Jual Daster Batik

Jual Daster Batik

Testimoni Klikhotel : Responsif Melayani Klien


Ini adalah kali kedua saya memilih Klikhotel menjadi partner dalam pemesanan/booking hotel. Sebelumnya saya memang belum pernah menggunakan jasa reservasi hotel online. Saya terbiasa sepenuhnya diurus oleh kantor ketika liputan ke luar kota. Begitu saya risain, saya merasakan kesulitan ketika bepergian yang membutuhkan akomodasi hotel, terutama mau liburan bersama keluarga.

Banyak situs booking hotel online ditawarkan. Teman-teman pun merekomendasikan sejumlah situs beken yang katanya lebih murah. Saya jelajahi berbagai situs tersebut. Selisihnya memang tidak banyak. Tetapi hhehe orang Indonesia selisih Rp 5000-20.000 bisa langsung pindah ke provider lain. Penawarannya juga menggiurkan. Ada sejumlah hotel yang didiskon lebih dari 50 %.  Ada juga yang sama harganya di berbagai situs booking hotel. Namun jangan terkecoh juga, harga yang tertera belum termasuk pajak. Jadi tampak luar memang lumayan hematnya. Anda harus mengkalkulasi sendiri rate hotel dan pajak yang dikenakan.

Diantara situs booking online itu ada yang menarik hatiku. Situs ini sudah sangat beken. Jumlah testimoninya banyak. Hanya saja  tidak mengakomodir untuk pembayaran via transfer bank sehingga menyulitkan bagi yang tidak memiliki kartu kredit seperti saya. Saya browshing lagi situs booking hotel yang menyediakan fasiitas pembayaran via transfer bank. Dan, pilihan itu tertuju pada klikhotel.

Dari segi jumlah hotel yang bekerja sama, memang tidak banyak dibanding dengan situs booking hotel lainnya. Testimoni tentang hotel juga sedikit. Untuk mendapatkan informasi lebih detil tentang pengalaman menginap, saya harus browshing lagi  ke sejumlah situs lainnya. Soal harga, klik hotel tidak begitu berbeda. Rasanya saya sudah mulai letih juga cari komparasi. Biarlah beda-beda dikit, yang penting pembayarannya via transfer bank.

Bookingan pertama saya pada minggu ketiga Mei 2014.  Waktu itu saya ada acara di Bandung selama seminggu. Untuk hotel selama saya bekerja sudah diurus oleh kantor klien. Tinggal untuk keluarga yang ingin berlibur, saya harus urus sendiri. Saya booking untuk dua hotel, yaitu Pop Harris Bandung (tempat saya menginap mengerjakan proyek sosial media Pameran Produksi Indonesia 2014), dan Marbella Suite Bandung. Kami menginap dua malam di dua hotel berbeda. Kebetulan untuk hotel Marbella Suite sedang ada diskon spesial, lumayan selisihnya.  Saya booking tengah malam dan langsung melakukan pembayaran via sms banking. Pagi harinya saya  mendapatkan email konfirmasi pemesanan. Ketika hari H, saya pun tinggal check in tanpa menunjukkan voucher, cuma KTP keperluan data diri dari pihak hotel. Praktis.

Beberapa hari kemudian, klikhotel meng-email saya kembali untuk testimoni. Saya langsung merespon testimoni kedua hotel tempat saya menginap. Imbalannya dari klik hotel, setiap review hotel atau testimoni, saya memperoleh 5.000 point dan mendapatkan gift voucher hingga Rp 500.000 kalau terpilih sebagai “best review”. Sekitar dua hari kemudian, saya ditelepon oleh customer service klikhotel yang memberitahukan review saya telah diterima dengan baik dan mendapatkan point 5000 juga gift voucher Rp 5000.

Momen liburan Idul Fitri, saya kembali melakukan reservasi hotel via klikhotel. Memang agak mendadak pemesananannya. Kami pesan di high season, sudah barang tentu banyak hotel yang terbooking. Apalagi Yogyakarta yang merupakan destinasi wisata favorit di Indonesia. Wuihhh hotel panen tamu.

Saya dan Meili, anak saya mencari hotel yang sesuai dengan bujet di klik hotel. Pilihan kami jatuh pada Hotel Rengganis yang terletak di jalan Ngadinegaran, Mantrijeron, Yogyakarta. Dari foto yang ditampilkan di klikhotel dan website hotel Rengganis, hotel yang berdesain interior klasik Yogya ini cukup nyaman. Ada kolam renang. Saya melihat testimoninya juga cukup bagus sebagai hotel keluarga. Harganya pas sekali di kantong, Rp 510.000 untuk dua malam (penawaran spesial). Wahhh keren sekali. Kami segera mentransfer via sms banking BCA. Selain BCA, bisa transfer via Bank Mandiri, BNI, BII, CIMB Niaga dan ATM Bersama.

Tanggal 27 Juli sore kami booking dan langsung bayar. Dalam hitungan menit, kami sudah mendapatkan email konfirmasi dari klikhotel yang menerangkan hotel tersebut ready digunakan. Saat itu email gmail saya bermasalah sehingga tidak bisa membaca pesan pemberitahuan yang sudah masuk. Kemudian, saya SMS ke klikhotel, mereka langsung menjawab perihal konfirmasi pemesanan saya.


Keesokan harinya tanggal 28 Juli pukul 09:54 (Idul Fitri), saya menerima SMS dari Ibu Gita, staf hotel Rengganis. Menurutnya via SMS, bookingan saya harus diupgrade menjadi Rp 450 ribu per malam, karena high season.  Kalau kami berminat, diminta segera melakukan pembayaran sisanya sekitar Rp 400 ribu secepatnya. Hmm..sempet agak kecewa dengan Klikhotel yang tidak memberitahu hal ini.  Tidak ada note sedikit pun dari Klikhotel tentang perbedaan kebijakan ini. Setelah diskusi dengan suami, akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan dan mencari hotel lainnya. Ibu Gita berjanji akan mengembalikan uang kami tanpa potongan secepatnya paling dalam waktu seminggu setelah pihak klikhotel mentransfer pembayaran saya ke Rengganis.

Pada saat bersamaan, pada pukul 10:11 wib, saya SMS klik hotel untuk memberitahu permasalahan tersebut. Dari klikhotel, Pak Erick segera menanggapi. Ia berjanji akan memprosesnya alias mengkonfirmasi kembali kepada pihak Hotel Rengganis. Pada pukul 11:32, saya mendapatkan SMS dari Pak Erick, yang memberitahukan pemesanan hotel saya tidak ada masalah. Hotel siap dipakai. Ia menyebut Pak Edo dari pihak hotel Rengganis telah menyetujui bookingan saya. Lah...bagaimana ini ? Kok berbeda lagi. Saya sampaikan respon dari Ibu Gita tentang tidak adanya diskon. Pak Erick tetap berkeyakinan pihak hotel Rengganis telah menyetujui voucher saya. Untuk kepastiannya, Pak Erick akan menghubungi Ibu Gita. Saya pun SMS Ibu Gita tentang progress perbedaan ini.

Tak beberapa lama, Pak Erick menelpon untuk mengabarkan bookingan saya tidak bisa diterima kecuali saya menambah sekitar Rp 400 ribu. Ibu Gita juga menyampaikan hal yang sama. Pak Erick menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan tersebut dan berjanji akan me-refund secepatnya setelah saya memberi tahu rekening. 


Benar saja, begitu saya beri tahu rekening, saya mendapatkan pesan via email yang menegaskan refund akan dilakukan selama 2 x 24 jam, bukan seminggu seperti yang disampaikan Ibu Gita. Tentu saja saya senang mendengarnya. Lebih cepat, lebih baik. Tanpa ada pemotongan sedikit pun. DI klausul reservasi memang dijelaskan untuk pembatalan bisa dikenakan biaya Rp 50.000. Bahkan uang yang sudah ditransfer tidak bisa dikembalikan jika ada pembatalan. Namun dalam kasus saya ini, sama sekali tidak ada pemotongan. Kesalahan terjadi karena adanya kesalahpahaman dan ketidaksingkronan kebijakan antara pihak hotel dan klikhotel.


Pukul 14:08 di hari yang sama (28 Juli), saya mendapatkan email bukti refund dari klik hotel. Dan, sorenya Pak Erick memberitahu refund saya sudah dilakukan. Wahh cepat sekali prosesnya, hanya hitungan jam saja. Saya sangat mengapresiasi layanan Klikhotel.

Sebagai bentuk permohonan maaf dari manajemen Klikhotel, saya mendapatkan Gift Voucher senilai Rp 50 ribu, expire date 28 Juli 2015. Saya jadi tambah salut dengan layanan klikhotel. Terima kasih Klikhotel, sepertinya saya akan menjadi klien setiamu..

Ketika Anak Mulai Memahami Politik

Hingar bingar politik di tanah air memang cukup menyita perhatian. Tak hanya orang dewasa yang “sadar” politik, sekaligus juga anak-anak turut merasakan kegairahan berpolitik. Anakku salah satunya  : Meili (9 tahun) dan Barra (3,5 tahun). Keduanya sampai hapal dengan lagu-lagu kampanye pasangan Wiranto-Hari Tanu yang berjudul Indonesia Jaya karena keseringan tampil di televisi. Tokoh Prabowo dan Wiranto  sudah dihapal mereka. Begitu pun Jokowi yang merupakan pilihan presiden orang tuanya 

Meilia termasuk anak yang kritis. Apapun yang sekiranya mengganjal di hatinya selalu ditanya. Termasuk menanyakan tentang mengapa mamanya pilih Jokowi. Sedangkan, teman-teman di sekolahnya (kelas 3 SD)  selalu menegatifkan Jokowi. Pria asal Solo itu dituduh Cina, kafir, punya banyak preman dan sebagainya. Pertanyaan ini aktif ditanyakan menjelang pileg Maret-April lalu. Aku kaget juga mendengarnya. Anak-anak ternyata tahu juga tentang politik. Dan, tak habis dibayangkan, fitnah dan tuduhan terhadap Jokowi sudah sampai menempel di benak anak-anak kelas 3 SD.

Menurut cerita Meili, teman-temannya sering saling "bergosip politik" menanyakan presiden mana yang dipilih. Meili mengaku sangat bingung. Kenapa Mamanya pilih pemimpin yang kafir dan ia tak menyangka ternyata Jokowi seorang Cina. Aku ingat sekali waktu ramai-ramainya pileg, Meili  tak berhenti menuntutku menjelaskan tentang Joko Widodo. Setiap ada berita Jokowi, aku yang bersamanya melihat berita, langsung diberondong pertanyaan. Emosiku sempat naik juga dengan tuduhan itu karena aku tahu Jokowi tidak seperti itu. Aku tanya ke Meili, dari mana teman-temannya bisa tahu Jokowi itu Cina, Kafir, Apakah dari guru di sekolahnya..Meili menggeleng. Guru di sekolahnya tak pernah menjelaskan tentang politik. Teman-temannya kebanyakan mengetahui tentang Jokowi dari guru ngaji di TPA, ada juga yang tahu dari orang tuanya.Hmm..

 Jadilah hari itu aku jelaskan detil tentang alasan orang tuanya memilih Jokowi. Aku juga tunjukkan beberapa foto Jokowi ke Mekah, mencium tangan ibunya, memperlihatkan bukti-bukti prestasi Jokowi membangun Jakarta dengan menunjukkan Pasar Tanaabang, Waduk Pluit, Kartu Jakarta Sehat sampai pengemis dan topeng monyet.  Untungnya aku masih menyimpan Majalah Venue--media tempat aku pernah bekerja selama 5 tahun—menulis tentang Jokowi mengalokasi pedagang kaki lima, membangun taman-taman di Solo, peduli dengan pasar tradisional dan sebagainya. Aku perlihatkan foto-foto di majalah tersebut.



 Setiap kali kami silaturahmi ke Jakarta, dalam perjalanan aku selalu menjelaskan keberhasilan Jokowi membuat taman-taman kota dan menyamankan pejalan kaki.  Meili melihat langsung  trotoar yang diperlebar dan dipercantik, kursi-kursi taman di sepanjang trotoar, tidak ada rumah-rumah kardus di kolong jembatan di Palmerah dan hampir sepanjang perjalanan dari Cileungsi ke Jakarta, kami tidak menemukan pengemis yang biasanya marak di perempatan jalan dan lampu merah. Intinya aku perlihatkan sejumlah bukti "kerja nyata" Jokowi untuk DKI yang bisa ditangkap Meili. Aku ingin, dia melihat langsung bagaimana seharusnya seorang pemimpin bekerja untuk rakyatnya. Dan, mengapa orang tuanya begitu berharap Jokowi bisa menjadi presiden Indonesia. 

Huff..letih juga sih  menjelaskan panjang lebar saat perjalanan karena  Meili selalu merespon balik dengan komentar-komentar polosnya. Salah satunya ia mengomentari pengendara motor nyelonong masuk ke jalur busway di depan matanya. "Ma..itu ada motor jalan di jalur busway..Bukannya dilarang ya mah..ada dendanya 500 ribu," ujarnya polos. Hapal juga dia, nggak nyangka juga. Aku jabab :"Yaa didenda Meili kalau ketahuan polisi. Orang kita kebanyakan suka melanggar peraturan, susah disiplinnya. Makanya bangsa kita nggak maju-maju. Meili jangan gitu ya. Ada nggak ada polisi tetap taat peraturan. Kalau dilanggar, yang rugi juga kita sendiri, seperti kecelakaan. Memang lebih cepat tetapi berbahaya," jawabku.

Alhamdulillah dengan penjelasanku yang agak gamblang tentang Jokowi,  anakku bisa mengerti dan mampu memberikan penilaian tersendiri terhadap teman-temannya yang memiliki pendapat bersebrangan. Selain itu,  aku pun tak ingin anakku jadi “tukang fitnah” dan “tukang mencela”, sehingga aku berupaya menjelaskan sebijak mungkin tentang sosok Prabowo bahwa dia seorang militer yang berprestasi, pelatih pasukan kebanggaan negeri ini, dan dia juga seorang anak begawan ekonomi, Soemitro Djoyohadikoesoemo. "Kalau Prabowo bagus, kenapa Mama ga pilih Prabowo ? tanyanya. " Hmm karena di hati Mama Jokowi yang cocok memimpin negeri ini. Kan harus sesuai hati nurani," jawabku.

 Memang semula aku berfikir terlalu dini menurutku anak paham soal politik yang notabene konsumsi orang dewasa. Namun, mengingat masifnya iklan capres  dan tayangan politik hampir di sebagian besar di TV, mengundang ketertarikan anak yg “peduli”.

Dengan pengetahuan cukup, Meili berkembang menjadi anak yang “berani berbeda” dari kebanyakan  teman-teman di kelasnya. Dia bisa berdebat dan mencoba meluruskan sesuai yang diketahui Mamanya. "Udah aku jelasin Mah, tetapi tetap aja teman Meili ga percaya..Ya udah Meili diam aja."ujarnya. Dia mengaku, hanya dia dan seorang temannya yang memilih Jokowi. "Cuma aku sama Darin mah yang milih Jokowi," sungutnya. (Belakangan ketika pilpres ia mengaku kalau sebagian guru di sekolahnya banyak memakai atribut bergambar Prabowo-Hatta seperti kaos, topi ber-pin). "Ya udah jangan ribut ya. Biarlah Allah yang Maha Menilai. Yang penting Meili nggak percaya sama mereka ya," terangku. "Yalah Meili ga percaya. Orang Meili liat sendiri di foto FB Mama Jokowi pergi haji dan cium tangan ibunya yang bukan Cina," timpalnya. Aku tersenyum, syukurlah ia tidak mudah terbawa arus kebanyakan.


Aku akui, pemikiran Meili memang sudah di depan. Bisa dibilang seperti ‘orang tua”. Ini diamini pula oleh guru-gurunya di TK dan SD. Meili kalau sudah nanya dan belum menemukan jawaban yang memuaskan, pasti tak berhenti bertanya. Tak hanya persoalan tentang dunia anak-anak saja, tetapi juga kesehatan, artis, politik bahkan persoalan di negeri ini selau ditanyakan ke aku.  Beberapa waktu lalu ramai di TV disiarkan tentang Ahmad Fathonah yang digiring-giring polisi. Dia langsung minta penjelasan kepadaku arti korupsi dan mengapa bertentangan dengan hukum. Wahh, aku pun harus mencari-cari cara menjelaskan yang sesuai  logikanya dengan berbagai analogi yang bisa diterima akalnya. Aku jelaskan intinya, korupsi itu  "mengambil uang/barang yang bukan miliknya dengan cari "melebihkan" anggaran. Aku contohkan, Meili disuruh mama beli garam. Harga aslinya garam Rp 1000, ternyata Meili bilang Rp 2000 ke Mama.. Nah yang dilebihkan Rp1000 itu masuk ke kantong Meili, Itu adalah korupsi Meili. Lantas bagaimana dengan negara. Uang negara jadi abis karena diambilin koruptor dengan cara seperti itu.  Dia mengangguk-ngangguk. Kemudian nyeletuk lagi “ Ahmad itu kan nama kecil Nabi Muhammad, dan Fathonah sifat rosul yaitu cerdas. Kok namanya bagus, kelakuannya jelek ya Mah..”  Aduhh lagi-lagi aku tarik nafas nih..rada bingung menjelaskannya.

Begitu pun ketika kasus Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah ber-jas tahanan KPK, Meili langsung komentar : “Kok ibu itu berkerudung, korupsi juga..” Hmmm beginilah  realitas yang terjadi di mata anak-anak. "Berkerudung kan hanya pakaiannya saja Meili. Perilakunya masih belum sesuai. Meili jangan begitu ya..Malu sebagai orang Islam !" ujarku agak miris juga ketika anak melihat kenyataan dan kontradiksi.

Meili memang tidak seperti anak kebanyakan. Dia suka menonton berita. Bak seorang guru, biasanya ketika nonton bareng mbahnya, Meili pasti “menerjemahkan”kembali pesan-pesan yang disampaikan penyiar. Hehehe menyangka mbahnya tidak mengerti (padahal mengerti). Debat kecil sering kudengar antara Meili dan Mbahnya dalam membahas suatu kasus.

Soal kepemimpinan non muslim tak luput dari keingintahuan Meili. Waktu itu dia masih mengaji di TPA. Guru ngajinya pernah bilang, umat Islam tidak boleh memilih pemimpin  non Islam. Guru itu mencontohkan tentang DKI yang dilanda banjir besar dan lama beberapa waktu lalu disebabkan “hukuman Allah” karena umat Islam telah memilih pemimpin yang tidak jelas agamanya dan  wakilnya non muslim pula. ..”Orang kafir-kristen masuk neraka” katanya menirukan ucapan gurunya. Hmm aku menarik nafas panjang. Melihat anak-anaku tumbuh dan berkembang, aku bersyukur pada Allah diberikan rezeki yang cukup sehingga bisa risain dari kantor dan bekerja di rumah. Hal-hal seperti inilah anak-anak butuh dampingan dan penjelasan berimbang. Sejak awal 2013 aku risain, Meili memang memberiku PR yang lumayan menantang.

Soal pemimpin non muslim dengan contoh Ahok, pelan-pelan aku jelaskan dari sisi nilai-nilai kemanusiaan. Aku bukan ahli tafsir Quran, dan pemahaaman agamaku juga sangat sedikit. Biasanya aku bertanya pada guru ngaji mingguanku. Alhamdulillah, aku punya guru ngaji yang bijaksana dan berpandangan terbuka. Beliau bilang, ‘Selama tujuannya muamalah dan tidak memusuhi Islam. Bahkan memang, orangnya baik dan terbukti amanah, apa yang harus dikhawatirkan. Kita hanya tidak boleh bekerja sama dalam urusan ibadah. Selain itu silahkan, kita bisa berteman dan bersahabat,”begitu penjelasan Ustazah Eti Nasrun, salah satu ustazah yang lumayan disegani di Perumahan Griya Alam Sentosa. Aku juga mengambil dari beberapa referensi. Salah satunya dari http://politik.kompasiana.com/2012/09/12/al-quran-membolehkan-pilih-pemimpin-non-muslim-492673.html

Dari artikel tersebut, aku tukilkan :
Syaikh Qaradhawi yang juga Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional, membagi orang Kafir atau Non-Muslim menjadi dua golongan :
 Pertama, yaitu golongan yang berdamai dengan orang-orang Islam, tidak memerangi dan mengusir mereka dari negeri mereka. Terhadap golongan ini, umat Islam harus berbuat baik dan berbuat adil. Di antaranya memberikan hak-hak politik sebagai warga Negara, yang sama dengan warga Negara lainnya, sehingga mereka tidak merasa terasingkan sebagai sesama anak Ibu Pertiwi.
Sedangkan golongan kedua, adalah golongan yang memusuhi dan memerangi umat Islam, seperti orang-orang Non-Muslim Mekah pada masa permulaan Islam yang sering menindas, menyiksa dan mencelakakan umat Islam. Terhadap golongan ini, umat Islam diharamkan mengangkat mereka sebagai pemimpin atau teman setia.

Pendapat Syaikh Qaradhawi ini didasarkan pada Surat Al-Mumtahanah : 8, yang terjemahnya sebagai berikut:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Meili tak lama mengaji di TPA ini. Alasannya bukan karena aku yang jujur sudah mulai agak khawatir, dengan doktrinisasi.  Tetapi lebih ke soal waktu. Sejak kelas 3, dia berangkat ke sekolah  pukul 6:30 dan pulang pukul 15:00 Wib.  Istirahat sebentar untuk makan dan mandi. Pukul 16:00 sudah harus berangkat lagi mengaji. Sebelumnya ia mengaji di TPA lain ba’da Maghrib. Namun karena tergoda dengan ajakan teman sekelasnya untuk ngaji bareng di TPA lain, aku pun tak kuasa menolak keinginan tersebut. Apalagi TPA yang baru ini cukup banyak anak sehingga Meili bisa lebih banyak bergaul. Anakku termasuk kurang pergaulan. DI TPA yang sebelumnya, hanya beberapa gelintir anak saja yang mengaji. Waktunya juga terbatas. Jadi, biarlah menurutku dia pindah.

Sudah hampir setengah tahun Meili tidak mengaji di luar. Ba’da Maghrib aku mengajarinya mengaji dan hapalan hehehe sekalian menghapal bareng surat-surat Juz Amma. Saat-saat inilah biasanya dia bercerita banyak tentang kehidupan sekolahnya dan teman-teman bermainnya. Usai mengaji, istirahat sebentar baru kemudian belajar sampai pukul 21:00 wib.  Tidak rutin juga. Kadang ada bolongnya, kalo aku ada meeting di luar hingga pulang larut malam. Atau aku yang letih suka tidur setelah Isya. Memang butuh energi ekstra mengajari anak.

Dengan adanya internet sangat membantuku ketika mengajari anak, jadi lebih mudah, langsung dihadapkan dengan contoh-contoh visual. Meili termasuk anak yang tidak suka membaca. Jadi sepenuhnya pengetahuan diperoleh dari mendengarkan penjelasan orang lain. Lucunya, setiap pengetahuan yang didapat dari aku pasti langsung ditransfernya ke mbahnya hehhe..Barra, adiknya (3 thn) juga suka menjadi obyek ceritanya. Bahkan tak jarang aku mendengar ketika bermain dengan teman-temannya Meili kerap menceritakan kembali hal-hal baru yang diketahui dari aku. Diantaranya tentang makamnya nabi Muhammad yang dia lihat di internet. Tentang jejak kapal Nabi Nuh, peristiwa keajaiban haji, misteri Candi Borubuddur dan sebagainya. Meili tipikal anak yang verbal kendati  pendiam juga. Semoga Mama tetap sehat ya Meili. Biar bisa terus mendampingimu dalam menemukan jati dirimu. Aamiin.



Petualangan 1000 Anak ala Rumah Perubahan


Hai teman-teman pernah dengar atau tahu Rumah Perubahan? Jujur, aku baru kali pertama mengetahuinya ketika membaca sebuah info dari teman di media sosial tentang acara petualangan cilik di Rumah Perubahan.

 Yang terbayang di benakku adalah sebuah rumah yang berisi orang-orang yang berkeinginan kuat untuk  maju atau rumah dinamis yang mewadahi, mengakomodasi dan menginspirasi segala kebutuhan orang-orang yang ingin berfikir maju dan menata hidupnya untuk lebih baik.  Hmm..Alhamdulillah penafsiranku rupanya tidak jauh meleset.

Rumah Perubahan memang dilahirkan oleh Rhenald Kasali, seorang pengusaha sekaligus motivator bisnis yang handal negeri ini, bertujuan untuk melakukan perubahan nyata, membebaskan masyarakat, dunia usaha, dan negeri ini dari belenggu yang mengikat kaki, tangan, dan pikiran mereka.

Di alam terbuka di Rumah Perubahan, Rhenald Kasali menerapi pikiran-pikiran yang terbelenggu yang membuat bangsa ini rapuh. Diantaranya pikiran dan sikap yang kurang bersyukur, cepat merasa puas, mudah menyerah, tidak terbuka, senang membangun keributan dan konflik, mudah tersulut amarah, gemar berwacana tanpa bertindak, menciptakan rintangan-rintangan untuk kemajuan, takut menghadapi realita baru dan sebagainya.


Berangkat dari visi tersebut, Rumah Perubahan yang didirikan sejak 7 September 2007 ini memberikan pelatihan dan melakukan berbagai kegiatan sosial yang meliputi  tiga bidang yaitu pendidikan, kesejahteraan sosial dan lingkungan hidup. Salah satu kegiatan sosialnya adalah program 1000 petualangan cilik. Tidak tanggung-tanggung, Rumah Perubahan mengajak  secara cuma-cuma sebanyak 1000 anak  untuk berpetualang mencintai alam.

Petualangan ini dibagi dalam enam batch, mulai bulan Maret hingga September 2014. Sebelumnya, sebagai bentuk dari Social Entrepreneurship, Rumah Perubahan juga telah membangun Rumah Baca Manca dan TK-PAUD Kutilang untuk anak-anak kurang mampu dari segi ekonomi di daerah sekitar lokasi Rumah Perubahan di Jati Murni.


Serunya Berpetualang Mencintai Alam


Aku mendaftarkan anakku, Meilia (8 tahun) dan beberapa anak teman pada batch 1, 23 Maret 2014. Kegiatan ini dimulai pada pukul 08:00 hingga 12:00 WIB. Pukul 07:00, kami sudah harus daftar ulang di Rumah Perubahan yang terletak di Jalan Raya Hankam, Jatimurni, Bekasi. Dengan penuh semangat, Meilia sudah bangun dari jam setengah 5. Biasanya susah banget dibangunin. Udara dingin yang menusuk relung pori-pori rupanya tidak menggoyahkan semangat Meili bangun nyubuh :)

Pagi itu memang cuaca kelabu, matahari hanya mengintip saja dari peraduan. Gemericik hujan akhirnya tak kuasa jatuh juga membasahi bumi. Sepanjang jalan dari Cileungsi ke Jatimurni, hujan terus mengiringi. Sempat ragu dalam hati tentang acara ini, lantaran melihat jadwal acara yang dikirimkan panitia via imel, nyaris sepenuhnya dilaksanakan di luar ruang. Hmm panitia kayaknya harus bikin plan berbeda nih kalau cuaca nggak mendukung,”..pikirku. Aku lihat di belakang, Meili sudah berada di alam mimpi lagi. Hehe ngelanjutin tidurnya.



Sekitar pukul 07:30, kami sudah sampai di area sekitar lokasi Rumah Perubahan. Hujan makin deras aja. Dari kejauhan, nampak iring-iringan anak-anak berpayung dan berjas hujan berjalan penuh semangat. Kami yang memang baru kali pertama ke Rumah Perubahan, sedikit menebak, jangan-jangan itu anak-anak yang akan berpetualang. Dari balik mobil, aku tanya ke Bapak Security yang “mengamankan” iring-iringan anak-anak itu. “Pak, Rumah Perubahan ada di sebelah mana ya ? Masih jauh dari sini ? tanyaku. “Oo nggak bu, tinggal sedikit lagi. Masuk jalan ini dan Ibu ikuti aja anak-anak itu ya," jawab Bapak Security. Aku dan suamiku saling tersenyum melihat semangat anak-anak yang rela berhujan-hujan menuju Rumah Perubahan. Sepertinya puluhan anak-anak itu tinggal tak jauh dari lokasi Rumah Perubahan.

Letak Rumah Perubahan memang agak ke dalam. Kita harus menyusuri jalan setapak yang hanya memuat satu arah mobil. Dari jalan utama sekitar 300 meter. Rumah perubahan benar-benar berada di tengah-tengah pemukiman penduduk yang cukup padat. Kendaraan kami langsung digiring ke area parkir di sebuah hamparan kebun. Hujan masih enggan berhenti. Meili yang sedari tadi tertidur, langsung siaga. ‘Ma, kita ada dimana nih? Tanyanya sambil mengucek-ngucek matanya, mengumpulkan nyawa. “Kita sudah sampai Mel..”jawabku sambil tersenyum dan mengajaknya berjalan kurang lebih 5 menit menuju lokasi. 

Wahh rupanya, di pelataran Rumah Perubahan sudah penuh kendaraan sehingga kendaraan kami tidak kebagian. Luar biasa semangat betul nih anak-anak dan ayah bundanya ;).  Di ruang daftar ulang, anak-anak dengan penuh keceriaan siap bermain.  Mereka yang telah daftar ulang dibagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan usia. Kami pun dibekali snack dan voucher Starbuck. Kakak-kakak mentor dan fasilitator kelompok sudah  kumpul di ruangan. Hmmm hujan masih betah. “Ya Allah, terangkanlah cuacanya. Berilah anak-anak ini kesempatan merasakan petualangan di Rumah Perubahan,” doaku dalam hati.

Ayah bunda mengikuti acara bedah buku berjudul Bunda Lisa di Kafe Embun

Alhamdulillah sekitar pukul 08:30, perlahan tapi pasti matahari sudah mulai eksis beradu tampil dengan gerimis kecil.  Anak-anak tetap tak gentar segera menuju arena bermain. Meili masuk dalam kelompok Matoa. Orang tua diminta tidak mengikuti anak-anak bermain. Panitia telah menyiapkan acara khusus buat ayah bunda yaitu bedah buku yang berjudul "Bunda Lisa". di Kafe Embun.

Bunda lisa yang  tak lain adalah istri Rhenald Kasali ini memiliki jiwa sosial yang tinggi  sehingga mendorong Jombang Sentani Khairen, penulis buku tersebut yang juga seorang mahasiswa dari Prof Rhenald Kasali untuk mengabadikannya dalam sebuah buku biografi. Dalam buku tersebut  dikisahkan pula sisi lain seorang Bunda Lisa yang begitu memberikan arti bagi perjalanan hidup Rhenald Kasali. Ya,  "Dibalik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat dibelakangnya. Dialah itu Bunda Lisa. Romantisnya...;) Aku yang niatnya mau bergabung dengan ayah bunda, ternyata malah larut mengikuti anak-anak bermain. ‘Sekalian reportase lah..heheh,” begitu pikirku.

Arena bermain Rumah Perubahan ternyata sangat luas dalam hamparan rumput yang tertata rapi. Ada hamparan perkebunan sayur, peternakan sapi, Rumah Tempe, tempat pemancingan, kafe dan sejumlah bale-bale santai. Sebanyak 136 anak berusia 3-14 tahun bergiliran sesuai dengan kelompoknya bermain dari pos satu ke pos berikutnya. Khusus untuk anak-anak yang berusia 3-5 tahun, panitia telah menyiapkan permainan sesuai usianya, diantaranya mewarnai, mendengarkan dongeng (story telling), memberi makan sapi, dan sejumlah kegiatan kreatif lainnya.



Di pos 1, kelompok Matoa bermain ‘dinamika kelompok”melalui pesan berantai dari satu teman ke teman lainnya. Jadi, anak-anak dibisikkan oleh kakak mentor kisi-kisi tentang “bentuk” pada sebuah piring. Sebagai medianya, disediakan irisan anggur, pisang, dan jeruk. Wahh anak-anak dengan kepolosan dan kekompakannya men-transfer pesan dari mentor melalui teman ke teman lainnya. Hasilnya, mereka rangkaikan irisan buah itu sesuai pesan yang ditangkap dari teman terakhir. Sejatinya, jika pesan-pesan itu tersampaikan dengan baik akan membentuk wajah tersenyum. Hhehe dari hasil itu, irisan buah hasil kerja sama anak-anak malah berbentuk tak jelas. Meski begitu anak-anak tetap senang. Kakak mentor pun menyampaikan isi dari permainan tersebut dalam bahasa mereka.

Dari pos 1 berlanjut ke pos 2 yang masih berada dalam lokasi yang sama. Di Pos 2 ini, Matoa bercocok tanam kangkung organik. Sebelumnya kakak mentor menjelaskan tentang pentingnya makan sayur-sayuran bagi kesehatan. Anak-anak diminta menyebutkan sayur-sayuran yang mereka kenal. 


Dibimbing kakak mentor, anak-anak tanpa keraguan dan takut becek langsung turun ke sawah memetik kangkung. “Ayo...petik sebanyak-banyaknya ya buat disayur sama bunda di rumah,” seru kakak mentor. Setelah itu mereka mencuci sendiri kangkung hasil petikannya. Siap deh dikemas untuk dibawa pulang. Oya, sebelum mengakhiri pos 2, kakak mentor juga memberikan kejutan hadiah bagi siapa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar.

Pos 3, letaknya lumayan jauh dengan perjalanan setengah mendaki. Di Pos 3 ini, kelompok Matoa bersiap untuk membuat tempe di Rumah Tempe. Rumah Tempe ini memproduksi tempe dengan teknologi moderen dan higienis. Sebelum membuat tempe, panitia membagikan masker, sarung tangan dan ikat kepala. Perlengkapan ini bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Mantab bener serasa jadi chef. Kakak mentor dengan sabar dan suasana fun menjelaskan kronologi pembuatan “tempe embun”. 



Meili yang pernah melihat proses pembuatan tempe dari mbahnya di kampung cukup merasa heran karena proses pembuatan tempe embun ini tidak pakai diinjak-injak kedelainya. Jadi, kedelai yang berkualitas tinggi itu dicuci dan direbus dengan menggunakan air embun yang diperoleh dari teknologi tinggi. Air embun terbukti bebas dari mineral anorganik (sodium/garam, kloride), logam berat (timbal dan merkuri), serta pestisida berbahaya sehingga tempe yang dihasilkan lebih bersih, lebih sehat, lebih higienis dan lebih empuk. Anak-anak merasakan langsung “menguleni” tempe. Setelah dibersihkan dan direbus, setiap anak mengantongi sendiri kedelainya untuk dibawa pulang.
 “Disimpan di tempat yang bersih ya di rumah,” pesan salah satu kakak mentor. Dalam beberapa hari, kedelai yang dikemas itu nanti akan ditumbuhi jamur tempe. Jadi deh tempenya. Oya sebelum mengakhiri sesi ini, kakak mentor memberikan tebakan. Alhamdulillah Meilia dapat menjawab pertanyaan dengan tepat dan cepat. Hadiah berupa lampu belajar lucu berhasil diboyong Meili. Senangnya.


Usai membuat tempe, kerbau sudah menunggu untuk dimandikan. Wahhh, rupanya banyak anak yang takut memegang kerbau sehingga kakak-kakak harus membujuk dan menggendong beberapa anak yang ketakutan. Hehe di kota nggak pernah lihat kerbau ya, jadi agak aneh melihat hewan bertanduk dan bertubuh gemuk hitam itu.

Usai bermain air dengan kerbau, orang tua membantu memandikan anak-anaknya. Panitia mengatur rapi antrian sehingga tidak  terlalu berdesakan. Setelah cantik dan cakep kembali, anak-anak digiring ke halaman rumput bermain tentang dinamika kelompok, bagaimana bisa bekerja sama dengan sinergis menggelindingkan bola pada bilahan bambu. Terlihat team work terbangun dengan penuh keceriaan.


Tibalah pada pos puncak nih yaitu membuat biogas dari kotoran sapi. Meili baru tahu bahwa kotoran sapi yang diolah menjadi biogas bisa dimanfaatkan jadi energi listrik. "Aduhh Ma, bau deh Meili disuruh cium gasnya,” cerita Meili kepadaku yang waktu itu tidak berada di lokasi pembuatan biogas. Aku jelaskan ke Meili, bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan, kendati itu berupa kotoran, nyatanya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia juga. Asal manusia itu mau berfikir dan berani menciptakan,” jelasku ke Meili.

Sambil menunggu anak-anak bermain, ayah bunda dihibur musik percusi dari limbah drum. Bagi ayah bunda yang ingin berbelanja produk sayuran, panitia menyediakan bazar sayuran. Segar-segar sekali sayuranya, langsung dipetik dari kebun. Aku memborong kangkung dan tempe. Kangkung memang menjadi makanan favorit Meili. 


Waktu setengah hari itu benar-benar sangat bermanfaat bagi anak-anak untuk belajar mencintai alam sambil bermain. Pulangnya, anak-anak dibekali lagi sovenir dari sponsor.. Wah makin senang deh. Yuk ayah bunda ajak putra-putrinya ikut Program 1000 Petualangan  Cilik ala Rumah Perubahan. Gratis !. Menurut Nuril Eka, Bussiness Development of Social Change Division Rumah Perubahan, pada batch selanjutnya akan mengikutsertakan anak-anak diffabel. Let's Make a Change in Your Life !


Asyik Barra Jadi Pilot !


Itulah teriakan Barra saat berhasil duduk di ruang kokpit pesawat Garuda di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah. Puas sekali, akhirnya Barra kesampaian juga untuk kali kedua ke Museum Transportasi di TMII, setelah minggu lalu belum sempat naik pesawat.  Terima kasih ayah sudah mau mengantarkan kami liburan lagi ke TMII.

Begitu keluar mobil, Barra dan Meili langsung berlarian menuju pintu loket museum. Hari itu cukup banyak pengunjung.  Sambil menunggu antrian, Barra menjungkitkan kakinya melihat pesawat dari sela-sela bilik pagar, tak sabaran menunggu. Kurang lebih 10 menit, petugas loket memberikan dua lembar tiket. Satu tiket museum Rp 2000, dan satunya lagi tiket masuk pesawat Rp 3000. Murah ya..Memang TMII benar-benar hiburan rakyat yang kaya ilmu dan inspirasi.

Enam lembar tiket langsung diambil Meili. Dua mutiaraku saling berkejaran mencapai bibir tangga pesawat. Di tengah “kemrusuk”, Barra masih sempat meletakkan sendal pada rak yang disediakan. Hmm aku geleng-geleng kepala bangga melihatnya.

Ini adalah kali kedua Meili masuk pesawat Garuda Indonesia berjenis DC-9 PK GNT buatan Amerika itu. Sedangakan untuk Barra adalah kunjungan perdana. Wahh rupanya banyak terjadi perubahan dibanding tiga tahun lalu. Jok-jok pesawat sudah diganti, termasuk dinding dan bagasinya, terlihat masih baru. LCD TV berukuran 21 inch terpampang di pojok sebelah kanan. AC ruangan pun full meniupkan kenyamanan di tengah teriknya sinar mentari di luar sana. Pengunjung bisa memilih duduk-duduk di jok-jok pesawat atau melantai di bawah dengan beralas karpet.




Kurang lebih 15 menit sekali terdengar penjelasan guide berupa rekaman suara menjelaskan  ikhwal pesawat Boeing berkapasitas 90-an penumpang itu.  Dibuat tahun 1979, pesawat ini pernah menjadi kebanggaan Indonesia. Melayani rute penerbangan di wilayah ASEAN dan Australia. Sejak 1994, pesawat ini  resmi menjadi penghuni  Museum Transportasi TMII.


Meili dan Barra menyimak penjelasan guide rekaman itu sambil melihat videonya di TV. "Ma, ini pesawat yang ilang itu ya, " celoteh Barra membuatku nyengir. Maksudnya pesawat MH370 yang masih raib belum ditemukan.

Setelah puas duduk-duduk, kami berkeliling searea pesawat. Ada  pintu yang tidak dibuka, seperti toilet dan ruang pramugara/i. Ruang pesawat cukup ramai. Orang tua dan anak-anak mencari posisi yang enak buat berfoto. Ruang kokpit, tempat  pilot mengemudikan dan mengendalikan pesawat pun nyaris tak sepi. Sambil memperhatikan Meilia dan Barra bermain, matakku tak lepas mengawasi ruang kokpit. Semoga kosong..harapku.


Tak berapa lama kemudian, Alhamdulillah we’ve got it !, Meilia dan Barra berlarian masuk ke ruang kokpit. Wahh senangnya melihat mereka bergaya ala pilot. Apalagi Barra, menghayati sekali. Tangannya lincah menggoyang-goyangkan setir, memencet-mencet tombol sambil memanyunkan bibirnya. Hahah khasnya anak ini kalau lagi serius. Saking betahnya di ruang kokpit, anak-anak di belakang sudah pada resah menunggu kami hehee. “Ya sudah de, gantian ya, nanti main lagi,”bujukku. Dua anakku menurut tanpa komentar.

Setelah puas di dalam pesawat, Barra menuju ke helikopter di seberangnya. Sayangnya pintu helinya terkunci sehingga pengunjung hanya bisa bermain-main di sekitarnya sambil melihat dari cermin tembus pandang. Seandanya heli itu seperti pesawat pasti akan lebih menyenangkan.



Yuk teman-teman berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah Negeriku "Satoe" Indonesa ! Taman seluas 150 hektar ini memberikan banyak inspirasi. Tak sekedar liburan, sekaligus juga belajar. Belajar mencintai negeri ini, belajar menemukan kearifan dibalik hikmah keanekaragaman suku bangsa.

Oya, baca juga ya, pengalaman seru Meilia dan Barra ketika berlibur di Taman Mini Indonesia Indah !

Akhirnya Jadi Juga Perusahaan Suamiku

Keinginan memiliki perusahaan sendiri memang sudah lama diidamkan suamiku setelah  risain dari perusahaan farmasi. Sambil belajar bisnis, suami bersama rekannya  menjalani usaha ekspedisi penyewaan truk antar kota. Dari yang  bermodal nekat alias nggak punya truk hanya modal "jual omongan" dan  "kepercayaan" sampai kini sudah berhasil memiliki 18 truk berbagai jenis, hanya dalam tempo kurang lebih 5 tahun. Alhamdulillah.

Teman suami memang orangnya sangat berani. Pendidikannya tidak tinggi, hanya SMU, tetapi keberaniannya dalam menghadapi risiko patut diacungi jempol. Dari sisi pergaulan, suami dan temannya ini juga nggak begitu gaul alias tidak punya banyak kenalan dan relasi. Tetapi sekali lagi karena optimis dan berani nekat, berani rugi dan berspekulasi tingkat tinggi, akhirnya jalan juga ekspedisinya.  Apalagi yang dipilihanya adalah bisnis ekspedisi yang notabene  rentan sekali risikonya. Barang hilang, rusak, dibawa kabur orang dan sebagainya..Memang kalau dipikir-pikir, jadi tidak berani. Kalau benar itu terjadi,hehhe mau bayar pakai apa..Ini logika aku yang tidak berani berspekulasi.

Di ekspedisi, risikonya besar, untung pun juga tidak kalah gede. Menurut cerita dari suamiku, ada beberapa rekan bisnisnya yang langsung ambruk usahanya dalam sekejab karena ditipu orang dan barangnya dibawa kabur. Bahkan suamiku sempat ada piutang di perusahaan tersebut, belum bisa kembali. Hehhe gimana mau balik, ketika ditagih memang sudah tidak memiliki uang lagi. Saking banyaknya pihak yang menagih, mereka akhirnya "menghilangkan diri", entah kemana. Ya sudah, suamiku yang memang tidak begitu antusias meminta uangnya kembali,  tidak terlalu ambil pusing.

Bisnis suamiku bersama rekannya relatif berkembang cepat di tengah banyaknya rintangan yang dihadapi. Barang hilang sampai ratusan juta dan itu pernah terjadi beberapa kali. Hilang karena dibawa kabur supir. Kalau di bisnis ekspedisi memang harus bekerja sama dengan ekspedisi lain. Nah, karena kekuranghati-hatian memilih partner kerja, jadilah "kehilangan" itu. Alhamdulillah suamiku dan temannya memang orang yang penuh tanggung jawab. Dia ganti semua barang yang hilang. Waktu itu memang barang tidak diasuransikan sesuai dengan kesepakatan klien. Jadi,hehe lumayan banget. Pokoknya, selesaikan masalah, dan berharap klien tidak sampai terputus hubungan kerja sama. Alhamdulillah, klien pun sangat mengapresiasi tanggung jawab dari suami dan temannya itu. Bisnis suami dan temannya terus berjalan. Rugi yang sempat terjadi, langsung bisa tergantikan lagi dengan order-order lain.

Sambil terus menjalani bisnis ekspedisi dengan temannya, suami juga  mempersiapkan perusahaan sendiri sejak beberapa tahun lalu.. Usahanya masih seputaran ekspedisi. Jadi tetap bisa sinergis dengan yang dia lakukan bersama temannya. Hanya kali ini usaha yang dibentuk CV itu berjenis usaha 'perdagangan umum". Bisa lebih fleksibel jika ingin dilebarkan ke bisnis lain, termasuk mungkin jasa tulisan dan desain websiteku..EHhh bisa nggak ya ?

Nama perusahaan itu adalah "Mitra Sembada Express". Kekuatannya kata suamiku ada pada "Sembada". Aku yang memang ngga begitu kaya akan kosa kata, mendengar Sembada langsung teringat dengan "Swasembada" beras ahhaha..Suami yang irit bicara, juga tidak banyak menjelaskan. Intinya, perusahaannya nanti bisa diandalkan konsumen karena kepercayaan dan tanggung jawabnya.

Karena penasaran, aku riset kata 'Sembada" itu lewat Mbah Google. Jadi secara harfiah, Sembada adalah suatu sikap dan perilaku yang berwatak ksatria yang bertanggung jawab, taat azas, menepati janji, pantang menyerah, tabu berkeluh kesah, bulad tekad, kukuh mempertahankan kebenaran, menghindari dari perbuatan tercela, mampu menangkal dan mengatasi segala masalah, tantangan dan ancaman yang datang dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri, rela berkorban, dan mengabdi pada kesejahteraan bersama. Wahhh ternyata penuh filosofi juga ya..sesuai dengan karakter suamiku hahahh lagi-lagi suami..

Filosofi Logo

Suamiku memesan logo perusahaan ke Mba Susan . Awalnya suamiku ingin rada filosofis dengan mengangkat figur pewayangan, Jadi tulisan yang dirangkai sehingga menyerupai wayang. Warnanya hitam dan biru. Mba Susan sudah membuatnya. Awalnya suami suka. Tapi begitu ditelaah lagi, rupanya logo itu terlalu berat. Memang nyeni, tapi jadi terkesan berat untuk perusahaan yang baru. 

nyeni tapi agak berat 


Untungnya Mba Susan sabar mengikuti segala keinginan kami. Intinya kami ingin logo yang kelihatan "enteng" biar dipermudah jalan bisnisnya. Simpel, namun tetap dinamis dan energik dalam memberikan layanan dan dapat diandalkan oleh konsumen.  Dipilihlah beberapa contoh logo yang sekiranya senafas dengan pesan itu. Heheh lumayan panjang juga proses pemilihan dan pengkreasiannya.

Logo sejatinya merupakan cermin dari visi dan misi yang kita ingin angkat. Tak mudah membuat logo. Bahkan, ada sejumlah perusahaan seperti perusahaan tempatku bekerja dulu, sampai melibatkan ahli fengshui. Alhasil memang mempengaruhi kinerja dari perusahaan itu. Eitts tapi itu bagi yang mempercayai ya. Karena kalau terlalu bergantung pada fengshui jatuhnya jadi syirik. 


 Meski begitu, aku percaya setiap elemen itu pasti memiliki auranya sendiri. Di sinilah ahli fengshui biasanya dengan kepekaannya berupaya untuk mengharmoniskan elemen-element tersebut sehingga tercipta harmoni dan selaras. Apalagi usaha kita terus diiringi dengan  doa, ikhtiar dan sedekah, wahh pasti tambah kinclong deh bisnis kita..semoga aja. 




Dari berbagai revisi, akhirnya dipilih logo seperti ini. Mba Susan mengkreasikan lingkaran itu dalam bentuk panah. Ini mencerminkan, semangat perubahan dan ikhtiar yang tak kenal berhenti dan menyerah. Terus berputar. Ibarat roda kehidupan yang tak berhenti menggelinding untuk membuat hidup makin berenergi. Tanda garis dibawahnya yang mengarah ke atas,  seolah menegaskan bahwa perputaran itu harus maju. Tulisannya MSE juga dibuat energik, dinamis dan ramah. Ramah terhadap klien dan perubahan yang pasti akan terjadi.

Terima kasih Mba Susan atas bantuannya. Semoga rejeki barokah berlimpah tercurah pada kami dan dirimu juga ya..Aamiin.






Liburan Penuh Cinta di Taman Mini Indonesia Indah


Liburan akhir pekan (22 Maret 2013), kami sekeluarga menghabiskannya di Taman Mini 'Indonesia Indah". Ini lantaran Barra (3 tahun), anakku yang ke-2, ingin sekali naik kereta gantung setelah diceritakan kakaknya Meilia (8 tahun), dan melihat foto kereta gantung di internet. Alhamdulillah, ayah pun tidak ada kesibukan sehingga  kami bisa liburan dengan tenang.

Bukan main Barra semangatnya. Pukul 06:00 pagi, dia sudah bangun, alias pindah tempat tidur dari kamarnya ke ruang TV. Hehhe siap-siap kalau tiba-tiba dibangunin. Pasalnya ini anak kalau tidur larut malam, bangunnya bisa jam 10-an. Semangat  liburan memang membuatnya rela bangun pagi.

Pukul 10:00 kami berangkat. Sempat mampir  ke rumah teman untuk silaturahmi. Alhamdulillah perjalanan dari Cileungsi ke TMII lewat Jati Asih lumayan lancar. Biasanya waduhhh macetnya bikin bete. Anak-anak pun riang di perjalanan. Bernyanyi dan ngemil. Senangnya.

Sekitar pukul 12:00-an kami sudah sampai di gerbang utama TMII.  Karena kami datang siang,  pintu gerbang sudah mulai lengang. Hanya ada beberapa mobil mengantri di belakang kendaraan kami. Petugas tiket  dengan ramah memberikan tiket masuk. “Rp 50 ribu Pak,” kata pria bertopi itu sambil menyodorkan selembar tiket. Kata seorang teman, satu mobil dihitung Rp 50.000 mau berapapun isi di dalamnya. Wahh asyik juga ya, tiket masuknya hanya dihitung per mobil. Tapi tidak tahu juga sih. Apa karena menjelang HUT 39 TMII. Kalau tiket yang tercantum di pengumuman loket, per kepala (berusia 3 tahun ke atas) dikenakan Rp 10.000, mobil Rp 10.000, bis Rp 15.000 motor Rp 6000 dan sepeda Rp 1000. Biasanya malah pas hari H, 20 April, tiket masuk gratis :).



Meili anakku yang pertama langsung memberondong aku dengan berbagai pertanyaan. Wahh, siap bekerja jadi guide nih. Mulai dari pintu gerbang, Meili sudah minta pejelasan tentang Museum Purna Bhakti Pertiwi.  'Museum tempat menyimpan barang-barang berupa sovenir dari tamu negara baik hasil lawatan Presiden Suharto maupun  kunjungan tamu negara ke Indonesia..'" begitu aku menjelaskan. Meili mengajak kami ke museum itu, tapi si adik, sudah nggak sabaran mau naik kereta gantung heheh. Ya udah win-win solution, keliling dulu.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Meilia berkunjung ke TMII. Bahkan kami pernah satu kali seminggu ke TMII. Waktu itu Meili ikut belajar tari Bali di Istana Boneka. Sesuai dengan misinya, sebagai wahana pelestari budaya nusantara, TMII memberikan kesempatan belajar kesenian kepada anak-anak Indonesia. Gratis lagi. Sekalipun ada biaya, itu sangat murah. Cuma Rp 20.000, sudah termasuk tiket gratis masuk TMII.


Selama kurang lebih 4 bulan, Meilia yang kala itu berusia 4,5 tahun saya masukkan les tari di sana. Tiap Sabtu siang sekitar pukul 10:30, kami sudah berangkat. Tetapi sejak kehamilan anak ke-2, aku sudah tidak sanggup lagi mengantarkan. Jarak Cileungsi-TMII lumayan jauh, sehingga cukup melelahkan bagi bumil. Jadi deh berhenti sampai sekarang. Niatnya akan memulai lagi.


Biasanya kami sambil menunggu les tari, kami berkeliling ke sejumlah rumah adat yang berdekatan dengan Istana Boneka. Ketika itu Meili belum begitu paham, hanya bilang, " Ma Rumah Sumatera Barat bagus ya.!" .Hhehe Sumatera Barat sangat dihapalnya. Karena pada masa itu sedang ramai-ramainya gempa di Sumatera Barat. Dia dengar Padang atau Sumatera Barat langsung ingat gempa. Meilia senang sekali bermain di Rumah Sumatera Barat.


Selain itu, kami biasanya bermain di taman outbond, berdekatan dengan Keong Mas, Museum Transportasi, Tugu Api, dan Museum Indonesia.  Di dalam Istana Boneka-nya sendiri juga sangat menarik anak-anak. Banyak permainan, area belanja dan kolam renang. Meili  enggan pulang setelah menari. Dia tunggu sampai petugasnya akan mengunci area sekitar pukul 16:00. Baru deh mau pulang. Jadi malu nihh suka ditegur petugasnya untuk segera  meninggalkan tempat :).

Sekarang Meili sudah kelas 3. Kalau beberapa tahun lalu, ke Taman Mini, orientasinya bermain. Sekarang, dia berinisiatif mau mengunjungi museum dan rumah-rumah daerah. Terharu  dengan semangat Meili. Hehhe rada nggak nyangka juga, anakku ini punya kesadaran kebangsaan yang tinggi. Padahal ia bersekolah di SD Islam yang notabene tidak terlalu banyak pelajaran sejarah dan budaya. Tetapi memang dia selalu menghapal kota-kota kalau aku liputan ke luar kota. 


Karena waktu berkunjung sudah siang, liburan hari itu kami hanya mengunjungi beberapa anjungan saja, diantaranya Anjungan Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara,  Sumatera Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari atas kereta gantung, Anjungan Aceh langsung memikat si Barra. Hhehe di sana ada pesawat.”Ma..pesawat tuh !..teriak Barra dari atas kereta gantung. Begitu turun kami langsung mencari anjungan Aceh. Wahh si Barra senang sekali. Ditemani ayah, dia bermain di sekitar pesawat.



Setelah dirasa puas, aku mengajak Meili dan Barra masuk ke rumah adat Aceh. Si Barra lagi-lagi berceloteh lucu ketika memasuki rumah kayu tersebut.”Ma, banyak patung cakep,” celotehnya sambil memperhatikan satu demi satu deretan patung pasangan pengantin dari sejumlah daerah di Aceh.  Koleksi yang berkaitan khasanah Aceh tersusun rapi dan bersih. Lantai kayunya juga nyaris tak berdebu sehingga sangat nyaman bagi anak-anak. Meilia tertegun memperhatikan sejumlah perkakas rumah tangga masyarakat Aceh. Bagi pengunjung juga bisa berfoto di pelaminan.

Dari Aceh kami lanjut ke kawasan Anjungan Sumatera Utara. Woww keren sekali. Di area ini berdiri anggun enam buah rumah adat Batak, diantaranya rumah bolon Batak Simalungin, Jabu Bolon Batak Toba, Siwaluh Jabu Batak Karo Rumah Batak Dairi, Nias dan Rumah Melayu.. Rasanya setiap jengkal kita mengabadikan terlihat begitu indah.

Cukup lama kami di anjungan ini. Menyambangi satu demi satu rumah adat yang ada. Di dalamnya tersimpan koleksi berbagai kerajinan, pengantin adat, alat musik, perkakas rumah tangga, alat perang bahkan sampai alat-alat mistik. Hehhe si Meili yang suka nonton Mister Tukul jadi langsung mengaitkannya ke sana. 



Aku jelaskan saja tentang ikhwal benda-benda itu semata untuk perlindungan diri. Kepercayaan mereka masih animisme sehingga erat kaitannya dengan sesuatu yang berbau mistik. Ya, di sana ada beberapa tombak dengan gagang yang memang agak menyeramkan. Hhehe si Barra malah bengong memperhatikan..”Ini hantu ya Ma,”ujarnya polos.  Bagi yang senang dengan lagu-lagu daerah Batak, tak sulit menemukan koleksinya di sini. Pengunjung bisa membelinya.

Usai berkeliling di anjungan Sumatera Utara, kami menyambangi Anjungan Sumatera Barat. Anjungan ini menampilkan sebanyak lima bangunan adat yaitu Rumah Gadang, Balairung, Rangkiang dan Surau. Di kawasan ini juga dilengkapi dengan pasar seni dan panggung. Wahh jadi lapar mata nih melihat sovenir yang dijajakan. Penataannya juga rapi dan nyaman. 

Kami mengunjungi rumah induk Rumah Gadang, terlihat paling besar dibanding rumah-rumah lainnya. Bagaikan sebuah show room budaya, di dalamnya ditampilkan aneka koleksi barang-barang seni dan pelaminan adat lengkap dengan pakaiannya. Bagi Anda yang ingin mengabadikan gambar di pelaminan juga bisa. Dan, di salah satu rumah menyediakan pula layanan penyewaan busana adat Minang. Tentu saja, Anda bisa berfoto sambil bergaya adat Minang. Sewanya hanya Rp 50 ribu. Lumayan kan, nggak perlu jauh-jauh ke Sumatera Barat kalau mau merasakan atmosfer suasana Minangkabau. 

Dari anjungan Sumatera Barat, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Kaktus. Meili penasaran dengan tanaman ini. Wahh sekarang penataan lokasi Taman Kaktus berbeda dengan yang pernah aku kunjungi sekitar tiga tahun lalu. Lebih rapi dan tertata. Rupanya sekarang Taman Kaktus masuk dalam kawasan Desa Seni, semacam kawasan ekonomi kreatif, pusat seni dan kerajinan tangan. Si Barra lincah sekali berlarian di sela-sela taman itu. Sementara aku dan Meili melihat koleksi buku di Taman Buku Langka.  Lengkap juga koleksinya. Buku-buku yang dulu dilarang terbit dan diberangus, kini dengan mudah dapat dibeli. Diantaranya buku berjudul "Buku Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai", dan sejumlah buku beraliran kiri, pemikiran Tan Malaka, DN Aidit dan Bung Karno. Soal harga, ehhe katanya Pak Doli relatif. Ada yang sampai ratusan juta. Wowww..


Sebenarnya pasar buku langka di Taman Mini sudah ada sejak 28 tahun lalu. Hanya dulu tempatnya di Anjungan Papua. Baru sekitar 3 tahun, menurut cerita Pak Doli yang merupakan anak pendiri pasar buku langka di TMII ini dipindahkan ke  Desa Seni, satu area dengan Taman Kaktus. Memang dari segi tempat, Anjungan Papua lebih strategis. Tetapi di Desa Seni, penataannya jauh lebih rapi dan sangat nyaman. Banyak taman untuk pengunjung bersantai. Ada 3 kios buku langka berukuran 4x4 meter per kiosnya.

Arif Sultoni, Seniman Siluet
Di belakang taman buku langka, ada Galeri Seni Lukis. Di galeri ini juga melayani lukisan sketsa wajah dan karikatur langsung dari Hp. Tarifnya mulai dari Rp 150 ribuan berukuran A4. Wah seru juga nih.

Selain itu, ngga kalah menarik adalah Galeri Seni Siluet. Sejak tayangan Pas Mantab di Trans7, seni lukis wajah bayangan ala siluet ini memang menjadi tren. Sosok senimannya Priadji Kusnadi pun jadi populer. Sebagai sovenir, tamu-tamu dalam acara tersebut diberikan lukisan bayangan siluet karya Priadji Kusnadi ini.

Arif Sultoni, seniman Siluet di Desa Seni salah satu yang menganggumi beliau. Hanya saja, Arif Sultoni mampu mengerjakan lebih cepat, hanya 2 menit.  Dalam suatu acara yang diselenggarakan di TMII, Pak Toni, sapaan akrabnya mampu menggunting kertas hitam berukuran 20x20 cm tanpa putus  menjadi bentuk bayangan wajah sebanyak 110 gambar. Waktunya hanya 3 jam. Tak heran Pak Toni ditasbihkan sebagai seniman gunting siluet wajah tercepat di tanah air. 

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15:45, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Museum Transportasi. Si Barra masih penasaran dengan helikopter. Namun sayang sekali, begitu kami sampai, ehhh layanan berwisata ke dalam pesawatnya sudah tutup. Jadi, kami hanya bermain-main saja di area pesawat dan helikopter. Kami juga melihat kereta api presiden buatan tahun 1930-an. Kebetulan ketika kami naik, ada yang sedang foto prewedding, heheh jadi tontonan gratis.

Perjalanan terakhir kami bermuara di Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada janji  dengan Pak Arif, teman lama, pecinta seni budaya Jawa. Kebetulan hari itu  jadwal anaknya latihan menari Jawa..Wahh Meili langsung bersemangat mau ikutan menari. Banyak juga anak-anak yang menari di sini. Yang dewasa pun ada. Mereka tampak ceria mengikuti instruksi dan menghayati gerakan demi gerakan. Senang melihatnya.



Anjungan DIY membuka les tari dua kali dalam seminggu, setiap Rabu dan Sabtu mulai pukul 15:00-18:00. Biayanya  sangat murah, hanya Rp 20.000 sebulan, sudah sekaligus tiket masuk Taman Mini. Selain menari, ada juga kursus sinden dan gamelan. Ternyata untuk belajar kesenian Jawa, tidak perlu kesulitan lagi. Cukup datang ke Taman Mini “Indonesia Indah”.

Pak Arif dan istrinya, pecinta seni budaya Jawa
Selain anjungan DIY,  Museum Indonesia juga membuka kesempatan belajar tari Jawa. Bedanya, di Museum Indonesia, tari Jawanya sudah dalam tingkat lanjut alias lebih otentik lah..begitu istilahnya aku. Karena ternyata tarian Jawa itu ada berbagai mahzab. Nah mahzab klasiknya bisa dipelajari di Museum Indonesia.

Sambil menikmati anak-anak menari, aku mengobrol santai dengan Pak Arif dan istrinya yang begitu mencintai dunia seni. Anaknya Pak Arif yang bernama Siwi, kelas 4, sudah sangat mahir menari Jawa. Ia sering pentas di berbagai acara yang diselengarakan Taman Mini dan di luar Taman Mini. Belum lama, ia berhasil menyabet juara 2 dalam lomba tari yang diselenggarakan oleh pusat perbelanjaan beken di Jakarta. 


Seni memang membuat orang jadi lebih arif melihat kehidupan dan bijaksana dalam menjalaninya.. Tubuh juga makin sehat karena melalui tari, kepekaan jiwa dan raga terus terasah sehingga membuat hidup makin bernergi, penuh harmoni. Itu terpancar dari pasangan suami istri ini yang awet muda dan sehat.

Siwi (kiri) sedang latihan menari

 Liburan hari itu benar-benar bermakna. Meili dan Barra pun menagih lagi, karena belum sempat mengunjungi banyak obyek wisata di Taman Mini “Indonesia Indah”. Semoga di 39 tahun Taman Mini, makin menginspirasi anak-anak Indonesia mencintai dan bangga dengan budaya nusantara, cinta akan keragamanan sebagai suatu anugerah terindah dari Tuhan terhadap bangsa ini. Selamat ulang tahun Taman Mini “Indonesia Indah ke-39.

Yuk berkunjung ke Taman Mini “Indonesia Indah”, banyak acara seru yang sayang dilewatkan dalam rangka  HUT 39 Tahun TMII. Diantaranya Pameran Produk Unggulan Daerah (Expo Nusantara), Pameran Bersama Museum, Pameran Keris Paksi, Pawai Budaya Nusantara dan Gelari Tari Kolosal dan sebagainya.  Oya abadikan juga ya pengalaman serumu ketika liburan di TMII. Ada lomba blog 39 tahun TMII berhadiah gadget menarik.

Hanya di TMII, Negeriku "satoe" Indonesia, Anda bisa berkeliling Indonesia hanya dalam satu hari. Kobarkan Semangat Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah, Pelestari Budaya Nusantara, Perekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

Baca juga ya liburan Barra di TMII yang ke-2 : Asyik Barra jadi Pilot !