Jual Daster Batik

Jual Daster Batik
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Ketika Anak Mulai Memahami Politik

Hingar bingar politik di tanah air memang cukup menyita perhatian. Tak hanya orang dewasa yang “sadar” politik, sekaligus juga anak-anak turut merasakan kegairahan berpolitik. Anakku salah satunya  : Meili (9 tahun) dan Barra (3,5 tahun). Keduanya sampai hapal dengan lagu-lagu kampanye pasangan Wiranto-Hari Tanu yang berjudul Indonesia Jaya karena keseringan tampil di televisi. Tokoh Prabowo dan Wiranto  sudah dihapal mereka. Begitu pun Jokowi yang merupakan pilihan presiden orang tuanya 

Meilia termasuk anak yang kritis. Apapun yang sekiranya mengganjal di hatinya selalu ditanya. Termasuk menanyakan tentang mengapa mamanya pilih Jokowi. Sedangkan, teman-teman di sekolahnya (kelas 3 SD)  selalu menegatifkan Jokowi. Pria asal Solo itu dituduh Cina, kafir, punya banyak preman dan sebagainya. Pertanyaan ini aktif ditanyakan menjelang pileg Maret-April lalu. Aku kaget juga mendengarnya. Anak-anak ternyata tahu juga tentang politik. Dan, tak habis dibayangkan, fitnah dan tuduhan terhadap Jokowi sudah sampai menempel di benak anak-anak kelas 3 SD.

Menurut cerita Meili, teman-temannya sering saling "bergosip politik" menanyakan presiden mana yang dipilih. Meili mengaku sangat bingung. Kenapa Mamanya pilih pemimpin yang kafir dan ia tak menyangka ternyata Jokowi seorang Cina. Aku ingat sekali waktu ramai-ramainya pileg, Meili  tak berhenti menuntutku menjelaskan tentang Joko Widodo. Setiap ada berita Jokowi, aku yang bersamanya melihat berita, langsung diberondong pertanyaan. Emosiku sempat naik juga dengan tuduhan itu karena aku tahu Jokowi tidak seperti itu. Aku tanya ke Meili, dari mana teman-temannya bisa tahu Jokowi itu Cina, Kafir, Apakah dari guru di sekolahnya..Meili menggeleng. Guru di sekolahnya tak pernah menjelaskan tentang politik. Teman-temannya kebanyakan mengetahui tentang Jokowi dari guru ngaji di TPA, ada juga yang tahu dari orang tuanya.Hmm..

 Jadilah hari itu aku jelaskan detil tentang alasan orang tuanya memilih Jokowi. Aku juga tunjukkan beberapa foto Jokowi ke Mekah, mencium tangan ibunya, memperlihatkan bukti-bukti prestasi Jokowi membangun Jakarta dengan menunjukkan Pasar Tanaabang, Waduk Pluit, Kartu Jakarta Sehat sampai pengemis dan topeng monyet.  Untungnya aku masih menyimpan Majalah Venue--media tempat aku pernah bekerja selama 5 tahun—menulis tentang Jokowi mengalokasi pedagang kaki lima, membangun taman-taman di Solo, peduli dengan pasar tradisional dan sebagainya. Aku perlihatkan foto-foto di majalah tersebut.



 Setiap kali kami silaturahmi ke Jakarta, dalam perjalanan aku selalu menjelaskan keberhasilan Jokowi membuat taman-taman kota dan menyamankan pejalan kaki.  Meili melihat langsung  trotoar yang diperlebar dan dipercantik, kursi-kursi taman di sepanjang trotoar, tidak ada rumah-rumah kardus di kolong jembatan di Palmerah dan hampir sepanjang perjalanan dari Cileungsi ke Jakarta, kami tidak menemukan pengemis yang biasanya marak di perempatan jalan dan lampu merah. Intinya aku perlihatkan sejumlah bukti "kerja nyata" Jokowi untuk DKI yang bisa ditangkap Meili. Aku ingin, dia melihat langsung bagaimana seharusnya seorang pemimpin bekerja untuk rakyatnya. Dan, mengapa orang tuanya begitu berharap Jokowi bisa menjadi presiden Indonesia. 

Huff..letih juga sih  menjelaskan panjang lebar saat perjalanan karena  Meili selalu merespon balik dengan komentar-komentar polosnya. Salah satunya ia mengomentari pengendara motor nyelonong masuk ke jalur busway di depan matanya. "Ma..itu ada motor jalan di jalur busway..Bukannya dilarang ya mah..ada dendanya 500 ribu," ujarnya polos. Hapal juga dia, nggak nyangka juga. Aku jabab :"Yaa didenda Meili kalau ketahuan polisi. Orang kita kebanyakan suka melanggar peraturan, susah disiplinnya. Makanya bangsa kita nggak maju-maju. Meili jangan gitu ya. Ada nggak ada polisi tetap taat peraturan. Kalau dilanggar, yang rugi juga kita sendiri, seperti kecelakaan. Memang lebih cepat tetapi berbahaya," jawabku.

Alhamdulillah dengan penjelasanku yang agak gamblang tentang Jokowi,  anakku bisa mengerti dan mampu memberikan penilaian tersendiri terhadap teman-temannya yang memiliki pendapat bersebrangan. Selain itu,  aku pun tak ingin anakku jadi “tukang fitnah” dan “tukang mencela”, sehingga aku berupaya menjelaskan sebijak mungkin tentang sosok Prabowo bahwa dia seorang militer yang berprestasi, pelatih pasukan kebanggaan negeri ini, dan dia juga seorang anak begawan ekonomi, Soemitro Djoyohadikoesoemo. "Kalau Prabowo bagus, kenapa Mama ga pilih Prabowo ? tanyanya. " Hmm karena di hati Mama Jokowi yang cocok memimpin negeri ini. Kan harus sesuai hati nurani," jawabku.

 Memang semula aku berfikir terlalu dini menurutku anak paham soal politik yang notabene konsumsi orang dewasa. Namun, mengingat masifnya iklan capres  dan tayangan politik hampir di sebagian besar di TV, mengundang ketertarikan anak yg “peduli”.

Dengan pengetahuan cukup, Meili berkembang menjadi anak yang “berani berbeda” dari kebanyakan  teman-teman di kelasnya. Dia bisa berdebat dan mencoba meluruskan sesuai yang diketahui Mamanya. "Udah aku jelasin Mah, tetapi tetap aja teman Meili ga percaya..Ya udah Meili diam aja."ujarnya. Dia mengaku, hanya dia dan seorang temannya yang memilih Jokowi. "Cuma aku sama Darin mah yang milih Jokowi," sungutnya. (Belakangan ketika pilpres ia mengaku kalau sebagian guru di sekolahnya banyak memakai atribut bergambar Prabowo-Hatta seperti kaos, topi ber-pin). "Ya udah jangan ribut ya. Biarlah Allah yang Maha Menilai. Yang penting Meili nggak percaya sama mereka ya," terangku. "Yalah Meili ga percaya. Orang Meili liat sendiri di foto FB Mama Jokowi pergi haji dan cium tangan ibunya yang bukan Cina," timpalnya. Aku tersenyum, syukurlah ia tidak mudah terbawa arus kebanyakan.


Aku akui, pemikiran Meili memang sudah di depan. Bisa dibilang seperti ‘orang tua”. Ini diamini pula oleh guru-gurunya di TK dan SD. Meili kalau sudah nanya dan belum menemukan jawaban yang memuaskan, pasti tak berhenti bertanya. Tak hanya persoalan tentang dunia anak-anak saja, tetapi juga kesehatan, artis, politik bahkan persoalan di negeri ini selau ditanyakan ke aku.  Beberapa waktu lalu ramai di TV disiarkan tentang Ahmad Fathonah yang digiring-giring polisi. Dia langsung minta penjelasan kepadaku arti korupsi dan mengapa bertentangan dengan hukum. Wahh, aku pun harus mencari-cari cara menjelaskan yang sesuai  logikanya dengan berbagai analogi yang bisa diterima akalnya. Aku jelaskan intinya, korupsi itu  "mengambil uang/barang yang bukan miliknya dengan cari "melebihkan" anggaran. Aku contohkan, Meili disuruh mama beli garam. Harga aslinya garam Rp 1000, ternyata Meili bilang Rp 2000 ke Mama.. Nah yang dilebihkan Rp1000 itu masuk ke kantong Meili, Itu adalah korupsi Meili. Lantas bagaimana dengan negara. Uang negara jadi abis karena diambilin koruptor dengan cara seperti itu.  Dia mengangguk-ngangguk. Kemudian nyeletuk lagi “ Ahmad itu kan nama kecil Nabi Muhammad, dan Fathonah sifat rosul yaitu cerdas. Kok namanya bagus, kelakuannya jelek ya Mah..”  Aduhh lagi-lagi aku tarik nafas nih..rada bingung menjelaskannya.

Begitu pun ketika kasus Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah ber-jas tahanan KPK, Meili langsung komentar : “Kok ibu itu berkerudung, korupsi juga..” Hmmm beginilah  realitas yang terjadi di mata anak-anak. "Berkerudung kan hanya pakaiannya saja Meili. Perilakunya masih belum sesuai. Meili jangan begitu ya..Malu sebagai orang Islam !" ujarku agak miris juga ketika anak melihat kenyataan dan kontradiksi.

Meili memang tidak seperti anak kebanyakan. Dia suka menonton berita. Bak seorang guru, biasanya ketika nonton bareng mbahnya, Meili pasti “menerjemahkan”kembali pesan-pesan yang disampaikan penyiar. Hehehe menyangka mbahnya tidak mengerti (padahal mengerti). Debat kecil sering kudengar antara Meili dan Mbahnya dalam membahas suatu kasus.

Soal kepemimpinan non muslim tak luput dari keingintahuan Meili. Waktu itu dia masih mengaji di TPA. Guru ngajinya pernah bilang, umat Islam tidak boleh memilih pemimpin  non Islam. Guru itu mencontohkan tentang DKI yang dilanda banjir besar dan lama beberapa waktu lalu disebabkan “hukuman Allah” karena umat Islam telah memilih pemimpin yang tidak jelas agamanya dan  wakilnya non muslim pula. ..”Orang kafir-kristen masuk neraka” katanya menirukan ucapan gurunya. Hmm aku menarik nafas panjang. Melihat anak-anaku tumbuh dan berkembang, aku bersyukur pada Allah diberikan rezeki yang cukup sehingga bisa risain dari kantor dan bekerja di rumah. Hal-hal seperti inilah anak-anak butuh dampingan dan penjelasan berimbang. Sejak awal 2013 aku risain, Meili memang memberiku PR yang lumayan menantang.

Soal pemimpin non muslim dengan contoh Ahok, pelan-pelan aku jelaskan dari sisi nilai-nilai kemanusiaan. Aku bukan ahli tafsir Quran, dan pemahaaman agamaku juga sangat sedikit. Biasanya aku bertanya pada guru ngaji mingguanku. Alhamdulillah, aku punya guru ngaji yang bijaksana dan berpandangan terbuka. Beliau bilang, ‘Selama tujuannya muamalah dan tidak memusuhi Islam. Bahkan memang, orangnya baik dan terbukti amanah, apa yang harus dikhawatirkan. Kita hanya tidak boleh bekerja sama dalam urusan ibadah. Selain itu silahkan, kita bisa berteman dan bersahabat,”begitu penjelasan Ustazah Eti Nasrun, salah satu ustazah yang lumayan disegani di Perumahan Griya Alam Sentosa. Aku juga mengambil dari beberapa referensi. Salah satunya dari http://politik.kompasiana.com/2012/09/12/al-quran-membolehkan-pilih-pemimpin-non-muslim-492673.html

Dari artikel tersebut, aku tukilkan :
Syaikh Qaradhawi yang juga Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional, membagi orang Kafir atau Non-Muslim menjadi dua golongan :
 Pertama, yaitu golongan yang berdamai dengan orang-orang Islam, tidak memerangi dan mengusir mereka dari negeri mereka. Terhadap golongan ini, umat Islam harus berbuat baik dan berbuat adil. Di antaranya memberikan hak-hak politik sebagai warga Negara, yang sama dengan warga Negara lainnya, sehingga mereka tidak merasa terasingkan sebagai sesama anak Ibu Pertiwi.
Sedangkan golongan kedua, adalah golongan yang memusuhi dan memerangi umat Islam, seperti orang-orang Non-Muslim Mekah pada masa permulaan Islam yang sering menindas, menyiksa dan mencelakakan umat Islam. Terhadap golongan ini, umat Islam diharamkan mengangkat mereka sebagai pemimpin atau teman setia.

Pendapat Syaikh Qaradhawi ini didasarkan pada Surat Al-Mumtahanah : 8, yang terjemahnya sebagai berikut:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Meili tak lama mengaji di TPA ini. Alasannya bukan karena aku yang jujur sudah mulai agak khawatir, dengan doktrinisasi.  Tetapi lebih ke soal waktu. Sejak kelas 3, dia berangkat ke sekolah  pukul 6:30 dan pulang pukul 15:00 Wib.  Istirahat sebentar untuk makan dan mandi. Pukul 16:00 sudah harus berangkat lagi mengaji. Sebelumnya ia mengaji di TPA lain ba’da Maghrib. Namun karena tergoda dengan ajakan teman sekelasnya untuk ngaji bareng di TPA lain, aku pun tak kuasa menolak keinginan tersebut. Apalagi TPA yang baru ini cukup banyak anak sehingga Meili bisa lebih banyak bergaul. Anakku termasuk kurang pergaulan. DI TPA yang sebelumnya, hanya beberapa gelintir anak saja yang mengaji. Waktunya juga terbatas. Jadi, biarlah menurutku dia pindah.

Sudah hampir setengah tahun Meili tidak mengaji di luar. Ba’da Maghrib aku mengajarinya mengaji dan hapalan hehehe sekalian menghapal bareng surat-surat Juz Amma. Saat-saat inilah biasanya dia bercerita banyak tentang kehidupan sekolahnya dan teman-teman bermainnya. Usai mengaji, istirahat sebentar baru kemudian belajar sampai pukul 21:00 wib.  Tidak rutin juga. Kadang ada bolongnya, kalo aku ada meeting di luar hingga pulang larut malam. Atau aku yang letih suka tidur setelah Isya. Memang butuh energi ekstra mengajari anak.

Dengan adanya internet sangat membantuku ketika mengajari anak, jadi lebih mudah, langsung dihadapkan dengan contoh-contoh visual. Meili termasuk anak yang tidak suka membaca. Jadi sepenuhnya pengetahuan diperoleh dari mendengarkan penjelasan orang lain. Lucunya, setiap pengetahuan yang didapat dari aku pasti langsung ditransfernya ke mbahnya hehhe..Barra, adiknya (3 thn) juga suka menjadi obyek ceritanya. Bahkan tak jarang aku mendengar ketika bermain dengan teman-temannya Meili kerap menceritakan kembali hal-hal baru yang diketahui dari aku. Diantaranya tentang makamnya nabi Muhammad yang dia lihat di internet. Tentang jejak kapal Nabi Nuh, peristiwa keajaiban haji, misteri Candi Borubuddur dan sebagainya. Meili tipikal anak yang verbal kendati  pendiam juga. Semoga Mama tetap sehat ya Meili. Biar bisa terus mendampingimu dalam menemukan jati dirimu. Aamiin.



Anda Fanatis Jokowi ya ?



Hhahaa..ketawa dulu nih pembukaannya. Jujur, banyak sekali pertanyaannya ini ditujukan sejumlah teman yang langsung menuduh saya fanatis dan pemuja Jokowi, lantaran status FB saya sejak Pak Jokowi jadi Cagub DKI sampai sekarang menjelang pilpres mendukung beliau. Memang salah, saya  mendukung Jokowi, lantas serta merta dibilang fanatis ? hehe ketawain aja deh.

Saya punya alasan sendiri mengapa memilih Jokowi jadi Gubernur DKI dan sekarang untuk menjadi presiden. Alasannya, karena jauh sebelum media mempopulerkan Jokowi, saya sudah mengetahui bagaimana kinerja beliau. Subhanallah, orang ini ditakdirkan di bumi Indonesia, dan dihadirkan pada saat yang tepat, krisis kepemimpinan dan moralitas pemimpin bangsa, khususnya.

Waktu itu tahun 2008, saya mengawali karir jurnalistik kembali, setelah 4 tahun tidak berkecimpung di dunia media. Hanya ini majalahnya tentang pariwisata, event, dan industri hospitality atau bekennya sekarang dengan istilah MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition/Event), VENUE namanya. Ga kenal ya ? heheh ya memang segmented banget sih. VENUE ditujukan  bagi mereka yang ingin terjun di dunia event, dan pemerintah daerah yang ingin maju di dunia pariwisata. Dulu belum ada saingannya. Istilah MICE juga masih baru banget. Direktorat MICE-nya  baru dibentuk tahun 2007, selang beberapa bulan dari majalah kami. Menciptakan mainstream baru tentang industri event. Ownernya  Dyandra pula yang notabene penyelenggara event terbesar di tanah air. 

Jadi, ini semacam majalah referensi MICE di tanah air, referensi bagaimana seharusnya pariwisata dikembangkan. Tujuannya, dunia pariwisata dan event bisa menjadi salah satu alternatif pendapatan negara selain dari sektor migas, pertanian, dan industri makro lainnya. Acuannya MICE bisa menjadi sumber utama pendapatan negara, bisa dilihat dari kisah sukses Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan kini Vietnam yang mulai unjuk gigi di bidang pariwisata dan MICE. Negara-negara ini demikian maju perekonomiannya dari kontribusi industri event (MICE) dan pariwisata.

Majalah kami terbit bulanan. Pada bulan September 2008, seperti biasa kami merencanakan meeting redaksi. Karena ini menyangkut event, maka saya mengusulkan tentang event  konferensi di Solo yaitu Konferensi Internasional Kota-kota Warisan Dunia (World Heritage Cities Conference and Expo/WHCEE) pada 25-30 Oktober 2008 (kalau nggak salah, ada teman juga yang punya usulan sama). Event ini benar-benar membalalakkan mata dunia bahwa kota seluas 44,03 km2 itu berani menjadi tuan rumah acara bergengsi. Orang luar tahunya Yogyakarta. Solo ? hmmm ada di sebelah mana ?

Rupanya Solo telah menjadi bagian dari perkumpulan negara-negara yang memiliki warisan heritage. Daerah-daerah lain belum ada. Pak Walikotanya waktu itu Jokowi, inisiatif  mengangkat Solo ke dunia internasional. Membangun Solo dari sektor pariwisata. Mengingat dari sisi pertanian dan sumber daya alam, Solo tidak begitu kaya dibanding daerah lain. Huff, tentu saja gebrakan Jokowi dengan mengharumkan Solo sebagai destinasi yang harus diperhitungkan di tanah air, membuat Yogyakarta yang udah seattled ketar-ketir.

Ada apa dengan Solo sebegitu berani ? Siapa Jokowi yang dibilang nekat tidak ada modal, tetapi sangat berani memboyong sekitar 1.000 delegasi yang terdiri dari para walikota se-Asia Pasifik, negara anggota United Cities and Local Government (UCLG) Euro-Asia ke Solo. Saingannya berat. Solo harus berhadapan dengan Rusia, Austria, Korea Selatan, dan Pakistan. Mau bayar pake apa ?

Kebetulan waktu itu Pemred Majalah Venue, Bapak Bambang Bujono adalah orang Solo. Heheh lumayan kesamber juga emosional kedaerahannya. Serta merta beliau langsung mengangkat usulan ini menjadi laporan utama. Pada waktu itu yang turun langsung liputan adalah redpel dan fotografer. Saya hanya membuat hotel-hotelnya saja di bagian liputan itu. Dari penggalian yang mendalam, kami menemukan emas Si Jokowi itu. Benar-benar brilian idenya membangun Solo. Dia merangkul semua komponen masyarakat terkait untuk menyukseskan acara tersebut. Hotel-hotel dan travel saling berkontribusi. Pemerintah hanya mengeluarkan uang sedikit sekali. Pihak swasta bahu membahu menjadi tuan rumah yang baik, berstandar internasional dengan rasa Solo.

Bukan hanya itu, terkuaklah dia bagaimana memanusiakan pedagang kaki lima dengan mengajak pindah ke pasar sebagaimana mestinya, tanpa keributan. Mengangkat pasar-pasar tradisional, mengangkat para seniman, menata kota, mempercantik Bandara Adi Soemarmo, dan sebagainya. Selama dua periode beliau memimpin Solo dengan reputasi mengagumkan. Belum lagi, kesederhanaan beliau dan merakyat. Dia mencintai rakyatnya, dan rakyat Solo pun mencintainya. Subhanallah. 

Kami dua kali mengundang Pak Jokowi menjadi pembicara pada acara kami. Ide-idenya betul luar biasa, menginspirasi sejumlah daerah untuk berkembang seperti Solo. Semangat nasionalisme dan moralitas tinggi, ditunjukkan lewat  perbuatan dan perbuatan. Jujur, saya belum lihat ada orang menyamai Jokowi pada waktu itu. Beliau tidak protokeler. Jika diundang ke Jakarta,  hanya ditemani seorang asistennya. Tanpa pengawalan. Biasa sekali. Tidak ada mobil. Cuma naik taksi. Tidak minta macam-macam.

Majalah kami cukup sukses terserap pasar yang mengangkat tentang Jokowi ini. Bahkan majalah kami menjadi official magazine saat konferensi berlangsung. Hingga Kompas meliput, dan menyambung ke berbagai media. Sampai akhirnya PDIP melamarnya menjadi Gubernur. Excellent PDIP yang memang menurut saya tak begitu populer di kalangan pemilih terdidik, memilih Jokowi yang kemudian disandingkan dengan Ahok dari Gerindra. Mungkin ada maksud terselubung waktu itu, dengan suksesnya duet Jokowi-Ahok, otomatis akan melenggangkan Mega dan Prabowo nyapres lagi. Itu sinyalemen yang ditangkap oleh saya juga banyak orang.

Hhehe kondisi perpolitikan di tanah air berubah drastis. Bergairah maksimal hahahha. Eksotis sekali. Optimisme kencang bergemuruh. Terutama di hatiku. Karena dua tokoh ini luar biasa dedikasinya untuk bangsa. Cuma, seperti biasa ada pihak yang sensi tinggi lantaran Ahok adalah Cina dan Kristen. Wahhh betul-betul isu agama jadi makanan empuk untuk menyerang golongan nasionalis. Dan, Ahok seksi untuk  meniupkan isu tendensius. hehe seru.

Alhasil Jokowi-Ahok menang dengan dua kali penyaringan dalam pemilu. Benar-benar menggembirakan saya waktu itu. Selama 15 bulan Jokowi mimpin Jakarta, hufff luar biasa juga serangannya dari pihak yang masih sakit hati kalah pemilu. Jokowi dan Ahok juga makin kompak menertibkan, mendisiplinkan dan memecat pejabat-pejabat DKI yang tidak amanah. Jokowi dengan gaya blungsukkannya. Ahok dengan diplomasinya dari meja ke meja,  gerilya  membereskan aparatur pemerintah DKI. Romantis. 

Monorail yang sudah 20 tahun direncanakan, di jaman Jokowi baru direaliasasikan. Pasar Tanaabang yang terbilang keramat alias tak tersentuh penertiban..berhasil bersih dan indah di zaman Jokowi. Waduk-waduk dibersihkan bahkan waduk Pluit menjadi indah yang sepertinya tidak mungkin dibereskan dalam tempo singkat. Rusun-rusun dibangun. Penduduk yang tinggal di bantaran sungai berhasil dipindahkan ke rusun. Gorong-gorong di pusat kota diperdalam. Taman-taman dibangun, sampai masalah pengemis dan topeng monyet pun diurus..Jokowi rupanya tak hanya cinta rakyatnya, tetapi cinta binatang. Coba, bertahun-tahun topeng monyet ada, tidak ada yang berani menertibkan. Malah bisa dikatakan kita tidak ngeh (termasuk saya heheh yg suka dengan topeng monyet untuk menghibur anak saya). 

Harapan saya waktu itu Jokowi bisa meng-khatamkan menjadi gubernur DKI untuk membuktikan pada lawan-lawan politiknya duet Jokowi-Ahok berhasil membangun DKI dan menjadi prototipe keberhasilan Indonesia membangun kota. DKI adalah ibu kota negara, sepantasnya ditata dan dikelola menjadi kota berstandar internasional. Masalah banjir dan kemacetan yang masih menjadi masalah klasik di DKI, masih setengah jalan. Ditambah fenomena alam yang menunjukkan kelabilannya. Banjir terus menerus sehingga membuat orang-orang di bantaran sungai benar-benar lelah. Hehhe tapi tetap betah. 

Parpol lain sudah demikian agresif mencalonkan capres-capresnya. Ada yang memikat hati saya. Tapi langsung hilang ketika mengetahui dia berbuat tidak baik. Jujur. saya berniat golput. Tidak ada partai dan capres yang bisa saya percayai. Apalagi dengan parpol Islam yang saya percayai dulu...bikin mual outputnya.

Sampai pada akhirnya, PDIP sekonyong-konyong menaikkan Jokowi dari capresnya. Wahhh saya langsung  terperangah.. Ada rasa kecewa pada Jokowi yang mau saja dicalonkan. Padahal dia waktu itu sama sekali bilang : ga mikir, ga mikir, ga mikir...karena mau fokus benahi Jakarta. Tetapi, ya namanya politik, tentu PDIP punya kepentingan. Dan, harus diakui memang Jokowi seolah menjadi umpan untuk mendongkrak suara PDIP.  Dasar politik, banyak kepentingan. 

Namun kemudian, dibalik kepentingan-kepentingan PDIP, saya mencoba melihat sisi lain. Positifnya, dan idealisme saya sebagai warga negara yang miris melihat kondisi bangsa ini. Hingga akhirnya saya mantab memilih Jokowi menjadi capres. Bismillah.

Bukan main di sosial media dan media massa menyerang bapak kerempeng ini. Barisan pihak parpol non Islam (Parpol Islam juga banyak) menyerang dengan isu Jokowi tidak bisa dipercaya. Jokowi penuh pencitraan palsu, Jokowi Pembohong, Jokowi Maruk Kekuasaan, Jokowi Boneka PDIP,. Malah ada yang sampai ingin mempidanakan Jokowi karena tidak becus alias tidak selesai memimpin DKI. hhhaaaha

Barisan parpol Islam pun tak kalah seru. Apalagi kalau bukan isu agama dijadikan serangan. Ayat-ayat kafir keluar. Ayat-ayat munafik keluar. Belum lagi isu Jokowi adalah antek Yahudi. Wahh luar biasa hujatan demi hujatan bertubi menyerang Jokowi. Tetapi dasar Jokowi, dia sama sekali tidak menanggapi. Santai dia jawab dengan bijak : Ga usah direspon, rakyat sudah pintar. Ga usah dipikir berat-berat. Bagi yang senang silahkan, yang ngga juga silahkan..benar-benar orang ini sabar sekali.

Bagai memiliki energi besar, tak henti saya berstatus di FB, mengajak teman-teman yang menghujat untuk berfikir jernih, melihat dari hati, melihat bukti, dan sebagainya. huff melelahkan memang, tapi senang.

Teman-teman aktivis muslim pun mungkin terkaget-kaget dengan sikap politik saya. Mereka mulai sinis. hhehe mengklaim saya memuja dan fanatis. Saya sampai bingung, apakah kalau kita memilih itu dibilang fanatis dan memuja. Sepertinya logika bahasa sudah amburadul. Atau mungkin teman-teman tersebut tidak tahu istilah fanatis. Baiklah saya coba definisikan.

Fanatisme menurut Wikipedia dan sejumlah sumber lain adalah :

Fanatisme adalah suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatif, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah"

"Menurut definisinya, fanatisme biasanya tidak rasional atau keyakinan seseorang yang terlalu kuat dan kurang menggunakan akal budi sehingga tidak menerima faham yang lain dan bertujuan untuk mengejar sesuatu. Adanya fanatisme dapat menimbulkan perilaku agresi dan sekaligus memperkuat keadaan individu yang mengalami deindividuasi untuk lebih tidak terkontrol perilakunya"

Saya mencoba untuk bercermin, apakah benar saya memuja. Kalau memang benar, apa salah saya memuja orang baik kinerjanya, heheh ya saya juga gak mau minta-minta pembenaran. Negeri ini krisis pemimin yang baik. Giliran ada dan di depan mata, orang malah tidak bisa mengapresiasi. Kritik boleh, tetapi kalau dengan tuduhan yang nggak boten-boten seperti antek Yahudi dan lain-lain tanpa bukti valid. hehe jujur nggak laku kritikan model gini. Apalagi ada juga yang kritik, Jokowi tidak berhasil mengatasi macet dan banjir.

Lah, pake logika aja bro. Banjiir dan macet itu udah menjadi makanan di DKI bertahun-tahun. Memang, Jokowi-Ahok itu tukang sulap, dalam sekejab mengatasi banjir dan macet. Gubernur sebelumnya juga tidak becus mengatasi banjir. Tetapi tidak digugat..Apalagi di tengah Jokowi giat mengatasi macet ibu kota, ehhehh Indonesia diterjang kebijakan banjir mobil murah.. Hmmm benar-benar kontra produktif. Gubernur-gubernur DKI lainnya juga belum becus mengatasi banjir, malah mewariskan sistem akut pembuat banjir dan macet. Dan serta merta kesalahan itu dilimpahkan ke Jokowi-Ahok...aduhhhh..kasian banget orang-orang ini. Jokowi menyentujui cara menabur garam di langit untuk memindahkan hujan dari Jakarta ke daerah lain, dikritik habis-habisan dibilang menantang Tuhan.

Sekali lagi, saya tidak mengharamkan kritik. Kritiklah sebanyak-banyaklah yang membangun dan kondusif biar jadi kontrol bagi pemerintah DKI.  Sekarang masyarakat sudah cerdas, sudah bisa memilih dan menimbang terhadap isu-isu yang tidak jelas juntrungannya.

Lantas soal fanatis atau fanatik yang cenderung memiki definisi negatif berbuat kerusakan,  hmm rasanya saya jauh dari itu. Saya masih berfikir rasional. Melihat orang utuh antara kekurangan dan kelebihannya. Melihat Jokowi dari kelebihan dan kekurangannya.

Pada akhirnya saya ketawa lagi hahahah kok orang cetek banget mikirnya dan serta merta gampang mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat penggunaannya. Kalau memang tidak suka dengan Jokowi, mending kampanye tentang kesuksesan partai atau calonnya saja, nggak usah sampai menghujat tanpa bukti cukup apalagi bawa-bawa agama. Ini politik sobat..banyak intrik. Kalian mengobral hujatan, ehhh di atas sana nanti pada kompromi alias koalisi dengan parpol orag orang yang dihujat, Nah lohh...gimana tuh ? masa menjilat ludah sendiri..hahahah..Oke..selamat memilih sobats !





Maaf, Saya Tidak Setuju Dengan Partai Berbasis Agama


Sejak era reformasi digongkan oleh Amin Rais, proses "demokratisasi" di Indonesia memang berkembang dinamis. Bak, ayam keluar kandang, kicauan yang mengkritisi pemerintahan, tak berhenti berkokok. Ruang-ruang media melalap habis pemerintahan orba ala Soeharto, dan menaikkan sosok nasionalis religius Amien Rais. Mahasiwa pun dengan idealismenya "berjuang" untuk peletakan demokrasi yang dipersepsikan sebagai kebebasan berpendapat, kebebasan bersikap, dan berbuat untuk eksistensi sebuah negara itu. 

Sampai pada akhirnya, rezim orba berhasil digulingkan, dan DPR berganti dengan orang-orang baru,yang mungkin dulu hanya impian bisa duduk di senayan. Ada optimisme saya waktu itu melihat era reformasi bergulir, dengan indikasi duduknya "orang-orang baru" di senayan dan Jalan Merdeka. Rasanya keringat berdemo untuk menggulingkan rezim Soeharto dulu "terbayar' tempo hahaha belum lunas ya.

 Optimisme serta merta saya percayakan ke orang-orang di atas sana. Partai berbasis agama mendadak panen jamaah. Partai Islam tumbuh subur. Kalau dulu hanya ada satu  partai Islam yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), di era reformasi menjadi belasan partai. Masing-masing organisasi islam memiliki partainya sendiri. Sempat bingung masa itu. Terlebih saya berteman dengan mereka yang mengharamkan demokrasi dan memilih tidak berpartai. Masih teringat, mereka bilang, partai Islam yang mendadak eksis itu opurtunis dan sampai kapan pun tidak akan mencapai tujuannya. Malah bisa jadi, kelelep bersama sistem.

 Hmm..saya menarik nafas panjang. Ilmu saya yang baru mahasiswa kala itu  masih belum  mampu menganalisa dan memprediksi. Sejarah  mencatat, historis parpol Islam sewaktu pemilu 1955 juga tidak menunjukkan hasil signifikan. Yang menang, masih partai nasional-sekuler yaitu PNI.

 Beberapa kali saya didekati teman yang non partai itu. Ide mereka untuk Islam berjaya adalah khilafah. Waduhhh,.., konsep ini malah mengawang-ngawang. Lantaran saya tahu agama Islam secara intens baru di tingkat SMU. Saya aktif dalam kegiatan Rohani Islam. Banyak mendapat bimbingan dari kakak-kakak yang notabene  berbasis dari partai yang  saya pilih. Kemudian berlanjut di mahasiswa, saya  juga aktif di organisasi Islamnya. So, karena pendekatan relatif intens dan penjelasan yang mulai masuk nalar, bismillah saya memilih partai ini,  partai berbasis agama yang katanya paling pinter menyuarakan perubahan. Di tengah-tengah kebingungan juga, mentor saya waktu itu mengatakan, "kalau masih bingung, turutilah atau ikuti orang-orang soleh" Karena kebanyakan partai ini diisi oleh aktivis Islam dan ulama Bandung. 

Saya tergolong orang yang totalitas. Begitu saya percaya, saya akan konsisten dan berjuang maksimal. Dalam pekerjaan juga begitu. Ketika saya dipercaya, saya usahakan komitmen 100 persen, mengerahkan potensi fikir dan fisik saya. Idealisme untuk menjadikan Islam rahmatan lil'alami, benar-bener bergemuruh. Saya aktif mengikuti berbagai kajian kepartaian. Di Bandung memang cukup banyak tempat untuk belajar Islam. Komunitas partai saya ini pun memiliki banyak wadah untuk mengkader dan mendulang suara mahasiswa idealis. Saya belum menjadi kader, hanya mencoba mencari tahu sebanyak-banyaknya.
Pada masa kampanye, saya ikut kampanye ke pelosok desa di Bandung...Wah baru kali pertama ikut kampanye..senang sekali..puas dapat menjual citra  kesolehan ustad-ustad yang ada di Bandung. Ghiroh, begitu kata bahasa aktivis masa itu...terbangun begitu tinggi.  Di mana pun saya berada, dengan bangga saya perkenalkan partai itu. Partai perubahan yang diisi anak-anak muda terdidik. Semangat perubahan..

Alhamdulillah, kala itu saudara-saudara saya, ibu dan bapak saya  mulai simpati dengan partai ini. Bapak saya yang PDIP fanatik, dengan bangganya pula memperkenalkan ke teman-temannya bahwa partai anaknya adalah PK.ehehe dulu PK - Partai Keadilan.

Pemilu demi pemilu berlangsung, saya masih konsisten memilih partai itu meski merasa ada kekurang-sreg-an lantaran melihat output yang dihasilkan. Mereka berargumen, karena wakil yang sedikit, jadi tidak bisa maksimal menyuarakan perubahan. Menyuarakan kepentingan rakyat kecil dan setidaknya memenuhi cita-cita reformasi. Cita-cita reformasi heheh ketinggian kali ya..Nggak muluk sih harapan saya, setidaknya wakil-wakil yang telah ditunjuk di sana bisa peduli pada rakyat miskin di sekitarnya.

 Namun, nyatanya. mereka hanya bisa bermain retorika di majelis-majelis, dan manggut-manggut saja di DPR/DPRD. Mereka tidak bisa mewarnai, justru melebur jadi satu. Mereka lebih senang mengikuti arus penguasa, tidak berani menjadi oposisi.  Kader-kader yang diluluskan untuk duduk di suatu jabatan pun, nyatanya minim sekali berbuat untuk kepentingan rakyat sekitarnya. Hmmm..saya memang hanya partisipan. Profesi saya sebagai jurnalis, cukup banyak mendapatkan input tentang keadaan di Senayan dan sejumlah daerah.  Yang populer justru kesederhanaan Ustad Mashadi sebagai anggota DPR, yang saya kagumi dan membuat saya bertahan menjadi partisipan. Tetapi yang lain heehe..dijawab sendiri ya.

Sampai pada suatu ketika, satu-satu kadernya tertangkap skandal memalukan. Ada yang lagi rapat buka link porno, ikut pembagian "jatah" di Senayan, dan sejumlah persoalan yang tidak beres. Memang, DPR atau DPRD adalah kerja kolektif..Tetapi masa sih tidak ada yang berani bersuara..Semuanya serba ikutan dan kompromi. Banyak hal yang tidak bisa saya jelaskan satu-satu. Dan, yang paling memalukan kasus impor daging sapi ala Presiden PKS-LHI dan Ustad Hilmi. Mereka menilai, ini konspirasi dan fitnah. Hehhe tapi pengadilan bisa memberikan bukti. Memang, LHI belum memakan hasil korupsi daging sapinya. Baru merencanakan, tetapi sudah ketangkap basah. Bukti-bukti sms dan pengakuan Ahmad Fathonah, tak mampu mengelak tuduhan. Hufff...cape memang mengulik satu demi satu kesalahan orang.



Dan sekarang di musim kampanye, yang bikin ketawa geli, mereka berkampanye dengan menyebarkan banner indeks partai terkorupsi yang dikeluarkan KPK dan beberapa lembaga..Mereka merasa menang, karena partainya berada pada urutan ke -10, ada juga yang menulis 11 diantara partai- lainnya. Hehehe ya iyalah wong utusan partainya baru sedikit. Kalau banyak seperti si Merah, mungkin sami mawon..Di indeks itu juga berjejer partai-partai Islam lainnya. Bikin memalukan agama. Ini kampanye yang menurut saya "menggali kuburannya sendiri". Kalau mereka masih mau eksis, mending kampanye tentang pertaubatan saja atas kader-kadernya yang korupsi.

Hahahha..Akhirnya, orang-orang yang masih konsisten terhadap kemurnian Islam yang notabene adalah pendiri PK, satu persatu meninggalkan parta ini salah satunya Ustad Mashadi sendiri. Mereka merasa dikhianati oleh teman-temannya. Janji mengangkat islam, hanya jualan semata. Salah satu sumbernya saya dapat di http://www.kompasislam.com/2013/06/09/kumpulan-mantan-tokoh-pks-dirikan-ldki/

Rasanya cukup kekecewaan saya terhadap fenomena partai berbasis agama. Saya menghormati bagi teman-teman yang masih aktif di parpol agama. Tapi, harap direnungkan, itu berat sekali. Anda mengusung panji Islam. Kalau akhlak, omongan dan sikap tidak sesuai bahkan di luar yang digariskan Allah, rasanya Anda pantas masuk golongan yang menistakan agama. Agama hanya menjadi modus untuk melancarkan kepentingan yang rendah..Dan, jangan bilang..namanya manusia penuh khilaf..hahha.maling pun kalauu ditangkap bilangnya khilaf. Ada lagi yang bilang, partai juga isinya manusia, bukan malaikat. Jangan anggap kami suci seperti malaikat..Aduuhhh ngakak banget denger pembelaan mereka.

Makanya jangan bawa-bawa agama dalam partai. Kalau mau berpolitik, mending sekalian pilih partai yang tidak berbasis agama. Orang sepakat tahu, partai Islam notabene partai bersih, partai moral. Kan malu kalau nyatanya bertolak belakang. Malu pada Allah pastinya. Itu sih kalau saya ya. Apalagi kalau dilihat banyak parpol Islam yang kampanye tidak islami ; dangdutan dengan artis seksi, pemilihan caleg yang tidak islami, de el el. Bahkan, dari banyak kampanye yang saya perhatikan lewat media sosial, mereka yang selalu berteriak "Partai Bersih", selalu membuat kampanye negatif, terus menebar kebencian, provokasi, dan prasangka negatif yang belum tentu benar. Bagaimana orang mau percaya atau simpati dengan partai tersebut, jika isinya hanya mencerca dan menghardik saja.

Lagi pula kalau mau ditilik lebih jauh lagi, katanya demokrasi bukan dari Islam, dari Amerika yang selalu dihujat oleh kalian, tetapi kenapa kalian malah ikut masuk ke dalam sistemnya. Yang terjadi, malah memalukan agama. Saya lebih mengapresiasi teman-teman muslim yang tidak ikut sistem demokrasi alias tidak memilih partai manapun, daripada memakan omongannya sendiri.

.Lantas pilihan saya ? saya memilih parpol yang tidak berlandas agama tentunya. Saya masih menganut sistem demokrasi yang menyepakati pemilu.  Pesan saya, kalau Anda masih menghormati agama Anda, dan ada dalam kelompok berpartai Islam, janganlah bertindak seperti Tuhan. Dengan mudahnya mengafirkan orang. Ingatlah bagaimana Rosulullah berdakwah, nyaris tak pernah menghardik. Hanya ada prilaku yang berbudi, kata-kata yang penuh damai.Saya yakin Islam akan kembali berjaya dengan kemuliaan akhlak seperti ketika Rosulullah berhasil merebut simpati masyarakat Arab karena budi pekertinya yang luhur, jujur dan amanah.Islam yang esensi, agama yang mengantarkan keselamatan dunia dan akhirat, bukan Islam yang hanya retoris dalam balutan sorban dan jubah putih saja.