Jual Daster Batik

Jual Daster Batik

Anda Fanatis Jokowi ya ?



Hhahaa..ketawa dulu nih pembukaannya. Jujur, banyak sekali pertanyaannya ini ditujukan sejumlah teman yang langsung menuduh saya fanatis dan pemuja Jokowi, lantaran status FB saya sejak Pak Jokowi jadi Cagub DKI sampai sekarang menjelang pilpres mendukung beliau. Memang salah, saya  mendukung Jokowi, lantas serta merta dibilang fanatis ? hehe ketawain aja deh.

Saya punya alasan sendiri mengapa memilih Jokowi jadi Gubernur DKI dan sekarang untuk menjadi presiden. Alasannya, karena jauh sebelum media mempopulerkan Jokowi, saya sudah mengetahui bagaimana kinerja beliau. Subhanallah, orang ini ditakdirkan di bumi Indonesia, dan dihadirkan pada saat yang tepat, krisis kepemimpinan dan moralitas pemimpin bangsa, khususnya.

Waktu itu tahun 2008, saya mengawali karir jurnalistik kembali, setelah 4 tahun tidak berkecimpung di dunia media. Hanya ini majalahnya tentang pariwisata, event, dan industri hospitality atau bekennya sekarang dengan istilah MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition/Event), VENUE namanya. Ga kenal ya ? heheh ya memang segmented banget sih. VENUE ditujukan  bagi mereka yang ingin terjun di dunia event, dan pemerintah daerah yang ingin maju di dunia pariwisata. Dulu belum ada saingannya. Istilah MICE juga masih baru banget. Direktorat MICE-nya  baru dibentuk tahun 2007, selang beberapa bulan dari majalah kami. Menciptakan mainstream baru tentang industri event. Ownernya  Dyandra pula yang notabene penyelenggara event terbesar di tanah air. 

Jadi, ini semacam majalah referensi MICE di tanah air, referensi bagaimana seharusnya pariwisata dikembangkan. Tujuannya, dunia pariwisata dan event bisa menjadi salah satu alternatif pendapatan negara selain dari sektor migas, pertanian, dan industri makro lainnya. Acuannya MICE bisa menjadi sumber utama pendapatan negara, bisa dilihat dari kisah sukses Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan kini Vietnam yang mulai unjuk gigi di bidang pariwisata dan MICE. Negara-negara ini demikian maju perekonomiannya dari kontribusi industri event (MICE) dan pariwisata.

Majalah kami terbit bulanan. Pada bulan September 2008, seperti biasa kami merencanakan meeting redaksi. Karena ini menyangkut event, maka saya mengusulkan tentang event  konferensi di Solo yaitu Konferensi Internasional Kota-kota Warisan Dunia (World Heritage Cities Conference and Expo/WHCEE) pada 25-30 Oktober 2008 (kalau nggak salah, ada teman juga yang punya usulan sama). Event ini benar-benar membalalakkan mata dunia bahwa kota seluas 44,03 km2 itu berani menjadi tuan rumah acara bergengsi. Orang luar tahunya Yogyakarta. Solo ? hmmm ada di sebelah mana ?

Rupanya Solo telah menjadi bagian dari perkumpulan negara-negara yang memiliki warisan heritage. Daerah-daerah lain belum ada. Pak Walikotanya waktu itu Jokowi, inisiatif  mengangkat Solo ke dunia internasional. Membangun Solo dari sektor pariwisata. Mengingat dari sisi pertanian dan sumber daya alam, Solo tidak begitu kaya dibanding daerah lain. Huff, tentu saja gebrakan Jokowi dengan mengharumkan Solo sebagai destinasi yang harus diperhitungkan di tanah air, membuat Yogyakarta yang udah seattled ketar-ketir.

Ada apa dengan Solo sebegitu berani ? Siapa Jokowi yang dibilang nekat tidak ada modal, tetapi sangat berani memboyong sekitar 1.000 delegasi yang terdiri dari para walikota se-Asia Pasifik, negara anggota United Cities and Local Government (UCLG) Euro-Asia ke Solo. Saingannya berat. Solo harus berhadapan dengan Rusia, Austria, Korea Selatan, dan Pakistan. Mau bayar pake apa ?

Kebetulan waktu itu Pemred Majalah Venue, Bapak Bambang Bujono adalah orang Solo. Heheh lumayan kesamber juga emosional kedaerahannya. Serta merta beliau langsung mengangkat usulan ini menjadi laporan utama. Pada waktu itu yang turun langsung liputan adalah redpel dan fotografer. Saya hanya membuat hotel-hotelnya saja di bagian liputan itu. Dari penggalian yang mendalam, kami menemukan emas Si Jokowi itu. Benar-benar brilian idenya membangun Solo. Dia merangkul semua komponen masyarakat terkait untuk menyukseskan acara tersebut. Hotel-hotel dan travel saling berkontribusi. Pemerintah hanya mengeluarkan uang sedikit sekali. Pihak swasta bahu membahu menjadi tuan rumah yang baik, berstandar internasional dengan rasa Solo.

Bukan hanya itu, terkuaklah dia bagaimana memanusiakan pedagang kaki lima dengan mengajak pindah ke pasar sebagaimana mestinya, tanpa keributan. Mengangkat pasar-pasar tradisional, mengangkat para seniman, menata kota, mempercantik Bandara Adi Soemarmo, dan sebagainya. Selama dua periode beliau memimpin Solo dengan reputasi mengagumkan. Belum lagi, kesederhanaan beliau dan merakyat. Dia mencintai rakyatnya, dan rakyat Solo pun mencintainya. Subhanallah. 

Kami dua kali mengundang Pak Jokowi menjadi pembicara pada acara kami. Ide-idenya betul luar biasa, menginspirasi sejumlah daerah untuk berkembang seperti Solo. Semangat nasionalisme dan moralitas tinggi, ditunjukkan lewat  perbuatan dan perbuatan. Jujur, saya belum lihat ada orang menyamai Jokowi pada waktu itu. Beliau tidak protokeler. Jika diundang ke Jakarta,  hanya ditemani seorang asistennya. Tanpa pengawalan. Biasa sekali. Tidak ada mobil. Cuma naik taksi. Tidak minta macam-macam.

Majalah kami cukup sukses terserap pasar yang mengangkat tentang Jokowi ini. Bahkan majalah kami menjadi official magazine saat konferensi berlangsung. Hingga Kompas meliput, dan menyambung ke berbagai media. Sampai akhirnya PDIP melamarnya menjadi Gubernur. Excellent PDIP yang memang menurut saya tak begitu populer di kalangan pemilih terdidik, memilih Jokowi yang kemudian disandingkan dengan Ahok dari Gerindra. Mungkin ada maksud terselubung waktu itu, dengan suksesnya duet Jokowi-Ahok, otomatis akan melenggangkan Mega dan Prabowo nyapres lagi. Itu sinyalemen yang ditangkap oleh saya juga banyak orang.

Hhehe kondisi perpolitikan di tanah air berubah drastis. Bergairah maksimal hahahha. Eksotis sekali. Optimisme kencang bergemuruh. Terutama di hatiku. Karena dua tokoh ini luar biasa dedikasinya untuk bangsa. Cuma, seperti biasa ada pihak yang sensi tinggi lantaran Ahok adalah Cina dan Kristen. Wahhh betul-betul isu agama jadi makanan empuk untuk menyerang golongan nasionalis. Dan, Ahok seksi untuk  meniupkan isu tendensius. hehe seru.

Alhasil Jokowi-Ahok menang dengan dua kali penyaringan dalam pemilu. Benar-benar menggembirakan saya waktu itu. Selama 15 bulan Jokowi mimpin Jakarta, hufff luar biasa juga serangannya dari pihak yang masih sakit hati kalah pemilu. Jokowi dan Ahok juga makin kompak menertibkan, mendisiplinkan dan memecat pejabat-pejabat DKI yang tidak amanah. Jokowi dengan gaya blungsukkannya. Ahok dengan diplomasinya dari meja ke meja,  gerilya  membereskan aparatur pemerintah DKI. Romantis. 

Monorail yang sudah 20 tahun direncanakan, di jaman Jokowi baru direaliasasikan. Pasar Tanaabang yang terbilang keramat alias tak tersentuh penertiban..berhasil bersih dan indah di zaman Jokowi. Waduk-waduk dibersihkan bahkan waduk Pluit menjadi indah yang sepertinya tidak mungkin dibereskan dalam tempo singkat. Rusun-rusun dibangun. Penduduk yang tinggal di bantaran sungai berhasil dipindahkan ke rusun. Gorong-gorong di pusat kota diperdalam. Taman-taman dibangun, sampai masalah pengemis dan topeng monyet pun diurus..Jokowi rupanya tak hanya cinta rakyatnya, tetapi cinta binatang. Coba, bertahun-tahun topeng monyet ada, tidak ada yang berani menertibkan. Malah bisa dikatakan kita tidak ngeh (termasuk saya heheh yg suka dengan topeng monyet untuk menghibur anak saya). 

Harapan saya waktu itu Jokowi bisa meng-khatamkan menjadi gubernur DKI untuk membuktikan pada lawan-lawan politiknya duet Jokowi-Ahok berhasil membangun DKI dan menjadi prototipe keberhasilan Indonesia membangun kota. DKI adalah ibu kota negara, sepantasnya ditata dan dikelola menjadi kota berstandar internasional. Masalah banjir dan kemacetan yang masih menjadi masalah klasik di DKI, masih setengah jalan. Ditambah fenomena alam yang menunjukkan kelabilannya. Banjir terus menerus sehingga membuat orang-orang di bantaran sungai benar-benar lelah. Hehhe tapi tetap betah. 

Parpol lain sudah demikian agresif mencalonkan capres-capresnya. Ada yang memikat hati saya. Tapi langsung hilang ketika mengetahui dia berbuat tidak baik. Jujur. saya berniat golput. Tidak ada partai dan capres yang bisa saya percayai. Apalagi dengan parpol Islam yang saya percayai dulu...bikin mual outputnya.

Sampai pada akhirnya, PDIP sekonyong-konyong menaikkan Jokowi dari capresnya. Wahhh saya langsung  terperangah.. Ada rasa kecewa pada Jokowi yang mau saja dicalonkan. Padahal dia waktu itu sama sekali bilang : ga mikir, ga mikir, ga mikir...karena mau fokus benahi Jakarta. Tetapi, ya namanya politik, tentu PDIP punya kepentingan. Dan, harus diakui memang Jokowi seolah menjadi umpan untuk mendongkrak suara PDIP.  Dasar politik, banyak kepentingan. 

Namun kemudian, dibalik kepentingan-kepentingan PDIP, saya mencoba melihat sisi lain. Positifnya, dan idealisme saya sebagai warga negara yang miris melihat kondisi bangsa ini. Hingga akhirnya saya mantab memilih Jokowi menjadi capres. Bismillah.

Bukan main di sosial media dan media massa menyerang bapak kerempeng ini. Barisan pihak parpol non Islam (Parpol Islam juga banyak) menyerang dengan isu Jokowi tidak bisa dipercaya. Jokowi penuh pencitraan palsu, Jokowi Pembohong, Jokowi Maruk Kekuasaan, Jokowi Boneka PDIP,. Malah ada yang sampai ingin mempidanakan Jokowi karena tidak becus alias tidak selesai memimpin DKI. hhhaaaha

Barisan parpol Islam pun tak kalah seru. Apalagi kalau bukan isu agama dijadikan serangan. Ayat-ayat kafir keluar. Ayat-ayat munafik keluar. Belum lagi isu Jokowi adalah antek Yahudi. Wahh luar biasa hujatan demi hujatan bertubi menyerang Jokowi. Tetapi dasar Jokowi, dia sama sekali tidak menanggapi. Santai dia jawab dengan bijak : Ga usah direspon, rakyat sudah pintar. Ga usah dipikir berat-berat. Bagi yang senang silahkan, yang ngga juga silahkan..benar-benar orang ini sabar sekali.

Bagai memiliki energi besar, tak henti saya berstatus di FB, mengajak teman-teman yang menghujat untuk berfikir jernih, melihat dari hati, melihat bukti, dan sebagainya. huff melelahkan memang, tapi senang.

Teman-teman aktivis muslim pun mungkin terkaget-kaget dengan sikap politik saya. Mereka mulai sinis. hhehe mengklaim saya memuja dan fanatis. Saya sampai bingung, apakah kalau kita memilih itu dibilang fanatis dan memuja. Sepertinya logika bahasa sudah amburadul. Atau mungkin teman-teman tersebut tidak tahu istilah fanatis. Baiklah saya coba definisikan.

Fanatisme menurut Wikipedia dan sejumlah sumber lain adalah :

Fanatisme adalah suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatif, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah"

"Menurut definisinya, fanatisme biasanya tidak rasional atau keyakinan seseorang yang terlalu kuat dan kurang menggunakan akal budi sehingga tidak menerima faham yang lain dan bertujuan untuk mengejar sesuatu. Adanya fanatisme dapat menimbulkan perilaku agresi dan sekaligus memperkuat keadaan individu yang mengalami deindividuasi untuk lebih tidak terkontrol perilakunya"

Saya mencoba untuk bercermin, apakah benar saya memuja. Kalau memang benar, apa salah saya memuja orang baik kinerjanya, heheh ya saya juga gak mau minta-minta pembenaran. Negeri ini krisis pemimin yang baik. Giliran ada dan di depan mata, orang malah tidak bisa mengapresiasi. Kritik boleh, tetapi kalau dengan tuduhan yang nggak boten-boten seperti antek Yahudi dan lain-lain tanpa bukti valid. hehe jujur nggak laku kritikan model gini. Apalagi ada juga yang kritik, Jokowi tidak berhasil mengatasi macet dan banjir.

Lah, pake logika aja bro. Banjiir dan macet itu udah menjadi makanan di DKI bertahun-tahun. Memang, Jokowi-Ahok itu tukang sulap, dalam sekejab mengatasi banjir dan macet. Gubernur sebelumnya juga tidak becus mengatasi banjir. Tetapi tidak digugat..Apalagi di tengah Jokowi giat mengatasi macet ibu kota, ehhehh Indonesia diterjang kebijakan banjir mobil murah.. Hmmm benar-benar kontra produktif. Gubernur-gubernur DKI lainnya juga belum becus mengatasi banjir, malah mewariskan sistem akut pembuat banjir dan macet. Dan serta merta kesalahan itu dilimpahkan ke Jokowi-Ahok...aduhhhh..kasian banget orang-orang ini. Jokowi menyentujui cara menabur garam di langit untuk memindahkan hujan dari Jakarta ke daerah lain, dikritik habis-habisan dibilang menantang Tuhan.

Sekali lagi, saya tidak mengharamkan kritik. Kritiklah sebanyak-banyaklah yang membangun dan kondusif biar jadi kontrol bagi pemerintah DKI.  Sekarang masyarakat sudah cerdas, sudah bisa memilih dan menimbang terhadap isu-isu yang tidak jelas juntrungannya.

Lantas soal fanatis atau fanatik yang cenderung memiki definisi negatif berbuat kerusakan,  hmm rasanya saya jauh dari itu. Saya masih berfikir rasional. Melihat orang utuh antara kekurangan dan kelebihannya. Melihat Jokowi dari kelebihan dan kekurangannya.

Pada akhirnya saya ketawa lagi hahahah kok orang cetek banget mikirnya dan serta merta gampang mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat penggunaannya. Kalau memang tidak suka dengan Jokowi, mending kampanye tentang kesuksesan partai atau calonnya saja, nggak usah sampai menghujat tanpa bukti cukup apalagi bawa-bawa agama. Ini politik sobat..banyak intrik. Kalian mengobral hujatan, ehhh di atas sana nanti pada kompromi alias koalisi dengan parpol orag orang yang dihujat, Nah lohh...gimana tuh ? masa menjilat ludah sendiri..hahahah..Oke..selamat memilih sobats !





38 komentar:

  1. Rusman Labudu30 April 2014 04.14

    Akhirya Aku suka JOKOWI

    BalasHapus
  2. model kepemimpinan partisipasi publik. bntuk kpemimpinan modern yg menggali semua potensi masyarakat. i love his leadership model.

    BalasHapus
  3. Saya memang pengagum Pak Jokowi sewaktu masih menjadi walikota Solo, sedang saya sendiri org Blitar, saya terkesan dengan gaya kepemimpinannya yg sederhana. Pada saat menjabat Gubernur DKI, saya selalu berharap Jokowi akan dicalonkan menjadi Presiden RI, sempet ketar-ketir juga ketika Ibu Mega saat di Mata Najwa tak memberi sinyal pencapresan Jokowi, saya memang lebih memilih golput tanpa Jokowi, nah lo, saya seperti terhipnotis, sampe di Facebook saya beberapa kali mengeluarkan kata-kata kasar pada penghujat Jokowi. Saya sempet selidiki beberapa akun di fb yg suka menghujat Jokowi, ternyata banyak di antaranya adalah aku palsu, bahkan di Tribunnews, pada polling presiden pilihan rakyat, Prabowo menang atas Jokowi, ya jelas, tipuan murahan dengan banyak aku palsu yg kebanyakan diberi nama cewek dengan foto2 cantik seperti cantiknya admin blog ini. Serangan2 apapun yang ditujukan ke Jokowi, tidak akan menyurutkan saya untuk selalu mendukungnya, Jokowi bukan bagian masa lalu bangsa ini, tetapi Jokowi ada karena rakyat membutuhkannya sekarang. Rakyat jelas tidak membutuhkan capres abal-abal yang bermasalah dengan segudang janji yang tak akan pernah bisa mereka wujudkan karena jelas oitak mereka tidak akan pernah sanggup menjangkaunya.

    BalasHapus
  4. setuju sekali dgn tulisan ini, mari kita membahas kelebihan masing-masing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga seneng banget sama tulisan ini... makanya sering komen hehe

      Hapus
  5. Sama dong, Solo keren banget...
    Gak kalah ama Jogja :P
    Jakarta juga sekarang tambah nyaman...

    BalasHapus
  6. sebuah testimoni yang menarik apa adanya, tidak melebih lebihkan.semoga bapak kerempeng menjadi presiden yang amanah..Amin

    BalasHapus
  7. Dibayar berapa mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini komentar jahat banget.. lagian juga pengecut pakek anonim segala

      Hapus
  8. Yupz setuju banget mbak....
    Saya sampai miris banget sama orang2 yg M'hujat bahkan ngatain kafir terutama dari voa islam....
    Kok segitu mudahnya mengkafirkan org tnpa bukti.
    Apapun yg dilakukan jokowi terlihat selalu salah, sana sini ngm pro asing giliran jokowi M'buat kerja sama antar provinsi katanya kampanye terselubung lah, pencitra'an lah sepertinya apapun yg dia lakukan selalu disalahin!!

    BalasHapus
  9. mau donk join di redaksinya mbak.. saya tertarik dengan pariwisata

    BalasHapus
  10. Sudah pasti tentu Jokowi akan diserang dan dibunuh karakternya karena Jokowi sosok Pemimpin Berkarakter Tidak Lazim seperti Pemimpin & Pejabat Publik yang sejak turun temurun dia & keluarga selalu "DILAYANI" sedangkan Jokowi sosok Pemimpin yang "MELAYANI"..................Jokowi adalah ANCAMAN KEMAPANAN PEMIMPIN & PEJABAT PUBLIK......................Akhirnya semua kembali kepada kita/rakyat pemegang Kedaulatan Konstitusi "PILIH ATAU CAMPAKAN [Take it or leave it] Jokowi Sebagai Presiden R.I ke 7 2014-2019"

    BalasHapus
  11. Semoga semakin banyak orang yg berfikir jernih, jika tdk suka ya jgn pilih jokowi, jika suka dukung dia. Indonesia butuh perubahan, dr 3 capres yg ada jokowi tdk sempurna tp tetap lbh baik dr yg lain yg punya hutang masalalu

    BalasHapus
  12. bagaimanapun juga, yang membantu memajukan negara harus didukung, siapaun itu, dan saat ini menurut saya pak jokowi termasuk orang yg berusaha memajukan negara.

    BalasHapus
  13. eh...ada yang tauw ga agama jokowew

    BalasHapus
  14. Tulisan yang jauh dari kesan membosankan..

    BalasHapus
  15. Mbak silakan tanya ulama2 di MUI (itu pun kl mbak masih percaya dg ulama?)...bgm jokowi tsb... Saya dulu suka jokowi tp stelah dengar ceramah ulama tdk lg.. Ulama adalah penerus nabi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehhe ini nih yg maaf ya sy sangat tdk sepakat dgn umat Islam yang paranoid. Apa2 dikaitkan dengan isu2 agama. Hhahaa...sorry ya dah saya buang jauh2 pemikiran yg sempit ini. Pantas ga maju2, seperti katak dalam tempurung. Boleh kan beda..Mending sekarang tunjukkin deh ya pemimpin kalian seperti apa. Jangan langsung bisa menghakimi agama orang. Hanya Allah yg Maha Menilai..bukan anda2 yang berpindah jadi Tuhan. Oke...

      Hapus
    2. Saya setuju sekali dengan mbak Kartika... pemikiran-pemikiran katak dalam tempurung tersebut sebaiknya dikaji ulang agar tidak menyesatkan

      Hapus
  16. Tanda2 org munafik, apabila berjanji berkhianat..nah jokowi salah satunya, katanya akan memimpin jakarta untuk 5 thn...hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. jika anda menandatangani kontrak kerja selama 5 tahun dg konsekuensi perdata jika terjadi pemutusan kontrak, ternyata baru 1.5 tahun anda dipromosikan oleh direksi ke jabatan yg lebih mapan karena berprestasi, apakah anda munafik? apakah anda berkhianat? apakah anda haus kekuasaan? tidak bisa dipungkiri partai politik di indonesia saat ini menjadi "direksi" semua capres, tidak mungkin ada capres tanpa arahan dari parpol .... jadi ketika sang direksi mau mempromosikan stafnya ke jabatan yg lebih baik karena berprestasi, apakah staf tersebut haus kekuasaan? munafik? tidak menepati kontrak? apakah sang direksi akan menggugat pemutusan kontrak tersebut ke pengadilan? indonesia membutuhkan dedikasi jokowi ..... dan jelas indonesia bukan hanya dki jakarta

      Hapus
    2. hahah ari gini ngomong munafik..terlalu cetek utk ngukur kemunafikan orang dari sisi belum selesai jabatannya...Ga ada kata2 lain gt...yg lebih elegan dan smart :) Itu sih Gubernur Jabar,belum tuntas jadi Guberbnur ehhh dah ngiler nyapres juga..kl itu definisinya munafik..apa Aher kategori munafik juga ehehehe rasanya semua pejabat negeri ini pada belum tuntas tuh selesaikan jabatannya...

      Hapus
    3. mbak, kalo nama kader pks disebut2 ntar banyak yang ngamuk lo... ati2 aja mbak .peace...
      bener kata2 mbak, yang suka pilih, yang gak suka ya jangan pilih.. inikan rebutan kekuasaan secara demokrasi. salaman

      Hapus
  17. Hehhe ini nih yg maaf ya sy sangat tdk sepakat dgn umat Islam yang paranoid. Apa2 dikaitkan dengan isu2 agama. Hhahaa...sorry ya dah saya buang jauh2 pemikiran yg sempit ini. Pantas ga maju2, seperti katak dalam tempurung. Boleh kan beda..Mending sekarang tunjukkin deh ya pemimpin kalian seperti apa. Jangan langsung bisa menghakimi agama orang. Hanya Allah yg Maha Menilai..bukan anda2 yang berpindah jadi Tuhan. Oke...

    BalasHapus
  18. Bisa ga ya sekali2 orang dilihat atau dikritik itu utuh...kekurangannya betul2 dari sisi kepemimpinan, potensi atau apa kek... bukan dari sisi agama. Sangat merasa sombong, saya nilai, orang Islam merasa paling suci dan merasa benar sendiri lantas menghakimi agama orang lain...Banyak kan realitasnya umat Islam sendiri yang berbuat kerusakan di muka bumi...Lihat bagaimana Rosulullah berdakwah..sangat arif dan bijaksana...

    BalasHapus
  19. apakah ada rekan-rekan yg pernah ditelepon staf kelurahan melalui hp pribadinya sekedar utk memberikan informasi bahwa pengurusan ktp sdh selesai dan bisa diambil di kelurahan? seumur saya hidup di dki, saya baru merasakan hal ini di jaman jokowi ..... satu hasil ini menurut saya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kinerja jokowi ..... JKW4P

    BalasHapus
  20. saya cukup respect dg pak jokowi, sebelum dia memutuskan utk maju nyapres. Saya merasa dia org yg baik dan bisa memegang janji (amanah),, tapi setelah dia memutuskan menjadi capres 2014 saya berbalik arah.
    Mobil ESEMKA yg digadang2 menjadi mobnas hanya omong kosong. Dan rakyat dibohongi, tidak mungkin anak SMK bisa buat mobil, kalo hanya sekedar merakit ya bisa.
    Proyek Bus transjakarta, baru dibeli sudah karatan.
    Banjir jakarta belum beres, dan kemacetan belum beres,,,sdh ditinggalkan utk "kedudukan" yg lebih empuk. Kalo orang niatnya menjadi pemimpin utk mengabdi (atau lbh hebat lg untuk ibadah) pasti ia akan menunaikan janji2 dan amanah.
    Kalo alasan nyapres karena tunduk pada ketum,,, nanti ketika nanti JKW jadi presiden (semoga jokowi tdk pernah jadi presiden), maka sejatinya yg memimpin utk ambil kebijakan strategis adalah megawati. Haduuhhhh negara indonesia mau dijual lg aset2 strategisnya,,, dulu mega jual indosat, blok tangguh... Semoga yg jadi pemimpin indonesia org yg jujur, amanah, dan anti korupsi serta berani memberantas korupsi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheeh daripada pemimpinnya tangannya berdarah2 di masa lalu...lantas sekarang mau jadi pahlawannn..ngumbar janji yg lebay, Tiap desa mau dikasih 3 miliar wahhh gila..apa2an ini..ketauan bgt haus kekuasaan dan power post syndrom..Pilih yg dosanya paling sedikit aja dan bukan produk masa lalu..yg ketauan bercitra negatif....Itu kl mau pake kacamata agama ttg dosa ya..

      Hapus
  21. Orang yang menyalahkan Jokowi nyapres, tidak memahami sistem politik, apalagi memahami sistem di tubuh partai. Semua presiden dicalonkan oleh partai dan berangkat dari partai, tidak hanya Jokowi, tetapi juga SBY, Gus Dus, Soeharto, dan the founding father, Bung Karno. Karena itu sangat dangkal jika dikatakan bahwa Jokowi adalah boneka partai. Dan selama semua itu dalam koridor mengutamakan kesejahteraan rakyat, maka tak jadi masalah jika kebijakan yang dikeluarkan adalah action dari Jokowi itu sendiri atau dorongan partai. Kebanyakan orang Indonesia hanya tahu kulitnya saja sudah berani bicara macam-macam. Kita bisa melihat krisis nasionalisme di sini, dimana masyarakat digiring untuk mengedepankan suku, ras dan agama. Inilah yang menyebabkan Indonesia mudah dipecahbelah oleh bangsa asing, Ingat, Indonesia bukan negara agama.

    BalasHapus
  22. Sudah-sudah jangan ribut. Mending belanja tas fashion aja yuk di blog saya. Sorry ya mbak numpang ngebacklink.

    Semoga Allah memberi yang terbaik untuk negeri ini. Aaamiiin.

    BalasHapus
  23. Saya pernah menulis di akun facebook, yang tulisannya berbunyi begini:
    Orang pintar tapi tidak bersih dan jujur, tidak akan dapat menyelesaikan masalah...
    Orang berpangkat tapi tidak bersih dan jujur, tidak akan dapat menyelesaikan masalah...
    Orang berharta tapi tidak bersih dan jujur, tidak akan dapat menyelesaikan masalah...
    Jadi orang seperti apakah yang akan dapat menyelesaikan masalah...?

    Di sini saya ingin menambahkan dengan tulisan ini:
    Jadi kata kuncinya adalah "bersih dan jujur", karena dalam kekurangan kepintaran, kepangkatan dan harta, orang yang "bersih dan jujur" akan ditunjukkan jalan untuk menngatasi atau menyelesaikan masalah...
    Dalam masalah pencapresan ini tentu kita tidak perlu lagi bingung dan ragu-ragu, siapa yang harus kita usung dan pilih menjadi presiden. Kita tinggal melihat saja dengan obyektif, adakah dari sekian banyak capres ini yang termasuk orang "bersih dan jujur"?
    Sekiranya tidak satu pun yang jujur dan bersih dari mereka, maka satu pun tidak usah dipilih. Tapi sekiranya ada di antara mereka yang jujur dan bersih, maka pilihlah orang itu...

    Yang hak dan bathil itu sangat jelas perbedaannya, tidak tipis atau tidak samar. Yang sering menipiskan atau menyamarkan yang hak dan batil justru adalah pandangan kita sendiri yang sarat dengan kepentingan, taklid buta atau apriori...
    Mari kita berharap dan berdo'a, mudah-mudahan pada Pilpres 2014 ini akan terpilih Presiden Indonesia dari orang yang jujur dan bersih...Aamiin!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... pak Jokowi sudah terpilih... dan buktinyata kerja kerasanya banyak banget

      Hapus
  24. sementara msh golput, tunggu siapa capres lain selain jokowi & prabowo
    dan tunggu siapa wapresnya....
    kl jokowi capres, ahok wapres, didukung abizzz.....

    BalasHapus
  25. Hihihi.. tapi pada akhirnya pak jokowilah yang berbicara :D

    BalasHapus
  26. Mendukung kan gak harus berarti fanatik ya mbak

    BalasHapus
  27. Aku baru baca. Sebagai pendukung Jokowi dan Ahok, saya juga mengakui ada kebijakan mereka yang membuat kami pendukungnya mengeluh. Tapi saya tidak pernah menyesal memilih mereka. Dan kalau ada kesempatan untuk memilih lagi, saya akan tetap memilih Jokowi sebagai presiden dan Ahok sebagai gubernur DKI.
    Mereka memang bukan manusia yang sempurna. Tapi mereka ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

    BalasHapus
  28. keren banget sih baca tulisan ini.....

    BalasHapus

Terima kasih atas masukan dan komentarnya.