biasanya Meili yang jadi imam salat. Subhanallah. Tak habis mulut ini mengucapkan syukur atas anugrah terindah dari-Mu ya Allah. Semoga tetap dikuatkan dalam menjalani hari-hari menjadi seorang ibu. Bismillah..

Ma, Meili Mau Jualan Dooong..



Jualan ? aku langsung kaget mendengar permintaan Meili pagi itu. "Jualan apa Mel ?" tanyaku sambil menyisiri rambutnya. Jualan pensil, pulpen, rautan, alat-alat sekolah aja Ma," jawab Meili seraya merapikan kerudungnya usai aku sisiri rambut hitam panjangnya itu. "Memangnya uang jajan sekolah kamu kurang ya ? " tanyaku. Meili tersenyum, dan salah tingkah. Hehehhe...Nggak juga. Tapi Meili ingin membantu Mama, supaya Mama ga kerja di kantor lagi !" Deg..jantungku seakan berhenti. Tak disangka, Meilia yang waktu itu kelas 2 SD sudah berani bersikap agar aku tidak lagi kerja di kantor. 

Begitu saudara silaturahmi ke rumah, Meilia tidak mau kelihatan kesempatan. Jualan.
Memang pekerjaan jurnalis selama lebih dari lima tahun aku jalani, benar-benar menguras waktuku. Berangkat ke kantor sekitar pukul 09:00. Itu kalau tidak ada jadwal wawancara pagi. Kalau ada jadwal, wahh bisa nyubuh dari rumah, yang jauhnya bikin tua di jalan (2-3 jam perjalanan). Pulangnya pun larut malam. Meili dan adiknya dibawah penguasaan ibuku. Aku nyaris tak ada waktu untuk menemaninya mengerjakan PR atau belajar di rumah. Paling waktu libur atau weekend aku sempatkan periksa-periksa lagi pelajarannya. 

Tetapi suasananya liburan jadi kurang mendukung untuk belajar maksimal. Aku juga letih, Meili pun kurang konsentrasi karena ingin lepas juga dari rutinitas urusan sekolah. Hmm, tak heran jika prestasi Meili di kelas 1 dan 2 berada di posisi 12-13. Bahkan pernah 15 dari 27 murid di kelasnya. Padahal Meilia tergolong anak yang pintar, dan punya daya ingat bagus. Kreativitasnya juga lumayan. Dia pandai mewarnai. Sudah lebih dari 30 piala bertengger di rumah.  Tetapi lagi-lagi, egoisku yang ingin tetap berpetualang dalam membantu perekonomian keluarga, masih mendominasi.

 Pikirku waktu itu, yang penting quality time. Dan, aku masih merasa punya waktu lebih untuk mengajarinya mewarnai dan mengantarkannya ikut kompetisi mewarnai, liburan dan mengajaknya melakukan akivitas yang menyenangkan. Pikirku lagi, yang penting, pendidikan itu adalah memiliki akhlak yang baik dan mengusai kemampuan dasar berhitung, berbahasa, dan agama. Aku pun melihat nilai-nilai Meilia tidak begitu jelek, rata-rata 7. Dasar, aku terlalu mencari banyak pembenaran, dengan berkarir di luar rumah, pendidikan anak tetap terawasi. 

Meili merayakan "keuntungannya" berjualan.
Namun rupanya, keinginan Meilia untuk berjualan tak surut. Dia terus menagihku untuk membelikan barang-barang jualannya yang berupa alat-alat tulis itu. Aku memang pernah cerita ke dia, kalau di dekat kantorku ada pasar grosir alat sekolah dan mainan anak-anak yaitu Pasar Asemka. Beberapa kali aku pun membelikan alat tulis lucu  untuknya. Dia suka sekali. Pernah memang ketika pertama kali aku belikan beberapa pensil  di kelas 1 dulu, dia memberikan beberapa pensil hello kitty-nya itu ke teman-teman dekatnya di kelas. Teman-temannya pun suka dan menanyakan beli di mana.Ehhh tak di sangka, Meili meresponnya dengan  ingin jualan pensil dan alat sekolah  di sekolahnya. Tapi tidak aku gubris, khawatir mengganggu konsentrasi pelajarannya. Lagipula, ia masih kelas 1. Aku ingin Meilia lebih leluasa bermain. Aktivitas jualan memang sepertinya disukai Meilia. Dia suka bermain jualan-jualalan dengan teman-temannya. Aku suka memperhatikan jika kebetulan libur di rumah. 

Menginjak kelas 2 awal, keinginan berjualannya tambah kuat. Dengan alasan, ingin membantu Mama bekerja. Hhmm bikin terharu dan mengusik pikiranku terus. Hampir tiap hari dia menagihku untuk membelikan alat-alat sekolah buat jualan. Tetapi kali ini, katanya uangnya mau buat tambahan tabungan di sekolah. Akhirnya dengan membuat kesepakatan, boleh berjualan asalkan tidak mengganggu pelajaran di sekolah dan naik peringkatnya setidaknya menjadi 10 besar, Meili pun menyanggupi. 

Beberapa hari kemudian, setelah deadline tugasku kelar di kantor, aku langsung ke Asemka, memborong sejumlah alat tulis berupa pensil, pulpen, rautan, penggaris, gantungan kunci, cincin mainan dan sebagainya. Lucu-lucu juga modelnya dan murah lagi karena buatan Cina. Barang-barang yang dijual di Asemka memang untuk dijual lagi. Pembelinya datang dari berbagai daerah di Indonesia. Uniknya lagi, belanja di Asemka, kayaknya harus ngeborong. Kalau tidak, bulan depan, bisa dipastikan barang incaran kita sulit ditemukan. Karena terus berganti model.

Usai belajar, Meili memilah-milah bros rajutan yang akan dijualnya esok hari.
Begitu pulang, Meilia langsung ceria menyambutku. Matanya berbinar melihat tas plastik besar yang aku bawa. Rupanya, dia sengaja menahan kantuknya sampai jam 11 malam, demi menunggu aku. Kasian..(aku terisak dalam hati). Setelah aku jelaskan sebentar tentang harga-harganya dan keuntungannya, cara berjualan dan membuat catatan setiap transaksi,  dia langsung membereskan barang dagangan yang dibawanya besok. Tidak banyak. 

Pagi-pagi dengan penuh semangat, anak pertamaku ini menenteng bungkusan plastik hitam, sementara pundaknya menahan beban tas gendong dan tempat minum. “Meli, jualannya pas istirahat aja ya. Biar ga ganggu pelajaran dan bu guru tidak marah.” Pesanku. Ia menggangguk sambil mencium tanganku pamitan berangkat sekolah. 

Di kantor, aku jadi kepikiran jualan Meili. Ini kali pertama, anakku membawa barang dagangan ke sekolah. Ingin segera pulang ke rumah. Hari itu, aku memutuskan pulang cepat. Jam 5 sudah keluar kantor. Sampai rumah sekitar jam 8 malam. Meili belum tidur dan masih asyik nonton TV bersama adik dan Mbah-nya. Begitu mendengar salamku di pintu pagar. Meili langsung setengah berlari kecil menghampiri dan membuka pintu pagar. 

Dengan penuh kesabaran, Meili melayani teman-temannya
Benar saja, secepat kilat, aku langsung disambut dengan serentetan cerita jualannya. Ternyata, dia laku besar hari itu. Hhehehe..tetapi untuk uang dan jumlah barang yang “habis” tidak sesuai. Aku tersenyum mendengar ceritanya yang antusias menawarkan barang dagangannya ke teman-temannya. ‘Ma, meili pertama kali Meili nawarin Wanda pensil hello kitty. Eh dia suka mah. Terus bilang ke teman-teman. Jadinya deh Meili dikerubungin. Malah yang anak cowok pada pesen gantungan kunci bola,”  ceritanya yang menggelar dagangan saat pelajaran, tetapi guru sedang di luar kelas. 

Belajar dari hari pertama jualan, aku mengingatkan Meili agar sekali lagi tidak menjual saat jam pelajaran. Juga, memperhatikan “keamanan” barang dagangan, dan mencatat teman-teman yang belum membayar tetapi sudah mengambil barang. Hari kedua, ketiga, dia masih asyik dengan dagangannyaa. Aku monitor, ada kemajuan juga per harinya. Uang hasil dagangan dimasukkan ke dompetnya. Aku tidak mengambil modalku. Hehehe meski modal dan untungnya juga disamaratakan sama Meili. Karena katanya, temannya ada yang nawar, dan dia tidak tega. Penghasilan jualan Meili secepatnya di tabung di tabungan sekolah.  Aku sisihkan sedikit untuk tambahan uang jajananya. “Mah kalau tabungannya dah banyak, Meili mau beli jam tangan hello kitty dan tempat pensil hello kitty lagi,” pintanya. 

Meilia sibuk mencatat pembelian bros teman-temannya
Rupanya, Meili pun tidak hanya berjualan di sekolah, teman-teman bermainnya di rumah pun tak lepas dari tawarannya. Bahkan saudara yang sedang silaturahmi ke rumah pun ditawari dagangan. Hehehe..Meili, semangat betul jualan. Sampai akhirnya, dia berhenti sendiri karena orderan mulai berkurang. Dan, di akhir kenaikan kelas, Meili membuktikan janjinya. Jika di semester pertama, dia rangking 13. Semester kedua yang merupakan semester kenaikan kelas, Meili bisa mendapatkan peringkat ke-9. Lumayan, masih 10 besar. 

Kini Meili sudah kelas 3. Aku pun sejak awal Januari 2013 memutuskan risain dan bekerja di rumah. Meili senang sekali. Apalagi aku menantangnya supaya berprestasi lebih baik lagi dari sebelum aku berhenti bekerja. Dengan sejumlah tantangan dan hadiah, Meili sangat bersemangat. Alhamdulillah raport bayangannya di semester pertama, bagus. Meili berhasil meraih peringkat tiga. Dan, sepertinya raport yang akan dibagikan pada tanggal 21 Desember ini, terjadi peningkatan prestasi. Karena aku lihat nilai-nilai ulangan harian dan mid semesternya bagus. Tetapi tetap, minat jualan Meili tidak hilang. Bahkan dia semakin mantab. Beberapa kali, dia ikut aku jualan. Hheehhe jadi ceritanya mamanya mau berbisnis jualan rajutan secara online. Melihat rajutan berupa bross kecil yang cantik, Meili tertarik mau ikutan nawarin ke teman-temannya. Alhamdulillah, laku juga. Pernah suatu ketika aku bertanya kepadanya. "Meili, kamu ga malu jualan di sekolah ?" Ehh dia malah balas menjawab,  “Nabi Muhammad aja pedagang Ma. Kenapa harus malu !” ujarnyanya. Ya, guru agama Meili di sekolah memang selalu bercerita tentang cara berdagang Rosulullah yang secara tidak langsung mengajarkan anak berbisnis sejak dini.

Meilia kalau melintasi jalan ini selalu berteriak, 'Itu rumah sakit Meili". Foto : Indoplace
Sekarang kalau ditanya cita-cita, Meili lantang menjawab, mau jadi pengusaha rumah sakit. Katanya, kasihan sama orang-orang miskin yang sakit, tidak mampu berobat. 'Kanapa ya Ma ga  digratisin aja," ujar Meilia. Meili-meili  sampai juga pikiran kamu ke sana. Setiap kali lewat depan Rumah Sakit Meilia di Cibubur, Meilia selalu menoleh dan berteriak, Itu rumah sakit Meili !. Semoga terkabul cita-citamu Nak..Untung Mama belum terlambat untuk bisa mendampingimu selalu. Terima kasih Tuhan atas anugerah-Mu dikaruniai anak yang pintar dan dewasa pemikirannya. Ini menjadi motivasiku untuk membuktikan ke Meilia, dengan berwirasaha, kita bisa menjadi lebih baik, dan lebih bisa membantu orang lain.