Jual Daster Batik

Jual Daster Batik

Ketika Piknik Itu Penting untuk Belajar Hidup

Waduhhh judulnya kayaknya berat nih...belajar hidup. Hmm...tetapi memang kenyataannya itu yang coba saya susupi pada anak-anak ketika piknik. Kalau karyawan kantor, piknik itu penting untuk me-refresh semangat kerja, membuang kepenatan,  merangsang kreativitas dan inspirasi. Kalau bagi saya "pekerja di rumah" piknik itu penting, banget malah untuk sekaligus menanamkan nilai-nilai kepribadian bagi anak-anak. 




Maklum, setiap hari terasa piknik. Ketemu dan bermain bersama anak sambil bekerja penuh passion (writerpreneur). Paling rada stress kalau terjebak DL, materi yang ditulis rada sulit sementara DLnya mepet atau bolak-balik meeting ke Jakarta yang notabene macetnya bikin kepala pening. Cileungsi-Jakarta kalau dijabanin beberapa kali seminggu memang bikin badan ngerentek. Apalagi  ditambah sinyal internet yang putus nyambung begitu mau nulis di rumah, sukses bikin spanneng otak. Segera...butuh piknik bersama anak-anak ;)

Dua anakku juga berhitung banget. Melihat dalam seminggu ketemuan kami tidak intens, wikennya langsung ditembak minta jalan. Ga jauh-jauh sih, di seputaran Bekasi, Cibubur, Bogor, Jakarta pinggiran dan Bandung. 







Piknik yang biasa kami lakukan juga cukup simple dan kebanyakan dilakukan keluarga seperti  berenang, makan di mal atau resto, ke toko buku, nonton film bioskop, mengunjungi museum, pameran,  tempat-tempat yang menimbulkan kesan tertentu atau silaturahmi ke saudara dan kolega dekat. Jadi, pengertian piknik luas banget ya. Intinya melakukan sesuatu berbeda yang membuat kita merasa lebih hidup, lebih bersemangat, lebih memiliki inspirasi, dan lebih sadar menjadi hamba Tuhan. Tuh kan berat xixixiix

Biasanya sebelum memutuskan piknik, saya selalu hubungkan dengan studi Meili, anak pertama  yang saat ini kelas 5 SD. Sekalian menjelaskan materi pelajaran yang sekiranya perlu pendalaman. Termasuk  untuk penanaman budi pekerti dan akhlak. 

Agustus lalu, kami piknik yang agak berbeda dari biasanya yaitu mengunjungi  hunian lansia di kawasan Sentul. Bukan kebetulan, kediaman kami di Cileungsi tidak begitu jauh ke Sentul, kurang lebih satu setengah jam jika tidak macet di Cibubur. Meilia dan Barra memang lagi kepingin banget liburan di Bogor. Meski Bogor pinggiran, tetapi kami berkesempatan pula berkeliling kota Bogor  menikmati kulinernya. 

Foto-foto di Rukun Senior Living







Mengunjungi tempat lansia sebenarnya bukan kali pertama buat Barra. Saya pernah mengajak Barra mengunjungi hunian lansia di Balai Perlindungan Sosial Provinsi Banten, kota Serang. Sahabat saya bekerja di balai itu, dan kami sedang menggarap beberapa proyek kecil untuk pengembangan Balai. Sekalian silaturahmi, saya mengajak Barra melihat suasana kehidupan lansia di sana. Meili tidak ikut karena ada acara di sekolah. Namun kala itu, Barra nampak tidak nyaman. Hehhe soalnya tidak ada mainannya. 

Mengulang kunjungan ke hunian lansia, saya mengajak Meilia dan Barra liburan ke Rukun Senior Living yang berlokasi di Jalan Babakan Madang No. 99, Sentul Selatan. Saya memang mempunyai maksud mengajak anak-anak ke tempat ini, agar mereka lebih menyayangi mbahnya yang kini tinggal bersama kami. Memberi kasih sayang utuh kepada satu-satunya nenek yang masih kami punya. Aktivitas saya yang banyak di rumah memang meluangkan waktu cukup untuk saling memberi kasih. Kalau tidak ada Ibu di rumah, boleh jadi saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan dari klien dengan tenang. Di rumah, Ibu saya menjaga Meilia dan Barra sehingga saya bisa tenang meninggalkan mereka jika ada meeting di Jakarta. 








Sebelum berkunjung, saya memberi tahu webnya dulu ke Meili. Kabar Sentul punya hunian berkelas untuk lansia sudah aku dengar dari pengurus Balai Perlindungan Sosial Provinsi Banten. Penasaran juga ingin melihat dari dekat bagaimana pemeliharaan lansia di sana. Rencana kami ingin touring saja, keliling Sentul. Ada beberapa spot wisata menarik di sana, untuk kemudian melaju ke Bogor. Jujur nih, kuliner Bogor belum ada yang menandingi. Banyak tempatnya dan enak-enak. 

Tetapi begitu kami buka webnya, wahh ternyata ada penginapannya juga dan kolam renang. Meili dan Barra berjingkrakan ketika ada kolam renangnya. Akhirnya kami memutuskan menginap semalam jadi bisa lebih leluasa liburan di Bogor, menikmati beberapa spot kuliner.

Sempat berbincang dengan staf di bagian reception. Rukun Senior ini sudah dihuni sebanyak 14 orang yang rata-rata berusia 70 tahunan. Mereka berasal  dari berbagai daerah bahkan lintas negara. Ya, ada yang berasal dari Amerika. Orang Indonesia yang lama bermukim di Amerika, dan ingin menghabiskan masa tua di Indonesia. Dia sebatang kara hingga menghembuskan nafasnya di Rukun  Senior Living tahun lalu.






Hunian yang diciptakan menyerupai hotel bintang empat ini baru dipublikasikan tahun 2012. Tidak mudah memang memasarkan konsep hunian untuk lansia ini. Selain kerap berbenturan dengan budaya timur Indonesia yang notabene ingin membalas budi orang tua dengan cara merawat orang tua sebaik mungkin sampai akhir hayat. Pun  harga tinggal di Rukun Senior Living lumayan tinggi.

Hehhe tinggi pastinya bagi orang yang tidak punya uang. Bagi mereka yang kaya raya dengan aset berlimpah, rasanya harga dua puluh jutaan sebulan itu tak mahal. Pelayanannya bagus, aktivitasnya pun membuat warga senior--sebutan untuk usia lanjut-- merasa jadi lebih hidup. Mulai dari berkebun, olah raga, membuat kerajinan tangan, memasak, berkesenian sampai saling sharing ilmu dan skill yang mereka miliki. Selain itu, mereka kerap terlibat dalam berbagai kegiatan sosial bersama penduduk setempat.

Meilia dan Barra melihat dari dekat bagaimana dengan penuh kasih sayang, kakak-kakak cantik Rukun melayani warga senior. Mereka mengajak warga senior berkeliling, mendengarkan sepenuh hati curahan hati mereka. Wahh dua anakku langsung memeluk mbahnya. Indahnya memang yang membelai kasih itu anak dan cucunya. Rasanya ingin selalu berdekatan dengan Mbahnya. "Makanya, jangan suka bikin Mbah repot ya. Kalau main, diberesin lagi. Jangan nunggu mbah atau mama berkoar dulu baru dibereskan," ujarku kepada Barra.

Rata-rata warga senior yang menghuni Rukun memang tak punya anak. Seandainya ada, itu juga lokasinya jauh di luar negeri. Sementara, mereka lebih nyaman tinggal di Indonesia. Ada juga yang anak-anaknya sibuk sehingga membayar perawat melayani kebutuhan keseharian orang tuanya. Sepi...begitulah yang dirasakan mereka. Meski di rumah besar ada perawat yang mengasuh, mereka ingin bercengkerama dengan seusianya, saling bercerita tentang kesuksesan masa lampau,  berbagi dan sebagainya. Itu lebih menyehatkan. 




Menurut karyawan di Rukun, warga senior (sebutan lansia di Rukun Senior), tidak sedikit warga yang dulunya tinggal bersama perawat sakit-sakitan. Tetapi begitu menghuni Rukun, mereka jadi sehat dan ceria. 

Penampilan karyawan yang mendampingi warga senior di Rukun ini juga friendly banget, casual berkaos ungu dengan wajah yang selalu berbinar senyum. Gimana nggak bikin betah dengan keramahtamahan itu. "Meili juga jangan suka manyun dan ngambekan. Mbah pasti tidak suka melihat wajah cucunya yang manyun terus," ujarku pada Meili.

Rukun Senior yang menghampar di area seluas 2000 m2 didesain menjadi sebuah hunian yang asri dengan panorama alam yang mendamaikan. Ada danau buatan, pepohonan rimbun, taman bermain, jacuzzi, ruang sauna, kolam renang, area jogging, dan gazebo- tempat santai, ruang theater, kafe dan sebagainya. 

Warga senior yang tinggal di Rukun ada syaratnya : harus sehat jasmani dan ruhani. Bukan yang bedrest. Pemeriksaan kesehatan secara berkala senantiasa dilakukan untuk mengontrol kesehatan mereka.


Bersama dengan Bapak Januar Darmawan, pemilik Rukun Senior Living

Rukun Senior memiliki 60 kamar. Tapi baru diisi sepertiganya. Sambil memperkenalkan tempat ini, pengelola menyewakan sejumlah kamar untuk tamu yang ingin liburan. Atau digunakan anggota keluarga kala menjenguk. Di kamar inilah kami akhirnya menginap. Menurut Bapak Januar Darmawan (80 tahun), pemilik Rukun Senior yang saya jumpai sedang berkeliling di Rukun, sepenuhnya kamar yang ada akan diperuntukan sebagai kamar warga senior. 'Di sini bukan hotel, tetapi hunian warga senior. Bertahap masyarakat Indonesia akan mengerti fungsi sebuah hunian yang membahagiakan lanjut usia," ujarnya sambil tersenyum. 

Meski usianya sudah menginjak kepala delapan, tetapi fisiknya masih bugar dan daya ingatnya bagus. Ya, Pak Januar ini adalah ex CEO PT Nutrifood Indonesia. Ia seorang pebisnis yang dermawan. Kesehatan dan kebugaran fisik yang ia rasakan, tak lain disebabkan perasaan bahagia yang selau terpupuk.  Ia memegang dogma hidup, "kesenangan hidup yang sebenarnya hanya dapat diperoleh ketika Anda membahagiakan orang lain. Makin banyak yang dibahagiakan, makin banyak kesenangan dan kebahagiaan yang justru kembali pada kita," Aihhh...indahnya prinsip hidup yang demikian. 


Wefian dengan Barra di Kebun Raya Bogor


Aku menanamkan sikap itu pada Meilia dan Barra. Mereka suka tiba-tiba bertengkar karena rebutan mainan. Kadang adiknya usil suka mengganggu barang milik kakak, sedangkan kakaknya juga pelit tidak mau meminjamkannya sebentar saja. Di sini, aku coba bilang, kalau Kakak Meili dan Dede Barra bisa saling berbagi, tidak pelit, nanti jika ada rejeki Mama akan belikan lagi yang lebih bagus dan ajak jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan. Kalau sudah diiming-iming gitu, biasanya keduanya langsung nagih terus xixixix...semoga ya anak-anakku, kita bisa jalan-jalan lagi. Masih banyak tempat di Bogor yang cakep-cakep belum dikunjungi. 

Pagi hari kami menikmati suasana sejuk di Rukun. Kakak Meili  puas sekali berenang dari pagi sampai siang. Pukul 12:00 wib, kami melanjutkan perjalanan ke kota Bogor sekalian makan siang di Waroeng Sop Ayam Klaten Pak Mien, jalan-jalan di Kebun Raya dan menikmati minuman susu di Momo Milk Barn di Jalan Kantor Pos, Kota Bogor. Barra dan Meili penggemar susu cair. Family time di kafe hangout ala anak gaul Bogor cukup menyenangkan. 




Sop Ayam Pak Mien-Klaten di Bogor



Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Blog Piknik itu Penting"






















15 komentar:

  1. Rukun Senior Living? Catet ah...terimakasih infonya :-)

    BalasHapus
  2. Setuju banget Mbk ika... Piknik itu penting.. Kalau saya sih gak bisa mbk hidup tanpa piknik wkwkwk

    BalasHapus
  3. Luar biasa, piknik itu penting untuk belajar hidup, ya karena dengan piknik kita akan menemukan suasana baru dan semangat baru dan tentunya ada momen istimewa yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata :) :)

    BalasHapus
  4. Mengajak ank2 mengunjungi tempat para lansia spt ini keinginanku yg blm terwujud.... tfs mbak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk ke Rukun Senior Living...tempatnya nyaman banget..enak buat family time sekaligus penanaman unsur moral untuk menghormati yg lebih tua

      Hapus
  5. wah baru tau ada tempat spt itu :-)

    BalasHapus
  6. Waaahhh nyaman yaa rukun senior living ini

    BalasHapus
  7. Itu untuk lansia yg berduit ya Mak? Keren tempatnya. Baru tau ada hunian seperti ini di Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mbak..baru ada beberapa di Indonesia. Tapi Rukun Senior Living ini yang pertama menciptakan hunian lansia yang super nyaman...Kalau di luar negeri dah banyak..

      Hapus
  8. Hunian lansianya kereeen...
    Ada sop pak Min juga di Bogor, cocok ya untuk udaranya yang dingin :D

    BalasHapus
  9. waw, nyaman banget ya, masa tua jadi tenang...

    BalasHapus
  10. kesenangan hidup yang sebenarnya hanya dapat diperoleh ketika Anda membahagiakan orang lain <-- bagus banget mbak.
    Mari membahagian orang lain yukkk.

    BalasHapus
  11. Good idea! Bawa anak-anak ke tempat yang membawa kenangan, sbb bukan tempat biasa yang buat sekedar fun!

    BalasHapus
  12. terimakasih partisipasinya. maaf pengumuman diundur tgl 20 oktober. goodluck

    BalasHapus
  13. wah mahal juga ya mba :)
    Hana suka quotes pak darmawan: kesenangan hidup yang sebenarnya hanya dapat diperoleh ketika Anda membahagiakan orang lain. Makin banyak yang dibahagiakan, makin banyak kesenangan dan kebahagiaan yang justru kembali pada kita

    makasih sharingnya :D

    BalasHapus

Terima kasih atas masukan dan komentarnya.