Jual Daster Batik

Jual Daster Batik
Tampilkan postingan dengan label lomba blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba blog. Tampilkan semua postingan

Ketika Polisi Cilik Menangkap Penjahat di Kidzania

Woww...di Kidzania ada penjahat !" teriak Barra (4,5 tahun) begitu selesai 'bekerja' di Bread House Sari Roti langsung berlari menghampiri keramaian di jalan raya kota Kidzania (Pacific Place Mall, lantai 6, Jakarta). Sekumpulan polisi cilik berseragam biru tua berlarian mengejar lelaki berbaju garis-garis hitam putih.

Polisi cilik ini diberikan pengajaran bagaimana menjadi polisi yang baik dan strategi menangkap penjahat

"Ma...sini..ada penjahat ditangkap polisi !" panggil Barra seraya menarik tanganku. Ia menggiringku mengikuti iringan polisi cilik yang berhasil menyiduk penjahat yang rupanya ditengarai telah mencuri formula rahasia larutan Cap Kaki Tiga Anak. Penjahat ini sempat membuat kericuhan di jalan raya.

Tanpa ampun lagi begitu penjahat tertangkap, kedua tangannya langsung diborgol agar tidak bisa kabur. Sambil kakinya setengah dijinjit, Barra serius memperhatikan bagaimana aksi polisi cilik nan cekatan itu menangkap penjahat di tengah kerumunan warga kota.



Kegaduhan tiba-tiba pecah, saat penjahat berhasil dibawa ke kantor polisi, karena penjahat itu tetap tidak mengaku kalau ia mencuri. Tinggallah sekarang dibuktikan di meja pengadilan. Tim polisi yang bertugas memantau CCTV  setidaknya bisa bernapas lega, buruannya berhasil ditangkap dan diadili. Dan, keputusannya, penjahat itu kembali di kerangkeng jeruji besi.Sebelumnya, penjahat ini sudah ditangkap, ehhh berhasil meloloskan diri. Makanya, untuk yang kali ini, penjahat tidak boleh kabur lagi

Barra masih melongo dari balik kaca tembus pandang memperhatikan proses peradilan dan mengendap melihat kelakukan penjahat itu yang gelisah di penjara. "Ma, ini penjara tempat orang Jahat ya..? Kok temboknya dicoret-coret..? Aku tersenyum mendengar celotehan si bungsu ini. "Ya Dek, kalau orang jahat tempatnya di penjara. Barra mau bobo di sana ?" tanyaku sambil bercandaan. "Nggak mau ah...tempat tidurnya jelek..!" jawab Barra dengan kepolosannya. "Ya dong, jangan bobo di sana, kan Barra anak baik dan soleh." ujarku.


"Ma, Barra abis ini mau main jadi polisi ya !" Barra memintaku mengantarkan ke tempat antrian. 'Wahh De, umurnya belum cukup. Syaratnya, minimal 6 tahun.  Kan, umur Dede Barra baru 4 tahun. Jadi, nonton aja ya, atau Dede main di kantornya aja sambil lihat kakak-kakak nangkap penjahat lagi..! 

Wajah girang Barra langsung berubah setengah mewek. Barra tetap bersikukuh, ngambek harus main. Sampai akhirnya, kakak petugasnya menyampaikan dengan ramah kalau Barra belum diijinkan. Tetapi, bisa masuk sebentar untuk sekedar melihat-lihat. Untungnya ngambeknya Barra tidak pakai lama. Ia segera sibuk dengan mainan baru di ruang kantor polisi. Kebetulan ada anak Mbak Nurul Musyafirah juga tidak bisa main. Barra berasa ada teman dan sempat bermain bersama. Alhamdulillah... Soalnya, anak ini kalau sudah ngambek, biasanya susah diademin.




Sebagaimana layaknya kantor polisi, Kidzania Police Departement dilengkapi dengan perangkat keseharian saat polisi bertugas. Ada peta, bola dunia-globe, toa-sirine, telepon, komputer, dan tidak ketinggalan larutan Cap Kaki Tiga  anak dan dewasa. Bahkan ada lemari pendingin khusus berisi minuman larutan Cap Kaki Tiga Anak

Ya, setelah bertugas menangkap penjahat selama 20 menit, pastinya kelelahan bukan ? Apalagi, aksi memburu penjahat ini lumayan menstimulus otak untuk berfikir, mengumpulkan clue (petunjuk), menganalisa sampai menyimpulkan lokasi penjahat untuk kemudian segera ditangkap, wahhh si kakak pada kegerahan tuh.  Untuk menyegarkan kembali tubuh yang letih serta menjaga kesehatan tubuh mereka tetap fit, setiap polisi  yang telah bertugas diberikan sekaleng larutan larutan Cap Kaki Tiga Anak. Sebagai sovenir, juga diberikan celengan agak besar berbentuk kaleng larutan Cap Kaki Tiga Anak dan uang sebesar 5 Kidzos untuk gaji adik-adik yang telah menunaikan tugas sebagai polisi dengan baik. Asyik ya.



Ngomong-ngomong, Barra yang asyik bermain di kantor polisi kehausan juga loh. Dia langsung meminta minuman larutan Cap Kaki Tiga Anak yang telah diberikan dalam goody bag lomba mewarnai dan undangan acara pembukaan Estabilishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak (3/6). Glek...seger banget..! 

Tuh kan, Barra langsung tersenyum senang begitu menenggak larutan Cap Kaki Tiga Anak. Padahal beberapa saat yang lalu, wajahnya rada bete tidak bisa bermain lantaran  di wahana edutainment Police Kids Station persembahan dari PT Kino Indonesia (Cap Kaki Tiga) dan PT Aryan Indonesia (KidZania) ini.




Bukan kebetulan,  larutan Cap Kaki Tiga merupakan minuman favorit keluarga kami untuk menjaga kesehatan. Maklum, pekerja mobile seperti saya dan suami, rentan sekali terhadap polutan di jalan, pola  makan tidak teratur, mengonsumsi makan pedas sembarangan, kelelahan menghadapi kemacetan yang serasa tak berujung, akibatnya daya tahan tubuh menjadi lemah sehingga rawan terhadap serangan virus atau bakteri. Kalau sudah begini biasanya, gejala panas dalam muncul deh seperti badan pegal-pegal, nyeri otot, sariawan, dan tubuh terasa tidak enak. Daripada minum yang bersoda, aku lebih memilih mengonsumsi larutan Cap Kaki Tiga dalam kaleng ketika di  perjalanan untuk menyegarkan tubuhku kembali. Sebotol air putih pun tak ketinggalan selalu  tersedia dalam tas. 

Ini sewaktu Barra berusia 3 tahun, di depan minimarket sempetin bergaya dulu minum larutan Cap Kaki Tiga Anak

Alhamdulillah sekarang, larutan Cap Kaki Tiga menghadirkan varian untuk anak-anak dengan kemasannya yang higienis, praktis, dan menarik bergambar  tokoh Disneyland seperti Mickey Mouse dan Donald Bebek. Rasanya segar buah-buahan. Wahh rasanya Meili dan Barra banget. Barra penyuka rasa jeruk, sedangkan kakaknya Meili rasa strawberry. Yang suka leci, juga ada loh. Kami biasanya membeli beberapa kaleng di minimarket untuk persediaan atau bekal dalam perjalanan liburan. 

Larutan Cap Kaki Tiga Anak terbuat dari bahan alami, tanpa pengawet dan pemanis buatan sehingga aman dan menyehatkan dikonsumsi  anak-anak.  Eiitts..tapi jangan kebanyakan juga ya. Maksimal 3 kali (250 ml/kaleng) dalam sehari, sebanyak 1/2 sampai 1 kaleng sekali minumnya. Untuk memelihara kesehatan, sebaiknya diminum 1 kaleng kali sehari.



Istri almarhum Ustad Jefri Al-Bukhari, Umi Pipik  Dian Irawati (brand ambassador Cap Kaki Tiga Anak) yang datang dalam acara pembukaan wahana edutainment Establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station ini berbagi pengalaman. Ibu beranak 4 anak ini sempat pula kebingungan  saat panas dalam menyerang anak-anaknya. Maklum, dunia  anak-anak adalah bermain, memang suka tak dirasa letih, apalagi jika bermain di luar rumah. Tetapi sesudahnya, biasanya mereka menjadi gelisah karena dirasa tubuhnya kurang enak akibat adanya peningkatan suhu tubuh yang kelelahan. 

Untuk mengembalikan kesegaran tubuh sekaligus meredakan panas dalam, Umi Pipik sekarang tidak kebingungan lagi. Ia segera memberikan Larutan Cap Kaki Tiga Anak. "Saya senang sekali dengan adanya Larutan Cap Kaki Tiga Anak. Buat saya, Larutan Cap Kaki Tiga Anak adalah solusi tepat buat anak-anak saya," ujar Umi yang cantik berbalut busana merah muda ini tersenyum manis.

Kehadiran wahana edutainment police station di Kidzania merupakan terobosan inovatif diluncurkan oleh PT Kino Indonesia selaku pemegang lisensi resmi merek Cap Kaki Tiga di Indonesia bersama dengan Kidzania-theme park, yang memiliki visi sama yaitu menyuguhkan wahana hiburan yang edukatif dan menyenangkan untuk anak-anak berusia 2-16 tahun. 

Menyerupai sebuah kota metropolitan dengan fasilitas kaum urban, kota Kidzania seluas 7.500 meter persegi sepertinya memang harus memiliki kantor polisi untuk memberikan perlindungan keamanan, kenyamanan dan ketentraman kehidupan warga kota Kidzania. Tentu saja, di Police Station ini, anak-anak diajarkan bagaimana menjadi seorang polisi yang baik dan bersifat mengayomi masyarakat.

 Dunia polisi sangat dekat dengan imajinasi anak-anak. Berpakaian seragam lengkap, anak-anak sudah merasa bangga menjadi polisi. Di momen inilah, saat tepat memupuk jiwa patriotisme pada anak-anak untuk peduli pada lingkungan sekitar, melindungi masyarakat dari orang-orang jahat, cinta damai dan pantang menyerah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Pembentukan karakter tersebut dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.

 

"Ini adalah salah satu wujud dukungan kami kepada anak Indonesia dalam pengembangan pendidikan dan juga kesehatan, dimana anak bisa bermain sambil belajar dengan tubuh yang sehat. Larutan Cap Kaki Tiga Anak adalah solusi tepat untuk menjaga kesehatan anak. Kami percaya, anak yang sehat akan menjadi anak yang cerdas dan kreatif," ujar Bapak Deny Cahyo, General Manajer Marketing, PT Kino Indonesia dalam sambutannya pada acara peresmian pembukaan  Establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station di ruang theater auditorium Kidzania.

Yuk ayah bunda ajak anak-anak berkunjung ke Kidzania ! Menikmati wahana edutainment  di Establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station. Kapan lagi coba anak-anak bisa merasakan menjadi polisi beneran...? Bagi yang masih penasaran dengan wahana ini, bisa intip facebook, twitter dan website-nya

Meili (10 tahun) kakak Barra juga penasaran dan sudah nggak sabaran mau bermain di sini. Sedangkan si Barra masih harus nunggu 1,5 tahun lagi nih untuk bisa bermain polisi-polisian. Sabar ya De...!








Excite Shop, Situs Belanja Online yang Royal Hadiah

Belanja dan dapat hadiah, wahhh senang banget ya. Khususnya saya yang doyan sama yang berbau-bau hadiah, biasanya langsung nguber, meski kadang barangnya nggak butuh-butuh amat. Hehe..aduhh...emak-emaknya keluar deh, memburu hadiah belanja. Berasa puas, kalau belanja sambil nenteng hadiah.


Apalagi sekarang nih, belanja makin mudah. Nggak perlu repot-repot keluar rumah yang notabene ongkos keluar lebih banyak, belum lagi waktu kebuang banyak. Maklum, saya tinggal di Cileungsi, pelosok banget,  kadang perlu energi tersendiri buat keluar rumah, untuk belanja di Cibubur atau Bekasi. Sejak risain dari kantor di Jakarta, jujur lebih sering nongkrongin situs belanja online atau mulai suka dengan dagangan teman di media sosial. Hhee foto yang menarik dan imajinatif biasanya langsung menggoda saya.

Dari beberapa situs belanja online yang saya favoritkan salah satunya adalah excite point. Udah pernah dengar belum ? Ya, memang situs ini belum seheboh promo situs-situs belanja "raksasa" yang udah sering wara-wiri di media sosial kita. Saya tahu excite dari teman kantor dulu. Di sela-sela istirahat makan siang, beberapa teman  suka browshing-in excite shop ini. Katanya barang yang dijualnya bagus-bagus, layanan deliverynya tepat waktu, dan hadiahnya itu loh, banyak. Bukan hanya dari transaksi saja, tetapi dari hal-hal lain. Gimana caranya  ?  mulai penasaran ya ;). Simak dulu yuk siapa sih Excite Shop ini. 




Excite Shop, sebenarnya sudah ada sejak 2012 di Indonesia, dibidani oleh Sinar Mas Group yang bekerja sama dengan Itochu Group-raksasa digital online di Jepang. Di Jepang yang merupakan negara kelahirannya, Excite sudah ngetop banget. Excite Point menjadi salah satu e-commerce yang  diperhitungkan. Ia menjelma menjadi sebuah "gaya hidup" tersendiri bagi kaum urban yang memberikan banyak kemudahan dan kesenangan kepada siapapun yang mengaksesnya.  Berkonsep pada gaya hidup, hiburan, dan komunitas, excite shop dapat diakses baik melalui PC maupun smartphone dengan provider apapun.


Excite Shop, Belanja Online Berhadiah minimal 2 kali. Faktanya, kamu memang bisa memperoleh hadiah berkali-kali. Ya, dengan mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya.  Makanya, excite shop ini di lebih familiar disebut excite point. Untuk mendapatkan point, kamu tidak harus berbelanja, tetapi bisa juga dengan register anggota, nge-klik iklan, akses video, review produk, mengisi survey, sharing, dan sebagainya. Poin-poin yang terkumpul tentu saja dapat ditukarkan dengan hadiah menarik atau layanan dari berbagai perusahaan Sinarmas.  

Dimulai dari register menjadi anggota, kamu sudah mendapatkan sebanyak 3.000 poin loh. Hheeh lumayan buat modal nih untuk ditukar-tukar hadiah. Apalagi kalau kamu blogger dan berhasil mengajak teman-teman bergabung, maka kamu akan mendapatkan sebanyak 5.000 poin, plus 30 persen poin dari setiap aktivitas teman-temanmu di excite shop. Trus, kalau kamu rajin ngereview bisa  memperoleh keuntungan mengumpulkan ribuan poin juga.



Lantas apa aja sih hadiahnya sehingga jadi bikin mupeng ?  mulai dari  pulsa, voucher belanja, tiket wisata hiburan, smartphone, laptop, kamera digital, jam tangan keren, dan sebagainya. Oya, penukaran poin juga ada batas waktunya, dan tidak bisa diuangkan atau dipindahtangankan, harus sesuai dengan ID pengguna waktu daftar.

 Gambar dibawah ini adalah sederetan hadiah poin yang bisa kamu pilih. Yuk mulai dipilih, bagi yang sudah bergabung di excite shop
























Asyiknya Bekerja Dari Rumah Sebagai Writerpreneur

Alhamdulillahirobbil'alamiin, nggak habis mulut ini mengucapkan syukur kepada Allah atas profesi yang sedang saya jalani saat ini. Nggak disangka, bakal nyebur beneran menjadi "entrepreneur". Awalnya, jujur karena merasa "kecewa" dengan kantor. Ya...kecewa lantaran merasa sangat memiliki kantor. Padahal respon baliknya jauuhh dari harapan. Nggak mau ngarep juga sih diperhatikan apalagi diapresiasi, yang penting  kantor itu mau maju dan iklimnya kondusif buat sama-sama maju, itu aja udah senang banget. Karena, saya melihat industri yang sedang dikembangkan oleh media, tempat saya bekerja sedang genit-genitnya. Sayang kalau tidak ditangkap kesempatannya untuk mengembangkan bisnis yang lebih bagus lagi.


waktu liputan ke Tanjung Puting

Hhehe..saya kala itu idealis banget. Kerja karena memang suka. Dan, kebetulan, merasa passion betul dengan dunia kerja saya kala itu di media yang membahas tentang pariwisata dan bisnis event. Jadi, hampir tak merasa letih wara-wiri ngantor, liputan di dalam dan luar kota, bahkan luar negeri. Kalau ditanya dimana saya tinggal dan kantor saya berada, welehh..teman-teman yang tahu jadi  cape ngebayanginnya.

Saya tinggal di Cileungsi, tepatnya di Jalan Narogong-pertengahan antara Bantargebang dan Cibubur. Sedangkan kantor di Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Kalau ngangkot dan ngebis nggak dianter suami, memakan waktu perjalanan sekitar 3 jam. Jika diantar, naik motor sambil nyelip-nyelip cari celah sampai stasiun Bekasi, lanjut ke stasiun Gondangdia, waktunya lebih cepat, sekitar 2 jam. Tapi, kalau keretanya lagi ngadat, yaaa, jatuhnya sama sih. 



Namanya pewarta, jadwal pergi dan pulang nggak tentu. Kadang, kalau ada liputan pagi, pergi setelah bedug shubuh.  Tidak jarang juga,  siang banget. Yang pasti pulangnya sampai rumah sekitar pukul 12:00 wib.

Jika ada pekerjaan newsletter atau deadline keras, nginep pun dijabanin. Saking senangnya menjalani profesi ini, Alhamdulillah, saya tidak pernah sakit, nggak pernah cuti selama 5 tahun bekerja. Bahkan hamil anak kedua pun tak dirasa. Benar-benar dunia yang membuat saya selalu bersemangat. Apalagi kala itu, saya diamanahi jabatan sebagai redaktur bisnis. Wahh yang ada di kepala adalah bagaimana bisa menghasilkan bisnis untuk kantor saya sebanyak-banyaknya. Motto saya yang membuat saya senang bekerja, cukup sederhana, yaitu bekerja untuk bersyukur pada Tuhan. Alhamdulillah, saya masih memiliki ibu yang baik hati mau menjaga anak saya. 

Letih ? Tidak dipungkiri itu  pasti. Jika letih fisik mendera, obatnya  sangat mudah. Tinggal istirahat, tidur dan makan makanan yang bergizi. Stamina full lagi.  Tetapi kalau sudah sampai letih hati...weihhhh susah obatnya. Apalagi kalau sebab yang membuat letih hati tak pernah berubah dan selalu berulang. Aduhh...nggak kuat juga untuk tidak melambaikan tangan pada kamera. Ya, awal 2013 saya memutuskan risain setelah lima tahun bekerja di kantor itu. Total saya bekerja di kantor selama 10 tahun.




Anak kedua saya yang selama kandungan "besar di jalan" ketika saya risain berusia 2 tahun. Selain lelah hati,  saya juga merasa sangat bersalah pada Ibu yang selalu direpotkan mengasuh anak. Ditambah lagi, perkembangan anak pertama yang menginjak usia 7 tahun makin menuntut perhatian lebih.

Sempat merasa ragu juga memutuskan risain. Pada waktu itu penghasilan suami belum menentu. Maklum sedang belajar bisnis angkutan ekspedisi. Pendapatan masih bergantung orderan. Dengan gaji saya yang tetap, lumayan sih bisa hidup cukup. Sempat maju, mundur, cantik, memutuskan risain. Sampai akhirnya ada suatu peristiwa yang benar-benar bertolak belakang dari prinsip saya di kantor itu, yang akhirnya menjadi alasan terkuat saya harus risain. 

Bismillah, saya tancapkan kuat keinginan di hati, saya bisa lebih baik lagi dengan keluar dari pekerjaan itu. Suami pun merestui dengan sejumlah pertimbangan, yaitu menahan pengeluaran yang tidak penting agar uang belanja bisa cukup. Logikanya, memang tidak cukup ehhehe..

Menjadi Writerpreneur 

Detik-detik menjelang risain memang ada tawaran mengerjakan suatu proyek web content. freelance dari rekan yang bekerja di kantor lama. Saya langsung jajaki proyek itu. Dalam hati, sebisa mungkin saya tidak akan bekerja di kantor, berpisah lagi sepenuh hari dengan buah hati. Awalnya, saya sudah membayangkan, indahnya mengerjakan proyek web content tersebut. Apalagi saya sudah  bertatap muka dengan owner dan merasa sevisi. Nominal yang bakal diperoleh pun Alhamdulillah.

Namun ternyata, itu tidak semudah dibayangkan. Rupanya, banyak kerikil yang merintangi pekerjaan saya dan tim. Ya..biasalah intrik-intrik orang dalam yang merasa "tidak diuntungkan" dengan kehadiran tim saya. Nyaris pekerjaan kami selama berbulan-bulan dan terlihat hasillnya tak terbayar. Kelemahannya waktu itu, kami tidak ada uang muka dan perintah kerja. Jadi hanya instruksi lisan langsung dari owner. Merasa karena sudah owner yang memberi kerjaan, akan mudah. Ternyata, hmm cukup bermain perasaan dalam mengerjakannya.

Sedihhhh sekali. Hampir putus asa. Hhehe...belum pernah mengalami spekulasi bisnis seperti ini. Saya merasa bersalah tidak bisa memberikan imbalan kepada tim. Suami terus memberikan dorongan kesabaran ketika upaya maksimal sudah dilakukan. Susah juga ya bersabar dan ikhlas itu. Sampai pada suatu hari ketika keikhlasan benar-benar ditunaikan, Allah kasih jawabannya. Alhamdulillah, proyek kami dibayar. Orang dalam yang berintrik itu risain, dan ternyata ia salah satu pembuat masalah di kantor itu. 

rapat bersama klien

Dari kantor ini, hikmahnya saya menjalin hubungan lumayan bagus dengan karyawan. Dari mereka, saya dapat beberapa proyek penulisan dan mengelola media sosial. Rekan-rekan kuliah yang tahu saya risain, juga memberikan saya rekomendasi untuk mengerjakan proyek nulis. Kantor lama pun kerap meminta jasa saya mengerjakan proyek-proyek mereka dari Kementerian. Dari klien satu ke klien lainnya, Alhamdulillah bisa beranak. Saya juga mulai membentuk tim-tim kerja yang awalnya saya ambil dari teman-teman wartawan. Belum lama ini, saya mencoba untuk melibatkan blogger.

Wahhh...kalau begini saya menyebut profesi saya adalah "writerpreneur" ya, tepatnya menulis untuk pesanan orang, tanpa nama saya dan melibatkan orang lain dalam tim.. Menulis di blog pun dalam rangka eksis aja biar bisa gaul dengan rekan-rekan blogger dan wahana kegiatan kalau sedang tidak ada proyek atau mengisi kejenuhan (tapi sekarang blog malah suka dipakai untuk review produk klien).

Alhamdulillah, sampai sekarang tak ada bulan yang menganggur. Ada saja klien yang memakai jasa saya. Mereka ada yang beli putus (sekali menulis, nggak lama kemudian dibayar), ada yang long term per tiga bulan, enam bulan setelah proyek selesai dan saat ini saya sedang mengerjakan proyek mengelola content web dan media sosial yang dibayar per bulan dalam tempo lama. 

Alhamdulillah berbagai proyek penulisan tersebut, jujur saya peroleh dari rekomendasi. Ada juga yang dari melihat status facebook yang bernada "jualan" hehe. Tak pernah saya menawarkan diri. Pernah sesekali iseng melamar jadi sosial media specialist karena ingin mengetahui cara kerja dan konsep kerjanya...ehhh ternyata gajinya kecil sekali. Nggak nutup di ongkos. Yo wess..belajar sendiri sajah, learning by doing tapi syukur bisa dibayar. Dan, itu terjadi, benar-benar belajar banget mengelola media sosial sejumlah event dan brand UKM.

Kendala, hambatan sekaligus tantangan

Hmm..kalau membicarakan hasil memang indah ya hehehe. Itu kadang yang suka membuat orang nafsu mau jadi pebisnis. Termasuk saya yang kadang mupeng banget ingin menjadi pebisnis sukses. Melihat keberhasilan mereka memiliki uang tak berseri, bisa jalan-jalan kemanapun, keluarga yang bahagia karena orang tua yang selalu di sisi anak-anak de el el. Sukseskah itu ? secara kasat mata, memang menjadi impian setiap orang. Tapi sudahkah yang menjalaninya merasa sukses ? memang jawabannya relatif. Begitu pun definisi sukses, menurut saya sangat relatif. Tergantung dari bagaimana orang memandang tujuan hidupnya. Aduhhh...kok jadi serius ya ;). 

Hhehe..nyatanya memang serius sih. Kesuksesan itu hanya bisa dirasakan sukses kalau kita sudah memahami tujuan sejatinya hidup itu.Dan, sebelum teman-teman menentukan jalan untuk berbisnis, terlebih dahulu sebaiknya bisa mendefinisikan tentang kesuksesan yang ingin kita raih. Jadi, kita semakin mantap dan segera bisa move on jika terjadi sesuatu dalam perjalanan.

bersama dengan teman-teman pekerja dari rumah

Banyak yang bilang pada saya, "Wahh sekarang Mba Ika enak ya hidupnya. Di rumah saja sudah bisa menghasilkan uang. Nggak perlu ke kantor setiap hari, bisa nemenin anak belajar, membereskan pekerjaan rumah dan mengawasi anak bermain. Tiap minggu bisa jalan-jalan, bisa makan di restoran bersama keluarga, bisa sering silaturahmi ke saudara dan teman-teman. Tetangga pun tidak sedikit yang nggak percaya, kok di rumah bisa ya dapat duit. Jangan-jangan nuyul nih hehehe, aya-aya wae. Ibuku yang suka bawel ke tetangga untuk meyakinkan kalau anaknya kerjanya  ngetik dan internetan. Saya hanya tersenyum saja kalau ibu ngobrol-ngobrol dengan tetangga.

Tetangga memang keponya tinggi.  Saya pun kerap menjelaskan tentang apa yang saya dikerjakan sehingga menghasilkan uang dan mengajak mereka untuk bisa terlibat juga, seperti belajar jadi blogger dan bikin status posting di FB yang bagus.Barangkali saya ada proyek media sosial,  bisa membantu jadi admin, atau mengajari mereka jualan online. Tetapi apa jawaban mereka, "Males, alias udah pusing duluan ngeliat tulisan dan layar komputer. Hehhe..rata-rata tetanggaku memang ibu rumah tangga tidak bekerja. Sekalipun bekerja, itu pun ngereditin barang,  nyaloin rumah kontrakan, atau buka warung. Ada juga yang karyawan pabrik. 

Nah, sekarang soal klien nih. Macam-macam loh tipenya, tuntutan dan ritme pembayarannya. Sebagai penulis bayaran, kita kudu memahami kebutuhan mereka. Dan, itu gampang-gampang susah. Apalagi harus mengetahui  dalam tempo cepat materi obyek yang ditulis. Selain itu, kita juga harus  konsisten dengan jadwal deadline yang telah disepakati. Jangan sekali-sekali mengabaikan deadline dengan alasan bagaiamanapun juga. 

Menjadi pebisnis apapun itu, saya rasakan seperti "menjual diri". Sekali saja  tidak perform, bisa-bisa kita di-black list dan direputasikan buruk. Jangan kira, dunia yang begitu luas ini bisa menjadi begitu sempit ketika dari mulut ke mulut orang menceritakan kita hingga sampai di telinga orang-orang yang ingin memperkerjakan kita. 

Upayakan banget kita bisa diceritakan yang baik-baik. Reputasi sangat penting untuk keberlangsungan bisnis. Ya, seandainya kita salah atau tidak menepati komitmen, secepatnya harus segera minta maaf dan diselesaikan. Jangan lari dari tanggung jawab, apalagi sampai menghilang. Ini yang dinamakan profesionalisme. 

Lantas bagaimana dengan kliennya ? kalau saya ya mikirnya, sebisa mungkin jangan sampai kita yang berbuat kesalahan atau tidak komitmen. Biarlah mereka yang mendahului jika salah. Kita tetap konsisten dengan penawaran dan layanan kita.

Writerpreneur atau bisa juga freelancer menurut saya adalah pebisnis yang kadang harus menghadapi ulah klien yang nakal. Niatnya kita benar-benar ingin membantu mempromosikan bisnis mereka lewat tulisan dengan penawaran relatif murah, malah diperlakukan sebaliknya alias tidak dibayar dengan berbagai alasan. Kalau sudah begitu, saya cuma bisa senyum dan bersabar, sambil nguatin hati untuk ikhlas menerima perlakuan yang tidak baik. Alhamdulillah, dalam tempo tidak lama, Allah kasih ganti yang lebih baik, ini yang selalu saya buktikan. Balasan Allah Maha Cepat kalau kita benar-benar pasrah pada-Nya setelah ikhtiar maksimal saya lakukan. Tetapi, tidak sedikit pula menemukan klien yang baik hati. Indahnya dunia dipertemukan dengan  berbagai klien.

Menghadapi klien, nggak kalah nyeninya ketika mengelola tim loh ternyata. Saya rasakan memang tidak mudah mencari orang yang mau diajak bekerja sesuai komitmen. Ini bukan masalah honor yang kita berikan besar atau kecil, tetapi ini masalah komitmen dan kepercayaan. Katanya ingin mengubah nasib bekerja dari rumah, giliran saya kasih pekerjaan, lalai dan hasilnya tidak sesuai harapan.  Menghadapi hal-hal yang tidak mengenakkan dengan tim, saya berupaya tetap konsisten membayar sesuai kesepakatan dan tentu tidak akan memakainya lagi. 


Belum lagi ketika menemukan partner kerja yang ingin mengambil alih proyek kita. Istilahnya menggunting dalam lipatan. Hmm..ini lagi-lagi butuh sabar tiada batas. Kita yang mengajak dia berpartner untuk diberikan sejumlah proyek, ehhh malah dia juga ingin mengambil proyek kita. Hufff...tapi untunglah Allah terus menolong saya dalam situasi seperti ini. 

Berbisnis itu memang harus memiliki pegangan yang kuat kepada Tuhan. Kalau saya lebih menyukai menyebut bisnis itu adalah seni. Seni "menjual diri", seni mengelola tim, seni menghadapi klien, sampai seni mencari modal untuk membayar tim. Sebagai ibu rumah tangga seperti saya, plus seni lagi, yaitu seni memelihara dan mendidik anak sambil kerja di rumah. Dan, jangan jadi alasan, kita sibuk menunaikan tugas rumah tangga, lantas  lalai terhadap klien. Misal, batal meeting, karena nggak ada yang jagain anak. Kita harus profesional, bahkan bisa lebih unggul dari karyawan kantoran soal manajemen waktu dan perencanaan kerja.

Buku yang berjudul 'Sukses Bekerja dari Rumah" yang ditulis Mbak Brilyantini, bagus banget untuk dibaca. Bersyukur mendapatkan buku ini dari hadiah kuis. Di dalamnya tertulis tentang profesionalisme seseorang yang ingin menekuni pekerjaan dari rumah. Intinya tidak bisa seenaknya.

 "Bekerja dari rumah itu juga ternyata perlu usaha tersendiri. Mungkin dua atau tiga kali lebih keras dibandingkan saat bekerja kantoran,"....Brilyantini.

Membacanya buku ini saya jadi senyum-senyum sendiri.  Mbak Brilyantini benar-benar kasih cermin ke saya,  bagaimana rempongnya jadi ibu rumah tangga sekaligus ngurusin klien. Belum lagi, yang tiba-tiba konsentrasi pecah ketika ada tetangga yang memanggil, tukang sampah, tukang sayur, pak pos dan sebagainya. Hhehe....

Waktu 24 jam berasa ngepas banget. Padahal pekerjaan domestik sudah banyak dibantu oleh ibu saya yang tinggal bersama. Betul kata Mba Brilyantini, "...menjadi pekerja lepas memang tidak punya jam kantor tetap. Hal tersebut membuat kita harus siap bekerja kapan pun dan di mana pun,"





Hehhe..Meili anak pertama saya suka complain juga ketika Mamanya di hari Minggu masih di depan laptop, nggak jalan-jalan. Akhirnya saya bikin kesepakatan, kalau mau jalan-jalan, tolong bantu Mama ya,..jangan berisik dan bolak-balik ke kamar Mama biar pekerjaan Mama cepat selesai. Atau, jangan ribut dengan adiknya Barra" . 

Tidak jarang pula,  jadwal liburannya disesuaikan dengan jam selesai kerjaan. Kalau sore, ya sore harilah keliling-keliling..nggak jauh sih, yang penting bisa keluar rumah menikmati hal-hal di luar rutinitas anak-anak di sekolah. Bisa cuma minum es atau makan tahu gejrot di pinggir jalan dan sebagainya. 




Mbak Brilyantini yang notabene sudah 20 tahun bekerja kantoran ini juga memberikan tips-tips bagaimana kita menjual diri "personal branding" lewat media sosial atau blog, sampai perangkat kerja yang musti kita lengkapi. Untuk melengkapinya bisa sambil jalan, kalau ada honor lebih bisa disisihkan untuk membeli perangkat kerja. Yang nggak kalah penting adalah mengatur keuangan. Maklum, hidup kita tidak dijamin kantor, yang tiap bulan pasti gajian. Apalagi suami juga pebisnis. Ngaturnya memang harus cermat. Jangan lupa juga, alokasikan dana silaturahmi dan sedekah untuk memperlancar rejeki. Karena, hidup ini tidak matematis. Banyak hal ajaib yang tidak bisa dimatematikakan dalam memperoleh rejeki.

Pada halaman pamungkas, Mba Brilyantini menampilkan kisah-kisah inspiratif ibu rumah tangga yang sukses berkarir dari rumah. Benar-benar membuat saya jadi makin bersemangat dan introspeksi diri, kalau saya masih jauh dari harapan ibu yang ideal bekerja dari rumah.

Yuk, kita saling berbagi manfaat !