Jual Daster Batik

Jual Daster Batik

Liburan Penuh Cinta di Taman Mini Indonesia Indah


Liburan akhir pekan (22 Maret 2013), kami sekeluarga menghabiskannya di Taman Mini 'Indonesia Indah". Ini lantaran Barra (3 tahun), anakku yang ke-2, ingin sekali naik kereta gantung setelah diceritakan kakaknya Meilia (8 tahun), dan melihat foto kereta gantung di internet. Alhamdulillah, ayah pun tidak ada kesibukan sehingga  kami bisa liburan dengan tenang.

Bukan main Barra semangatnya. Pukul 06:00 pagi, dia sudah bangun, alias pindah tempat tidur dari kamarnya ke ruang TV. Hehhe siap-siap kalau tiba-tiba dibangunin. Pasalnya ini anak kalau tidur larut malam, bangunnya bisa jam 10-an. Semangat  liburan memang membuatnya rela bangun pagi.

Pukul 10:00 kami berangkat. Sempat mampir  ke rumah teman untuk silaturahmi. Alhamdulillah perjalanan dari Cileungsi ke TMII lewat Jati Asih lumayan lancar. Biasanya waduhhh macetnya bikin bete. Anak-anak pun riang di perjalanan. Bernyanyi dan ngemil. Senangnya.

Sekitar pukul 12:00-an kami sudah sampai di gerbang utama TMII.  Karena kami datang siang,  pintu gerbang sudah mulai lengang. Hanya ada beberapa mobil mengantri di belakang kendaraan kami. Petugas tiket  dengan ramah memberikan tiket masuk. “Rp 50 ribu Pak,” kata pria bertopi itu sambil menyodorkan selembar tiket. Kata seorang teman, satu mobil dihitung Rp 50.000 mau berapapun isi di dalamnya. Wahh asyik juga ya, tiket masuknya hanya dihitung per mobil. Tapi tidak tahu juga sih. Apa karena menjelang HUT 39 TMII. Kalau tiket yang tercantum di pengumuman loket, per kepala (berusia 3 tahun ke atas) dikenakan Rp 10.000, mobil Rp 10.000, bis Rp 15.000 motor Rp 6000 dan sepeda Rp 1000. Biasanya malah pas hari H, 20 April, tiket masuk gratis :).



Meili anakku yang pertama langsung memberondong aku dengan berbagai pertanyaan. Wahh, siap bekerja jadi guide nih. Mulai dari pintu gerbang, Meili sudah minta pejelasan tentang Museum Purna Bhakti Pertiwi.  'Museum tempat menyimpan barang-barang berupa sovenir dari tamu negara baik hasil lawatan Presiden Suharto maupun  kunjungan tamu negara ke Indonesia..'" begitu aku menjelaskan. Meili mengajak kami ke museum itu, tapi si adik, sudah nggak sabaran mau naik kereta gantung heheh. Ya udah win-win solution, keliling dulu.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Meilia berkunjung ke TMII. Bahkan kami pernah satu kali seminggu ke TMII. Waktu itu Meili ikut belajar tari Bali di Istana Boneka. Sesuai dengan misinya, sebagai wahana pelestari budaya nusantara, TMII memberikan kesempatan belajar kesenian kepada anak-anak Indonesia. Gratis lagi. Sekalipun ada biaya, itu sangat murah. Cuma Rp 20.000, sudah termasuk tiket gratis masuk TMII.


Selama kurang lebih 4 bulan, Meilia yang kala itu berusia 4,5 tahun saya masukkan les tari di sana. Tiap Sabtu siang sekitar pukul 10:30, kami sudah berangkat. Tetapi sejak kehamilan anak ke-2, aku sudah tidak sanggup lagi mengantarkan. Jarak Cileungsi-TMII lumayan jauh, sehingga cukup melelahkan bagi bumil. Jadi deh berhenti sampai sekarang. Niatnya akan memulai lagi.


Biasanya kami sambil menunggu les tari, kami berkeliling ke sejumlah rumah adat yang berdekatan dengan Istana Boneka. Ketika itu Meili belum begitu paham, hanya bilang, " Ma Rumah Sumatera Barat bagus ya.!" .Hhehe Sumatera Barat sangat dihapalnya. Karena pada masa itu sedang ramai-ramainya gempa di Sumatera Barat. Dia dengar Padang atau Sumatera Barat langsung ingat gempa. Meilia senang sekali bermain di Rumah Sumatera Barat.


Selain itu, kami biasanya bermain di taman outbond, berdekatan dengan Keong Mas, Museum Transportasi, Tugu Api, dan Museum Indonesia.  Di dalam Istana Boneka-nya sendiri juga sangat menarik anak-anak. Banyak permainan, area belanja dan kolam renang. Meili  enggan pulang setelah menari. Dia tunggu sampai petugasnya akan mengunci area sekitar pukul 16:00. Baru deh mau pulang. Jadi malu nihh suka ditegur petugasnya untuk segera  meninggalkan tempat :).

Sekarang Meili sudah kelas 3. Kalau beberapa tahun lalu, ke Taman Mini, orientasinya bermain. Sekarang, dia berinisiatif mau mengunjungi museum dan rumah-rumah daerah. Terharu  dengan semangat Meili. Hehhe rada nggak nyangka juga, anakku ini punya kesadaran kebangsaan yang tinggi. Padahal ia bersekolah di SD Islam yang notabene tidak terlalu banyak pelajaran sejarah dan budaya. Tetapi memang dia selalu menghapal kota-kota kalau aku liputan ke luar kota. 


Karena waktu berkunjung sudah siang, liburan hari itu kami hanya mengunjungi beberapa anjungan saja, diantaranya Anjungan Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara,  Sumatera Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari atas kereta gantung, Anjungan Aceh langsung memikat si Barra. Hhehe di sana ada pesawat.”Ma..pesawat tuh !..teriak Barra dari atas kereta gantung. Begitu turun kami langsung mencari anjungan Aceh. Wahh si Barra senang sekali. Ditemani ayah, dia bermain di sekitar pesawat.



Setelah dirasa puas, aku mengajak Meili dan Barra masuk ke rumah adat Aceh. Si Barra lagi-lagi berceloteh lucu ketika memasuki rumah kayu tersebut.”Ma, banyak patung cakep,” celotehnya sambil memperhatikan satu demi satu deretan patung pasangan pengantin dari sejumlah daerah di Aceh.  Koleksi yang berkaitan khasanah Aceh tersusun rapi dan bersih. Lantai kayunya juga nyaris tak berdebu sehingga sangat nyaman bagi anak-anak. Meilia tertegun memperhatikan sejumlah perkakas rumah tangga masyarakat Aceh. Bagi pengunjung juga bisa berfoto di pelaminan.

Dari Aceh kami lanjut ke kawasan Anjungan Sumatera Utara. Woww keren sekali. Di area ini berdiri anggun enam buah rumah adat Batak, diantaranya rumah bolon Batak Simalungin, Jabu Bolon Batak Toba, Siwaluh Jabu Batak Karo Rumah Batak Dairi, Nias dan Rumah Melayu.. Rasanya setiap jengkal kita mengabadikan terlihat begitu indah.

Cukup lama kami di anjungan ini. Menyambangi satu demi satu rumah adat yang ada. Di dalamnya tersimpan koleksi berbagai kerajinan, pengantin adat, alat musik, perkakas rumah tangga, alat perang bahkan sampai alat-alat mistik. Hehhe si Meili yang suka nonton Mister Tukul jadi langsung mengaitkannya ke sana. 



Aku jelaskan saja tentang ikhwal benda-benda itu semata untuk perlindungan diri. Kepercayaan mereka masih animisme sehingga erat kaitannya dengan sesuatu yang berbau mistik. Ya, di sana ada beberapa tombak dengan gagang yang memang agak menyeramkan. Hhehe si Barra malah bengong memperhatikan..”Ini hantu ya Ma,”ujarnya polos.  Bagi yang senang dengan lagu-lagu daerah Batak, tak sulit menemukan koleksinya di sini. Pengunjung bisa membelinya.

Usai berkeliling di anjungan Sumatera Utara, kami menyambangi Anjungan Sumatera Barat. Anjungan ini menampilkan sebanyak lima bangunan adat yaitu Rumah Gadang, Balairung, Rangkiang dan Surau. Di kawasan ini juga dilengkapi dengan pasar seni dan panggung. Wahh jadi lapar mata nih melihat sovenir yang dijajakan. Penataannya juga rapi dan nyaman. 

Kami mengunjungi rumah induk Rumah Gadang, terlihat paling besar dibanding rumah-rumah lainnya. Bagaikan sebuah show room budaya, di dalamnya ditampilkan aneka koleksi barang-barang seni dan pelaminan adat lengkap dengan pakaiannya. Bagi Anda yang ingin mengabadikan gambar di pelaminan juga bisa. Dan, di salah satu rumah menyediakan pula layanan penyewaan busana adat Minang. Tentu saja, Anda bisa berfoto sambil bergaya adat Minang. Sewanya hanya Rp 50 ribu. Lumayan kan, nggak perlu jauh-jauh ke Sumatera Barat kalau mau merasakan atmosfer suasana Minangkabau. 

Dari anjungan Sumatera Barat, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Kaktus. Meili penasaran dengan tanaman ini. Wahh sekarang penataan lokasi Taman Kaktus berbeda dengan yang pernah aku kunjungi sekitar tiga tahun lalu. Lebih rapi dan tertata. Rupanya sekarang Taman Kaktus masuk dalam kawasan Desa Seni, semacam kawasan ekonomi kreatif, pusat seni dan kerajinan tangan. Si Barra lincah sekali berlarian di sela-sela taman itu. Sementara aku dan Meili melihat koleksi buku di Taman Buku Langka.  Lengkap juga koleksinya. Buku-buku yang dulu dilarang terbit dan diberangus, kini dengan mudah dapat dibeli. Diantaranya buku berjudul "Buku Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai", dan sejumlah buku beraliran kiri, pemikiran Tan Malaka, DN Aidit dan Bung Karno. Soal harga, ehhe katanya Pak Doli relatif. Ada yang sampai ratusan juta. Wowww..


Sebenarnya pasar buku langka di Taman Mini sudah ada sejak 28 tahun lalu. Hanya dulu tempatnya di Anjungan Papua. Baru sekitar 3 tahun, menurut cerita Pak Doli yang merupakan anak pendiri pasar buku langka di TMII ini dipindahkan ke  Desa Seni, satu area dengan Taman Kaktus. Memang dari segi tempat, Anjungan Papua lebih strategis. Tetapi di Desa Seni, penataannya jauh lebih rapi dan sangat nyaman. Banyak taman untuk pengunjung bersantai. Ada 3 kios buku langka berukuran 4x4 meter per kiosnya.

Arif Sultoni, Seniman Siluet
Di belakang taman buku langka, ada Galeri Seni Lukis. Di galeri ini juga melayani lukisan sketsa wajah dan karikatur langsung dari Hp. Tarifnya mulai dari Rp 150 ribuan berukuran A4. Wah seru juga nih.

Selain itu, ngga kalah menarik adalah Galeri Seni Siluet. Sejak tayangan Pas Mantab di Trans7, seni lukis wajah bayangan ala siluet ini memang menjadi tren. Sosok senimannya Priadji Kusnadi pun jadi populer. Sebagai sovenir, tamu-tamu dalam acara tersebut diberikan lukisan bayangan siluet karya Priadji Kusnadi ini.

Arif Sultoni, seniman Siluet di Desa Seni salah satu yang menganggumi beliau. Hanya saja, Arif Sultoni mampu mengerjakan lebih cepat, hanya 2 menit.  Dalam suatu acara yang diselenggarakan di TMII, Pak Toni, sapaan akrabnya mampu menggunting kertas hitam berukuran 20x20 cm tanpa putus  menjadi bentuk bayangan wajah sebanyak 110 gambar. Waktunya hanya 3 jam. Tak heran Pak Toni ditasbihkan sebagai seniman gunting siluet wajah tercepat di tanah air. 

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15:45, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Museum Transportasi. Si Barra masih penasaran dengan helikopter. Namun sayang sekali, begitu kami sampai, ehhh layanan berwisata ke dalam pesawatnya sudah tutup. Jadi, kami hanya bermain-main saja di area pesawat dan helikopter. Kami juga melihat kereta api presiden buatan tahun 1930-an. Kebetulan ketika kami naik, ada yang sedang foto prewedding, heheh jadi tontonan gratis.

Perjalanan terakhir kami bermuara di Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada janji  dengan Pak Arif, teman lama, pecinta seni budaya Jawa. Kebetulan hari itu  jadwal anaknya latihan menari Jawa..Wahh Meili langsung bersemangat mau ikutan menari. Banyak juga anak-anak yang menari di sini. Yang dewasa pun ada. Mereka tampak ceria mengikuti instruksi dan menghayati gerakan demi gerakan. Senang melihatnya.



Anjungan DIY membuka les tari dua kali dalam seminggu, setiap Rabu dan Sabtu mulai pukul 15:00-18:00. Biayanya  sangat murah, hanya Rp 20.000 sebulan, sudah sekaligus tiket masuk Taman Mini. Selain menari, ada juga kursus sinden dan gamelan. Ternyata untuk belajar kesenian Jawa, tidak perlu kesulitan lagi. Cukup datang ke Taman Mini “Indonesia Indah”.

Pak Arif dan istrinya, pecinta seni budaya Jawa
Selain anjungan DIY,  Museum Indonesia juga membuka kesempatan belajar tari Jawa. Bedanya, di Museum Indonesia, tari Jawanya sudah dalam tingkat lanjut alias lebih otentik lah..begitu istilahnya aku. Karena ternyata tarian Jawa itu ada berbagai mahzab. Nah mahzab klasiknya bisa dipelajari di Museum Indonesia.

Sambil menikmati anak-anak menari, aku mengobrol santai dengan Pak Arif dan istrinya yang begitu mencintai dunia seni. Anaknya Pak Arif yang bernama Siwi, kelas 4, sudah sangat mahir menari Jawa. Ia sering pentas di berbagai acara yang diselengarakan Taman Mini dan di luar Taman Mini. Belum lama, ia berhasil menyabet juara 2 dalam lomba tari yang diselenggarakan oleh pusat perbelanjaan beken di Jakarta. 


Seni memang membuat orang jadi lebih arif melihat kehidupan dan bijaksana dalam menjalaninya.. Tubuh juga makin sehat karena melalui tari, kepekaan jiwa dan raga terus terasah sehingga membuat hidup makin bernergi, penuh harmoni. Itu terpancar dari pasangan suami istri ini yang awet muda dan sehat.

Siwi (kiri) sedang latihan menari

 Liburan hari itu benar-benar bermakna. Meili dan Barra pun menagih lagi, karena belum sempat mengunjungi banyak obyek wisata di Taman Mini “Indonesia Indah”. Semoga di 39 tahun Taman Mini, makin menginspirasi anak-anak Indonesia mencintai dan bangga dengan budaya nusantara, cinta akan keragamanan sebagai suatu anugerah terindah dari Tuhan terhadap bangsa ini. Selamat ulang tahun Taman Mini “Indonesia Indah ke-39.

Yuk berkunjung ke Taman Mini “Indonesia Indah”, banyak acara seru yang sayang dilewatkan dalam rangka  HUT 39 Tahun TMII. Diantaranya Pameran Produk Unggulan Daerah (Expo Nusantara), Pameran Bersama Museum, Pameran Keris Paksi, Pawai Budaya Nusantara dan Gelari Tari Kolosal dan sebagainya.  Oya abadikan juga ya pengalaman serumu ketika liburan di TMII. Ada lomba blog 39 tahun TMII berhadiah gadget menarik.

Hanya di TMII, Negeriku "satoe" Indonesia, Anda bisa berkeliling Indonesia hanya dalam satu hari. Kobarkan Semangat Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah, Pelestari Budaya Nusantara, Perekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

Baca juga ya liburan Barra di TMII yang ke-2 : Asyik Barra jadi Pilot !

Ketika Status Cinta Digulirkan di Facebook


Status cinta..hehe kedengarannya memang romantis dan meniupkan suasana sejuk di hati. Senang sekali baca status teman-teman di facebook yang selalu menerbarkan cinta, kedamaian, penuh motivasi dan hikmah. Makanya aku selalu me-like status mereka. Karena jika kita me-like, otomatis kita ikut menebarkan pesan positif dari status mereka.

Tetapi menjelang pemilu, khususnya setelah pencapresan Jokowi diketuk palu oleh PDIP, langsung beranda facebookku bersileweran status hujatan. Sampai geleng-geleng kepala, tangan basah dan bergetar, jantung berdegup kencang menahan emosi. Karena aku tahu bagaimana sesungguhnya beliau, jadi nggak habis pikir sejumlah orang menghujat sedemikian kasarnya dan tidak beretika.

Menurut saya yang paling kasar adalah ketika ayat-ayat Allah dipolitisasi. Ketika orang sudah mengafirkan manusia yang lain. Ketika kepercayaan orang mulai diubek-ubek. Tak puas dengan "mengafirkan", lantas berkembang isu "Jokowi Syiah" "Jokowi kejawen". Status kesesatan syiah bertebaran. Intinya Syiah harus diperangi. Sementara, orang-orang yang pro Gubernur DKI ini disebut munafik, fanatis buta. Hmmmm..tarik nafas panjang. Biarlah..orang menilaiku, hak mereka :)

Sempat  tidak bisa tidur menahan emosi sambil terus istigfar dan berdoa semoga Allah berikan kekuatan bagi yang sedang dihujat, diberikan kesabaran tiada berbatas dan memohon yang terbaik bagi pemimpin Indonesia. Dan, berdoa juga bagi yang suka menghujat dengan cara kasar itu segera diterangkan hatinya.

 Alhamdulillah Jokowi pun dalam setiap wawancara dengan media tidak merespon penuh emosi setiap hujatan yang ditujukan kepadanya. Dengan santai, pria kerempeng itu menjawab. "Bagi yang senang, silahkan dipilih. Bagi yang tidak senang, jangan dipilih. Kan biasanya juga gitu.".."Jangan dipikir berat-beratlah. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai,"..Subhanallah, kesabaran orang ini.

Saya sempat menimpali status teman-teman yang rata-rata merupakan aktivis parpol yang tersangdung korupsi sapi impor dan teman-teman yang aktif dalam Front Pembela Islam itu dengan menyindir santai. Saya mencoba tidak terbawa emosi. Karena apa bedanya saya dengan mereka jika emosi membabi buta. Malah sebaliknya, saya dekati mereka sambil bercanda dan bersahabat. Hehe, bagi yang enak orangnya,  malah jadi becandaan. Yang lebih lucu, bahkan ada teman yang sampai keluar juga pesan dari lubuk hatinya, bahwa dia mengakui kebaikan Jokowi dan dengan sejumlah alasan pula kenapa dia tulis status kontra terhadapnya. Ternyata memang sentimen agama yang membuatnya emosional. Ya itu lagi-lagi hak mereka. Hanya saya tak ingin umat Islam jadi saling bersiteru dan bikin keributan, hanya karena kepentingan politik yang penuh intrik. Tapi bagi sejumlah teman yang  serius dan tidak open minded (terlalu sektarian), malah semakin esmosi..Ahhh mending kabur aja hehehe.

Di tengah bertebaran status hujatan, aku teringat dengan suamiku. Dia itu pendiam banget. Ngomong kalau yang penting-penting aja. Nggak pernah serius  kalau menimpali sesuatu hal. Jawabannya kalau ditanya hal-hal serius selalu bikin aku nyengir. Contohnya ketika aku tanya mau pilih partai apa, dia jawab,,"pilih parpol brewok aja" hehehe dasar ayah. Suamiku memang berbrewok tipis.

Sudah 10 tahun aku hidup bersamanya, memang nyaris tidak pernah membicarakan keburukan orang lain, apalagi menghujat dan menghina. Aku sampai penasaran dengannya dan sering bertanya. Masa sih dalam hidupnya tidak ada orang yang mengecewakan dia. Apalagi suamiku adalah seorang wirausaha dengan berbagai rintangan di depannya. Pasti ada lah. Dia pernah cerita, uangnya dibawa lari teman bisnisnya. Tapi dia nggak emosi. Santai aja. Dia hanya bilang, "Nggak nyangka. Tampilan luar orangnya baik, polos. Hehhe malah bawa kabur duit saya," ujarnya sambil senyum, tidak ada emosi, tenang sekali.

Bagi kami, uang itu tidaklah sedikit. Saya sudah rada emosi. Ehh suamiku malah tenang-tenang saja. "Biasalah dalam bisnis, pasti ada yang kayak gini," ujarnya singkat dan  case closed. Alhamdulillah, bisnis suami makin baik meski rintangannya juga tidak kecil. Suamiku berbisnis ekspedisi truck bersama temannya. Saat ini sudah ada 18 truck. Bahkan sekarang tengah menyiapkan untuk bikin perusahaan truk sendiri.

Di facebook aku coba mentestimonikan betapa baiknya suami menyikapi kehidupan ini. Kebersihan hatinya, membuat kami merasa damai. Anak-anak tumbuh ceria. Suamiku juga nggak pernah memarahi anak. Kalau aku hahahaha..jangan ditanya..suka emosi kalau anakku nggak mau belajar, nggak mau makan sayuran, nggak mau mandi.heheh..Paling suami hanya menunjukkan wajah serius pada anak-anakku..ehehh mereka udah pada takut sendiri. Aku sebut namanya aja, kalau anak-anakku kelewatan, mereka sudah segan. Suamiku  juga begitu dermawan. Kami tak kaya, tetapi Inshaa Allah kami mampu. Kaya dan mampu itu berbeda. Orang kaya belum tentu mampu, tetapi orang mampu, pasti kaya heheh. Minimal kaya hati, tak melulu diliputin kebencian, prasangka negatif, melainkan hati yang penuh syukur. Ritual suami juga sangat biasa.



Nggak nyangka, status facebookku ini mengundang sekitar 31 yang like dan 11 komentar memuji. Bahkan ada yang beberapa yang jadi ikut memuji suaminya karena ada kesamaan heheh..senangnya bisa ikut menambah romantika kehidupan rumah tangga teman-temanku.


Sejumlah teman yang suka "menghujat" dengan ayat-ayat Quran, heheh tidak ada yang menjejakkan diri di status ini, apalagi sampai berkomentar. Malah mereka terus menyerang dengan menuliskan kata-kata yang  menohok. Tak sampai hati menuliskannya..Biarlah hanya Tuhan yang Maha Menilai dan Maha Mengetahui sesungguhhnya apa yang tengah terjadi. 

Aku hanya mencoba untuk mewarnai kehidupan berpolitik bangsa dengan caraku sendiri. Cara yang tidak menjual ayat-ayat suci untuk kepentingan yang rendah, dengan cara yang tidak penuh emosi sehingga merendahkan derajat kemanusiannya sendiri.  Meski berkostum malaikat dan fasih mengucapkan ayat-ayat-Nya, tetapi kontraproduktif dengan kata-katanya,  selalu mengundang hujatan dan merasa paling benar. Lantas apakah itu yang disebut manusia beriman ? Pada akhirnya kata Dewi Lestari..'Malaikat juga tahu ..siapa yang jadi juaranya.." 

Aku selalu bersyukur dengan hidupku saat ini. Dikelilingi orang-orang penuh kasih dan bijaksana, dikaruniai anak-anak yang sehat, lucu, kritis, dan peduli hatinya. Rejeki materi yang membuat kami tidak berkekurangan. Serta hati kami yang selalu bergetar melihat sesama yang sedang dilanda kesulitan. Apakah ini buah dari rejeki barokah yang selalu kami upayakan ? Apakah ini wujud keberkahan itu ?   Aku coba tafsirkan begitu sesuai dengan apa yang pernah diucapkan Ustad Quraish Shihab. Dalam statusku, akhirnya aku menulis : 


Aku mencoba berbagi kebahagiaan. Bahwasanya, memang benar Allah itu selalu mengingatkan manusia agar mencari rejeki yang halal, dengan cara yang beretika sesuai dengan yang Dia tuntun dalam Alquran dan lewat perilaku Rosulullah. 

Di tengah moralitas bangsa yang terpuruk. Korupsi dimana-mana. Semua teriak stop korupsi, setuju korupsi berantas, hukum berat para koruptor dan sebagainya, tetapi dalam kenyataan, praktek korupsi dan manipulasi malah makin kencang. Kompromi banyak terjadi, demi uang dan jabatan. Ya, sobat-sobat bisa melihat fakta-fakta itu. Sekali lagi kami hanya mencoba, untuk mencari nafkah dengan jalan yang tidak merendahkan harga diri manusia dan menodai perjanjian dengan Tuhan semampunya. Yang paling nyata, kami berupaya tidak "menyuap" agar proyek deal dan lancar, makan orang, nusuk orang dan sebagainya. Inshaa Allah, ini hanya ikhtiar yang selalu kami pancangkan di hati. Tujuan kami hanya ingin selamat di dunia dan akhirat, dan memperoleh surga baik di dunia dan di alam setelah kematian. Inshaa Allah.

Anda Fanatis Jokowi ya ?



Hhahaa..ketawa dulu nih pembukaannya. Jujur, banyak sekali pertanyaannya ini ditujukan sejumlah teman yang langsung menuduh saya fanatis dan pemuja Jokowi, lantaran status FB saya sejak Pak Jokowi jadi Cagub DKI sampai sekarang menjelang pilpres mendukung beliau. Memang salah, saya  mendukung Jokowi, lantas serta merta dibilang fanatis ? hehe ketawain aja deh.

Saya punya alasan sendiri mengapa memilih Jokowi jadi Gubernur DKI dan sekarang untuk menjadi presiden. Alasannya, karena jauh sebelum media mempopulerkan Jokowi, saya sudah mengetahui bagaimana kinerja beliau. Subhanallah, orang ini ditakdirkan di bumi Indonesia, dan dihadirkan pada saat yang tepat, krisis kepemimpinan dan moralitas pemimpin bangsa, khususnya.

Waktu itu tahun 2008, saya mengawali karir jurnalistik kembali, setelah 4 tahun tidak berkecimpung di dunia media. Hanya ini majalahnya tentang pariwisata, event, dan industri hospitality atau bekennya sekarang dengan istilah MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition/Event), VENUE namanya. Ga kenal ya ? heheh ya memang segmented banget sih. VENUE ditujukan  bagi mereka yang ingin terjun di dunia event, dan pemerintah daerah yang ingin maju di dunia pariwisata. Dulu belum ada saingannya. Istilah MICE juga masih baru banget. Direktorat MICE-nya  baru dibentuk tahun 2007, selang beberapa bulan dari majalah kami. Menciptakan mainstream baru tentang industri event. Ownernya  Dyandra pula yang notabene penyelenggara event terbesar di tanah air. 

Jadi, ini semacam majalah referensi MICE di tanah air, referensi bagaimana seharusnya pariwisata dikembangkan. Tujuannya, dunia pariwisata dan event bisa menjadi salah satu alternatif pendapatan negara selain dari sektor migas, pertanian, dan industri makro lainnya. Acuannya MICE bisa menjadi sumber utama pendapatan negara, bisa dilihat dari kisah sukses Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan kini Vietnam yang mulai unjuk gigi di bidang pariwisata dan MICE. Negara-negara ini demikian maju perekonomiannya dari kontribusi industri event (MICE) dan pariwisata.

Majalah kami terbit bulanan. Pada bulan September 2008, seperti biasa kami merencanakan meeting redaksi. Karena ini menyangkut event, maka saya mengusulkan tentang event  konferensi di Solo yaitu Konferensi Internasional Kota-kota Warisan Dunia (World Heritage Cities Conference and Expo/WHCEE) pada 25-30 Oktober 2008 (kalau nggak salah, ada teman juga yang punya usulan sama). Event ini benar-benar membalalakkan mata dunia bahwa kota seluas 44,03 km2 itu berani menjadi tuan rumah acara bergengsi. Orang luar tahunya Yogyakarta. Solo ? hmmm ada di sebelah mana ?

Rupanya Solo telah menjadi bagian dari perkumpulan negara-negara yang memiliki warisan heritage. Daerah-daerah lain belum ada. Pak Walikotanya waktu itu Jokowi, inisiatif  mengangkat Solo ke dunia internasional. Membangun Solo dari sektor pariwisata. Mengingat dari sisi pertanian dan sumber daya alam, Solo tidak begitu kaya dibanding daerah lain. Huff, tentu saja gebrakan Jokowi dengan mengharumkan Solo sebagai destinasi yang harus diperhitungkan di tanah air, membuat Yogyakarta yang udah seattled ketar-ketir.

Ada apa dengan Solo sebegitu berani ? Siapa Jokowi yang dibilang nekat tidak ada modal, tetapi sangat berani memboyong sekitar 1.000 delegasi yang terdiri dari para walikota se-Asia Pasifik, negara anggota United Cities and Local Government (UCLG) Euro-Asia ke Solo. Saingannya berat. Solo harus berhadapan dengan Rusia, Austria, Korea Selatan, dan Pakistan. Mau bayar pake apa ?

Kebetulan waktu itu Pemred Majalah Venue, Bapak Bambang Bujono adalah orang Solo. Heheh lumayan kesamber juga emosional kedaerahannya. Serta merta beliau langsung mengangkat usulan ini menjadi laporan utama. Pada waktu itu yang turun langsung liputan adalah redpel dan fotografer. Saya hanya membuat hotel-hotelnya saja di bagian liputan itu. Dari penggalian yang mendalam, kami menemukan emas Si Jokowi itu. Benar-benar brilian idenya membangun Solo. Dia merangkul semua komponen masyarakat terkait untuk menyukseskan acara tersebut. Hotel-hotel dan travel saling berkontribusi. Pemerintah hanya mengeluarkan uang sedikit sekali. Pihak swasta bahu membahu menjadi tuan rumah yang baik, berstandar internasional dengan rasa Solo.

Bukan hanya itu, terkuaklah dia bagaimana memanusiakan pedagang kaki lima dengan mengajak pindah ke pasar sebagaimana mestinya, tanpa keributan. Mengangkat pasar-pasar tradisional, mengangkat para seniman, menata kota, mempercantik Bandara Adi Soemarmo, dan sebagainya. Selama dua periode beliau memimpin Solo dengan reputasi mengagumkan. Belum lagi, kesederhanaan beliau dan merakyat. Dia mencintai rakyatnya, dan rakyat Solo pun mencintainya. Subhanallah. 

Kami dua kali mengundang Pak Jokowi menjadi pembicara pada acara kami. Ide-idenya betul luar biasa, menginspirasi sejumlah daerah untuk berkembang seperti Solo. Semangat nasionalisme dan moralitas tinggi, ditunjukkan lewat  perbuatan dan perbuatan. Jujur, saya belum lihat ada orang menyamai Jokowi pada waktu itu. Beliau tidak protokeler. Jika diundang ke Jakarta,  hanya ditemani seorang asistennya. Tanpa pengawalan. Biasa sekali. Tidak ada mobil. Cuma naik taksi. Tidak minta macam-macam.

Majalah kami cukup sukses terserap pasar yang mengangkat tentang Jokowi ini. Bahkan majalah kami menjadi official magazine saat konferensi berlangsung. Hingga Kompas meliput, dan menyambung ke berbagai media. Sampai akhirnya PDIP melamarnya menjadi Gubernur. Excellent PDIP yang memang menurut saya tak begitu populer di kalangan pemilih terdidik, memilih Jokowi yang kemudian disandingkan dengan Ahok dari Gerindra. Mungkin ada maksud terselubung waktu itu, dengan suksesnya duet Jokowi-Ahok, otomatis akan melenggangkan Mega dan Prabowo nyapres lagi. Itu sinyalemen yang ditangkap oleh saya juga banyak orang.

Hhehe kondisi perpolitikan di tanah air berubah drastis. Bergairah maksimal hahahha. Eksotis sekali. Optimisme kencang bergemuruh. Terutama di hatiku. Karena dua tokoh ini luar biasa dedikasinya untuk bangsa. Cuma, seperti biasa ada pihak yang sensi tinggi lantaran Ahok adalah Cina dan Kristen. Wahhh betul-betul isu agama jadi makanan empuk untuk menyerang golongan nasionalis. Dan, Ahok seksi untuk  meniupkan isu tendensius. hehe seru.

Alhasil Jokowi-Ahok menang dengan dua kali penyaringan dalam pemilu. Benar-benar menggembirakan saya waktu itu. Selama 15 bulan Jokowi mimpin Jakarta, hufff luar biasa juga serangannya dari pihak yang masih sakit hati kalah pemilu. Jokowi dan Ahok juga makin kompak menertibkan, mendisiplinkan dan memecat pejabat-pejabat DKI yang tidak amanah. Jokowi dengan gaya blungsukkannya. Ahok dengan diplomasinya dari meja ke meja,  gerilya  membereskan aparatur pemerintah DKI. Romantis. 

Monorail yang sudah 20 tahun direncanakan, di jaman Jokowi baru direaliasasikan. Pasar Tanaabang yang terbilang keramat alias tak tersentuh penertiban..berhasil bersih dan indah di zaman Jokowi. Waduk-waduk dibersihkan bahkan waduk Pluit menjadi indah yang sepertinya tidak mungkin dibereskan dalam tempo singkat. Rusun-rusun dibangun. Penduduk yang tinggal di bantaran sungai berhasil dipindahkan ke rusun. Gorong-gorong di pusat kota diperdalam. Taman-taman dibangun, sampai masalah pengemis dan topeng monyet pun diurus..Jokowi rupanya tak hanya cinta rakyatnya, tetapi cinta binatang. Coba, bertahun-tahun topeng monyet ada, tidak ada yang berani menertibkan. Malah bisa dikatakan kita tidak ngeh (termasuk saya heheh yg suka dengan topeng monyet untuk menghibur anak saya). 

Harapan saya waktu itu Jokowi bisa meng-khatamkan menjadi gubernur DKI untuk membuktikan pada lawan-lawan politiknya duet Jokowi-Ahok berhasil membangun DKI dan menjadi prototipe keberhasilan Indonesia membangun kota. DKI adalah ibu kota negara, sepantasnya ditata dan dikelola menjadi kota berstandar internasional. Masalah banjir dan kemacetan yang masih menjadi masalah klasik di DKI, masih setengah jalan. Ditambah fenomena alam yang menunjukkan kelabilannya. Banjir terus menerus sehingga membuat orang-orang di bantaran sungai benar-benar lelah. Hehhe tapi tetap betah. 

Parpol lain sudah demikian agresif mencalonkan capres-capresnya. Ada yang memikat hati saya. Tapi langsung hilang ketika mengetahui dia berbuat tidak baik. Jujur. saya berniat golput. Tidak ada partai dan capres yang bisa saya percayai. Apalagi dengan parpol Islam yang saya percayai dulu...bikin mual outputnya.

Sampai pada akhirnya, PDIP sekonyong-konyong menaikkan Jokowi dari capresnya. Wahhh saya langsung  terperangah.. Ada rasa kecewa pada Jokowi yang mau saja dicalonkan. Padahal dia waktu itu sama sekali bilang : ga mikir, ga mikir, ga mikir...karena mau fokus benahi Jakarta. Tetapi, ya namanya politik, tentu PDIP punya kepentingan. Dan, harus diakui memang Jokowi seolah menjadi umpan untuk mendongkrak suara PDIP.  Dasar politik, banyak kepentingan. 

Namun kemudian, dibalik kepentingan-kepentingan PDIP, saya mencoba melihat sisi lain. Positifnya, dan idealisme saya sebagai warga negara yang miris melihat kondisi bangsa ini. Hingga akhirnya saya mantab memilih Jokowi menjadi capres. Bismillah.

Bukan main di sosial media dan media massa menyerang bapak kerempeng ini. Barisan pihak parpol non Islam (Parpol Islam juga banyak) menyerang dengan isu Jokowi tidak bisa dipercaya. Jokowi penuh pencitraan palsu, Jokowi Pembohong, Jokowi Maruk Kekuasaan, Jokowi Boneka PDIP,. Malah ada yang sampai ingin mempidanakan Jokowi karena tidak becus alias tidak selesai memimpin DKI. hhhaaaha

Barisan parpol Islam pun tak kalah seru. Apalagi kalau bukan isu agama dijadikan serangan. Ayat-ayat kafir keluar. Ayat-ayat munafik keluar. Belum lagi isu Jokowi adalah antek Yahudi. Wahh luar biasa hujatan demi hujatan bertubi menyerang Jokowi. Tetapi dasar Jokowi, dia sama sekali tidak menanggapi. Santai dia jawab dengan bijak : Ga usah direspon, rakyat sudah pintar. Ga usah dipikir berat-berat. Bagi yang senang silahkan, yang ngga juga silahkan..benar-benar orang ini sabar sekali.

Bagai memiliki energi besar, tak henti saya berstatus di FB, mengajak teman-teman yang menghujat untuk berfikir jernih, melihat dari hati, melihat bukti, dan sebagainya. huff melelahkan memang, tapi senang.

Teman-teman aktivis muslim pun mungkin terkaget-kaget dengan sikap politik saya. Mereka mulai sinis. hhehe mengklaim saya memuja dan fanatis. Saya sampai bingung, apakah kalau kita memilih itu dibilang fanatis dan memuja. Sepertinya logika bahasa sudah amburadul. Atau mungkin teman-teman tersebut tidak tahu istilah fanatis. Baiklah saya coba definisikan.

Fanatisme menurut Wikipedia dan sejumlah sumber lain adalah :

Fanatisme adalah suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatif, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah"

"Menurut definisinya, fanatisme biasanya tidak rasional atau keyakinan seseorang yang terlalu kuat dan kurang menggunakan akal budi sehingga tidak menerima faham yang lain dan bertujuan untuk mengejar sesuatu. Adanya fanatisme dapat menimbulkan perilaku agresi dan sekaligus memperkuat keadaan individu yang mengalami deindividuasi untuk lebih tidak terkontrol perilakunya"

Saya mencoba untuk bercermin, apakah benar saya memuja. Kalau memang benar, apa salah saya memuja orang baik kinerjanya, heheh ya saya juga gak mau minta-minta pembenaran. Negeri ini krisis pemimin yang baik. Giliran ada dan di depan mata, orang malah tidak bisa mengapresiasi. Kritik boleh, tetapi kalau dengan tuduhan yang nggak boten-boten seperti antek Yahudi dan lain-lain tanpa bukti valid. hehe jujur nggak laku kritikan model gini. Apalagi ada juga yang kritik, Jokowi tidak berhasil mengatasi macet dan banjir.

Lah, pake logika aja bro. Banjiir dan macet itu udah menjadi makanan di DKI bertahun-tahun. Memang, Jokowi-Ahok itu tukang sulap, dalam sekejab mengatasi banjir dan macet. Gubernur sebelumnya juga tidak becus mengatasi banjir. Tetapi tidak digugat..Apalagi di tengah Jokowi giat mengatasi macet ibu kota, ehhehh Indonesia diterjang kebijakan banjir mobil murah.. Hmmm benar-benar kontra produktif. Gubernur-gubernur DKI lainnya juga belum becus mengatasi banjir, malah mewariskan sistem akut pembuat banjir dan macet. Dan serta merta kesalahan itu dilimpahkan ke Jokowi-Ahok...aduhhhh..kasian banget orang-orang ini. Jokowi menyentujui cara menabur garam di langit untuk memindahkan hujan dari Jakarta ke daerah lain, dikritik habis-habisan dibilang menantang Tuhan.

Sekali lagi, saya tidak mengharamkan kritik. Kritiklah sebanyak-banyaklah yang membangun dan kondusif biar jadi kontrol bagi pemerintah DKI.  Sekarang masyarakat sudah cerdas, sudah bisa memilih dan menimbang terhadap isu-isu yang tidak jelas juntrungannya.

Lantas soal fanatis atau fanatik yang cenderung memiki definisi negatif berbuat kerusakan,  hmm rasanya saya jauh dari itu. Saya masih berfikir rasional. Melihat orang utuh antara kekurangan dan kelebihannya. Melihat Jokowi dari kelebihan dan kekurangannya.

Pada akhirnya saya ketawa lagi hahahah kok orang cetek banget mikirnya dan serta merta gampang mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat penggunaannya. Kalau memang tidak suka dengan Jokowi, mending kampanye tentang kesuksesan partai atau calonnya saja, nggak usah sampai menghujat tanpa bukti cukup apalagi bawa-bawa agama. Ini politik sobat..banyak intrik. Kalian mengobral hujatan, ehhh di atas sana nanti pada kompromi alias koalisi dengan parpol orag orang yang dihujat, Nah lohh...gimana tuh ? masa menjilat ludah sendiri..hahahah..Oke..selamat memilih sobats !





Maaf, Saya Tidak Setuju Dengan Partai Berbasis Agama


Sejak era reformasi digongkan oleh Amin Rais, proses "demokratisasi" di Indonesia memang berkembang dinamis. Bak, ayam keluar kandang, kicauan yang mengkritisi pemerintahan, tak berhenti berkokok. Ruang-ruang media melalap habis pemerintahan orba ala Soeharto, dan menaikkan sosok nasionalis religius Amien Rais. Mahasiwa pun dengan idealismenya "berjuang" untuk peletakan demokrasi yang dipersepsikan sebagai kebebasan berpendapat, kebebasan bersikap, dan berbuat untuk eksistensi sebuah negara itu. 

Sampai pada akhirnya, rezim orba berhasil digulingkan, dan DPR berganti dengan orang-orang baru,yang mungkin dulu hanya impian bisa duduk di senayan. Ada optimisme saya waktu itu melihat era reformasi bergulir, dengan indikasi duduknya "orang-orang baru" di senayan dan Jalan Merdeka. Rasanya keringat berdemo untuk menggulingkan rezim Soeharto dulu "terbayar' tempo hahaha belum lunas ya.

 Optimisme serta merta saya percayakan ke orang-orang di atas sana. Partai berbasis agama mendadak panen jamaah. Partai Islam tumbuh subur. Kalau dulu hanya ada satu  partai Islam yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), di era reformasi menjadi belasan partai. Masing-masing organisasi islam memiliki partainya sendiri. Sempat bingung masa itu. Terlebih saya berteman dengan mereka yang mengharamkan demokrasi dan memilih tidak berpartai. Masih teringat, mereka bilang, partai Islam yang mendadak eksis itu opurtunis dan sampai kapan pun tidak akan mencapai tujuannya. Malah bisa jadi, kelelep bersama sistem.

 Hmm..saya menarik nafas panjang. Ilmu saya yang baru mahasiswa kala itu  masih belum  mampu menganalisa dan memprediksi. Sejarah  mencatat, historis parpol Islam sewaktu pemilu 1955 juga tidak menunjukkan hasil signifikan. Yang menang, masih partai nasional-sekuler yaitu PNI.

 Beberapa kali saya didekati teman yang non partai itu. Ide mereka untuk Islam berjaya adalah khilafah. Waduhhh,.., konsep ini malah mengawang-ngawang. Lantaran saya tahu agama Islam secara intens baru di tingkat SMU. Saya aktif dalam kegiatan Rohani Islam. Banyak mendapat bimbingan dari kakak-kakak yang notabene  berbasis dari partai yang  saya pilih. Kemudian berlanjut di mahasiswa, saya  juga aktif di organisasi Islamnya. So, karena pendekatan relatif intens dan penjelasan yang mulai masuk nalar, bismillah saya memilih partai ini,  partai berbasis agama yang katanya paling pinter menyuarakan perubahan. Di tengah-tengah kebingungan juga, mentor saya waktu itu mengatakan, "kalau masih bingung, turutilah atau ikuti orang-orang soleh" Karena kebanyakan partai ini diisi oleh aktivis Islam dan ulama Bandung. 

Saya tergolong orang yang totalitas. Begitu saya percaya, saya akan konsisten dan berjuang maksimal. Dalam pekerjaan juga begitu. Ketika saya dipercaya, saya usahakan komitmen 100 persen, mengerahkan potensi fikir dan fisik saya. Idealisme untuk menjadikan Islam rahmatan lil'alami, benar-bener bergemuruh. Saya aktif mengikuti berbagai kajian kepartaian. Di Bandung memang cukup banyak tempat untuk belajar Islam. Komunitas partai saya ini pun memiliki banyak wadah untuk mengkader dan mendulang suara mahasiswa idealis. Saya belum menjadi kader, hanya mencoba mencari tahu sebanyak-banyaknya.
Pada masa kampanye, saya ikut kampanye ke pelosok desa di Bandung...Wah baru kali pertama ikut kampanye..senang sekali..puas dapat menjual citra  kesolehan ustad-ustad yang ada di Bandung. Ghiroh, begitu kata bahasa aktivis masa itu...terbangun begitu tinggi.  Di mana pun saya berada, dengan bangga saya perkenalkan partai itu. Partai perubahan yang diisi anak-anak muda terdidik. Semangat perubahan..

Alhamdulillah, kala itu saudara-saudara saya, ibu dan bapak saya  mulai simpati dengan partai ini. Bapak saya yang PDIP fanatik, dengan bangganya pula memperkenalkan ke teman-temannya bahwa partai anaknya adalah PK.ehehe dulu PK - Partai Keadilan.

Pemilu demi pemilu berlangsung, saya masih konsisten memilih partai itu meski merasa ada kekurang-sreg-an lantaran melihat output yang dihasilkan. Mereka berargumen, karena wakil yang sedikit, jadi tidak bisa maksimal menyuarakan perubahan. Menyuarakan kepentingan rakyat kecil dan setidaknya memenuhi cita-cita reformasi. Cita-cita reformasi heheh ketinggian kali ya..Nggak muluk sih harapan saya, setidaknya wakil-wakil yang telah ditunjuk di sana bisa peduli pada rakyat miskin di sekitarnya.

 Namun, nyatanya. mereka hanya bisa bermain retorika di majelis-majelis, dan manggut-manggut saja di DPR/DPRD. Mereka tidak bisa mewarnai, justru melebur jadi satu. Mereka lebih senang mengikuti arus penguasa, tidak berani menjadi oposisi.  Kader-kader yang diluluskan untuk duduk di suatu jabatan pun, nyatanya minim sekali berbuat untuk kepentingan rakyat sekitarnya. Hmmm..saya memang hanya partisipan. Profesi saya sebagai jurnalis, cukup banyak mendapatkan input tentang keadaan di Senayan dan sejumlah daerah.  Yang populer justru kesederhanaan Ustad Mashadi sebagai anggota DPR, yang saya kagumi dan membuat saya bertahan menjadi partisipan. Tetapi yang lain heehe..dijawab sendiri ya.

Sampai pada suatu ketika, satu-satu kadernya tertangkap skandal memalukan. Ada yang lagi rapat buka link porno, ikut pembagian "jatah" di Senayan, dan sejumlah persoalan yang tidak beres. Memang, DPR atau DPRD adalah kerja kolektif..Tetapi masa sih tidak ada yang berani bersuara..Semuanya serba ikutan dan kompromi. Banyak hal yang tidak bisa saya jelaskan satu-satu. Dan, yang paling memalukan kasus impor daging sapi ala Presiden PKS-LHI dan Ustad Hilmi. Mereka menilai, ini konspirasi dan fitnah. Hehhe tapi pengadilan bisa memberikan bukti. Memang, LHI belum memakan hasil korupsi daging sapinya. Baru merencanakan, tetapi sudah ketangkap basah. Bukti-bukti sms dan pengakuan Ahmad Fathonah, tak mampu mengelak tuduhan. Hufff...cape memang mengulik satu demi satu kesalahan orang.



Dan sekarang di musim kampanye, yang bikin ketawa geli, mereka berkampanye dengan menyebarkan banner indeks partai terkorupsi yang dikeluarkan KPK dan beberapa lembaga..Mereka merasa menang, karena partainya berada pada urutan ke -10, ada juga yang menulis 11 diantara partai- lainnya. Hehehe ya iyalah wong utusan partainya baru sedikit. Kalau banyak seperti si Merah, mungkin sami mawon..Di indeks itu juga berjejer partai-partai Islam lainnya. Bikin memalukan agama. Ini kampanye yang menurut saya "menggali kuburannya sendiri". Kalau mereka masih mau eksis, mending kampanye tentang pertaubatan saja atas kader-kadernya yang korupsi.

Hahahha..Akhirnya, orang-orang yang masih konsisten terhadap kemurnian Islam yang notabene adalah pendiri PK, satu persatu meninggalkan parta ini salah satunya Ustad Mashadi sendiri. Mereka merasa dikhianati oleh teman-temannya. Janji mengangkat islam, hanya jualan semata. Salah satu sumbernya saya dapat di http://www.kompasislam.com/2013/06/09/kumpulan-mantan-tokoh-pks-dirikan-ldki/

Rasanya cukup kekecewaan saya terhadap fenomena partai berbasis agama. Saya menghormati bagi teman-teman yang masih aktif di parpol agama. Tapi, harap direnungkan, itu berat sekali. Anda mengusung panji Islam. Kalau akhlak, omongan dan sikap tidak sesuai bahkan di luar yang digariskan Allah, rasanya Anda pantas masuk golongan yang menistakan agama. Agama hanya menjadi modus untuk melancarkan kepentingan yang rendah..Dan, jangan bilang..namanya manusia penuh khilaf..hahha.maling pun kalauu ditangkap bilangnya khilaf. Ada lagi yang bilang, partai juga isinya manusia, bukan malaikat. Jangan anggap kami suci seperti malaikat..Aduuhhh ngakak banget denger pembelaan mereka.

Makanya jangan bawa-bawa agama dalam partai. Kalau mau berpolitik, mending sekalian pilih partai yang tidak berbasis agama. Orang sepakat tahu, partai Islam notabene partai bersih, partai moral. Kan malu kalau nyatanya bertolak belakang. Malu pada Allah pastinya. Itu sih kalau saya ya. Apalagi kalau dilihat banyak parpol Islam yang kampanye tidak islami ; dangdutan dengan artis seksi, pemilihan caleg yang tidak islami, de el el. Bahkan, dari banyak kampanye yang saya perhatikan lewat media sosial, mereka yang selalu berteriak "Partai Bersih", selalu membuat kampanye negatif, terus menebar kebencian, provokasi, dan prasangka negatif yang belum tentu benar. Bagaimana orang mau percaya atau simpati dengan partai tersebut, jika isinya hanya mencerca dan menghardik saja.

Lagi pula kalau mau ditilik lebih jauh lagi, katanya demokrasi bukan dari Islam, dari Amerika yang selalu dihujat oleh kalian, tetapi kenapa kalian malah ikut masuk ke dalam sistemnya. Yang terjadi, malah memalukan agama. Saya lebih mengapresiasi teman-teman muslim yang tidak ikut sistem demokrasi alias tidak memilih partai manapun, daripada memakan omongannya sendiri.

.Lantas pilihan saya ? saya memilih parpol yang tidak berlandas agama tentunya. Saya masih menganut sistem demokrasi yang menyepakati pemilu.  Pesan saya, kalau Anda masih menghormati agama Anda, dan ada dalam kelompok berpartai Islam, janganlah bertindak seperti Tuhan. Dengan mudahnya mengafirkan orang. Ingatlah bagaimana Rosulullah berdakwah, nyaris tak pernah menghardik. Hanya ada prilaku yang berbudi, kata-kata yang penuh damai.Saya yakin Islam akan kembali berjaya dengan kemuliaan akhlak seperti ketika Rosulullah berhasil merebut simpati masyarakat Arab karena budi pekertinya yang luhur, jujur dan amanah.Islam yang esensi, agama yang mengantarkan keselamatan dunia dan akhirat, bukan Islam yang hanya retoris dalam balutan sorban dan jubah putih saja.

Teman Berkhianat, Malah Jadi Berkah

Dalam berbisnis, teman itu memang tidak sedikit yang malah menjadi musuh atau mencoba menusuk dari belakang. Wuiihh serem ya. Tapi jangan membuat Anda jadi malah takut untuk menjalin pertemanan. Terimalah dengan hati dan tangan terbuka siapa saja yang ingin berteman. Karena, kita tidak pernah tahu, siapa saja diantara teman-teman kita itu yang sesungguhnya memang pantas menjadi teman.

 Yaa, kalau saya sih prinsipnya, 'positif thinking" saja. Kalau memang ternyata, ada teman yang niatnya atau berubah jadi negatif ke kita, biarlah Allah saja yang mengurus. Tugas kita hanya mencoba sebaik mungkin menjalin pertemanan. Saya sih percaya, Allah selalu melindungi saya dari orang-orang yang mencoba "mencelakai" atau "menodai" pertemanan dengan cara yang tidak senonoh.

Mau share dikit aja tentang pengalaman saya berteman, yang sampai sekarang, jujur sudah saya maafkan, tapi "tidak anggap pertemanan" lagi. Biasa saja, anggap saja dia tidak pernah menjadi teman saya hahahha. Meski begitu, saya tidak berkeinginan men-delete-nya dari pertemanan di Facebook. Hanya tidak berinteraksi saja dan anggap tidak mengenal untuk mengobati rasa kekesalan yang benar-benar memuncak.

Sebenarnya saya dan dia (cowok) nggak gitu kenal-kenal banget. Hanya pernah satu organisasi di Bandung. Itu pun nggak intens ya berhubungan. Hanya sesekali bertemu dan jalan bareng untuk suatu kegiatan. Setelah lulus, saya kembali ke Jakarta. Dan, dia masih di Bandung, karena memang dia berasal dari salah satu daerah di Jawa Barat. Dan, saya benar-benar tidak mengetahui lagi jejaknya.

 Sekitar 6 tahun kemudian, kami bersilaturahmi kembali melalui facebook. Jadilah obrolan ringan dan cukup mengakrabkan. Rupanya, dia telah menikah dan punya anak. Aku pun begitu, dah punya anak satu. Kami bercerita tentang keluarga masing-masing. Seperti biasalah gaya dia yang menurutku sih norak ya..rayu2, dan memuji. Hehe dikiranya aku perempuan yang mudah hanyut dalam kata-kata manis cowok. 

Dia kerap menghubungi untuk sekedar curhat tentang rumah tangganya. Yaa, aku hanya menjadi pendengar saja dan sedikit kasih masukan. Aku sih mencoba netral. Singkat cerita, akhirnya mereka bercerai. Komunikasi kami sempat terputus sekian tahun. Jujur, aku malas aja ngaledin orang yang cuma curhat aja. . Sesekali kontakan untuk basa-basi kabar.

Kami baru intens berkomunikasi karena ada kepentingan. Saya kebetulan sudah risain dan sedang mengendus-ngendus bisnis yang sesuai. Waktu itu, saya sedang menggarap proyek web content sebuah perusahaan kontraktor. Nah, bukan suatu kebetulan, dia memang membidangi pekerjaan web desain dan sejumlah instalasi IT, atau jaringan gitu deh. Karena ada kepentingan yang sama, sama-sama ingin bisa berbagi informasi proyek, akhirnya kami pun bertemu. Saya bersama tim, dia juga dengan temannya yang seorganisasi di Bandung. Intinya, kami bisa kolaborasi, menggarap proyek di perusahaan yang sama. Jujur, saya sempet terkesan dan percaya 100 persen, dia orang baik dan bisa menjadi teman bisnis. Dia cerita banyak tentang lika-liku membangun bisnis IT dengan "kesendirian"

Kami intens berkomunikasi. Lagi-lagi dia memang sering curhat hal-hal pribadi. Kali ini saya layani, karena memang saya ingin membantu dia mencari pasangan hidup dan sukses dalam bisnisnya.  Kalau nelpon pun lama sekali. Aku  aktif memperkenalkan dia ke sejumlah rekan-rekanku sekaligus promo bisnisku juga : web content, web desain dan instalasi jaringan. Aku percaya diri bakal sukses  dengan berkolaborasi bersamanya. Dia sering menelponku untuk sekedar menanyakan proyek-proyek yang bisa dikerjakan bareng.

Sampai pada suatu ketika, teman dekatku sewaktu kuliah dulu ingin membuat website plus web content-nya.  Sebut saja namanya A. Langsung saja aku ambil kesempatan ini. Dengan gaya marketingku, aku yakinkan A, kami bisa mengerjakan web dan content sesuai harapan. Tapi untuk harga web desain, aku langsung hubungkan A ke temanku itu. Karena, dalam hal ini aku tidak mau intervensi harga web desain. Yang penting bagianku di content dah dialokasi. Lumayan sih angka proyeknya. Konsep web contentnya yang aku tawarkan pun, disetujui A. Dengan semangat full, aku sampaikan ke temenku itu untuk membuat web yang bagus agar proyeknya bisa berkembang biak. Siapa tahu juga si A yang jomblo dan dia yang juga lagi sendiri bisa berhubungan lebih. Karena aku benar-benar menilai dia orang baik. 

Jadilah mereka saling bernegosiasi harga. Herannya, temenku  itu sebut saja B sama sekali tidak melaporkan progressnya ke aku. Aku tahu perkembangan negosiasi bisnis ini dari si A. Si A beberapa kali komplain, karena harga yang diajukan B itu tinggi sekali. Padahal sudah disampaikan, kalau alokasi bujetnya tidak bisa di atas angka proyek untuk penunjukan langsung. Tetapi si B, memberikan harga hampir dua kali lipat. A pun berapa kali minta ubah, hanyaa diubah sedikit. Mau tak mau, ini proyek hampir batal karena tingginya harga yang B buat. Harga dia rupanya belum memasukkan harga content. Padahal aku dah beberapa kali bilang, dari bujet segitu dah termasuk content sekian dan dengan harga jaringan, B pun setuju. 

Tapi, kenyataannya, ketika berhubungungan dengan si A, lain lagi. Aku jadi bingung, apa sih maunya. Si A pun cape bolak balik minta negosiasi harga. Karena aku tahu pasaran web itu berapa, juga  spanneng dengan penawaran yang B ajukan, tinggi sekali. Masa cuma web doang bisa di atas 50 juta..Welehhh...Dan aku dah sampaikan jangan masukkan harga IT atau instalasi lainnya, cuma web  dan contenT. Konyolnya, dia tak pernah men-cc-kan imel penawarannya ke aku. Aku tahu semua harga pengajuannya dari A yang memforward imel-imel penawaran B. Kalau harga dah sesuai dengan bujet A, Si A, malah ingin memperpanjang kontrak sampai setahun untuk content. A sudah sampaikan ke aku harga perpanjangan kontraknya.

Namun, sama si B, perpanjangannya itu dibuat dengan harga content yang sangat murah. Ongkosnya saja sudah tidak mencukupi, bagaimana dengan jasa menulisnya. Sementara, dia membesarkan dana maintenance web. Wahhh,,,setahuku maintenance web itu ga perlu kalee harus dianggarin tiap bulan. Kan bisa sesuai dengan case saja. Kecuali bayar sewa domain yang cuma sekian ratus ribu.

Saya menolak tarif untuk content yang dia ajukan,  dia juga tidak setuju dengan harga yang saya tawarkan. Akhirnya saya mundur, tidak mau mengambil proyek ini daripada ke depannya tidak baik dan tidak sehat bagi hubungan pertemanan. Dari awal dealing proyek pun sudah nggak sreg karena ketidakjujurannya. Tanpa mencoba mencegah kemunduran saya yang mulai agak marah, dia malah   dengan "senang hati" menyetujui. Dan, dia balik menawarkan jasa content sendiri alias content yang ditulisnya sendiri. Temenku si A itu kaget, Lohhh gimana sih, saya justru memberikan proyek ini karena saya percaya sama ika, bukan sama kamu. Kok malah kamu yang mau ambil alih semuanya..."" kata temanku yang menelponku dengan berang. Akhirnya...dengan serta merta A batalkan proyek itu ke dia dan minta saya yang handel semuanya. 

Alhamdulillah, akhirnya saya pegang proyek itu dan kelar sudah. Saya membeli putus web desain dan tinggal saya supervisi hasilnya.  Klienku pun puas, bahkan berniat memberikan lebih banyak proyek lagi. Sementara, B..ehhe say good bye lah.. Aku cuma sms : Cukup tahu tentang kamu..." Sampai saat ini kami tidak berkomunikasi.

Alhamdulillah dengan kasus ini, aku jadi terhindar dari niat buruk teman. Aku langsung menghubungi temannya yang waktu itu diajaknya bertemu aku. Niatnya ingin membatalkan kerja sama menggarapa proyek IT dengannya juga. Tapi rupanya, teleponku malah membuka tabir siapa si B sebenarnya. Menurut temanya,  B itu memang tidak baik dalam berbisnis. Tidak beretika, suka makan proyek sendiri , padahal itu proyek bersama.. Temannya memberikan contoh-contoh kasus yang pernah ditangani bersama yang hasilnya dimakan B sendiri.  Dan, sebenarnya temannya itu sudah malas menjalin relasi dengan si B, tapi  B katanya ingin berubah dan menjual namaku, makanya dia mau ketemu dengan B lagi,

Rencana temannya yang mengajak B untuk menggarap proyek IT, langsung gugur. Dia sudah menaruh curiga, kalau B akan bermain dengan intrik yang sama. "Kasus di depan mata sudah terlihat.."ujar temannya yang menceritakan tentang proyek B di suatu instansi banyak masalah karena ulah si B juga, dan memintanya untuk membantu menyelesaikan.

Wahh bahaya juga ya teman yang seperti ini. Mau berbisnis bareng, malah kitanya yang dimakan. Padahal itu proyek datangnya dari saya. hahaha. Hati-hati deh, semoga kalian tidak bertemu dengan orang kayak gini. Cukup tahu saja..bahwa banyak orang 'berselimut malaikat" malah "menjadi setan" heheh berkahnya, kita yang mau "dimakan" malah kebanjiran proyek. Terima kasih ya Allah. Semoga B sadar, dan mau berubah. Sayang sekali, rejeki tidak berkah kalau prilaku buruknya ini dipertahankan.







Berbisnis Tulisan Itu Writerpreneur

Menjadi penulis memang harus bisa menulis segala hal. Mulai dari hal-hal yang disuka sampai yang tidak disuka, sepertinya harus dilalap. Betul nggak sih ? 

Ya, ada yang bilang kalau mau menjadi penulis handal, setidaknya harus bisa menulis segala hal. Makanya, profesi penulis itu tergolong prestise. Kalau saya, yang tengah menggeluti dunia writerprenuer, atau "penulis bayaran", setidaknya bisa menulis sesuai pesanan klien, that's it. Klien maunya apa, yaaa sebisa mungkin deh dipenuhi. Alhamdulillah, beberapa klien puas. Mulai dari klien pariwisata, kontraktor stand, travel, sampai pemerintahan. Indikasinya mereka puas, ada order berulang ;). Bahkan ada klien pemerintahan  telah mengontrak saya untuk mengisi contentnya selama setahun, plus beberapa publikasi seperti leaflet, buklet, dan katanya sih mau dikasih proyek juga untuk pembuatan buku profil. Alhamdulillah, kalau jadi. 

Tawaran sosial media dari berbagai klien pun mulai berdatangan. Hhehe..tapi belum rejeki, si kliennya kalah bidding. Ada bagusnya juga sih nggak deal, intinya saya harus fokus dulu mengerjakan sejumlah PR sosial media dari klien pemerintahan saya. Jam terbang saya di sosial media juga belum mumpuni. Ya..itung-itung mantepin dulu deh skillnya.

Kali ini saya mendapatkan tawaran membuat profil perusahaan untuk website. Tapi harus dengan bahasa Inggris..Hmm..jujur ga percaya diri ngerjainnya. Mungkin kalau berbicara dalam bahasa Inggris, bisa lah, yang penting lawan bicara mengerti apa yang kita omongkan, dan kita pun bisa merespon yang mereka utarakan. Itu sih kuncinya kalau conversation. Nah, kalau nulis..hmm give up deh. Kebayang complicated-nya mencari vocabulary yang pas sesuai penempatannya, gramarnya, dan sebagainya. Dan, kita pun harus familiar dengan istilah yang biasa dipakai pada dunianya mereka.

 Klien saya ini adalah perusahaan gas. Nggak tanggung-tanggung, klien web saya yang sebenarnya klien perusahaan gas itu meminta saya membuat profil untuk dua perusahaan. Beuhh..satu sisi ini tantangan, sisi lain, lagi-lagi saya ngga PD. Akhirya saya tolak halus dengan alasan belum mahir menulis in english. Sekalipun saya sanggupi, saya butuh translator. Karena yang biasa-biasanya begitu. Saya menulis in bahasa, kemudian ditranslate in english. Klien saya itu pun langsung menyanggupi. Dan, deal deh.

Beberapa hari setelah deal, saya langsung bertemu dengan klien yang perusahaan gas itu. Kantornya di Bakti Tower-Epicentrum, Kuningan. Janjian jam 10, jam 7 saya sudah berangkat dari rumah. Cileungsi-Jakarta dengan segudang kemacetannya, selalu menahan saya di jalan kurang lebih 3-4 jam. Benar saja, sampai di kantor klien pukul 10:00, tepat. Itu pun sudah pakai jasa ojek. Alhamdulillah nggak telat. Di brief sebentar oleh klien web saya, kemudian kami langsung ke perusahaan gas itu. 

Sebelumnya, saya sudah mendalami dunia tata niaga gas dan broswhing tentang perusahaan gas itu termasuk ownernya. Ternyata perusahaan ini belum sama sekali berkenalan dengan google. Sampai jam 3 malam saya pelototin google, tidak juga menemui hasil. Ownernya pun sedikit sekali terdeteksi, Paling cuma lewat facebooknya. Linkedinnya terbatas sekali. Riset mendalam sebelum wawancara memang sudah menjadi SOP. Saya harus menggali sedalam-dalamnya materi dari narasumber. Meski tidak menemukan hasil sesuai harapan, setidaknya dunia bisnis gas sudah saya pahami dan jadi percaya diri menghadapi klien.

Pukul 11 kurang, kami sudah diterima di ruangan klien. Rupanya saya bertemu langsung dengan ownernya. Doi ternyata pernah punya PH advertising dan sangat mengerti dunia desain. Wahh, klien web saya..lumayan habis dikritisi konsep dummynya. Agak berdebar juga bekerja sama dengan klien gas ini, secara doi tau betul dunia copy writer. Untung saja di awal saya sudah memperkenalkan diri sebagai jurnalis, jadi doi bisa langsung menilai seberapa jauh kapabilitas saya. Dan, memang doi di akhir wawancara saya, doi langsung bilang, "beda ya seorang copy writer dan seorang jurnalis itu". Kalau copy writer kerjanya banyak ngopi dan ngeroko," diam trus jadi deh," hahhaha.." katanya. Saya menanggapi," Ya Pak, kalau jurnalis, banyak menggali hal-hal detil untuk mencari sisi menarik dan karakteristik dari suatu obyek.." Doi mengangguk-angguk. 

Rupanya, hasil penggalian saya juga kurang sesuai harapan. Doi tidak mau ditulis secara detil dan gamblang dalam company profilenya. Ia ingin ditulis yang umum-umum saja. Membuat saya jadi bingung. Karena yang saya pahami, untuk service atau produk yang akan dijual setidaknya harus jelas. Nah,,,ini doi malah ga mau didetilkan. "Pokoknya tulis aja melayani banyak hal di bidang energi, Tidak perlu dirinci apa saja."begitu katanya.

Perusahaannya memang baru seumur jagung. Baru didirikan tahun 2012 dan 2013. Mungkin kliennya belum banyak juga. Tapi doi mengaku sudah mengenal dunia bisnis gas sudah lama banget. Hhehe rupanya bapaknya doi seorang konsultan gas. Sejak kecil malah doi mengakui sudah mengenal gas dari melihat bagaimana bapaknya bekerja. Ya iyalah... Whatever, yang jelas, saya bingung menulisnya. Jawabannya umum banget. Saya terus pancing, dia memaparkan detilnya, tapi nggak mau ditulis terperinci alias disebutin apa aja service dan produknya. Bingungkan ...Udah gitu, doi belum memiliki company profile atau sumber-sumber tertulis yang bisa jadi bahan. Minimal service-nya aja deh. Welehh..apa yang mau ditranslate kalau gini. Padahal udah bilang ke translator bakal ada 10 halaman.

Akhirnya semalaman suntuk saya membuat skrip in english langsung. Saya browshing ke segala website perusahaan gas. Mencari kata-kata yang familiar di dunia natural gas sekaligus Mencocokkan "apa yang klien mau". Alhamdulillah kelar satu perusahaan. Perusahaan satunya lagi, masih dikerjakan. Tapi meski dah kelar satu, masih harap-harap cemas, klien setuju atau tidak. Semoga aja nggak ada masalah yang krusiallah alias ga banyak diobrak-abrik lagi. Ya..beginilah sisi dari pekerjaan writerpreneur..





CariCommunity, Menciptakan Mainstream Baru Berjejaring Sosial

Hai Sobat ! Ada kabar menggembirakan nih khususnya bagi kamu yang senang berjejaring sosial. Kini telah hadir CariCommunity.com. Fitur-fitur dan benefit yang ditawarkan CariCommunity  berbeda dari mainstream yang ada seperti facebook, twitter bahkan forum-forum online semacam kaskus, viva forum, kompas forum dan sebagainya. Yang pasti, kamu akan semakin diuntungkan, baik dari sisi jaringan maupun finansial. Penasaran ? simak terus ya..

  

 

CariCommunity lahir dari kebutuhan riel komunitas


Seperti kita tahu ya, internet di Indonesia makin lama makin murah dan cepat. Apalagi teknologi gadget tak mau kalah, makin canggih dan banyak tersedia di pasaran. Tinggal disesuaikan saja dengan isi dompet. Dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah ada. Dan,  sebagian besar telah berfitur sosial media. Makanya tak heran, banyak orang berseloroh “mati gaya” kalau sehari saja tidak ber-online-online ria ;).

Merujuk catatan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia angkanya terus menanjak.  Sampai akhir tahun 2013 sudah mencapai 71,19 juta pengguna atau 28 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Angka tersebut naik 13 persen dibanding  akhir tahun 2012 yang bertengger pada 63 juta orang.

Tak pelak, dunia internet atau sosial media menjadi sasaran empuk pebisnis yang sigap menangkap peluang. Coba aja dilihat fenomenanya pada beranda facebook kamu.  Sekarang banyak bersileweran fanpage dari berbagai perusahaan. Bahkan, wall-wall teman facebookmu pun “mendadak jualan”. Mudahnya orang berjejaring sosial memang membuka saluran cukup efektif bagi UKM-UKM untuk berkembang dan lebih mengenali selera pasar secara lebih dekat. Tak hanya itu, social media juga menjadi lahan potensial untuk wahana pencitraan caleg dan parpol serta berbagai kepentingan lainnya.

Seiring dengan itu, karena luasnya jaringan pertemanan, kini banyak bertumbuhan grub-grub yang dibangun atas dasar keinginan dan kebutuhan bersama. Kamu yang suka bercocok tanam, tinggal cari komunitas berkebun, komunitas pertanian organik dan sebagainya. Yang suka bersepeda, ada banyak komunitas yang senang melakukan touring bersama, penyuka mainan dan games pun mudah mencari salurannya, sampai komunitas emak-emak yang ingin memiliki anak juga ada. Komplit. Bahkan dari grub-grub yang dibuat tertutup dan terbuka melalui jejaring sosial, kamu bisa berdiskusi bebas..  Tak puas lewat facebook dan twiiter, kini komunitas pun banyak merayapi forum-forum diskusi online, seperti kaskus, viva forum, kompas forum dan sebagainya.

Gairah berkomunitas ini diprediksi Wun Fie Loa dan Andi Sjamsu, founder CariCommunity  trennya akan terus menaik. Dunia menjadi makin terspesialisasi. Disinilah mereka melihat banyak  celah yang belum tergarap maksimal untuk mengakomodir dinamika komunitas yang terus bertumbuhan, sehingga lahirlah CariCommunity yang sungguh berbeda dari mainstream. Pengalaman keduanya dalam meretaskan dan memimpin berbagai komunitas memberikan acuan solutif tentang bagaimana komunitas di era maya bisa berkembang sinergis dan mendunia.

CariCommunity Fokus Membidik Komunitas


Jika jejaring sosial yang ada  rata-rata membidik sasaran perorangan atau kebutuhan individu, CariCommunity sebaliknya, fokus meng-grap pasar komunitas atau kegiatan berkelompok. Ia memfasilitasi komunitas untuk saling berkomunikasi dan berkoordinasi dengan mudah dan efektif, serta membuka peluang besar untuk berkembang  lebih optimal lintas negara.

Cara bergabungnya dirancang semudah mungkin dan sederhana. Sehingga bagi kamu yang baru ingin menerjuni dunia jejaring sosial, bisa langsung tune in. Fitur-fitur dalam CariCommunity juga mudah diaplikasikan. Kamu tidak perlu harus menggunakan facebook atau twitter untuk mengakses CariCommunity. Tinggal daftar aja mengikuti petunjuk yang tertera yang kemudian akan dikonfirmasi melalui email beberapa saat setelah mendaftar.

Ini halaman dashboard kamu. Tinggal diisi deh menu-menu yang tertera di dana.

Begitu meng-klik link tautan yang dikirim ke email, kamu akan langsung dihadapkan pada  dashboard. Di sana terdapat berbagai menu yang berhubungan dengan kegiatan komunitas. Nah, tinggal  buat deh profil kamu atau mendaftarkan komunitasmu di sini. CariCommunity telah menyiapkan fitur khusus bagi yang ingin mendaftarkan anggota komunitasnya secara massal. Kamu hanya perlu  menyiapkan  nama dan alamat email masing-masing anggota. Selain itu, kamu yang suka bikin komunitas, bisa membangun komunitas lebih beragam melalui  CariCommunity. Tentu  komunitas yang sesuai dengan minat, hobi dan kebutuhan kamu ya. 

Bagi yang sedang berbisnis, sangat dianjurkan mendaftarkan dalam direktori yang tersedia. Pada dasboard   tercantum fitur business and service. Cukup daftarkan saja bisnis dan penawaran jasa kamu di sini ya. Siapa tahu ada yang kebetulan sedang mencari jasa atau produk yang kamu tawarkan, deal deh. Wahh keren ya.  Kalian tidak perlu susah lagi membangun jaringan dan relasi.

Ini halaman bisnis saya yang saya masukkan dalam dasboard Business and Service juga ter-link di Direktori

CariCommunity Menguntungkan Anggotanya

Nah, ini benefit yang benar-benar melawan mainstream jejaring sosial saat ini. Apa pasal ? Menurut Andi Sjamsu, pendiri CariCommunity seperti dikutip dalam Swa, orang banyak menggunakan jejaring sosial untuk berbagai kepentingan karena gratisnya. Tetapi, padahal yang tampak gratis ini, kata Andi, sesungguhnya hanya memperkaya orang lain. “Kami pikir kalau betul-betul kami mau membantu anggota kami, maka kami musti memberikan kembali kepada mereka,” tutur Andi dalam petikan wawancara dengan Swa.

Jadi, konsepnya adalah bagi hasil dengan komunitas pengguna, seiring dengan misi CariCommunity untuk membesarkan komunitas juga. Ukuran bagi hasil ini dihitung dari seberapa besar keaktifan grub dalam membesarkan dan menyukseskan CariCommunity. Fair kan ?

Bentuk revenue sharing-nya bermacam-macam, diantaranya komunitas akan mendapatkan 10 persen dari semua pendapatan iklan platform CariCommunity. Pendapatan iklan ini diperoleh dari beberapa penyedia jasa layanan iklan (ad engine companies) yang dihitung dari page view dan klik.

Dari 10 persen tersebut, 5 persen langsung diberikan kepada komunitas berdasarkan pageview yang diperoleh dari aktivitas bulanan anggota, dan 5 persennya lagi diberikan melalui sebuah dana bersama yang dialokasikan per wilayah geografis, yang dikalkulasi berdasarkan  keseluruhan aktivitas yang terjadi di wilayah tersebut. Supaya pageviewnya banyak, tentu aktivitas kamu melalui CariCommunity juga harus banyak alias aktif deh.

Di luar itu masih ada bonus  Grup 5 %, yaitu CariCommunity akan memberikan bonus ke komunitas sebagai bagi hasil pendapatan iklan yang diperoleh dari aktivitas komunitas di forum CariCommunity. Bonus tersebut diberikan langsung kepada bendahara komunitas untuk kepentingan komunitas juga. Contohnya, dari forum suatu komunitas di CariCommunity terkumpul pendapatan Rp-sekian, nah pendapatan ini langsung diberikan kepada komunitas tersebut.

Tentunya untuk memperoleh pendapat Grub 5 % ini, komunitas tersebut harus aktif dan ramai. Seperti kontinyu meng-update news, berkomentar atas news yang diupdate, social sharing ke situs-situs lain seperti facebook, twitter, instagram, Pinterest dan sebagainya. Dengan makin ramai artinya semakin besar pula eksposur iklan dan jumlah klik terhadap iklan yang ada di sana.

CariCommunity juga mengalokasikan dana untuk program Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar 5 persen atau yang dinamakan ‘Regional 5%. Program CSR Regional 5% ini diberikan kepada komunitas yang terdaftar pada CariCommunity, jika mereka melaksanakan aktivitas sosial atau CSR. Jadi, pabila suatu komunitas akan menyelenggarakan kegiatan sosial seperti konser amal, bisa mengajukan proposal kegiatan ke pihak CariCommunity. Dana ini disiapkan per regional daerah atau provinsi.

 Syarat proposal disetujui juga tidak susah kok, seperti proposal kegiatan pada umumnya yang menjelaskan banyaknya dana yang diperlukan dalam suatu kegiatan, waktu kegiatan dan aktivitasnya, bagaimana kegiatan tersebut dipromosikan serta ukuran kesuksesannya. Wahh, dengan gabung di CariCommunity, dijamin kamu bakal tambah gaul dan untung. Gabung yuk !

Daster Batik Sambungan


Ibu Maryam, pembuat daster batik sambungan memulai usahanya sejak tahun 1990-an di daerah Kemanggisan Palmerah, Jakarta Barat. Awalnya, ibu empat anak ini adalah seorang penjahit konveksi. Semula, helai demi helai kain batik potongan daster konveksi banyak dibuangnya. Makin hari limbah batik terus menumpuk di rumahnya. Apalagi jika petugas kebersihan terlambat datang.

Untuk mengurangi sampah, potongan bekas kain batik kerap digunakannya untuk lap-lap debu, kain pel atau sapu tangan. Ketika menyambung helai demi helai kain itu, perempuan kelahiran Purworejo 60 tahun silam ini kepikiran untuk menyulapnya menjadi sesuatu yang lebih berguna. Mulailah ia kumpulkan dengan telaten potongan kain sesuai dengan warna dan motifnya. Ia buat taplak meja, penutup TV, rok, hingga daster anak dan dewasa.

Ibu Maryam bukanlah lulusan kursus menjahit. Keahlian menjahit daster dipelajari secara otodidak. Bukan suatu kebetulan, di lingkungan rumahnya banyak berdiri konveksi aneka batik. Inilah peluang untuk mendapatkan penghasilan..begitu suara hatinya.

 Bermodal tekad kuat untuk membantu perekonomian suaminya, akhirnya ia dipercaya oleh salah satu pengusaha konveksi sebagai tenaga penjahitnya selama beberapa tahun. Hingga ia pun berkreasi membuat daster dari sisa potongan daster konveksi. Dulu, konveksi memang tidak memotong tepat sesuai pola.  Pejahit dituntut kreatif mengkreasikan dan memantaskan model daster dengan memotong sendiri.

Tak disangkanya juga, ia berhasil mengkreasikan potongan-potongan yang tidak terpakai itu menjadi sebuah daster cantik yang bisa dipakai sendiri dan anak-anaknya.  Maklum, perekonomian keluarganya kala itu belum begitu mampu untuk banyak membeli pakaian. Untuk memenuhi kebutuhan pokok saja masih kembang-kempis.

Hampir setiap hari, anak dan ibu Maryam memakai daster sambungan itu.  Rupanya tetangga banyak juga yang tertarik. Ia pun tak perhitungan. Jika ada yang berminat,  dengan senang hati diberi. Bahkan, setiap saudara yang bersilaturahmi ke rumahnya, selalu diberikan oleh-oleh daster. Ada beberapa tetangga yang merasa tidak enak dibagi, membeli dengan harga se-ikhlasnya.  Hingga timbul ide untuk "membisniskannya" sebagai penghasilan tambahan. Upah menjahit konveksi tidaklah membuat  hidup layak kala itu. Sekodi yang berisi 20 daster, upahnya hanya Rp 2.500. Belum lagi,  konveksi yang mempekerjakan Ibu Maryam kerap telat membayar gajian.Hmmm



Satu demi satu daster sambungan dikumpulkannya. Ia tawarkan kepada tetangga terdekat atau siapa saja yang ingin menjualnya kembali. Dari segi harga memang lebih murah dibanding daster batik utuh sehingga banyak yang tertarik.  Atas dorongan suami, Ibu Maryam memperkenalkan daster sambungannya ke sejumlah pasar di Jakarta, diantaranya Tanaabang, Palmerah, Kopro, Slipi, Kebayoran Lama, Jatinegara, dan Kramat Jati. Alhamdulillah, disambut antusias penjual di pasar. Ibu Maryam bekerja sangat giat. Usai menyelesaikan jahitan konveksinya, ia segera beralih membuat daster sambungan. Cukup melelahkan juga. Namun, setelah dirasa penghasilannya lebih baik dibanding hanya sebagai penjahit konveksi, ia  berhenti.

Ia membeli kain-kain batik sisa potongan daster dari sejumlah pengusaha konveksi yang ada di sekitar rumahnya. Pengusaha konveksi batik tempat ia bekerja sempat heran dan tidak percaya, kain sisa potongan bisa disulap menjadi daster batik. Sehingga kain-kain sisa itu  mereka berikan cuma-cuma bagi siapa saja yang meminta. Namun, karena dilihat menghasilkan, mereka tergoda juga untuk ikut membisniskannya heheh

Ide mengkreasikan potongan kain menjadi daster ini juga menginspirasi sejumlah penjahit. Mereka banyak  yang ikut membuat daster sekedar untuk dipakai sendiri. Kalangan pengusaha batik akhirnya  mulai menertibkan potongan dan hanya memotong dengan ukuran pas. Sisa potongan itu akhirnya mereka jual kepada penjahit yang berminat sampai sekarang ini. Dari segi harga, potongan kain yang sejatinya adalah sisa, dijual cukup mahal. Jadi, Ibu Maryam harus extra memberikan layanan yang memuaskan dengan menyambungnya dengan jahitan halus, diobras, dan dibentuk dengan model yang unik. Daster sambungan memang menciptakan motif tersendiri yang berbeda dengan batik utuh. Alhamdulillah, rejeki memang sudah diatur Allah SWT, dan jalan rejeki Ibu Maryam sampai saat ini masih melalui usaha jahitan daster batik sambungan. Dari usaha jahitan inilah, ia berhasil menguliahkan anak-anaknya hingga sarjana.


Kini, Ibu Maryam tinggal bersama anak pertamanya di Perumahan Griya Alam Sentosa Blok X 23/1 Cileungsi. Sambil menemani dua orang cucunya, nenek dengan empat cucu ini tetap meneruskan usaha jahitannya. Hanya berbeda pemasarannya saja. Tidak ke pasar-pasar karena produksi yang tidak banyak.  Sulit sekali menemukan penjahit yang bisa membuat daster sambungan sehingga Ibu Maryam membuatnya sendiri. Meski begitu Alhamdulillah, dari kreasinya, Ibu Maryam  telah memberikan penghasilan tambahan bagi ibu-ibu rumah tangga yang menjadi penjualnya, termasuk tetangganya yang ikut membantu mengobras.


Kisah ini diambil dari catatan Fanspage Daster Batik Sambungan