Jual Daster Batik

Jual Daster Batik
Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan

Strategi Menjual dengan Story Telling di Candi Borubudur



Lebaran lalu (3 Agustus 2014), kami sekeluarga wisata ke Yogyakarta dan Candi Borobudur di Magelang. Meili dan Mbahnya pengin banget ke Candi Borobudur. Ini merupakan kunjungan perdana Meili dan Mbahnya. Kata Meili ingin melihat peninggalan Istana Ratu Balqis yang dipindahkan oleh Nabi Sulaeman. 

Aku memang cerita ke Meili, Candi Borubudur selain dari catatan sejarah Candi Borubudur yang merupakan peninggalan agama Budha yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra pada abad ke-8, juga mencoba memberikan persepsi lain. Bisa jadi candi Budha terbesar di dunia ini memang merupakan salah satu bukti kebesaran Nabi Sulaeman. Hmm..mungkin saja. Aku tidak mau berpanjang-panjang menulis tentang polemik tersebut. Om Google sudah banyak membahasnya :)

Aku hanya ingin bercerita tentang pedagang-pedagang di Candi Borobudur yang berkesan. Kami sampai ke Borobudur dari Yogya sekitar pukul 10:00 Wib. Udara cerah sekali. Alhamdulillah, bisa lebih lama menikmati suasana candi, pikirku. Aku siap dengan kaca mata hitamku. Meili dan Barra pun sudah siaga dengan topi barunya yang dibeli dari seorang pedagang topi. Cukup banyak juga pedagang bersileweran menghampiri setiap tamu yang baru turun dari mobil. Meski kami sudah membawa topi, para pedagang yang kebanyakan ibu-ibu setengah baya tetap gigih menawarkan barang dagangannya. "Sudah beli Bu, makasih ya !", jawabku berulang-ulang sambil berlalu. "Beli lagi Neng,..!" Hehe si Ibu tetap usaha.


Perlahan-lahan matahari menunjukkan kegarangannya. Untungnya di loket suasananya nyaman. Ada kipas angin besar bersembur air, menyejukkan antrian pengunjung. Lama juga kami duduk-duduk di area loket sambil menunggu suami beli tiket. 

Sebelum menelusuri candi, kami menikmati sejumlah fasilitas di area candi. Meili dan Barra nonton film tentang pendirian Candi Borobudur, bermain dengan badut-badut lucu, memperhatikan perajin membatik, dan naik kereta keliling. Udara di taman-taman dengan pepohonan rimbun memberikan kesejukan tersendiri.



 Jarum jam menunjukkan pukul 12:00-an. Suasana di taman masih asyik untuk leyeh-leyeh. Apalagi di hamparan rumput itu banyak pedagang melapak. Badan-badan Candi Borubudur terlihat jelas dari taman. Ibuku pun begitu menikmati suasananya. Hmm...panas kali ya. Nggak tega juga mengajak ibuku, Meili dan Barra menaiki tangga candi. Kami memutuskan menunggu matahari bersinar ramah, sambil makan siang lesehan bermenu gudek.

Tak berapa lama kami duduk-duduk yang disediakan, pedagang hilir mudik menawarkan barang dagangan. Mulai dari gantungan kunci berbentuk candi Borobudur, Prambanan, kaos, tempelan kulkas, pulpen bermotif ukiran batik, asbak, sampai wayang kayu. Harga yang ditawarkan cukup murah. Gantungan kunci ditawarkan Rp 3000-an. Sedangkan untuk pulpen  bambu bermotif ditawarkan "keroyokan', Rp 5000 dapat 5 pulpen. Kami membeli beberapa gantungan kunci, tempelan kulkas dan asbak untuk oleh-oleh.



Hmm...karena kami lumayan "membeli", seorang bapak setengah tua menghampiri dan tersenyum manis kepada kami. Di bahu kanannya, tergendong sebuah bawaan besar. Menyembul di sela-sela seonggok wayang kayu. Bisa ditebak, ia akan menjajakan dagangannya kepada kami. Aku menoleh ke suamiku yang tampak menikmati suasana. "Mas, ada yang jual wayang. Tertarik nggak? tanyaku. Tanpa komentar, suamiku hanya tersenyum ketika bapak itu dengan senyum lebarnya menyapa kami. Jujur, aku ingin langsung mengaba-aba menolak jualan bapak itu. Karena, pasti harganya mahal. 

Barra bermain-main dengan topeng kayu.


Benar saja, bapak itu langsung menawarkan wayang kayunya kepada kami. Setengah berbisik, dekat sekali ke telinga suamiku. Aku jadi tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Suamiku mengangguk-angguk saja. Hmm..jangan-jangan suamiku mau membelinya.

"Berapa pak topeng kayunya ?" tanyaku. " Rp 150 ribu bu, sepasang." jawabnya singkat, tetap dengan senyum yang mengembang. Garis-garis tua eksis di wajahnya. Sesekali ia basuh keringat di keningnya. Timbul iba di hatiku. Ia mengamati anakku Meili yang asyik menikmati makan siangnya. Lamat-lamat terbukalah obrolan ringan diantara kami. 

Rupanya, pria yang mengaku bernama Gimin itu sudah berjualan kerajinan di kawasan wisata Borobudir sejak tahun 1981. Ini sebagai kompensasi atas gusuran rumahnya yang terkena proyek pengembangan Candi Borobudur. Penduduk yang terkena gusuran, diberikan izin untuk berdagang di sekitar Borobudur. 

Bapak beranak dua sekaligus kakek bercucu satu ini berbagi tips kehidupan. Pembicaraannya filosofis, sarat dengan baik-bait Kejawen yang kerap bapakku ajarkan kepadaku, bahwa hidup ini sejatinya sudah ditentukan takarannya oleh Gusti Allah. Dan, setiap diri apapun yang diperbuat, baik maupun buruk, ada balasannya.  Ia juga bercerita tentang mistis di kawasan Candi Borobudur. Ya..obrolan jadi panjang, karena aku terus bertanya dan bertanya. Hmmm..suami lagi-lagi tak berkomentar,  khas dia banget.

Semilir angin berhembus syahdu ketika Pak Gimin bercerita.

Bagi Pak Gimin kebahagiaan itu begitu sederhana, ia hanya meminta kepada Tuhan diberi kenikmatan memperoleh rezeki yg halal dan diridhoi. "Permintaan saya hanya dua, yaitu memiliki badan yg sehat utk bekerja dan Tuhan meridoi setiap yg saya dan keluarga lakukan." katanya.

Ia pun mengingatkan kepada kami agar selalu mendoakan orang lain dan para leluhur. Semakin kita banyak mendoakan keselamatan dan kebahagiaan orang lain, maka itu akan berpulang ke kita juga. Tidak ketinggalan, ia berbicara tentang politik dan Jokowi. Ahh...pas banget dengan seleraku. Barra dan Meili jadi antusias mendengar wejangan bapak 65 thn yg juga pandai mengurut ini.Tanpa terasa satu jam lebih ia bersama kami. 


Hehe, by the way, bagaimana dengan jualannya ? Ternyata, itu tak dilupakannya meski kami sudah larut dalam cerita. Pelan-pelan, ia tawarkan kembali dengan harga spesial.  Suamiku yang sedari awal tak berkomentar, goyah juga. "Kurangi ya harganya..." tawar suami dalam bahasa Jawa, sambil memegang sepasang topeng kayu Rama dan Shinta. Tak ingin kehilangan momen, Pak Gimin langsung menyambutnya. Ia tawarkan harga paket, topeng kayu Rama-Shinta plus 5 wayang kayu Pandawa. Bagus juga wayangnya..Akhirnya deal. Pak Gimin memberikan harga 'spesial"..Kalo tidak salah hampir 200 ribu.

Harga "paket spesial" yang kami kira murah, nyatanya di luar taman, banyak pedagang menjual harga dibawahnya.. Wahh...heheh suamiku hanya tersenyum. "Lah...ini lebih murah !" cerita suamiku yang menemui wayang-wayang itu dijajakan sejumlah pedagang di area luar..


Angkringan di Kota Wisata Cibubur



Kurang lebih hampir setahun warung angkringan di kota wisata ada. Tepatnya di depan suatu ruko yang terletak tak jauh dari gerbang Kota Wisata  arah  Cileungsi. Saya lupa nama rukonya. Hehe padahal sudah relatif sering melewati jalur itu.

Singkat kata, akhirnya kesampean juga saya nongkrong bersama keluarga di angkringan tersebut. Setiap kali ingin menikmati sego kucing di angkringan ini, pasti Mas penjualnya sudah mulai tutup layar. Padahal baru pukul 20:00 an. Sementara, mereka baru buka menjelang maghrib. Dibanding deretan kuliner yang ada di sepanjang ruko tersebut, boleh dibilang, angkringan ini teramai. 

Malam ini (19/12), kendaraan kami sampai di sana pukul 19:30an. Sambil harap-harap cemas semoga masih tersisa sego kucingnya. Alhamdulillah, nasi bungkusan imut-imut itu masih tersedia. Satu persatu, pembeli mulai berdatangan. Saya langsung sigap mengapling lesehan :)


 Tak beda dengan angkringan di tempat lain, angkringan Kota Wisata --saya menyebutnya, juga menyediakan tiga pilihan lauk pauk sego kucing yaitu nasi-orek tempe, nasi-ikan asin, dan nasi-sambal ikan tongkol.

Meilia tampak semangat memilah-milih nasi mungil itu. Ia mengambil dua bungkus bermenu ikan asin. Tiga tusuk sate ampela dipilihnya. Barra pun tak kalah eksis memilah-milih sate kesukaannya. Selain sate "jeroan" ayam (usus, kulit, hati) tersedia juga sate telur puyuh, tempe-tahu bacem, bakwan dan martabak.  Setelah dipilih, si Abang siap membakar dengan arang untuk menghangatkan. Aroma bakaran begitu semerbak, jadi bikin lapar. Ini kayaknya yang bikin beda. Nasinya pun pulen dan padat. Legit rasanya. Seutas daun pisang ikut mengutas kepalan nasi itu.  Makan satu bungkus saja, perut sudah merasa penuh. Heheh rata-rata kami makan dua bungkus.


Menyenangkan ternyata makan di emperan toko sambil menyeruput Susu Telor Madu Jahe (STMJ)  hangat dan memandangi orang yang lalu lalang.   Kurang lebih setengah jam nongkrong di sana, tumpukan nasi yang kami temui masih banyak, menyisakan beberapa bungkus saja. Begitu pula lauk pauk sate, nyaris tak bersisa. 

Berada di kawasan perumahan mewah Kota Wisata, kehadiran Sego Kucing ini memang memberikan angin segar kuliner murah meriah. Wajar sih jika umur jualannya cuma hitungan jam, langsung ludes. Nasi sebungkus harganya Rp 3000. Seluruh jenis sate juga Rp 3000. Gorengan besar Rp 1000. Minuman STMJ cuma Rp 5.000. Soft drink juga dijajakan. Harganya standar.

 Sepertinya bisnis angkringan bagus nih dilirik. Tak jauh dari Kota Wisata, juga ada warung angkringan. Tiap hari buka mulai dari pukul 05:00 sore hingga jam 12 malam. Cukup ramai. Lesehan dengan meja kecil berjejer rapi. Kalau malam minggu, angkringan di jalan menuju Taman Rahayu ini menjadi tempat tongkrongan. Cuma memang dari segi rasa, menurut saya lebih enak angkringan di kota Wisata. Lebih bersih dan bikin nafsu makan.



Menikmati Sepeda Motor Listrik di Monas



Hai sobat, pasti ada yang udah pernah jalan-jalan ke Monas ya...

Minggu kemarin, kami sekeluarga jalan-jalan ke monumen setinggi 132 meter itu. Ini sebenarnya bukan kunjungan perdana. Kami sudah beberapa kali kali bermain ke sana. Hhehe kalau dari jarak rumah kami di Cileungsi cukup jauh juga ke Monas. Kurang lebih 2 jam jika kondisi lalulintas tidak begitu ramai. Kalau ramai, wahh bisa 3 jam lebih.

Tapi demi mengenalkan kepada anak-anak tentang salah satu sejarah perjuangan bangsa, hmm dibela-belain deh. Meski pada kenyataannya, gambaran sebuah museum yang ideal dari Monas itu masih jauhh sekali dari harapan. Paling daya tarik utama kebanyakan pengunjung adalah melihat kota Jakarta dari puncak tugu. Hhehe, jangan tanya ngantrinya, pake banget pokoknya deh. Dan, jujur sampai detik ini, aku belum pernah naik sampai puncaknya. Waktu kunjungan sebelumnya, sudah diniatkan mau naik, tapi sedang ada perbaikan lift.

Dalam kunjungan kami Minggu (14/12), kami tidak ke dalam Monas.  Kami hanya menyaksikan beberapa pameran di sana yaitu pameran kuliner, pameran Alusita-kerdirgantaan, dan pameran produk daur ulang. Semuanya diselenggarakan di area luar ruang Monas.

Jangan tanya mataharinya ya. Wahhh terik banget. Tapi bagi anak-anak, tak ada kata terik dan kepanasan. Mereka tetap gembira dan semangat bermain.

Salah satu permainan yang diminati anak saya adalah sepeda motor. Baru satu kali Kakak Meili belajar motor ehhh sudah bisa ngacir sendiri berboncengan dengan adiknya, Barra.


Was-was juga aku mengawasinya. Khawatir jatuh atau menabrak orang yang ramai lalu lalang. Sambil terus mengawasi gerak-gerik buah hatiku, aku mengabadikan beberapa gambar kegembiraan mereka.

Oya, harga sewa motor listrik ini cukup 'murah'.  Hanya Rp 30 ribu per 20 menit. Tetapi pada kenyataannya, kami bisa menaiki lebih dari 20 menit. Abangnya tidak mencari dan malah mendiamkan saja anak-anak bermain. Malah, kalau sedang tidak ramai, abangnya menunggu sampai secape anaknya saja. Hmm.. Aku jadi tidak enak sendiri..hehehe kesadaran aja kali ya menghentikan permainan.

Sambil menunggu Meili dan Barra bermain, aku ngobrol sedikit dengan Abangnya yang sepertinya asli Batak. Dulu -sebelum ada razia, setiap hari, si Abang mangkal di halaman Monas. Tetapi setelah ada razia, Si Abang jadi cuma akhir pekan saja leluasa mengoperasikan dagangan 'sewa sepeda motor listriknya". Sisa-sisa harinya, dia operasikan di lingkungan rumahnya. Dan, sambil melihat-lihat momen. Kalau ada momen acara di Monas, pasti Si Abang ini eksis.  Ada lebih dari 10 sepeda motor listrik yang dimilikinya baik ukuran besar maupun kecil. Lumayan juga ya.
Yuk teman-teman jalan-jalan ke Monas. Setiap akhir pekan di halaman Monas kerap ada acara. Gratis loh masuknya. Cuma bayar parkir saja. Kalau parkir di Stasiun Gambir, tarifnya Rp 4000 per kedatangan, dan Rp 3000 per kelipatan satu jam.Untuk tarif parkir di luar Stasiun Gambir rasanya tidak beda jauh, atau bisa kompromi dengan petugas parkirnya.

Meski saat ini Monas belum menjadi destinasi wisata yang bagus, tetapi rencananya Monas akan benar-benar difungsikan menjadi sebuah museum lengkap dan moderen, serta pusat kesenian Indonesia. Di sinilah nantinya ajang eksistensi seni dan budaya dari seluruh Indonesia.



Kalau melihat ide awalnya dari Bung Karno, presiden kita yang pertama, Monas memang dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan. Semangat yang terus menyala dan berkobar dilambangkan lewat  seonggok emas 81 kg yang dikreasikan bak lidah api di atas tugunya.

Hanya saja, manajeman dan pengelolaan Monas belum sesuai harapan. Padahal, Monas sudah dibuka sejak 12 Juli 1975 loh. hmm..mungkin pemerintah sebelumnya, punya prioritas lain. Tapi syukurnya, sekarang pemerintah DKI Jakarta kembali "mengurus" Monas untuk menjadikannya destinasi kebanggaan nasional. Museum lengkap perjuangan bangsa. Selain itu, rencananya di halaman Monas akan dibangun taman bunga empat musim. Wahh keren ya..Insya Allah bisa terwujud dan dilancarkan prosesnya. Mengingat Monas merupakan aset bangsa yang harus dirawat dan dipelihara

Jadi, harap maklum ya jika teman-teman yang berkunjung tidak bisa sepenuhnya menikmati ruangan demi ruangan di dalam tugu tersebut. Sebagian wilayah interior Monas sedang dalam perbaikan.  Bagi yang ingin menyelenggarakan event atau pameran, hanya diperbolehkan di depan halaman Monas setiap akhir pekan. 
Sambil menunggu persiapan mempercantik Monas, sebagai warga negara yang baik, mari kita dukung. Salah satunya, dengan menjaga kebersihan di sekeliling halaman Monas. Pasalnya, banyak banget sampah bertebaran di taman-taman dan hutan kota di Monas. Kesadaran pengunjung dan pedagang kaki lima untuk menjaga kebersihan lingkungan masih minim. Pantas saja sih, pemerintah DKI Jakarta giat melakukan razia pedangan dan gepeng di seputaran Monas. Itu semua demi menjaga keindahan Monas agar bisa dinikmati warga masyarakatnya juga.

Petualangan 1000 Anak ala Rumah Perubahan


Hai teman-teman pernah dengar atau tahu Rumah Perubahan? Jujur, aku baru kali pertama mengetahuinya ketika membaca sebuah info dari teman di media sosial tentang acara petualangan cilik di Rumah Perubahan.

 Yang terbayang di benakku adalah sebuah rumah yang berisi orang-orang yang berkeinginan kuat untuk  maju atau rumah dinamis yang mewadahi, mengakomodasi dan menginspirasi segala kebutuhan orang-orang yang ingin berfikir maju dan menata hidupnya untuk lebih baik.  Hmm..Alhamdulillah penafsiranku rupanya tidak jauh meleset.

Rumah Perubahan memang dilahirkan oleh Rhenald Kasali, seorang pengusaha sekaligus motivator bisnis yang handal negeri ini, bertujuan untuk melakukan perubahan nyata, membebaskan masyarakat, dunia usaha, dan negeri ini dari belenggu yang mengikat kaki, tangan, dan pikiran mereka.

Di alam terbuka di Rumah Perubahan, Rhenald Kasali menerapi pikiran-pikiran yang terbelenggu yang membuat bangsa ini rapuh. Diantaranya pikiran dan sikap yang kurang bersyukur, cepat merasa puas, mudah menyerah, tidak terbuka, senang membangun keributan dan konflik, mudah tersulut amarah, gemar berwacana tanpa bertindak, menciptakan rintangan-rintangan untuk kemajuan, takut menghadapi realita baru dan sebagainya.


Berangkat dari visi tersebut, Rumah Perubahan yang didirikan sejak 7 September 2007 ini memberikan pelatihan dan melakukan berbagai kegiatan sosial yang meliputi  tiga bidang yaitu pendidikan, kesejahteraan sosial dan lingkungan hidup. Salah satu kegiatan sosialnya adalah program 1000 petualangan cilik. Tidak tanggung-tanggung, Rumah Perubahan mengajak  secara cuma-cuma sebanyak 1000 anak  untuk berpetualang mencintai alam.

Petualangan ini dibagi dalam enam batch, mulai bulan Maret hingga September 2014. Sebelumnya, sebagai bentuk dari Social Entrepreneurship, Rumah Perubahan juga telah membangun Rumah Baca Manca dan TK-PAUD Kutilang untuk anak-anak kurang mampu dari segi ekonomi di daerah sekitar lokasi Rumah Perubahan di Jati Murni.


Serunya Berpetualang Mencintai Alam


Aku mendaftarkan anakku, Meilia (8 tahun) dan beberapa anak teman pada batch 1, 23 Maret 2014. Kegiatan ini dimulai pada pukul 08:00 hingga 12:00 WIB. Pukul 07:00, kami sudah harus daftar ulang di Rumah Perubahan yang terletak di Jalan Raya Hankam, Jatimurni, Bekasi. Dengan penuh semangat, Meilia sudah bangun dari jam setengah 5. Biasanya susah banget dibangunin. Udara dingin yang menusuk relung pori-pori rupanya tidak menggoyahkan semangat Meili bangun nyubuh :)

Pagi itu memang cuaca kelabu, matahari hanya mengintip saja dari peraduan. Gemericik hujan akhirnya tak kuasa jatuh juga membasahi bumi. Sepanjang jalan dari Cileungsi ke Jatimurni, hujan terus mengiringi. Sempat ragu dalam hati tentang acara ini, lantaran melihat jadwal acara yang dikirimkan panitia via imel, nyaris sepenuhnya dilaksanakan di luar ruang. Hmm panitia kayaknya harus bikin plan berbeda nih kalau cuaca nggak mendukung,”..pikirku. Aku lihat di belakang, Meili sudah berada di alam mimpi lagi. Hehe ngelanjutin tidurnya.



Sekitar pukul 07:30, kami sudah sampai di area sekitar lokasi Rumah Perubahan. Hujan makin deras aja. Dari kejauhan, nampak iring-iringan anak-anak berpayung dan berjas hujan berjalan penuh semangat. Kami yang memang baru kali pertama ke Rumah Perubahan, sedikit menebak, jangan-jangan itu anak-anak yang akan berpetualang. Dari balik mobil, aku tanya ke Bapak Security yang “mengamankan” iring-iringan anak-anak itu. “Pak, Rumah Perubahan ada di sebelah mana ya ? Masih jauh dari sini ? tanyaku. “Oo nggak bu, tinggal sedikit lagi. Masuk jalan ini dan Ibu ikuti aja anak-anak itu ya," jawab Bapak Security. Aku dan suamiku saling tersenyum melihat semangat anak-anak yang rela berhujan-hujan menuju Rumah Perubahan. Sepertinya puluhan anak-anak itu tinggal tak jauh dari lokasi Rumah Perubahan.

Letak Rumah Perubahan memang agak ke dalam. Kita harus menyusuri jalan setapak yang hanya memuat satu arah mobil. Dari jalan utama sekitar 300 meter. Rumah perubahan benar-benar berada di tengah-tengah pemukiman penduduk yang cukup padat. Kendaraan kami langsung digiring ke area parkir di sebuah hamparan kebun. Hujan masih enggan berhenti. Meili yang sedari tadi tertidur, langsung siaga. ‘Ma, kita ada dimana nih? Tanyanya sambil mengucek-ngucek matanya, mengumpulkan nyawa. “Kita sudah sampai Mel..”jawabku sambil tersenyum dan mengajaknya berjalan kurang lebih 5 menit menuju lokasi. 

Wahh rupanya, di pelataran Rumah Perubahan sudah penuh kendaraan sehingga kendaraan kami tidak kebagian. Luar biasa semangat betul nih anak-anak dan ayah bundanya ;).  Di ruang daftar ulang, anak-anak dengan penuh keceriaan siap bermain.  Mereka yang telah daftar ulang dibagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan usia. Kami pun dibekali snack dan voucher Starbuck. Kakak-kakak mentor dan fasilitator kelompok sudah  kumpul di ruangan. Hmmm hujan masih betah. “Ya Allah, terangkanlah cuacanya. Berilah anak-anak ini kesempatan merasakan petualangan di Rumah Perubahan,” doaku dalam hati.

Ayah bunda mengikuti acara bedah buku berjudul Bunda Lisa di Kafe Embun

Alhamdulillah sekitar pukul 08:30, perlahan tapi pasti matahari sudah mulai eksis beradu tampil dengan gerimis kecil.  Anak-anak tetap tak gentar segera menuju arena bermain. Meili masuk dalam kelompok Matoa. Orang tua diminta tidak mengikuti anak-anak bermain. Panitia telah menyiapkan acara khusus buat ayah bunda yaitu bedah buku yang berjudul "Bunda Lisa". di Kafe Embun.

Bunda lisa yang  tak lain adalah istri Rhenald Kasali ini memiliki jiwa sosial yang tinggi  sehingga mendorong Jombang Sentani Khairen, penulis buku tersebut yang juga seorang mahasiswa dari Prof Rhenald Kasali untuk mengabadikannya dalam sebuah buku biografi. Dalam buku tersebut  dikisahkan pula sisi lain seorang Bunda Lisa yang begitu memberikan arti bagi perjalanan hidup Rhenald Kasali. Ya,  "Dibalik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat dibelakangnya. Dialah itu Bunda Lisa. Romantisnya...;) Aku yang niatnya mau bergabung dengan ayah bunda, ternyata malah larut mengikuti anak-anak bermain. ‘Sekalian reportase lah..heheh,” begitu pikirku.

Arena bermain Rumah Perubahan ternyata sangat luas dalam hamparan rumput yang tertata rapi. Ada hamparan perkebunan sayur, peternakan sapi, Rumah Tempe, tempat pemancingan, kafe dan sejumlah bale-bale santai. Sebanyak 136 anak berusia 3-14 tahun bergiliran sesuai dengan kelompoknya bermain dari pos satu ke pos berikutnya. Khusus untuk anak-anak yang berusia 3-5 tahun, panitia telah menyiapkan permainan sesuai usianya, diantaranya mewarnai, mendengarkan dongeng (story telling), memberi makan sapi, dan sejumlah kegiatan kreatif lainnya.



Di pos 1, kelompok Matoa bermain ‘dinamika kelompok”melalui pesan berantai dari satu teman ke teman lainnya. Jadi, anak-anak dibisikkan oleh kakak mentor kisi-kisi tentang “bentuk” pada sebuah piring. Sebagai medianya, disediakan irisan anggur, pisang, dan jeruk. Wahh anak-anak dengan kepolosan dan kekompakannya men-transfer pesan dari mentor melalui teman ke teman lainnya. Hasilnya, mereka rangkaikan irisan buah itu sesuai pesan yang ditangkap dari teman terakhir. Sejatinya, jika pesan-pesan itu tersampaikan dengan baik akan membentuk wajah tersenyum. Hhehe dari hasil itu, irisan buah hasil kerja sama anak-anak malah berbentuk tak jelas. Meski begitu anak-anak tetap senang. Kakak mentor pun menyampaikan isi dari permainan tersebut dalam bahasa mereka.

Dari pos 1 berlanjut ke pos 2 yang masih berada dalam lokasi yang sama. Di Pos 2 ini, Matoa bercocok tanam kangkung organik. Sebelumnya kakak mentor menjelaskan tentang pentingnya makan sayur-sayuran bagi kesehatan. Anak-anak diminta menyebutkan sayur-sayuran yang mereka kenal. 


Dibimbing kakak mentor, anak-anak tanpa keraguan dan takut becek langsung turun ke sawah memetik kangkung. “Ayo...petik sebanyak-banyaknya ya buat disayur sama bunda di rumah,” seru kakak mentor. Setelah itu mereka mencuci sendiri kangkung hasil petikannya. Siap deh dikemas untuk dibawa pulang. Oya, sebelum mengakhiri pos 2, kakak mentor juga memberikan kejutan hadiah bagi siapa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar.

Pos 3, letaknya lumayan jauh dengan perjalanan setengah mendaki. Di Pos 3 ini, kelompok Matoa bersiap untuk membuat tempe di Rumah Tempe. Rumah Tempe ini memproduksi tempe dengan teknologi moderen dan higienis. Sebelum membuat tempe, panitia membagikan masker, sarung tangan dan ikat kepala. Perlengkapan ini bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Mantab bener serasa jadi chef. Kakak mentor dengan sabar dan suasana fun menjelaskan kronologi pembuatan “tempe embun”. 



Meili yang pernah melihat proses pembuatan tempe dari mbahnya di kampung cukup merasa heran karena proses pembuatan tempe embun ini tidak pakai diinjak-injak kedelainya. Jadi, kedelai yang berkualitas tinggi itu dicuci dan direbus dengan menggunakan air embun yang diperoleh dari teknologi tinggi. Air embun terbukti bebas dari mineral anorganik (sodium/garam, kloride), logam berat (timbal dan merkuri), serta pestisida berbahaya sehingga tempe yang dihasilkan lebih bersih, lebih sehat, lebih higienis dan lebih empuk. Anak-anak merasakan langsung “menguleni” tempe. Setelah dibersihkan dan direbus, setiap anak mengantongi sendiri kedelainya untuk dibawa pulang.
 “Disimpan di tempat yang bersih ya di rumah,” pesan salah satu kakak mentor. Dalam beberapa hari, kedelai yang dikemas itu nanti akan ditumbuhi jamur tempe. Jadi deh tempenya. Oya sebelum mengakhiri sesi ini, kakak mentor memberikan tebakan. Alhamdulillah Meilia dapat menjawab pertanyaan dengan tepat dan cepat. Hadiah berupa lampu belajar lucu berhasil diboyong Meili. Senangnya.


Usai membuat tempe, kerbau sudah menunggu untuk dimandikan. Wahhh, rupanya banyak anak yang takut memegang kerbau sehingga kakak-kakak harus membujuk dan menggendong beberapa anak yang ketakutan. Hehe di kota nggak pernah lihat kerbau ya, jadi agak aneh melihat hewan bertanduk dan bertubuh gemuk hitam itu.

Usai bermain air dengan kerbau, orang tua membantu memandikan anak-anaknya. Panitia mengatur rapi antrian sehingga tidak  terlalu berdesakan. Setelah cantik dan cakep kembali, anak-anak digiring ke halaman rumput bermain tentang dinamika kelompok, bagaimana bisa bekerja sama dengan sinergis menggelindingkan bola pada bilahan bambu. Terlihat team work terbangun dengan penuh keceriaan.


Tibalah pada pos puncak nih yaitu membuat biogas dari kotoran sapi. Meili baru tahu bahwa kotoran sapi yang diolah menjadi biogas bisa dimanfaatkan jadi energi listrik. "Aduhh Ma, bau deh Meili disuruh cium gasnya,” cerita Meili kepadaku yang waktu itu tidak berada di lokasi pembuatan biogas. Aku jelaskan ke Meili, bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan, kendati itu berupa kotoran, nyatanya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia juga. Asal manusia itu mau berfikir dan berani menciptakan,” jelasku ke Meili.

Sambil menunggu anak-anak bermain, ayah bunda dihibur musik percusi dari limbah drum. Bagi ayah bunda yang ingin berbelanja produk sayuran, panitia menyediakan bazar sayuran. Segar-segar sekali sayuranya, langsung dipetik dari kebun. Aku memborong kangkung dan tempe. Kangkung memang menjadi makanan favorit Meili. 


Waktu setengah hari itu benar-benar sangat bermanfaat bagi anak-anak untuk belajar mencintai alam sambil bermain. Pulangnya, anak-anak dibekali lagi sovenir dari sponsor.. Wah makin senang deh. Yuk ayah bunda ajak putra-putrinya ikut Program 1000 Petualangan  Cilik ala Rumah Perubahan. Gratis !. Menurut Nuril Eka, Bussiness Development of Social Change Division Rumah Perubahan, pada batch selanjutnya akan mengikutsertakan anak-anak diffabel. Let's Make a Change in Your Life !


Asyik Barra Jadi Pilot !


Itulah teriakan Barra saat berhasil duduk di ruang kokpit pesawat Garuda di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah. Puas sekali, akhirnya Barra kesampaian juga untuk kali kedua ke Museum Transportasi di TMII, setelah minggu lalu belum sempat naik pesawat.  Terima kasih ayah sudah mau mengantarkan kami liburan lagi ke TMII.

Begitu keluar mobil, Barra dan Meili langsung berlarian menuju pintu loket museum. Hari itu cukup banyak pengunjung.  Sambil menunggu antrian, Barra menjungkitkan kakinya melihat pesawat dari sela-sela bilik pagar, tak sabaran menunggu. Kurang lebih 10 menit, petugas loket memberikan dua lembar tiket. Satu tiket museum Rp 2000, dan satunya lagi tiket masuk pesawat Rp 3000. Murah ya..Memang TMII benar-benar hiburan rakyat yang kaya ilmu dan inspirasi.

Enam lembar tiket langsung diambil Meili. Dua mutiaraku saling berkejaran mencapai bibir tangga pesawat. Di tengah “kemrusuk”, Barra masih sempat meletakkan sendal pada rak yang disediakan. Hmm aku geleng-geleng kepala bangga melihatnya.

Ini adalah kali kedua Meili masuk pesawat Garuda Indonesia berjenis DC-9 PK GNT buatan Amerika itu. Sedangakan untuk Barra adalah kunjungan perdana. Wahh rupanya banyak terjadi perubahan dibanding tiga tahun lalu. Jok-jok pesawat sudah diganti, termasuk dinding dan bagasinya, terlihat masih baru. LCD TV berukuran 21 inch terpampang di pojok sebelah kanan. AC ruangan pun full meniupkan kenyamanan di tengah teriknya sinar mentari di luar sana. Pengunjung bisa memilih duduk-duduk di jok-jok pesawat atau melantai di bawah dengan beralas karpet.




Kurang lebih 15 menit sekali terdengar penjelasan guide berupa rekaman suara menjelaskan  ikhwal pesawat Boeing berkapasitas 90-an penumpang itu.  Dibuat tahun 1979, pesawat ini pernah menjadi kebanggaan Indonesia. Melayani rute penerbangan di wilayah ASEAN dan Australia. Sejak 1994, pesawat ini  resmi menjadi penghuni  Museum Transportasi TMII.


Meili dan Barra menyimak penjelasan guide rekaman itu sambil melihat videonya di TV. "Ma, ini pesawat yang ilang itu ya, " celoteh Barra membuatku nyengir. Maksudnya pesawat MH370 yang masih raib belum ditemukan.

Setelah puas duduk-duduk, kami berkeliling searea pesawat. Ada  pintu yang tidak dibuka, seperti toilet dan ruang pramugara/i. Ruang pesawat cukup ramai. Orang tua dan anak-anak mencari posisi yang enak buat berfoto. Ruang kokpit, tempat  pilot mengemudikan dan mengendalikan pesawat pun nyaris tak sepi. Sambil memperhatikan Meilia dan Barra bermain, matakku tak lepas mengawasi ruang kokpit. Semoga kosong..harapku.


Tak berapa lama kemudian, Alhamdulillah we’ve got it !, Meilia dan Barra berlarian masuk ke ruang kokpit. Wahh senangnya melihat mereka bergaya ala pilot. Apalagi Barra, menghayati sekali. Tangannya lincah menggoyang-goyangkan setir, memencet-mencet tombol sambil memanyunkan bibirnya. Hahah khasnya anak ini kalau lagi serius. Saking betahnya di ruang kokpit, anak-anak di belakang sudah pada resah menunggu kami hehee. “Ya sudah de, gantian ya, nanti main lagi,”bujukku. Dua anakku menurut tanpa komentar.

Setelah puas di dalam pesawat, Barra menuju ke helikopter di seberangnya. Sayangnya pintu helinya terkunci sehingga pengunjung hanya bisa bermain-main di sekitarnya sambil melihat dari cermin tembus pandang. Seandanya heli itu seperti pesawat pasti akan lebih menyenangkan.



Yuk teman-teman berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah Negeriku "Satoe" Indonesa ! Taman seluas 150 hektar ini memberikan banyak inspirasi. Tak sekedar liburan, sekaligus juga belajar. Belajar mencintai negeri ini, belajar menemukan kearifan dibalik hikmah keanekaragaman suku bangsa.

Oya, baca juga ya, pengalaman seru Meilia dan Barra ketika berlibur di Taman Mini Indonesia Indah !

Liburan Penuh Cinta di Taman Mini Indonesia Indah


Liburan akhir pekan (22 Maret 2013), kami sekeluarga menghabiskannya di Taman Mini 'Indonesia Indah". Ini lantaran Barra (3 tahun), anakku yang ke-2, ingin sekali naik kereta gantung setelah diceritakan kakaknya Meilia (8 tahun), dan melihat foto kereta gantung di internet. Alhamdulillah, ayah pun tidak ada kesibukan sehingga  kami bisa liburan dengan tenang.

Bukan main Barra semangatnya. Pukul 06:00 pagi, dia sudah bangun, alias pindah tempat tidur dari kamarnya ke ruang TV. Hehhe siap-siap kalau tiba-tiba dibangunin. Pasalnya ini anak kalau tidur larut malam, bangunnya bisa jam 10-an. Semangat  liburan memang membuatnya rela bangun pagi.

Pukul 10:00 kami berangkat. Sempat mampir  ke rumah teman untuk silaturahmi. Alhamdulillah perjalanan dari Cileungsi ke TMII lewat Jati Asih lumayan lancar. Biasanya waduhhh macetnya bikin bete. Anak-anak pun riang di perjalanan. Bernyanyi dan ngemil. Senangnya.

Sekitar pukul 12:00-an kami sudah sampai di gerbang utama TMII.  Karena kami datang siang,  pintu gerbang sudah mulai lengang. Hanya ada beberapa mobil mengantri di belakang kendaraan kami. Petugas tiket  dengan ramah memberikan tiket masuk. “Rp 50 ribu Pak,” kata pria bertopi itu sambil menyodorkan selembar tiket. Kata seorang teman, satu mobil dihitung Rp 50.000 mau berapapun isi di dalamnya. Wahh asyik juga ya, tiket masuknya hanya dihitung per mobil. Tapi tidak tahu juga sih. Apa karena menjelang HUT 39 TMII. Kalau tiket yang tercantum di pengumuman loket, per kepala (berusia 3 tahun ke atas) dikenakan Rp 10.000, mobil Rp 10.000, bis Rp 15.000 motor Rp 6000 dan sepeda Rp 1000. Biasanya malah pas hari H, 20 April, tiket masuk gratis :).



Meili anakku yang pertama langsung memberondong aku dengan berbagai pertanyaan. Wahh, siap bekerja jadi guide nih. Mulai dari pintu gerbang, Meili sudah minta pejelasan tentang Museum Purna Bhakti Pertiwi.  'Museum tempat menyimpan barang-barang berupa sovenir dari tamu negara baik hasil lawatan Presiden Suharto maupun  kunjungan tamu negara ke Indonesia..'" begitu aku menjelaskan. Meili mengajak kami ke museum itu, tapi si adik, sudah nggak sabaran mau naik kereta gantung heheh. Ya udah win-win solution, keliling dulu.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Meilia berkunjung ke TMII. Bahkan kami pernah satu kali seminggu ke TMII. Waktu itu Meili ikut belajar tari Bali di Istana Boneka. Sesuai dengan misinya, sebagai wahana pelestari budaya nusantara, TMII memberikan kesempatan belajar kesenian kepada anak-anak Indonesia. Gratis lagi. Sekalipun ada biaya, itu sangat murah. Cuma Rp 20.000, sudah termasuk tiket gratis masuk TMII.


Selama kurang lebih 4 bulan, Meilia yang kala itu berusia 4,5 tahun saya masukkan les tari di sana. Tiap Sabtu siang sekitar pukul 10:30, kami sudah berangkat. Tetapi sejak kehamilan anak ke-2, aku sudah tidak sanggup lagi mengantarkan. Jarak Cileungsi-TMII lumayan jauh, sehingga cukup melelahkan bagi bumil. Jadi deh berhenti sampai sekarang. Niatnya akan memulai lagi.


Biasanya kami sambil menunggu les tari, kami berkeliling ke sejumlah rumah adat yang berdekatan dengan Istana Boneka. Ketika itu Meili belum begitu paham, hanya bilang, " Ma Rumah Sumatera Barat bagus ya.!" .Hhehe Sumatera Barat sangat dihapalnya. Karena pada masa itu sedang ramai-ramainya gempa di Sumatera Barat. Dia dengar Padang atau Sumatera Barat langsung ingat gempa. Meilia senang sekali bermain di Rumah Sumatera Barat.


Selain itu, kami biasanya bermain di taman outbond, berdekatan dengan Keong Mas, Museum Transportasi, Tugu Api, dan Museum Indonesia.  Di dalam Istana Boneka-nya sendiri juga sangat menarik anak-anak. Banyak permainan, area belanja dan kolam renang. Meili  enggan pulang setelah menari. Dia tunggu sampai petugasnya akan mengunci area sekitar pukul 16:00. Baru deh mau pulang. Jadi malu nihh suka ditegur petugasnya untuk segera  meninggalkan tempat :).

Sekarang Meili sudah kelas 3. Kalau beberapa tahun lalu, ke Taman Mini, orientasinya bermain. Sekarang, dia berinisiatif mau mengunjungi museum dan rumah-rumah daerah. Terharu  dengan semangat Meili. Hehhe rada nggak nyangka juga, anakku ini punya kesadaran kebangsaan yang tinggi. Padahal ia bersekolah di SD Islam yang notabene tidak terlalu banyak pelajaran sejarah dan budaya. Tetapi memang dia selalu menghapal kota-kota kalau aku liputan ke luar kota. 


Karena waktu berkunjung sudah siang, liburan hari itu kami hanya mengunjungi beberapa anjungan saja, diantaranya Anjungan Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara,  Sumatera Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari atas kereta gantung, Anjungan Aceh langsung memikat si Barra. Hhehe di sana ada pesawat.”Ma..pesawat tuh !..teriak Barra dari atas kereta gantung. Begitu turun kami langsung mencari anjungan Aceh. Wahh si Barra senang sekali. Ditemani ayah, dia bermain di sekitar pesawat.



Setelah dirasa puas, aku mengajak Meili dan Barra masuk ke rumah adat Aceh. Si Barra lagi-lagi berceloteh lucu ketika memasuki rumah kayu tersebut.”Ma, banyak patung cakep,” celotehnya sambil memperhatikan satu demi satu deretan patung pasangan pengantin dari sejumlah daerah di Aceh.  Koleksi yang berkaitan khasanah Aceh tersusun rapi dan bersih. Lantai kayunya juga nyaris tak berdebu sehingga sangat nyaman bagi anak-anak. Meilia tertegun memperhatikan sejumlah perkakas rumah tangga masyarakat Aceh. Bagi pengunjung juga bisa berfoto di pelaminan.

Dari Aceh kami lanjut ke kawasan Anjungan Sumatera Utara. Woww keren sekali. Di area ini berdiri anggun enam buah rumah adat Batak, diantaranya rumah bolon Batak Simalungin, Jabu Bolon Batak Toba, Siwaluh Jabu Batak Karo Rumah Batak Dairi, Nias dan Rumah Melayu.. Rasanya setiap jengkal kita mengabadikan terlihat begitu indah.

Cukup lama kami di anjungan ini. Menyambangi satu demi satu rumah adat yang ada. Di dalamnya tersimpan koleksi berbagai kerajinan, pengantin adat, alat musik, perkakas rumah tangga, alat perang bahkan sampai alat-alat mistik. Hehhe si Meili yang suka nonton Mister Tukul jadi langsung mengaitkannya ke sana. 



Aku jelaskan saja tentang ikhwal benda-benda itu semata untuk perlindungan diri. Kepercayaan mereka masih animisme sehingga erat kaitannya dengan sesuatu yang berbau mistik. Ya, di sana ada beberapa tombak dengan gagang yang memang agak menyeramkan. Hhehe si Barra malah bengong memperhatikan..”Ini hantu ya Ma,”ujarnya polos.  Bagi yang senang dengan lagu-lagu daerah Batak, tak sulit menemukan koleksinya di sini. Pengunjung bisa membelinya.

Usai berkeliling di anjungan Sumatera Utara, kami menyambangi Anjungan Sumatera Barat. Anjungan ini menampilkan sebanyak lima bangunan adat yaitu Rumah Gadang, Balairung, Rangkiang dan Surau. Di kawasan ini juga dilengkapi dengan pasar seni dan panggung. Wahh jadi lapar mata nih melihat sovenir yang dijajakan. Penataannya juga rapi dan nyaman. 

Kami mengunjungi rumah induk Rumah Gadang, terlihat paling besar dibanding rumah-rumah lainnya. Bagaikan sebuah show room budaya, di dalamnya ditampilkan aneka koleksi barang-barang seni dan pelaminan adat lengkap dengan pakaiannya. Bagi Anda yang ingin mengabadikan gambar di pelaminan juga bisa. Dan, di salah satu rumah menyediakan pula layanan penyewaan busana adat Minang. Tentu saja, Anda bisa berfoto sambil bergaya adat Minang. Sewanya hanya Rp 50 ribu. Lumayan kan, nggak perlu jauh-jauh ke Sumatera Barat kalau mau merasakan atmosfer suasana Minangkabau. 

Dari anjungan Sumatera Barat, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Kaktus. Meili penasaran dengan tanaman ini. Wahh sekarang penataan lokasi Taman Kaktus berbeda dengan yang pernah aku kunjungi sekitar tiga tahun lalu. Lebih rapi dan tertata. Rupanya sekarang Taman Kaktus masuk dalam kawasan Desa Seni, semacam kawasan ekonomi kreatif, pusat seni dan kerajinan tangan. Si Barra lincah sekali berlarian di sela-sela taman itu. Sementara aku dan Meili melihat koleksi buku di Taman Buku Langka.  Lengkap juga koleksinya. Buku-buku yang dulu dilarang terbit dan diberangus, kini dengan mudah dapat dibeli. Diantaranya buku berjudul "Buku Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai", dan sejumlah buku beraliran kiri, pemikiran Tan Malaka, DN Aidit dan Bung Karno. Soal harga, ehhe katanya Pak Doli relatif. Ada yang sampai ratusan juta. Wowww..


Sebenarnya pasar buku langka di Taman Mini sudah ada sejak 28 tahun lalu. Hanya dulu tempatnya di Anjungan Papua. Baru sekitar 3 tahun, menurut cerita Pak Doli yang merupakan anak pendiri pasar buku langka di TMII ini dipindahkan ke  Desa Seni, satu area dengan Taman Kaktus. Memang dari segi tempat, Anjungan Papua lebih strategis. Tetapi di Desa Seni, penataannya jauh lebih rapi dan sangat nyaman. Banyak taman untuk pengunjung bersantai. Ada 3 kios buku langka berukuran 4x4 meter per kiosnya.

Arif Sultoni, Seniman Siluet
Di belakang taman buku langka, ada Galeri Seni Lukis. Di galeri ini juga melayani lukisan sketsa wajah dan karikatur langsung dari Hp. Tarifnya mulai dari Rp 150 ribuan berukuran A4. Wah seru juga nih.

Selain itu, ngga kalah menarik adalah Galeri Seni Siluet. Sejak tayangan Pas Mantab di Trans7, seni lukis wajah bayangan ala siluet ini memang menjadi tren. Sosok senimannya Priadji Kusnadi pun jadi populer. Sebagai sovenir, tamu-tamu dalam acara tersebut diberikan lukisan bayangan siluet karya Priadji Kusnadi ini.

Arif Sultoni, seniman Siluet di Desa Seni salah satu yang menganggumi beliau. Hanya saja, Arif Sultoni mampu mengerjakan lebih cepat, hanya 2 menit.  Dalam suatu acara yang diselenggarakan di TMII, Pak Toni, sapaan akrabnya mampu menggunting kertas hitam berukuran 20x20 cm tanpa putus  menjadi bentuk bayangan wajah sebanyak 110 gambar. Waktunya hanya 3 jam. Tak heran Pak Toni ditasbihkan sebagai seniman gunting siluet wajah tercepat di tanah air. 

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15:45, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Museum Transportasi. Si Barra masih penasaran dengan helikopter. Namun sayang sekali, begitu kami sampai, ehhh layanan berwisata ke dalam pesawatnya sudah tutup. Jadi, kami hanya bermain-main saja di area pesawat dan helikopter. Kami juga melihat kereta api presiden buatan tahun 1930-an. Kebetulan ketika kami naik, ada yang sedang foto prewedding, heheh jadi tontonan gratis.

Perjalanan terakhir kami bermuara di Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada janji  dengan Pak Arif, teman lama, pecinta seni budaya Jawa. Kebetulan hari itu  jadwal anaknya latihan menari Jawa..Wahh Meili langsung bersemangat mau ikutan menari. Banyak juga anak-anak yang menari di sini. Yang dewasa pun ada. Mereka tampak ceria mengikuti instruksi dan menghayati gerakan demi gerakan. Senang melihatnya.



Anjungan DIY membuka les tari dua kali dalam seminggu, setiap Rabu dan Sabtu mulai pukul 15:00-18:00. Biayanya  sangat murah, hanya Rp 20.000 sebulan, sudah sekaligus tiket masuk Taman Mini. Selain menari, ada juga kursus sinden dan gamelan. Ternyata untuk belajar kesenian Jawa, tidak perlu kesulitan lagi. Cukup datang ke Taman Mini “Indonesia Indah”.

Pak Arif dan istrinya, pecinta seni budaya Jawa
Selain anjungan DIY,  Museum Indonesia juga membuka kesempatan belajar tari Jawa. Bedanya, di Museum Indonesia, tari Jawanya sudah dalam tingkat lanjut alias lebih otentik lah..begitu istilahnya aku. Karena ternyata tarian Jawa itu ada berbagai mahzab. Nah mahzab klasiknya bisa dipelajari di Museum Indonesia.

Sambil menikmati anak-anak menari, aku mengobrol santai dengan Pak Arif dan istrinya yang begitu mencintai dunia seni. Anaknya Pak Arif yang bernama Siwi, kelas 4, sudah sangat mahir menari Jawa. Ia sering pentas di berbagai acara yang diselengarakan Taman Mini dan di luar Taman Mini. Belum lama, ia berhasil menyabet juara 2 dalam lomba tari yang diselenggarakan oleh pusat perbelanjaan beken di Jakarta. 


Seni memang membuat orang jadi lebih arif melihat kehidupan dan bijaksana dalam menjalaninya.. Tubuh juga makin sehat karena melalui tari, kepekaan jiwa dan raga terus terasah sehingga membuat hidup makin bernergi, penuh harmoni. Itu terpancar dari pasangan suami istri ini yang awet muda dan sehat.

Siwi (kiri) sedang latihan menari

 Liburan hari itu benar-benar bermakna. Meili dan Barra pun menagih lagi, karena belum sempat mengunjungi banyak obyek wisata di Taman Mini “Indonesia Indah”. Semoga di 39 tahun Taman Mini, makin menginspirasi anak-anak Indonesia mencintai dan bangga dengan budaya nusantara, cinta akan keragamanan sebagai suatu anugerah terindah dari Tuhan terhadap bangsa ini. Selamat ulang tahun Taman Mini “Indonesia Indah ke-39.

Yuk berkunjung ke Taman Mini “Indonesia Indah”, banyak acara seru yang sayang dilewatkan dalam rangka  HUT 39 Tahun TMII. Diantaranya Pameran Produk Unggulan Daerah (Expo Nusantara), Pameran Bersama Museum, Pameran Keris Paksi, Pawai Budaya Nusantara dan Gelari Tari Kolosal dan sebagainya.  Oya abadikan juga ya pengalaman serumu ketika liburan di TMII. Ada lomba blog 39 tahun TMII berhadiah gadget menarik.

Hanya di TMII, Negeriku "satoe" Indonesia, Anda bisa berkeliling Indonesia hanya dalam satu hari. Kobarkan Semangat Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah, Pelestari Budaya Nusantara, Perekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

Baca juga ya liburan Barra di TMII yang ke-2 : Asyik Barra jadi Pilot !