Jual Daster Batik

Jual Daster Batik

Antara Cinta Terlarang dan Cinta Anugerah



Hmm...awal tahun ngomongin cinta nih. Kayaknya kudu dicurhatin di blog biar agak mengendur "beban cinta di hati hehehe. Memang beberapa bulan belakangan ini, status-statusku bersuara romantis. Ga di FB, twitter, chat dengan beberapa teman, sepenuhnya rada-rada lebay gitu. Ada yang sempat inbox karena keponya. Kamu sedang jatuh cinta ka ? aku jawab aja, ya gw lagi jatuh cinta hehehe...semuanya jadi ketawa..Cieee...Jatuh cinta sama siapa lagi kalo bukan sama suami...pastinya ya. Apalagi usia pernikahan udah 13 tahun. Duhh..kalau nggak cinta ga terus dihidupkan, disirami yang rajin dan disuburkan,..hmm jadi hanya rutinitas hidup. Makanya, ga heran juga banyak denger ada kehambaran dalam hubungan cinta dengan pasangannya.

Bahkan, ada temen yang sampai sekarang dah kepala empat belum  nikah, karena berfikir...gile ye gw hidup puluhan tahun sama pasangan gw. Bosen banget jalaninnya kalo kita ga bisa ngidupinnya. Gw aja yang pacaran bertahun-tahun rada garing ! heheh garing karena ga segera dilegalkan di KUA...timpalku. 

Jadi inget perjalanan cinta sampai ke pelaminan sama suami. Nyaris jujur tanpa cinta hehehe..Loh kok ? Ya...karena betul-betul hanya mencoba menerima tantangan Allah...yang langsung mengabulkan doa ketika aku minta jodoh. Instan..banget hasilnya. Dalam doa nggak mau minta yang macam-macam, hanya ingin yang terbaik menurut penilaian Allah. Pernah doa minta yang macam2...eh ketemu sih, tapi ga nyaman. Tapi kenapa ya ketika ga nyaman, kok wajahnya selalu terbayang-bayang, Ada rindu di hati kalo ga ketemu..aishh...Beda ketika ketemu sama suami..nyaman banget..Tapi anehnya kok wajahnya ga pernah terbayang-bayang. Ga ada rindu juga...biasa banget. Mungkin karena nggak ada proses pendekatan kali ya. Langsung aja nikah, dan dah tau komitmennya, jadi keseruan mengerjar cinta diterima ga ada.

 Tidak seperti perasaan aku dengan beberapa pria yang pernah sesaat mampir di hati. Terbayang-bayangnya cukup mengganggu. Ya...katanya itu perasaan orang jatuh cinta. Dengan suami...lempeng banget...dari sejak ketemu yang dadakan, 8 bulan deket proses mengenal, sampai dah 13 tahun jalan, rasa-rasa cinta kok nyaris ga ada.  Maksudnya bayang-bayang wajahnya kok ga ada ya hehehe kayak ABG aja, mau makan, mau tidur, mau belajar, ingatnya kamu...



Hhahha aku dah sering juga cerita ke doi tentang rasa ini. Dia cuma senyam senyum aja. Alhasil, dalam perjalanan biduk rumah tangga, sebagai nahkoda suami sangat tidak mengecewakan. Terlalu sempurna buat aku ...baik banget, perhatian, dan ahhhh banyak sekali kebaikan doi buat aku dan keluarga. Sampe aku dah ga butuh apa-apa lagi, Semuanya dah dicukup lahir dan batin. Oh Tuhan betapa sempurnanya nikmat yang Engkau berikan padaku. 

Suamiku tak pernah membentuk seperti yang dia mau, Aku pun begitu, tidak menginginkan doi seperti yang aku mau..Mengalir saja..dan saling menghargai dan mencukupi kekurangan masing-masing. Aku sangat bersyukur dengan kehidupan ini. Dia baik juga sama keluargaku..perhatian terhadap adik-adikku dan keluarga besar...Ohhh pokoknya ga ada cacat. Dengan teman-temannya, tetangga, doi begitu  dermawan dan suka membantu. Tuhan baik banget menganugerahi suami yang seperti itu.

Selama 12 tahun aku benar-benar mengunci hati untuk orang lain, kecuali penuh dengan suamiku tercinta..Rasa2 seperti orang pacaran selalu aku tumbuhkan..Cinta benar-benar aku lampiaskan pada perbuatan. Aku yang suka manja-manja, romantis dalam kata dan perbuatan dah pol aku curahkan ke suamiku yang cool..Doi memang nggak pernah ekspresif dan romantis. Tapi perbuatannya penuh cinta banget. Aku merasa tersanjung selalu...Aku merasa makin menjadi diriku sendiri...

Tetapi beberapa bulan belakangan ini ada rasa yang menggangguku. Selama 12 tahun aku tak pernah bermasalah dengan hati. Duhhh sebenarnya agak malu menceritakannya di blog. Tetapi aku hanya ingin mencurahkan perasaan dan ingin menjadi pembelajaran mungkin bagi kita yang punya perasaaan sama untuk saling menguatkan sekaligus mengingatkan. 

Aku juga sama sekali ga pernah nyangka, ada perasaan aneh di hatiku pada seseorang yang jauhhh sekali kualitasnya dari suamiku. Perasaan aneh yang seharusnya tidak boleh ada..bahkan jangan pernah ada. Aku sedih sebenarnya, menanggung perasaan ini. Aku banyak mencari argumentasi logis untuk mengenyahkan rasa aneh itu. Tapi sampai saat ini rasa itu belum jua hilang. Brengsek sekali...aku suka menyalahkan diriku sendiri. Aku ingin terlepas dari rasa itu......Aku ingin sepenuhnya memberikan hatiku untuk suami tercinta. 

Aku bukan orang yang terlena rasa karena cinta. Aku bukan orang yang gampang mabuk karena perasaan cinta. AKu selalu menggunakan logika. Cinta adalah perkawinan rasa dan rasio. Aku tak ingin membuang waktu dan hidup ga jelas alias galau karena cinta. Alhamdulillah, aku bisa menjalani masa "pacaranku" dulu dengan sehat dan berlogika,

Suamiku sudah sangat sempurna sebagai seorang lelaki dan suami. Dia bisa menjadi teman, sahabat, kakak dan suami. Sempurnahhhh...meski jujur tak ada rasa di hatiku. Aku hanya bersikap dan berbuat untuk menghidupkan perasaan cinta. Sampai sekarang aku bingung...apakah ini rasa  terhadap seseorang  itu benar-benar cinta, suka atau nafsu ?....Tapi yang pasti kayaknya nafsu setan yang ingin mengguncang rumah tangga kami. Setan inginn menggoyahkan ikatan kami yang kami jaga erat, apapun yang terjadi, sampai azal menjemput.

Hubunganku sama pria itu juga aku sangat batasi, sebatas hubungan kerja dan profesional. Mungkin benar ya karena kita sering bertemu dan berkomunikasi, sempet menjadi pendengar curhat diaa, jadi setan tumbuhkan rasa itu. Aku sadar betul. Sampe aku banyak membaca, browshing, dengar dari teman-teman tentang perselingkuhan. Dan, rata-rata, perselingkuhan disebabkan bukan karena hubungan yang tidak harmonis dengan pasangan, tetapi karena nafsu. Na'udzubillaahi mindzalik. Nafsu seksual itu yang mendominasi. Setan bener ya...Suamiku sudah sangat memuaskan kebutuhan lahirku, jadi tak ada lagi alasan untuk berselingkuh. Amit-amit juga ya...jangan sampai kejadian. Perselingkuhan pun rata-rata berakhir tak membahagiakan, karena menyakiti pihak lain. Belum lagi dosa yang ditanggung karena pengkhianatan cinta dan ketulusan.

Tetapi, rasa cinta yang tak wajar itu memang beda ketika kita sudah berpasangan resmi. Kuat sekali. Aku dan pria itu pun sudah sangat sadar efeknya. Dan, kami sangat membatasi diri. Jangan sampai melukai hati pasangan masing-masing. Karena biarbagaimana pun tak boleh cinta ini membentuk hubungan. Saya jadi berfikir, memang ujian terberat saat mengendalikan diri untuk tidak berselingkuh. Pantas banyak pasangan yang jebol ikatannya karena perselingkuhan. Setan selingkuh kayaknya levelnya dah tinggi. Berbagai cara dia rasuki perasaan kita sehingga selalu cenderung ke o "pasangan selingkuh". Berbagai cara pun sudah aku lakukan untuk menghilangkan rasa itu. Tapi ya.. semakin kuat dihilangkan, semakin tersiksa. Ada rindu .. Lagi-lagi setan bangetttttt ya..

Hingga akhirnya aku cobaa mengendurkan rasa itu. Bukan menusuknya dalam-dalam. Aku hanya perlu berdamai dengan diri, menerima rasa yang sekonyong-konyong muncul. Ya..menerima kalau aku menyukainya. Lantas apa selanjutnya ? Selanjutnya hanya mencoba mengendalikan, memakai rasio untuk menguatkan betapa suamiku adalah orang terbaik pilihan Tuhan. Bersikap wajar pada orang yang mengganggu rasa kita..Membatasi sikap dan pergaulan.

Alhamdulillah, pada akhirnya memang tergantung dari kita. Kalau kita tidak memberikan angin dan kesempatan, hubungan terlarang tidak akan terbentuk. Tidak perlu juga sampai memutuskan silaturahmi. Karena kita masih butuh dia untuk hubugan profesional. Aku rajin libatkan suami dalam setiap pekerjaan  yang berhubungannya dengan dia. Karena kami berdua berbisnis. Waktu lebih fleksibel, dan suami juga bisa bantu saya. Si dia melihat kebersamaan dan kemesraan aku dengan suami...akhirnya juga mikir, untuk tidak merusak ikatan suci yaang sudah kami bangun bertahun-tahun. Suamiku bersikap sangat baik padanya.

Tak dipungkiri rasa tak biasa itu tetap bergelayut di hati. Namun, jika kita kelola dengan baik dan tak menzalimi hati, pelan-pelan memang bisa melemah. Malah produktif. Saya jadi menyimpulkan, kalau cinta sejatinya adalah perbuatan yang menghidupkan. Jadi kalau kita mencintai seseorang, hidupkan  jiwa dan raga orang yang kita cintai untuk menjadi manusia yang baik.

 Cinta sejati tak berujung nafsu. Cinta sejati juga tak harus memiliki. Dia hanya ingin melihat yang dicintainya itu menjadi manusia yang baik di mata Allah dan manusia. Jika nafsu yang menguat, sudah dipastikan itu cinta yang tersesat, dan pasti menyisakan penyesalan. Mumpung belum terlambat, bagi sahabat yang sedang "berselingkuh hati", cobalah untuk dikendalikan dengan berdamai dalam diri. Jangan coba untuk membunuh rasa itu, karena sangat sulit dan menyiksa. Kita hanya perlu mengendalikan dan mengaturnya secara produktif.

Baru kali ini saya jadi menyukai kalimat : Cinta tak harus memiliki,...selama ada rasa untuk memiliki...itu bukan cinta...tetapi egoisme cinta. Makanya, banyak orang yang tersesat atas nama cinta, karena dia ingin memiliki...Jangan permalukan dirimu atas nama cinta. Cinta itu sesuatu yang suci jika kita mampu memaknainya. Cintu itu kehidupan. Hidupkan rasa cintamu...pada porsi yang tepat yang meninggikan dirimu di mata Tuhan. Tak ada cinta yang terlarang, Yang ada adalah hubungan yang terlarang bagi pasangan yang sudah resmi menikah....Bismillah ya...semoga kita termasuk hamba-Nya yang selamat dunia dan akhirat. Alhamdulillah rasa itu pelan-pelan begitu melemah...dan suamiku makin eksis mencintaiku dengan perbuatannya yang Subhanallah...Terima kasih Tuhan..nikmatmu begitu besar buat ku...



Begini Cara Saya Melampiaskan Kebaperan



Baper atau Bawa Perasaan...sepertinya sedang menjangkiti saya akhir-akhir ini. Saya memang bertipikal perasa. Nggak boleh ada hal-hal yang mengusik prinsip..biasanya cepet banget tuh tersulut emosinya...Atau kalo melihat "keprihatinan" bisa langsung mewek... Ehh  baper, emosional, perasa kayaknya saudara dekat  ya..kuncinya ada di rasa...

Sejak beberapa tahun ini, saya mencoba mengurasi rasa "perasa" untuk hal-hal yang bersifat pekerjaan. Dulu sewaktu masih aktif jadi karyawan..saya cepat banget merasa feeling guilty, ga enakan tingkat tinggi, kadang emosional juga..panikan de el el yang akhirnya membuat saya mengalami stress tinggi. Perasaan ini sebenarnya sudah tertanam bertahun-tahun..sejak SD malah hehehe... 

Tetapi Alhamdulillah meningkatnya usia..seiring dengan mulai tumbuhnya uban-uban di kepala..dan suka cepat letih..aduuh berasa tua banget, saya menjadi banyak menggunakan logika, berani bersikap dan bertindak, bisa  memimpin (terpaksa juga kali ya karena sekarang udah kerja mandiri) dan siap mengambil risiko apapun keputusannya. Ya, karena situasi yang berbeda mendorong kita melakukan hal-hal berbeda dan lebih berani. Lebih berani, karena sudah merdeka hehehe....ga ada yang ditakuti lagi,,keculi takut pada Tuhan..dan takut ga bisa amanah dan tanggung jawab.

Belakangan ini, ada "inovasi" baru yang saya rasakan. Hehhe...malu sih menceritakan di sini pencetusnya..karena complicated banget..bingung  kenapa tiba-tiba perasaan itu ada. Datang dari mana juga nggak jelas. Pokokya..sesuatu yang nggak banget..bukan prinsip saya banget...tapi kenapa selalu menghantui.. Hmm. saya anggap ini ujian di pertengah usia menuju 40 tahun. Sekuat tenaga dan rasa,  saya berupaya untuk mengatasi segala perasaan yang nggak jelas. Jujur, cukup mengganggu produktivitas saya akhir-akhir ini. Untunglah, pekerjaan bisa selesai sesuai harapan. Hanya saja, karena perasaan itu membuat saya baper tingkat tinggi dan mengganggu konsentrasi. Saya cukup lama untuk bisa fokus menganalisis dan mencari ide-ide kreatif di bidang pekerjaan saya.

 Cobaan banget...sampe malu liat timeline di FB isinya berderet prestasi para blogger, teman-teman, dan orang-orang maju lainnya. Lah...saya ngapain aja ? selain berkutat pada kerjaan rutinitas., miskin inovasi dan kreativitas.  Sedih makin memuncak. ,

Di tengah kebaperan tingkat tinggi, saya coba olah sekuat tenaga agar tetap on the track.Jangan sampe menularkan energi negatif yang pastiya akan merugikan diri sendiri, dan merusak hubungan dengan orang lain. Susah memang....memokuskan diri untuk berfikir positif di tengah emosi yang membuncah. Alhamdulillah, sampai saat ini emosi saya masih terkontrol..jadi ga sampai meluapkan baper di media sosial dengan postingan negatif. Kecuali terhadap case tertentu, yang menyangkut Pak Jokowi, atau jual agama untuk politis, biasanya saya langsung emosi tingkat tinggi hehehe..Ga rela..

Makanya tidak sedikit yang bilang, saya tenang, heheh tidak emosional terhadap sesuatu, bijak..ya elah hehheeh...Padahal kalau tau siapa saya...saya sangat emosional. Tetapi, emosi saya sudah terbuang pada orang-orang terdekat yang menerima saya apa adanya..sehingga ketika tampil keluar, nyaris sudah lelah untuk melampiaskan emosi..




Tetapi, dalam prakteknya rasanya masih gatel aja kalo tidak diterjemahkan lagi..atau setidaknya diperciki lewat media sosial. Hehehe..makanya saya sekarang kayak seorang motivator. Maafkan ya teman-teman yang berteman dengan saya di FB, timeline saya suka berisik dengan serpihan kata motivasi berhastag #MenjadiBaik. Sebenarnya kata-kata motivasi itu keluar karena saya sedang baper. Setiap melihat sesuatu yang kurang sreg atau saya tiba-tiba dibisiki setan hingga bersikap dan berprilaku negatif, biasanya pikiran saya gatel untuk berkata-kata. Seolah ingin memberikan cermin kepada diri saya sendiri...Heloo ika.....apa kabar ???? lihat dirimu di cermin....Jangan ngaca, kalau kamu ga mampu melihat dirimu utuh di cermin...

Inilah serpihan kebaperan saya di media sosial FB #MenjadiBaik.






Alhamdulillah efeknya dengan menebar serpihan kata yang baik...menjadi salah satu terapi jiwa juga untuk kita menjadi lebih baik. Daripada kita menyalakan api, akan memanaskan sekeliling, lebih baik menghidupkan keran air yang bisa menyejukkan...minimal kucurannya bisa digunakan untuk membasuh wajah kita sendiri..Bagaimana dengan Bapermu sobat ? Yuk dengan Baper...kita Bawa Perubaha yang positif..!


Sumber pic : malesbanget.com









Berqurban, 'Menyembilih" Hawa Nafsu



Pagi ini Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan menghirup udara Idul Adha. Alhamdulillah, masih diberikan amanah juga menyisihkan rejeki untuk berqurban yang terus kami upayakan menjadi rutin tiap tahunnya. Alhamdulillah, selalu dimudahkan segala niat dan upaya yang memang difokuskan untuk menyempurnakan amal.

Tetapi, ada yang aneh pada hari Idul Adha ini. Aku sama sekali tak tertarik untuk menyaksikan penyembelihan hewan qurbanku. Suami pun begitu. Hanya menengok sapinya sebentar, kemudian tak kembali lagi. Dipanggil-panggil cukup lama, sampai panitia kurban menyerah. Sedangkan anak-anakku, sedari pagi sudah absen menyaksikan prosesi penyembelihan. 'Kok ayah ga datang sih. Tadi udah dipanggil-panggil.? ujar Meili, sulungku. Suamiku hanya tersenyum. 'Emang udah disembelih sapinya ?". Udah...

Aku di rumah asyik menonton film Bulan Terbelah di Langit Amerika bersama ibu. Barra, si bungsu sudah pulang. Mencuci kakinya sendiri yang kena percikan darah qurban. 'Dah selesai De, qurbannya ? tanyaku sambil membantu mencuci kaki dan menggantikan stelan kokonya yang basah. "Udah ma. Barra mengambil android sebentar, bermain mobil-mobilan. Nggak lama, teman-temannya memanggil, dan Barra pun ngeloyor pergi.

Hari ini, kami tak menyiapkan sesuatu yang spesial. Tetangga sudah berisik, sejumlah sembako naik berkali lipat. Ibu dan aku menanggapinya biasa saja. Ya, karena kami memang tak menyiapkan apa-apa,Kecuali bumbu untuk nyemur. Hheheh..biasanya panitia qurban memberikan sedikut hewan qurban bagi yang berqurban.

Di kamar, aku berdiskusi santai dengan suami tentang hewan qurban. Aku mengungkapkan kegelisahanku. Sebenarnya, aku tak tertarik berqurban di lingkunganku. Sudah lama aku ingin berqurban ke daerah yang jauh. Tinggal transfer saja, dan diserahkan penuh ke pengelola yang menyulap daging qurban menjadi kornet atau apalah.

Rasanya susah sekali menghilangkan perasaan berqurban karena "rasa tidak enak".Ya, jujur aku berqurban, sepertinya ada rasa terselip tidak enak. Panitia kurban sudah melisting kami sebagai calon peng-qurban rutin. Jadi, kami selalu ditagih janji, kapan bisa menyetor uang qurban. Kata ibuku yang jaga rumah, beberapa kali Bapak A ke rumah, meminta kesediaan qurban ketika aku dan suami tidak berada di rumah. Kalau dihitung, ada 5 kali. Hmm...jadi merepotkan orang. Hingga akhirnya, aku dan suami memutuskan ya sudahlah kita berqurban di sini aja. 'Nggak enak bapak A ke sini mulu. Rejekinya belum bisa dibagi di tempat lain. Mungkin tahun depan, semoga bisa lebih banyak berbagi di tempat lain.

Ada beberapa alasan, aku enggan berqurban di lingkungan rumahku. Sama halnya ketika aku enggan memberikan "penganan" berbuka puasa untuk musholla di lingkunganku. Ohh Ya Allah maafkan aku. Tiap tahun, setiap kepala di bulan puasa diminta menyetorkan takjil berbuka. Kami selalu bersemangat menyiapkannya. Tapi ketika kami resapi, ternyata tajil yang kami siapkan tidak "memberi makan" orang yang susah. Yang makan, hanya pengurus mushollah yang notabene berkemampuan. Bahkan, tak jarang, takjil bersisa banyak,  teronggok membisu di sudut musholla. Miris sekali.

Padahal makna takjil itu adalah "menyegarakan" berbuka, berupa penganan kecil untuk menyegarakan berbuka. Efektifnya diberikan di pinggir-pinggir jalan raya dimana membantu orang berbuka puasa di saat sedang berkendara termina, stasiun. Atau mesjid-mesjid yang mengundang orang tak mampu atau anak-anak yatim melepas dahaga dan menghibur rasa lapar mereka dengan penganan yang enak. Tetapi tidak jarang pula, takjil jadi bermakna politik. Karena plastiknya berstempel partai atau tokoh tertentu. Hmm...apalah itu...

Tetapi, takjil di lingkunganku, hanya untuk orang yang itu-itu saja, pengurus mesjid atau warga sekitar yang terkategori mampu. Warga komplek membangun mushola kecil di tengah perumahan. Pengurus mesjidnya memang aktif. Tapi, kok rasanya ada yang kurang pas saja ketika takjil yang makan dia lagi-dia lagi. Ahh...rasa ini jadi tak rela. Hmm...buru-buru aku hempaskan rasa itu, dan meluruskan niat..Anggapkan memberikan takjil itu untuk silaturahmi, mempererat hubungan antar tetangga.

Perasaan ini kembali berkecamuk saat qurban. Daging hewan qurban  didistribusikan didominasi untuk masyarakat sekitar. Setiap kepala keluarga, bisa dipastikan mendapatkan 2-3 kantong daging. Belum lagi kalau ada yang kebagian tugas jagal, tetangga terdekat suka juga diberikan. Hmm...berlimpah ruahlah daging-daging kurban. Sampai aku miris, apakah masyrakat yang tidak mampu turut kebagian? aku liat di televisi, masyarakat rela berdesak-desakan demi memperoleh sekantong daging. Bahkan ada yang sampai tergenjet dan pingsan. Sementara di perumahanku berlimpah daging qurban. Dimana-mana tercium aroma bakaran sate. Ini yang membuat gelisah hatiku.

Belum lagi soal penyembelihan. Aku tak kuasa lagi melihat. Pernah suatu kali aku menyaksikan seekor kambing yang menangis kencang tak mau disembilih. Memang pemandangan yang terasa mengerikan. Hewan qurban dijagal menunggu antrian. Satu per satu, sapi dan kambing dikerek. Di depan mata mereka, temannya disembilih. Padahal seharusnya, saat temannya disembilih, usahakan hewan lain tak boleh melihat. Tidak jarang juga, badan sapi atau kambing dijatuhkan paksa dalam keadaan terikat tak berdaya. Malah tadi aku melihat di televisi ditayangkan sapi yang sudah terpotong kepalanya, tiba-tiba bangun dan berlari, menjadi tontonan dan tertawaan orang sekitar. Astagfirullah. Ga tega aku.

Yang pernah aku tahu, sapi wagyu ketika disembilih benar-benar dibuat terhibur agar tidak stress. Diajak berjalan-jalan dalam jalan setapak aAku sampai tak bisa berkata-kata lagi saat mendampingi anakku menyaksikan penyembelihan. Mulai ada rasa tidak rela hewan-hewan itu diperlakukan kurang layak. Memang benar, suatu urusan harus diserahkan pada ahlinya. Termasuk soal penyembelihan, harus ditangani oleh ahlinya. Makanya pernah Gubernur DKI Jakarta, Ahok sempat penertiban penyembelihan di kampung-kampung, sekolah, dan penjualan hewan qurban di pinggir jalan. Kemudian langkah penertiban oleh Ahok mendapatkan reaksi keras dari sejumlah pihak. Hmm tak jelas gimana kabarnya sekarang. Yang pasti, penertiban oleh Ahok tidak berjalan maksimal. Sekarang malah lagi rame, penolakan hewan qurban dari Ahok hehehe..dan demo jemaah haji tolak Ahok.

Aku cuma berharap, semoga pemerintah bisa memberikan solusi untuk hewan qurban. Dan, sesungguhnya PR  berqurban itu adalah kita bisa menyembilih "hawa nafsu". Bagaimana dengan kamu...?









Apa Ada yang Salah dengan Cinta ?




Hmmm...tetiba belakangan ini pikiranku bergelayut pada lima kata : CINTA. Ya, cinta...Hmm sudah lama betul saya tidak terlalu sentimental dengan kata ini. Hhhe,..maklum sejak menikah 12 tahun lalu, ..rasanya rasa cinta, hanya butuh dibuktikan, bukan lagi dirasakan. Lantas kenapa tiba-tiba rasa Cinta itu mengusikku belakangan ini ?

Pertama, dari orang-orang sekelilingku yang aku dekat saat ini banyak yang masih sendiri. Sahabatku, teman-teman baikku masih menjomblo. Ada yang sudah bercerai belum menikah lagi dan sedang mengharap cinta sejati, Ada lagi yang memang menjomblo, takut mengungkap perasaan. Dan, aku menjadi orang yang merasa "beruntung" dicintai dan bisa mencintai seseorang sepenuh hati. Hidupku yang aku anggap terlalu sempurna....hingga aku suka setengah ngotot ke Tuhan..Ya Tuhan berikanlah teman-teman baikku pasangan sejati...yang membuat hidup mereka berenergi.

Aku suka merasa sedih, ketika sahabatku bercerita tentang masalah petualangannya mencari cinta sejati. Padahal, dia orang yang solehah, sangat baik. Kenapa kok Allah tidak memudahkan urusannya menemukan cinta utuh dari seorang pria yang mau menerima apa adanya. Kegagalannya dalam rumah tangga karena dikecewakan dengan suami yang terpikat dengan wanita lain. Sungguh kurang ajar sekali...Disekolahkan suaminya tinggi-tinggi dari hasil pinjaman PNS-nya..eh malah begitu lulus, menikah dengan teman kuliahnya sewaktu di Singapura. Sakit hati banget dengernya..

Ketika dia bercerita tentang kisah kasihnya dengan seseorang untuk kesekian kalinya,,aku tak bisa lagi berucap. Hanya mencoba memberikan motivasi, semoga pencariannya ini berbuah pelaminan. Ahhh...aku kangen kamu ..sudah lama kita tak bersua. Meski aku bisa pastikan, ketika kita bertemu, pasti kamu akan bercerita tentang si dia...pria yang tak jelas komitmennya..

Lain temenku lagi,  masih setia menjadi jombloer dan memendam cinta yang begitu besar pada seseorang. Entah aku tak menanyakannya. Karena takut membuat luka..Status FBnya penuh dengan ungkapan sepi..dan cinta tak berbalas. .Hmmm rasanya aku tak ingin menambah kekecewaannya dengan memposting tentang keluarga. Temen baikku lagi, yang sudah berumur sangat mendambakan hadirnya seseorang yang bisa menemani hidup yang beranjak matang. Setiap pertemuan pasti doi selalu menyerempet tentang kesenderiannya.

Kemudian kakak alumniku yang kutemui saat alumni kemarin...sampai saat ini terpenjara perasaan dan hidupnya karena memendam cinta yang tak berbalas. Setiap waktu, status FB nya mengisahkan tentang si dia, di doi, si kamu yang selalu mengintai bayang-bayang hidupnya. Ia tak menikah. Hidupnya pun tak jelas. Miris..padahal dia fotografer berbakat. Oh Tuhan banyak sekali di sekelilingku yang mendamba cinta sejati...

Cinta pada pasangan perlu direfresh 

Ya, cinta yang merupakan sebuah anugerah terindah dari Tuhan harus selalu kita pelihara dan refresh. Cinta memang tak butuh kata-kata. Cinta itu perbuatan. Suamiku Alhamdulillah bukan orang yang mengumbar kata-kata mesra. Hhahah bahkan sampai aku menikah..dia tak mengungkapkan cinta secara explisit. Aku yang ekspresionis malah yang "kecentilan" mengungkap kemesraan.

Godaan terhadap cinta yang terpelihara pasti selalu mengintai dari berbagai penjuru. Entah itu ke suamiku, atau diriku sendiri. Apalagi usia pernikahan sudah lebih dari 1 dasawarsa. Masa rawan. Mario Teguh yang menjelma menjadi "nabi baru" karena terlalu mudahnya dia merumuskan kebahagiaan hidup juga terpeleset  untuk urusan cinta.

Ga nyangka. Dia yang begitu terlihat romantis bersama istrinya, ternyata mengukir sejarah melukai hati wanita selama bertahun-tahun. Bahkan anaknya pun hasil buah cintanya dengan istri pertama sempat tak diakui. Oh Pak Mario...Anda memang seorang manusia biasa yang punya masa lalu. Dan, harus terima konsekuensi orang mem-bullymu karena prilaku yang nyatanya "tidak selicin" jidatmu. Kamu sudah menjadi seleb, public figure, Belasan juta pengikutmu  menjadi asetmu mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Sebagai orang luar, kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap persoalan cinta Pak Mario.



Saya tak ingin menghakimi Pak Mario. Biarlah Tuhan yang memperkarakannya jikalah terbukti dia tak baik. Saya hanya kembali melihat ke dalam diri. Persoalan cinta ini memang pelik. Siapa saja bisa terkena panahnya. Termasuk mungkin saya, yang selalu memakai logika dalam urusan cinta sejak sebelum menikah. Yang tidak mau bawa perasaan tentang cinta. Saya pun menikah dengan suami..juga benar-benar logika yang hadir. Makanya ketika tetiba aku terusik dengan 5 kata itu, aku pun mendadak menjadi baper. hmm...

Yang perlu sama-sama kita tanamkan di benak adalah bagaimana rasa cinta itu harus dimunculkan. Cinta yang bertujuan. Untuk apa kita mencintai, dan karena apa kita mencintai. Selama kita masih menemukan jawaban itu...rasanya kita selalu punya alasan untuk menghidupkan cinta. Cinta karena Tuhan. Karena Tuhan memberikan kita amanah cinta untuk membangun kehidupan. Bukan cinta nafsu, dimana kita hanya diselimuti bayang-bayang tak jelas.

Semoga yang telah dianugerahkan pasangan, bisa selalu terpelihara rasa cintanya. Yang belum menemukan pasangan, segera dipertemukan dengan yang baik menurut Allah. Senantiasa diberikan kekuatan dan kesabaran yang tak berbatas. Cinta itu sejatinya memberikan energi lebih dan lebih yang menghidupkan jiwa dan raga kita. Selama rasa itu membuat kita menjadi manusia..dan ingat selalu pada Tuhan...itulah cinta yang berkah...Insya Allah...




Sun Life Edufair 2016, Wahana Edukasi Pendidikan yang Menyenangkan

Mengedukasi tanpa terasa diedukasi memang merupakan salah satu cara metode pembelajaran yang efektif dapat mengubah pola pikir dan perilaku manusia. Apalagi disuguhkan dengan cara menyenangkan (fun), tanpa ada tekanan atau paksaan untuk mengubah sesuatu, bisa dipastikan siapapun yang mengalaminya akan merasa berkesan. Inilah yang saya rasakan ketika bersama keluarga berkunjung ke Sun Life Edu Fair di Senayan City  pada hari terakhir, Minggu(31/1). Jadi, ceritanya family time di sana :). SunLife Edufair ini sudah dibuka sejak hari Kamis, 28 Januari 2016.




Sun Life Finansial Indonesia selaku penyelenggara, sepertinya sangat memahami bagaimana melakukan pendekatan yang tepat kepada kalangan dewasa dan anak-anak dalam hal edukasi.  Kemajuan teknologi informasi saat ini, pastinya ayah dan bunda sudah tidak merasa kesulitan lagi mencari informasi tentang pendidikan anak. Namun begitu, sebagai mahluk human, manusia butuh interaksi langsung, sapaan hangat, senyuman manis, tatapan mata yang bersahabat sehingga dorongan perubahan ke arah yang lebih baik bisa tercapai. Sesuai misi Sun Life Finansial Indonesia, ingin membuat Indonesia Lebih Baik, membantu para orang tua merencanakan dana pendidikan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Perencanaan yang matang dengan memperhitungkan segala risiko yang bakal dihadapi, memang membuat hidup jadi lebih aman, nyaman, dan bahagia. 

Bukan Pameran Pendidikan Biasa


Berkonsep fun, Sun Life ingin mengajak keluarga Indonesia "berwisata pendidikan". Bak sebuah wahana petualangan bermain, Sun Life mendesain area pameran menyerupai taman bermain. Anak-anak leluasa memilih dan menikmati aneka permainan edukatif, sedangkan orang tua ga kalah asyik berwisata mengelilingi spot-spot taman yang dihuni oleh sejumlah sekolah kenamaan yang memiliki karakter dan keunikan. Ada diantaranya, Highscope Indonesia, Don Bosco, Ichthus School, Al-Fath, Kinderland, SD Kupu-kupu, Sekolah Pembangunan Jaya, Binus School, Jakarta Multicultural Schoool (JMS), sampai Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) dan Capoera Indonesia (sekolah bela diri dari Brazil).






Sekolah-sekolah tersebut menampilkan promosinya dengan kreatif di stand-stand yang tertata menyerupai arena bermain. Setiap sekolah, ada saja program unik yang membuat anak tertarik dan betah berlama-lama. TK Al Fath misalnya, ketika saya kunjungi, Barra langsung tertarik  bermain mobil-mobilan. Ahhh,,serasa di rumah. Mamanya udah selesai ngobrol-ngobrol dengan seorang guru di Al Fath, Barra malah nggak mau diajak pindah ke stand lain ehhehe. Yo wes tinggal dulu ya De, bentar..!' kataku.




Tepat di sebelah stand sekolah Al Fath, ada stand Dream Dress School. Wahh si Meili, langsung tertarik begitu melihat baju barbie mentereng di samping standnya. Rupanya, di Sun Life Edu Fair tak hanya pendidikan formal, dihadirkan juga semacam pendidikan luar sekolah, salah satunya Dream Dress School. 

Dream School merupakan  sekolah desain fashion untuk anak-anak yang berlokasi di daerah Pejaten Raya. Mulai dari usia 6 tahun, anak-anak yang ingin mengenali potensi dan bakatnya, Dream Dress School siap mengarahkannya. Mengarahkan ? Ya, karena di Dream School memang bukan semata untuk mencetak anak didik menjadi seorang fashion desainer, fashion stylist, dan profesi lainnya di dunia fashion, namun lebih pada penemuan bakat dan passion anak. Anak-anak yang suka menulis dan suka fashion, bisa diarahkan menjadi fashion blogger atau penulis fashion di media.




"Kami rangsang dulu anak-anak sesuai dengan kesukaannya. Sehingga mereka nanti akan melakukannya dengan cinta," kata Astrid Esterlita, founder Dream Dress. Astrid menceritakan, ada anak yang awalnya tidak begitu suka belajar di Dream School ---karena daftar atas desakan orang tua, begitu menjalani beberapa kali, timbul kesukaannya. Ia selalu semangat jika datang. Kursus di Dream School diadakan seminggu satu kali, setiap Sabtu, selama 2 jam. 

Mbak Astrid menekankan, di Dream School, anak-anak lebih distimulasi untuk menggali bakat dan minatnya.  Karena itu, untuk membantu anak mengenali bakat dan potensinya, sebelum mengikuti kursus tersebut, akan di-trial menggambar atau mewarnai suatu obyek pakaian. Bagaiamana mereka membentangkan garis, menyapu warna, sudah bisa kelihatan taste seninya. 

"Melalui trial, kami bisa melihat, anak-anak yang sebenarnya punya taste fashion atau tidak. Termasuk juga kepribadian dan metode pendekatan yang dilakukan sehingga mereka bisa percaya diri mengasah bakatnya. Semua anak punya kelebihan. Kami hanya fokus pada kelebihan mereka dan mengarahkannya" terang Astrid yang kini memiliki 10 guru untuk 60 murid-muridnya. 











Meili yang memang sedari kecil terbiasa dengan menggambar dan mewarnai, begitu ditawari gambar perempuan tanpa pakaian, nggak pakai lama, ia segera menuntaskannya. Bakat seni gambar Meili sudah terlatih, hanya saja, sejak dua tahun lalu kesukaan Meili bergeser pada hal yang berhubungan dengan tulis menulis. Ya, ia suka menulis cerpen dan novel semacam novel Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) terbitan DARR Mizan. Benar saja, ketika Meili dianalisis, Kak Astrid menilai, Meili punya taste seni fashion. Pemilihan corak warnanya berani, orangnya tekun dan bertanggung jawab, dilihat dari tuntasnya ia menyelesaikan detil. Bahkan mengkreasikannya.

"Profesi di bidang fashion ini banyak. Seorang anak misalnya tidak bisa menjahit dari pola, tetapi dia bisa membuat gambar-gambar, dan pandai meyelaraskannya, itu kami arahkan untuk menjadi fashion designer. Tidak semua pengetahuan tentang dunia fashion harus dikuasai. Disinilah, pentingnya kita mengenali bakat mereka dari awal sebelum belajar," kata Astrid lagi.

Dari stand Dream Dress, saya ajak Barra yang betah main mobil-mobilan beralih ke wahana permainan lain. Dia melihat sekeliling sebentar, trus langsung cusss ke permainan lego. "Ma, Barra mau main di sini aja," pintanya. Saya lihat wahana permainan ini cukup padat anak-anak. Barra tidak mendapatkan celah untuk duduk. Akhirnya, aku ajak dia bermain puzzle. barra kurang merespon tawaranku, tetapi begitu gambar-gambar kubusnya yang menarik, dia mengiyakan dan mencari posisi duduk. 





Saya perhatikan beberapa saat. Bukannya dia menyusun puzzle, malah lebih banyak melihat gambar-gambar binatang pada puzzle tersebut. Kemudian, kakak pendamping, pelan-pelan mengajak menyusun bareng. 'De, mama tinggal ya, Mama mau ke stand sebelah sana," Barra hanya menggangguk, mata dan tangannya serius membolak-balikan puzzle.

Saya menyambangi Sekolah Master. Sekolah Master...sekilas yang terlintas di pikiran kalau itu sekolah master catur ehhhe. Tau-taunya beda banget. Sekolah yang diinsiasi sejak 2008 ini merupakan sekolahnya anak-anak terlantar atau dhuafa yang berlokasi di terminal Depok. MasTer, adalah singkatan dari Masjid Terminal. Di sana, anak-anak dhuafa dan terlantar diberikan pendidikan gratis yang pengajarnya adalah relawan dari berbagai profesi. 

Kini sekolah Master telah menempati "gedung" sendiri yang dibangun dari kontainer bekas. Salutnya, menurut Mas Sugeng, salah satu pengelola dan pendiri sekolah ini, kini Sekolah Master telah mendidik sebanyak lebih dari 1000 anak. Bahkan mereka ada yang menempuh pendidikan tinggi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di dalam dan luar negeri.


Mas Sugeng, relawan dan pengelola Sekolah Master.

Kurikulumnya menurut Mas Sugeng  sudah mendapatkan standardisasi dari Dinas Pendidikan. Peserta didik di Sekolah Master dapat menempuh ujian di sekolah formal lainnya dan memperoleh ijazah. Wahhh keren ya. Sayang,  tidak sempat ngobrol banyak dengan Mas Sugeng, karena Barra sudah memberi kode mau pindah ke mainan lainnya."Oke Mas, makasih ya Mas Sugeng atas waktunya," Mas Sugeng degan semringah membalas jabatan tanganku. "Nanti main-main Mbak ke sana, dan sharing dengan adik-adik," ujarnya. Sip mas...!

Saya menghampiri Barra yang mulai bosan bermain puzzle. Dia rupanya masih penasaran dengan lego. Memintaku mengantarkan ke area lego yang berada tepat di depan puzzle. Kebetulan, ada seat buat Barra. Tangannya lincah memilah-milih bentuk dan warna lego kesukaannya. "Oke De, mama tinggal lagi ya,"..Barra mengangguk.




Saya berkelling sebentar, memperhatikan kesibukan ayah bunda yang sedang bertanya-tanya tentang program sekolah. Tak beberapa lama, seorang berpakaian kuning dengan kerudung menghampiri, ramah menyapa. Sepertinya dia ingin memperkenalkan tentang dana pendidikan dari Sunlife Finansial. 

Sebenarnya saya sudah punya tabungan dan asuransi dana pendidikan, tetapi memang ada rencana menambah, buat investasi. Soalnya, penting banget dipersiapkan sejak dini. Biaya sekolah makin tinggi. Dan, orang tua kudu mempersiapkan terhadap risiko yang pasti atau mungkin bisa saja terjadi. Sales Sun Life, memberikan penawaran yang belum aku miliki dari perusahaan lain. Good..lah. "Insya Allah ya Bu, nanti saya coba diskusikan dulu dengan suami," kataku sambil memberikan nomer telepon untuknya.




Panggung arena tak berhenti menyajikan hiburan hangat untuk seluruh pengunjung yang datang. Makin siang, pengunjung makin padat. Anak-anak diceritakan dongeng oleh Kak  Astrid Malahayati, kemudian performance adik-adik Don Bosco, dan Binus Simprug. Sekolah-sekolah yang menjadi peserta pameran ini, juga diberikan kesempatan mempresentasikan keunggulan program pendidikannya. Jika saya dengarkan, rata-rata sekolah mengunggulkan semangat entrepreneur dan men-challenge peserta didik mengerjakan suatu pilot project. Yang mengggumkan, adik-adik kelas 10 Binus Simprug sudah mampu menulis buku tentang penderita kanker. Mereka mengadakan penelitian langsung selama tiga bulan di Yayasan Kanker. Kerennn ya... 






Talkshow Menarik dan Fun


Terdengar sounding-soungding MC mengingatkan pengunjung, kalau beberapa saat lagi akan dimulai talk show bertema "Ketahui Bakat Minat Anak Anda". Session yang saya tunggu-tunggu dimulai pada pukul 14:00 Wib. Hmmm...rasanya otak ini memang perlu dicharge banyak. Melihat perkembangan Meili dan Barra yang berubah cepat, tanpa aku sadari terkadang egoku meninggi,  cenderung memaksakan kehendak kepada mereka. Benar-benar tema yang pas banget untukku.

Hadir dalam talkshow pembicara keren, yaitu psikolog anak Ibu Anna Surti Nina, Chief Community Officer Ayah Bunda (Parenting) Mbak Prameshwari Sugiri, dan Wirasto Koesdiantoro, Chief Agency Officer PT Sun Life Financial Indonesia.




Dalam pemaparannya tiga pembicara kompak, bahwasanya anak merupakan individu yang unik. Mereka memiliki potensi dan bakatnya masing-masing. Psikolog Anna Surti Nina menjelaskan, manusia pada prinsipnya memiliki 8 kecerdasan majemuk, yaitu musik, gambar, logika, kata, tubuh, orang lain, diri sendiri dan alam. Sebenarnya, kata Ibu Anna, ada satu lagi yaitu spiritual, tetapi masih dalam pengkajian. 

'Kedelapan kecerdasan itu, semuanya dimiliki oleh setiap manusia. Yang berbeda hanya rangking atau volumenya saja. Lebih berat yang mana. Tugas orang tua cukup mengoberservasi, mengarahkan dan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk leluasa mencoba melakukan sesuatu yang mereka inginkan dan sukai. 


Kunci sukses menggali potensi anak menurut Mbak Prameswari Sugiri adalah membiarkan anak-anak untuk memimpin dirinya sendiri. 


Nah....terkadang orang tua ingin anaknya berprestasi dan berbakat, tetapi di sisi lain, tidak memberikan ruang yang cukup untuk anak memimpin dirinya sendiri. 




Ibu Anna sempat menyentil orang tua yang kerap condong pada hal-hal yang materialistik atau materil, seperti peringkat di sekolah, juara lomba dan sebagainya. Kecerdasan interpersonal kerap diabaikan. Padahal ini bakat yang luar biasa. Anak memiliki empati yang besar terhadap orang lain, suka mendengarkan, ingin selalu bersahabat dan bergaul dengan teman-temannya. Anak yang menguasai kecerdasan interpersonal ini, anak biasanya lebih matang, percaya diri dan tidak mudah tertipu. Ia mempuayai pertahanan diri yang kuat.

Untuk mengetahui kecerdasan interpersonal pada anak, menurut Ibu Anna tiada lain caranya selain banyak diskusi tentang apa yang disukai dan tidak disukainya.  Kecerdasan alam pun seringkali tidak diabaikan orang tua. Anak merasa nyaman dengan alam, suka bercocok tanam, memelihara hewan, binatang. 




Sepertinya, dalam mendidik anak, memang orang tua yang mesti dibukakan pikirannya sehingga mereka bisa lebih bijaksana menilai anak secara individu yang sejatinya sudah berdaya. Mereka berdaya dengan segala kompetensinya. Hanya saja kebanyakan orang tua kurang peka. Dampaknya, bagi anak jadi lambat mengenali diri dan potensinya sendiri. Tak heran, banyak orang dewasa yang justru menemukan bakatnya ketika usianya sudah di atas 30 tahun.

Alih-alih ingin anaknya cerdas dan berbakat, akhirnya menjejali anak-anaknya dengan berbagai kursus atau les. Di sisi lain, anak sudah disibukkan dengan pelajaran di sekolah. Rasanya waktu menjadi begitu padat.  Anak butuh istirahat yang cukup. Waktu istirahat sangat penting ternyata bagi anak.  Dalam masa istirahat itulah, anak-anak bisa berkomunikasi dengan dirinya sendiri, merasakan apa yang sesungguhnya mereka ingin nikmati, sukai dan tidak sukai.




Tanya jawab oleh penonton juga tidak kalah seru. Hadirin yang sebagian besar adalah kaum ibu, banyak menanyakan tentang perilaku anak. Ada anak yang terlihat tidak aktif di luar (tidak menonjol). Tetapi begitu di rumah begitu aktif. Kurang fokus mengerjakan sesuatu dan sebagainya. Termasuk pertanyaan saya yang belum sempat saya sampaikan, Alhamdulillah dijawab juga secara tidak langsung. Ya, tentang orientasi kesukaan Meili yang berubah. 

Sejak usia  4 tahun, sampai kelas 2, ia suka sekali menggambar dan mewarnai, namun begitu menginjak usia 7 tahun, berubah. Ia tak lagi suka menggambar dan mewarnai, tetapi suka dengan kegiatan menulis. Semula aku cukup sedih dengan perubahan Meili. Perangkat menggambar dan mewarnai sudah aku lengkapi. Jadi, tidak terpakai. Namun begitu, aku tetap mendukung Meili dengan membelikannya buku-buku cerita anak. Dia menulis pengalamannya sehari-hari dengan gaya cerita seperti yang dibacanya. Usai belajar, ia asyik di kamar menulis. 

Dari talkshow tersebut, baru aku ketahui, ternyata perubahan orientasi itu hal yang natural. Karena itu tadi, manusia punya peluang mengoptimalkan 8 kecerdasan majemuk tadi. Dan, membiarkan mereka menemukan passionnya sendiri adalah langkah yang tepat dan bijaksana. Ahh...jadi lega aku.

Begitu pun halnya dengan Barra, yang suka tidak fokus dan cepat berganti aktivitas. Sesuai dengan usianya, Barra sedang dalam tahap menemukan bakatnya. Keaktifan Barra mencoba banyak hal justru menjadi prestasi tersendiri. Tugas orang tua sekali lagi, mengarahkan dan membantu anak-anak menemukan potensinya.


Pada penutup acara, artis cilik Naura memberikan performance terbaiknya untuk pengunjung. Suaranya bening banget, lirik-lirik lagunya juga menarik dan mendidik. Jarang sekali sekarang  anak-anak memiliki lagu yang sesuai dengan dunianya. Naura bisa membawakannya dengan baik. Wahh...pecah banget nih di area. Rupanya Naura banyak fansnya. Barra pun jadi ikutan bikin video Naura.

Oya, sebelum pulang, Meili dan Barra menukarkan cap postnya dulu. Aha..lumanya dapat dua boneka SunSon. Jadi, setiap pengunjung yang datang diberikan kartu kunjungan. Pengunjung diminta mengumpulkan minimal3 cap sekolah dan 3 cap wahana permainan. Jika sudah terkumpul, diberikan cendera mata boneka lucu.    Kami mendapatkan 4 boneka nih, dua dari aktivitas bermain, satu dari goody bag, dan satu lagi karena Barra ikutan mendengarkan dongeng di panggung. Alhamdulillah bisa bagi-bagi untuk teman Barra di rumah.


















CBIA, Cara Cerdas Masyarakat Kenal Obat

Hari ini (27 November), Aku berkesempatan kembali belajar mengenali obat. Kalau pertemuan sebelumnya, bersamaan dengan pameran kesehatan di JIEXPO (14 November). Kali ini, kami blogger yang diundang khusus Kementerian Kesehatan bertandang ke kantor Kemenkes di HR Rasuna Said, Jakarta. 




Sama halnya dengan talkshow Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat) di JIEXPO yang mengundang berbagai komunitas, dalam acara Sosialisasi Pencanangan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat) yang dibuka oleh Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek juga dihadirkan berbagai komunitas, diantaranya komunitas blogger yang berperan sebagai agen kampanye Gema Cermat di ruang-ruang maya dan dalam kehidupan sehari-hari, Komunitas Bekasi Trendi, Kader Posyandu Jakarta Selatan, dan siswa-siswi SMU. Wartawan dari berbagai media pun diundang untuk mengabadikan keseriusan Kemenkes dalam menggerakkan masyarakat untuk cerdas dan cermat menggunakan obat. 

Gema Cermat yang digaungkan oleh Direktorat Jenderal Bina Kesehatan dan Alat Kesehatan- Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian digadang-gadang bisa menjadi harapan dan bagian dari solusi efektif meningkatkan kesehatan masyarakat kekinian. Ya, kekinian, lantaran era informasi yang demikian masif menciptakan ruang-ruang maya dengan intimnya mempengaruhi sikap dan gaya hidup masyarakat. 




Informasi begitu leluasa kita peroleh dengan murah meriah terhadap apapun yang kita butuhkan. Termasuk tentang kesehatan ini. Masyarakat moderen aktif mencari informasi sebanyak-banyaknya bagaimana hidup sehat di situs pencari. Di satu sisi pemasaran obat juga semakin gencar merambahi tidak hanya apotik sekaligus warung-warung kecil pinggir jalan hingga pelosok kampung. Obat bebas makin meraja lela. Terlebih iklan-iklan yang bertebaran memberikan solusi cepat menyembuhkan penyakit. 

Hmm...indikasi mengkhawatirkan di satu sisi. Solusi yang terkesan cepat dan praktis menghilangkan sakit kepala, pilek, demam atau apalah-apalah yang membuat tubuh tidak nyaman, malah secara langsung atau tidak langsung jutsru mengundang penyakit berat hinggap di tubuh kita yang tanpa disadari terindikasi kebal atau resisten. Ini menjadi warning dari Ibu Menkes dalam sambutannya di acara sosialisasi Gema Cermat di Kantor Kemenkes (27/11). Masyarakat agar tidak sembarangan minum obat. Khawatiran masyarakat yang berlebihan dan kepanikan terhadap suatu gejala penyakit, memang menjadi sinyalemen efektif perusahaan obat menggencarkan kampanye. 

Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki dua anak yang punya riwayat penyakit radang, memang jujur kerap menimbulkan kepanikan. Apalagi si anak tidak mau makan, demam tidak turun-turun, atau turun naik, sehingga menyegerakan ke dokter untuk membuat suhu tubuhnya turun menjadi langkah solutif. Parasetamol atau penurun panas yang saya beli di minimarket sudah tidak lagi memberikan solusi menurunkan panas. Dan, baru obat dari dokter, dua anak saya langsung turun panasnya. Hmm...mungkin ini yang disebut resisten  kali ya. Harus ke dokter dulu, baru sembuh. Mendengar penjelasan Ibu Menteri tentang antibiotik saya jadi khawatir. Bisa jadi dua anak saya sudah 'ketergantungan" antibiotik. Waktu itu saya memang belum begitu paham tentang antibiotik. Cuma mendengar penjelasan dokter, antibiotik ini harus dihabiskan supaya penyakitnya tidak kambuh lagi...begitu kata dokter anak saya. 

Untungnya anak-anak saya Alhamdulillah berstamina baik dan sehat sehingga jarang sakit. Tetapi ya itu, kalau radang menyerang, obat-obat penurun panas di warung-warung sudah tidak mempan lagi, harus ke dokter baru sembuh. 


CBIA, Solusi Cermat Menggunakan Obat


Dua kali mengikuti talkshow dan seminar Gema Cermat ini terasa sekali manfaatnya. Saya menjadi lebih aware dengan resep-resep dokter dan obat yang beredar. Lengkapnya tentang pemahaman saya tentang obat bisa ceki-ceki di tulisan saya sebelumnya ya 'cermat menggunakan obat, jauhkan dari penyakit". Apalagi dengan pendekatan berbasis komunitas  CBIA - Cara Belajar Insan Aktif, masyarakat jadi  bisa belajar bareng tanpa merasa sungkan atau merasa digurui, karena memang konsepnya yang "pertemanan". Dari teman, biasanya kita tahu banyak hal, berubah dan mengubah pandangan teman-teman kita karena sifatnya yang setara atau sebaya. Dari metode ini tentunya diharapkan masyarakat bisa 'berswamedikasi" yang baik sesuai dengan anjuran.








Mengulik sejarah dikit nih, sebenarnya metode edukasi melalui CBIA bukan hal yang baru loh. Metode ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1992 oleh Guru Besar Farmakologi Klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Sri Suryawati. Metode ini juga telah dikembangkan selama bertahun-tahun dan diadopsi oleh beberapa negara di Asia. Baru pada tahun 2007, CBIA diakui oleh WHO. Pilot project CBIA sendiri dilaksanakan di Pandeglang. Dan, sejak 2008 hingga kini, CBIA dilaksanakan oleh Kemenkes dan dinilai efektif  dalam mengedukasi  masyarakat sampai akar rumput sekalipun. 

Rekan-rekan blogger yang jadi relawan CBIA dalam sosialisasi Gemacermat ini melakukan simulasi pendekatan CBIA. Pengin juga sih jadi relawan simulasi ini..hehhe tapi karena ada meeting di tempat lain, jadi cuma bisa ngintip ulasan di blog Mbak Farichatul Jannah yang bercerita tentang pengalamannya belajar mengenali obat.




 Menurut Mbak Farichatul Jannah, delapan blogger yang bergabung dalam satu kelompok dipandu oleh Ibu Nelly diminta untuk mengelompokkan obat berdasarkan jenis penyakitnya. Kemudian, dicatat komposisi, indikasi, aturan pakai, efek samping, kontraindikasi sampai kadaluarsanya. Ibu Nelly menjelaskan dengan sabar bahan-bahan yang terkandung pada setiap obat dan pengaruhnya terhadap kesehatan sampai anggota kelompok mengerti.

Dari penjelasan Ibu Nely, terungkap efek samping obat itu memang bikin ngeri. Misal, ada yang punya riwayat penyakit Diabetes karena terindikasi  kena flu, dengan maksud mengusir flu lalu minum obat, nah obat pengusir flu ini justru berefek besar terhadap diabetesnya. Atau kita yang ga sengaja double-double minum obat lantaran bahan-bahan yang terkandung pada satu obat, nyatanya juga ada pada obat lain yang kita minum pada saat yang sama. Hmm ini biasanya terjadi ketika kita berobat di warung untuk mengusir batuk, demam, flu.

Memang perlu proses untuk bisa sepenuhnya mengenali obat. Yang terpenting, kita kudu kritis pada dokter. Obat apa yang diberikan, khasiat dan efeknya. Tidak jarang ditemui, dokter suka irit ngomong ya. Kalau nggak ditanya, nggak akan jelasin. Ini kerap saya temui ketika berobat Barra. Dokternya pasif, biarin deh dibilang bawel, daripada anak saya tambah sakit. 

Dokter kadang cuma nulis resep dan bilang aturan pakai 2x atau 3 x minum obat dalam sehari. Pernahkah kita bertanya pada dokter, berapa lama durasi waktu minum obatnya. Hhmm saya juga baru kepikiran tuh...biasanya cuma dikira-kira aja. Padahal, durasi minum obat juga berpengaruh pada daya kerja bahan-bahan yang terkandung di dalam obat terhadap bakteri atau virus. Dari panduan Gemacermat, ternyata jika resep bertuliskan 2x1 tablet/kapsul/sendok takar artinya durasinya setiap 12 jam. Atau jika 3x1 tablet/kapsul/sendok takar, rentang waktunya setiap 8 jam ke obat berikutnya.

Nah, jika kita ingin mendapatkan khasiat maksimal, juga perlu diperhatikan waktu terapi terbaiknya. Misal, minum vitamin sebaiknya di pagi hari. Obat magh, diminum sebelum makan atau kalau kamu sedang mual, obat anti mual diminum 1/2 - 1 jam sebelum makan. 

Wahhh masih banyak PR yang harus saya kuasai untuk mengenal obat. Makanya, agar swamedikasi saya berjalan sesuai harapan, saya pentengin terus akun media sosial Gemacermat, twitternya @gemacermat dan fanpagenya @cerdas menggunakan obat. Yuk teman-teman follow akun sosmednya juga ya...







Cermat Menggunakan Obat, Jauhkan dari Penyakit

Kecanggihan teknologi kedokteran yang sejatinya harus kita apresiasi sepertinya tidak begitu berlaku untuk dunia obat-obatan. Loh kok ? Ya...membicarakan obat, kadang ada dua sisi yang mata uang yang sulit terpisahkan. Ia sesungguhnya bisa menjadi madu yang notabene menyembuhkan penyakit, tetapi sekaligus bisa menjadi racun. 

Kalimat ini lantang dikatakan oleh dr. Purnamawati Sp.Ak (Pendiri Yayasan Orang Tua Peduli/YOP) dalam talkshow "Cermat Menggunakan Obat" dalam rangkaian kampanye "Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat - Gema Cermat" yang diselenggarakan oleh Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, di JIEXPO Kemayoran  (13 - 15 November 2015).




Talkshow yang digelar disela-sela acara Pameran Pembangunan Kesehatan tersebut turut menghadirkan  pula Dra. Azizah Wati, Apt. Ketua Umum Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DKI Jakarta. Praktisi farmasi ini mengulas detil  beragam jenis obat yang seharusnya diketahui masyarakat Indonesia. Tujuannya, tentu agar masyarakat dapat cerdas menggunakan obat, mengetahui benar fungsinya, efek samping, cara pakai sampai timing yang tepat dalam mengonsumsi obat.

Kebanyakan masyarakat, kurang kritis terhadap obat yang diberikan dokter. Ingat dokter adalah manusia yang perlu kita kritisi dan tanya lebih detil. 

"Memang, ketika kita berobat, dokter sudah memberi tahu kapan dan berapa kali obat diminum. Tetapi pernahkah kita mempertanyakan lagi, berapa lama jarak antar waktu minum obat, efek sampingnya, penyimpanannya, dan peruntukannya yang tepat ?" tanya Dra Azizahwati kepada peserta talkshow yang dihadiri oleh berbagai komunitas ini

Dra Azizahwati Apt, mengakui, tidak sedikit, masyarakat yang suka menggampangkan memberikan obat. "Misal karena indikasi penyakitnya sama, maka obat milik kakak, diberikan ke adik. Padahal, meski obatnya sama, tidak bisa sembarangan. Perbedaan usia, berat badan, rekam medis atau riwayat penyakit turut menentukan kadar atau dosis obatnya," papar Dra. Azizahwati.





"Pada resep sudah tertulis, minum obat 3 x sehari. Yang umum dipahami, adalah diminum pada waktu pagi, siang, dan malam. Nah, paginya jam berapa ?" tanya Dra. Azizah Wati. 

Kontan, saya jadi terpana mendengarnya. Biasanya saya meminumkan obat untuk Barra, anak saya yang sedang demam kalau pagi sekitar jam 8-an. Malah suka nyaris jam 9, menunggu dia bangun. Waktunya tidak teratur, kadang jam 8, kadang pula jam 9-an. Hmm...ternyata rentang waktu minum obat, menurut Dra. Azizah sangat penting.  Harus diperhatikan rentang waktunya, misal antara 7-8 jam sebelum obat berikutnya. Untuk malam, waktunya bisa lebih lama. 

Nah, kalau ada petunjuk obat diminum sebelum makan. Kira-kira berapa rentang waktunya sampai pada waktu makan atau menuju obat berikutnya yang akan diminum setelah makan ? Pertanyaan ini jadi menggelitik saya. Berasa 'blank" betul karena selama ini tidak pernah memperhitungkan hal tersebut. 

 3 fase  minum obat yang perlu kita tahu :
  • Sebelum makan. Diantaranya berupa obat maag (antasida) dan anti mual, diminum 1/2 - 1 jam sebelum makan.
  • Bersama dengan makanan. Contohnya, obat diabetes (glimepiride).
  • Sesudah makan, contohnya obat penghilang rasa sakit (asam mefenamat), bisa diminum segera setelah makan, atau sekitar 1/2 - 1 jam sesudah makan.

Tak hanya rentang waktu,  bahan-bahan yang terkandung di dalamnya pun harus diperhatikan. Dra. Azizahwati menghimbau kepada masyarakat agar mengenali maksud dari warna logo pada kemasan obat sehingga bisa diantisipasi efek samping dan risiko kimia yang bisa ditimbulkan.

Banyaknya obat dengan berbagai brand dan solusinya memang mendorong masyarakat sekarang punya inisiatif tinggi untuk berobat sendiri (swamedikasi atau mengoabati sendiri), tanpa resep dokter. Data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), juga mensinyalir hal tersebut bahwasanya 60 persen masyarakat melakukan pengobatan sendiri. Agar swamedikasi memberikan manfaat yang sesuai harapan yaitu sehat, Dra. Azizahwati giat mensosialiasikan pengenalan obat secara lebih dalam. Diantaranya dengan pemahaman warna logo obat.






Setiap kemasan obat ditandai dengan warna logo, yaitu :

1. Merah, di dalam lingkaran ada huruf K hitam, indikasi untuk obat keras. Obat ini hanya boleh diberikan dari resep dokter. Yang masuk dalam kategori ini diantaranya antibiotik psikotropika, amoksilin, kaptopril, piroksikam, deksametason. 

2. Biru, merupakan simbol obat bebas terbatas. Sebenarnya ini obat keras, tetapi longgar, artinya bisa dibeli tanpa resep dokter. Hanya saja, perlu diperhatikan informasi penggunaannya yang terdapat pada kemasan, indikasi dan kontra indikasi, nomor batch, termasuk juga alamat lengkap produsen obat tersebut. Contoh obat ini yaitu dimenhidrinat (obat anti alergi), asam acetylsalisil, Asmadex, ephedrin HCL, Dextromethorphan dan sebagainya. 

3. Hijau, obat bebas. Artinya masyarakat dapat membelinya tanpa resep dokter. Yang tergolong obat ini diantaranya paracetamol, vitamin, aspirin, dan sebagainya.

4. Logo menyerupai palang berwarna merah, merupakan obat narkotika.Obat ini dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran serta menimbulkan ketergantungan. Diantara obat narkotika adalah morfin, kodein, petidin dan sebagainya.

Kapan tepatnya kita mengonsumsi obat ? 

Ya, kapan sebenarnya  kita menggunakan obat ? Pada umumnya, masyarakat memahami, obat adalah penyembuh penyakit dan pencegah penyakit. Memang tidak salah. Karena dari sisi pengertiannya, obat merupakan sebuah produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia (sumber : Buku Saku Informasi Obat, terbitan Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Dirjen Bina Pelayanan Kefarmasian).

Hanya saja seperti yang diuraikan di awal, sejatinya obat untuk menyembuhkan, namun nyatanya kita tidak bisa memungkiri, obat yang diminum tidak tepat bisa mengundang penyakit lain.  Atau justru mematikan bakteri baik, lantaran obat tersebut mendorong aktivasi bakteri jahat dalam tubuh. Hmmm...bingung nggak ? hehhee awalnya saya bingung ketika mendengarkan presentasi dr. Purnamawati. Sp.Ak. Tetapi dengan slide-slide sederhana dan menarik membantu saya lebih memahami rahasia penyembuhan penyakit. 

Hehhe...di luar itu, saya sebenarnya termasuk orang yang nggak suka minum obat. Kalau badan tidak enak, batuk, pilek atau kepala berat, biasanya saya beristirahat lebih banyak, kayu putihan, koyoan,  kerik-kerik sedikit di leher, banyak minum air putih, konsumsi buah dan sejenak mengistirahatkan kepenatan. Alhamdulillah, tidak pakai lama, stamina saya kembali terbangun. Batuk, atau flu perlahan menyingkir.

Sumber : slide presentasi dr. Purnamawati Sp.Ak.


Ternyata, menurut dr. Purnawati. Sp.Ak, memang tidak semua gejala penyakit harus diatasi dengan obat. Seperti keterangan pada slide tersebut. Batuk, pilek, muntah, diare tanpa darah adalah sederetan gejala yang mengindikasikan tubuh kita sedang lemah sehingga rentan terhadap masuknya virus. Dan, dr. Purnamawati langsung mengatakan, "tidak perlu minum obat" apalagi sampai menelan antibiotik. Gejala ini bisa hilang dengan sendirinya. Karena Tuhan memang sudah mempersiapkan mekanisme pertahanan tubuh yang kuat pada setiap manusia. 

Kita terkadang suka panik dengan batuk pilek berdahak, atau diare. Padahal batuk tersebut adalah cara tubuh untuk melindungi paru-paru dari menumpuknya lendir. Atau diare, perut mules, adalah juga cara tubuh membuang racun-racun di dalam perut. Dengan tahu begini, kayaknya kita patut bersyukur nin terserang batuk hehehe. Karena dari gejala tersebut menandakan tubuh sedang demo terhadap apa yang telah kita lakukan.  Terlalu giat bekerja hingga memforsir tubuh atau makan sembarangan, stres berlebihan dan sebagainya yang menyebabkan sistem pertahanan tubuh terganggu.


Sumber : Slide presentasi dr. Purnamawati Sp.Ak.

Mengapa batuk pilek, diare tanpa darah, muntah ini bisa sembuh dengan sendirinya. Dr. Purnamawati mengatakan, gejala tersebut disebabkan oleh virus. Dan virus bukan mahluk hidup seperti bakteri. Virus yang dari DNA atau RNA dikelilingi oleh lapisan protein ini tidak dianggap mahluk hidup, karena tidak bisa mereproduksi sendiri dan mereka tidak terdiri dari sel-sel. Kendati begitu, virus bisa berkembang tergantung dari sel inangnya untuk membuat virus tambahan. Virus ini menginfeksi  organisme hidup, nggak hanya manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan. Penyakit akibat virus yang menyerang manusia, diantaranya flu, demam, diare tanpa darah, cacar, campak, AIDS. 

Agar tubuh kita tetap berstamina baik dan virus segera pergi dari tubuh kita, dr. Purnamawati menyarankan sejumlah langkah, yaitu 

  • Istirahat
  • Banyak minum
  • Paracetamol kalau demam & sakit kepala
  • Matikan AC
  • JANGAN antibiotik
  • Akan sembuh sendiri
  •  Jangan menulari orang lain : menutup mulut saat bersin atau batuk, sebaiknya memakai masker saat batuk atau flu, dan selalu mencuci tangan dengan sabun selama kurang lebih 15 detik.

Di situ jelas, dr. Purnamawati Sp.A.k menyarankan agar obat berupa parasetamol yang diberikan pada saat demam dan sakit kepala. Jangan langsung menggunakan antibiotik jika ingin  tubuh kita menjadi resisten (kebal). Di saat tubuh benar-benar membutuhkan antibiotik, menjadi tidak mempan lagi atau resisten. Kalau sudah resisten, terapi standar menjadi tidak efektif, infeksi tetap berlanjut, dan meningkatkan risiko menyebar. 

Sumber : slide presentasi dr. Purnamawati

Penting sekali dipahami, bahwa sekali lagi antibiotik tidak bisa menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh virus. Daya kerja antibiotik hanya dapat membunuh bakteri. Jadi, jika penyakit disebabkan oleh virus dihantam dengan antibiotika justru akan membuat sarang bagi bakteri jahat yang tidak bisa dibasmi oleh antibiotika itu makin berkembang biak (mutasi). Bahayanya, pada saat kita benar-benar sedang sakit yang disebabkan oleh bakteri, dan diobati dengan antibiotika, bakteri yang terlanjur telah bersarang tadi menjadi kebal. Akibatnya, dosis antibotika ditambah atau diganti dengan yang lebih kuat dan mahal. Tetapi bagaimana penerimaan tubuh terhadap antibiotik yang lebih kuat ? Hmm...dampaknya lumayan signifikan, seperti pusing, diare, iritasi dan pembekakan di usus. Begitu pula halnya jika antibiotik kita minum untuk penyakit yang disebabkan oleh virus. Hmm...berbahaya juga ya..Obat yang terkesan seperti dewa yang 'Maha Manjur', rupanya "mematikan" jika kita tidak cermat menggunakannya.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan antibiotika yaitu :

  • Gunakan hanya dengan resep dokter. Jangan ragu untuk menanyakan pada dokter setiap resep yang diberikan : mana yang merupakan antibiotika dan bukan, jenis dan resepnya. Tanyakan juga efek sampingnya. Antibiotika tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil.
  • Antibiotika harus diminum sampai habis walaupun gejala sudah hilang.
  • Jangan gunakan atau beli antibiotik dengan resep lama.
  • Jangan gunakan antibiotik yang diresepkan bagi orang lain.
  • Jika penyakit Anda tidak disebabkan oleh bakteri, Anda bisa menolak pemberian antibiotik.

Sudah benarkah kita dalam menyimpan obat ?

Ini kembali menjadi catatan masyarakat yang ber-swamedikasi, sudah tepatkah menyimpan obat di rumah. Pada setiap kemasan obat yang telah lulus uji BPOM pasti menginformasikan perihal tata cara penyimpanan agar kemasannya tetap stabil dan mutu terjaga.

Berikut ini yang menjadi perhatian kita saat menyimpan obat adalah :

  • Simpan di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung. Untuk obat tertentu perlu disimpan dalam lemari pendingin, seperti obat wasir.
  • Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
  • Simpan dalam kemasan aslinya dan dalam wadah tertutup rapat. Jangan pernah mengganti kemasan botol ke botol lain. 
  • Jangan mencampur tablet dan kapsul dalam satu wadah.
  • Jangan menyimpan kapsul atau tablet di tempat panas dan atau lembab karena hal ini dapat menyebabkan kerusakan.
  • Jangan simpan obat dalam bentuk cair dalam lemari pendingin, kecuali disebutkan pada etiket atau kemasan obat.
  • Jangan tinggalkan obat di dalam mobil dalam jangka waktu lama karena perubahan suhu dapat merusak obat tersebut.
  • Pisahkan penyimpanan obat dalam dengan obat luar.
  • Periksa selalu tanggal kadaluarsa obat.
  • Waspadai kerusakan obat dengan ciri : cangkang kapsul lengket, lembek atau berubah warna. Salep berubah warna dan bentuk. Untuk obat jenis sirup menjadi keruh atau timbul endapan/menggumpal, ada perubahan warna dan kekentalan. Sedangkan tablet yang rusak ditandai dengan adanya bintik-bintik, retak, lengket, kemasan menggelembung, bau dan basah.

Wahh..banyak juga ya tipsnya dari talkshow Gema Cermat ini. Semoga kampanye Gema Cermat dapat bena-benar membuat  masyarakat semain sadar dan memahami pentingnya mengonsumsi obat secara tepat dan bijaksana.