Jual Daster Batik

Jual Daster Batik

Mengatur Jadwal Posting Twitter dengan Tweetdeck

Wahhh senang sekali begitu mengetahui ada aplikasi twitteran yang begitu lengkap. Jujur, aku rada katro banget nih soal twitteran. Punya account twitter lama, tapi hehe jarang diupdate.  Masih fokus di facebook. Tapi rupanya Tuhan menggiringku mencari nafkah lewat sosial media. Ga nyangka banget begitu risain, dapat beberapa proyek mengelola media sosial.

Heheh bukan suatu kebetulan juga, klienku yang EO baru pertama menggunakan jasa media sosial buat benefit suatu event ke kliennya. Jadi, judulnya kita  sama-sama perdana main di media sosial. Modal saya, Alhamdulillah cuma PD dan reputasi saja.  Kata teman-teman sih saya terpercaya soal tanggung jawab. So, bungkus deh.

Awal mengelola media sosial, rempong banget..Tegang tingkat tinggi. Karena nggak biasa ngupdet kontinyu. Alhamdullah di tengah kerempongan, kemana-mana bawa gajet, akhirnya sukses juga. Cuma jangan ditanya follower ya, heheh masih belum mahir nyari follower banyak. Saya cuma dongkak lewat kuis, games dan lomba-lomba. Sempet tergoda pakai jasa tambah follower, cuma masih ragu. Jangan-jangan account kita malah dihack. Dan, kebanyakan juga yang bilang, followernya robot. Percuma aja punya follower banyak tapi robot, bukan human. Tapi katanya ada juga sih yang menawarkan jasa follower asli orang. Nanti deh mau dijajaki dulu. 

Sekarang saya mau cerita tentang tweetdeck. Dari awal saya menerjuni profesi writerpreneur-social media specialist, sempet ngayal gitu twitter bisa diatur jadwal postingnya. Fanpage kan udah ada. Jadi nggak gitu repot. Kalau kita ada meeting atau kayak aku emak-emak yang ngurus anak, ngga keganggu karena harus megangin smartphone mulu.

Hasil browshingan, saya menemukan artikel cantik berjudul
3 AplikasiMenjadwal Status Fanpage Facebook dan Social Media Lainnya  Langsung saya coba tweetdeck. Hasilnya wahhh asyik banget. Benar-benar solusi bagi para pekerja social media. Dari Wikipedia, Tweetdeck adalah sebuah aplikasi dekstop streamreader yang didirikan oleh Ian Dodworth. Seperti aplikasi twitter pada umumnya. Tweetdeck memungkinkan pengguna untuk mengirim dan menerima pesan dari pengguna twitter. Ya secara umum sama fungsinya dengan twitter. Bedanya, di tweetdeck, kita bisa mengatur jadwal posting, mengetweet sekaligus  dari account yang kita punya  dan sebagainya.

Di sini saya jelaskan dikit ya tentang cara mengatur jadwal posting twitter 

1. Masuk dulu ke tweetdeck
    Masuknya bisa melalui alamat account twitter kita. Kayak gini gambarnya.


2. Sebelum kita atur postingan. Kita bisa setting dulu mau berapa account yang kita masukkan. Ini kalau kamu punya lebih dari satu account ya. Kalo cuma satu, yaa nggak usah. Untuk memasukkan account-account kita,  pilih "setting" di bagian terbawah ya. Di situ ada menu account, tinggal daftarkan aja alamat account kita. Persis seperti kita mau sign in di twitter. Masukkan email kita dan password yang sama dengan ketika kita mau aktifkan twitter. Ini saya sudah daftarkan 3 account saya.



3. Cara posting. Kamu pilih 'New Tweet". Nanti akan terpampang account kita. Kalo kamu mo ngetweet langsung dari tweetdeck juga boleh. Bisa satu per satu posting sesuai accountnya. Atau bisa berbarengan sekaligus. Tinggal check list aja account yang mau kita pilih. Jika kita tidak ingin posting sekaligus dengan pesan yang sama, ya pilih satu saja yang dicheck list. Kalau mau semuanya sekaligus dengan pesan sama, tinggal check list semuanya. Ini saya mau posting salah satu saja.



3.Baru deh atur jadwalnya.Pilih tanda "jam". Di situ tertera jam dan tanggal. Kamu bisa atur. Ini seperti kamu mengatur jadwal postingan blog saja. Tapi jangan bingung ya PM dan AM-nya. Salah-salah yang kita mau posting untuk siang hari jam 12;10 wib. Malah jadi jam 12:10 malam. Setelah waktunya diatur, tekan menu "tweet on". Udah deh dipublish. Di sini kamu bisa posting lebih dari 10.






Nah sekarang tinggal kamu pikirkan materi-materi apa yang bakal diuplod untuk jadwal tertentu. Kalau sudah terjadwal begini, kita jadi leluasa mengerjakan aktivitas yang lain dan yang pasti nggak mengimejkan kita sebagai 'autis" hehehe karena mata dan tangan hanya tertuju pada gajet. Selamat mencoba ya sobat semua. Maaf tutornya yang tidak jelas ya..







 

Macet Melahirkan Martabak Lumpia





Sebelumnya tak pernah kepikir oleh Pak Parno berjualan martabak telor lumpia di lingkungan rumahnya. Alasannya berjualan cukup simpel, ia sudah bosan dan lelah dengan kemacetan di jalan.

Maklum selama lebih dari 20 tahun, bapak beranak dua ini bersama taksinya mengarungi ruas-ruas jalan ibu kota. Dilanjut kurang lebih 5 tahun menjadi freelancer supir antar kota sebuah perusahaan ekspedisi terkemuka. 

Kondisi jalan yang tdk baik, ditambah kesemrawutan lalulintas membuat jenuh dan letih ketika harus berhari-hari hidup di jalan. Bermodal gerobak kecil, dan ketrampilan mengolah martabak dari istrinya, ia mantab menjalani profesi barunya.




Harga martabak yg dijajakan juga pas di kantong anak-anak sekolah. Dipatok harga Rp 2000 utk dua butir telor puyuh dan selembar kulit lumpia. Sedangkan konsumsi ibu-ibu, cukup membayar Rp 4000 dengan sebutir telor ayam dan 3 kulit lumpia. Dalam tempo setengah hari ia bisa menghabiskan sekilo telor ayam dan beberapa pak telur puyuh. Faktor kebersihan warung dan gurihnya bumbu menjadi pemikat pembeli.



Anakku, Meili senang sekali dengan martabak telor puyuh ini. Melihat kakaknya berhasil jualan penganan anak, sang adik juga ikutan berjualan di lokasi berbeda. Mereka mangkal di sejumlah sekolah. Ada niat juga Pak Parno membiakkan gerobak martabak lumpia ini. "Yaaa, semoga saja bisa berkembang mbak.." ujar Pak Parno

Diakuinya, kendati penghasilan dari martabak tidak sebesar sewaktu menjadi supir, setidaknya ia bisa terbebas dari kemacetan yg memang makin parah di jalan.

Kemacetan ternyata menginspirasi seseorang mjd enterpreneur. Bagaimana dengan dirimu ? Masih ingin tua di jalan krn macet ?

Testimoni Klikhotel : Responsif Melayani Klien


Ini adalah kali kedua saya memilih Klikhotel menjadi partner dalam pemesanan/booking hotel. Sebelumnya saya memang belum pernah menggunakan jasa reservasi hotel online. Saya terbiasa sepenuhnya diurus oleh kantor ketika liputan ke luar kota. Begitu saya risain, saya merasakan kesulitan ketika bepergian yang membutuhkan akomodasi hotel, terutama mau liburan bersama keluarga.

Banyak situs booking hotel online ditawarkan. Teman-teman pun merekomendasikan sejumlah situs beken yang katanya lebih murah. Saya jelajahi berbagai situs tersebut. Selisihnya memang tidak banyak. Tetapi hhehe orang Indonesia selisih Rp 5000-20.000 bisa langsung pindah ke provider lain. Penawarannya juga menggiurkan. Ada sejumlah hotel yang didiskon lebih dari 50 %.  Ada juga yang sama harganya di berbagai situs booking hotel. Namun jangan terkecoh juga, harga yang tertera belum termasuk pajak. Jadi tampak luar memang lumayan hematnya. Anda harus mengkalkulasi sendiri rate hotel dan pajak yang dikenakan.

Diantara situs booking online itu ada yang menarik hatiku. Situs ini sudah sangat beken. Jumlah testimoninya banyak. Hanya saja  tidak mengakomodir untuk pembayaran via transfer bank sehingga menyulitkan bagi yang tidak memiliki kartu kredit seperti saya. Saya browshing lagi situs booking hotel yang menyediakan fasiitas pembayaran via transfer bank. Dan, pilihan itu tertuju pada klikhotel.

Dari segi jumlah hotel yang bekerja sama, memang tidak banyak dibanding dengan situs booking hotel lainnya. Testimoni tentang hotel juga sedikit. Untuk mendapatkan informasi lebih detil tentang pengalaman menginap, saya harus browshing lagi  ke sejumlah situs lainnya. Soal harga, klik hotel tidak begitu berbeda. Rasanya saya sudah mulai letih juga cari komparasi. Biarlah beda-beda dikit, yang penting pembayarannya via transfer bank.

Bookingan pertama saya pada minggu ketiga Mei 2014.  Waktu itu saya ada acara di Bandung selama seminggu. Untuk hotel selama saya bekerja sudah diurus oleh kantor klien. Tinggal untuk keluarga yang ingin berlibur, saya harus urus sendiri. Saya booking untuk dua hotel, yaitu Pop Harris Bandung (tempat saya menginap mengerjakan proyek sosial media Pameran Produksi Indonesia 2014), dan Marbella Suite Bandung. Kami menginap dua malam di dua hotel berbeda. Kebetulan untuk hotel Marbella Suite sedang ada diskon spesial, lumayan selisihnya.  Saya booking tengah malam dan langsung melakukan pembayaran via sms banking. Pagi harinya saya  mendapatkan email konfirmasi pemesanan. Ketika hari H, saya pun tinggal check in tanpa menunjukkan voucher, cuma KTP keperluan data diri dari pihak hotel. Praktis.

Beberapa hari kemudian, klikhotel meng-email saya kembali untuk testimoni. Saya langsung merespon testimoni kedua hotel tempat saya menginap. Imbalannya dari klik hotel, setiap review hotel atau testimoni, saya memperoleh 5.000 point dan mendapatkan gift voucher hingga Rp 500.000 kalau terpilih sebagai “best review”. Sekitar dua hari kemudian, saya ditelepon oleh customer service klikhotel yang memberitahukan review saya telah diterima dengan baik dan mendapatkan point 5000 juga gift voucher Rp 5000.

Momen liburan Idul Fitri, saya kembali melakukan reservasi hotel via klikhotel. Memang agak mendadak pemesananannya. Kami pesan di high season, sudah barang tentu banyak hotel yang terbooking. Apalagi Yogyakarta yang merupakan destinasi wisata favorit di Indonesia. Wuihhh hotel panen tamu.

Saya dan Meili, anak saya mencari hotel yang sesuai dengan bujet di klik hotel. Pilihan kami jatuh pada Hotel Rengganis yang terletak di jalan Ngadinegaran, Mantrijeron, Yogyakarta. Dari foto yang ditampilkan di klikhotel dan website hotel Rengganis, hotel yang berdesain interior klasik Yogya ini cukup nyaman. Ada kolam renang. Saya melihat testimoninya juga cukup bagus sebagai hotel keluarga. Harganya pas sekali di kantong, Rp 510.000 untuk dua malam (penawaran spesial). Wahhh keren sekali. Kami segera mentransfer via sms banking BCA. Selain BCA, bisa transfer via Bank Mandiri, BNI, BII, CIMB Niaga dan ATM Bersama.

Tanggal 27 Juli sore kami booking dan langsung bayar. Dalam hitungan menit, kami sudah mendapatkan email konfirmasi dari klikhotel yang menerangkan hotel tersebut ready digunakan. Saat itu email gmail saya bermasalah sehingga tidak bisa membaca pesan pemberitahuan yang sudah masuk. Kemudian, saya SMS ke klikhotel, mereka langsung menjawab perihal konfirmasi pemesanan saya.


Keesokan harinya tanggal 28 Juli pukul 09:54 (Idul Fitri), saya menerima SMS dari Ibu Gita, staf hotel Rengganis. Menurutnya via SMS, bookingan saya harus diupgrade menjadi Rp 450 ribu per malam, karena high season.  Kalau kami berminat, diminta segera melakukan pembayaran sisanya sekitar Rp 400 ribu secepatnya. Hmm..sempet agak kecewa dengan Klikhotel yang tidak memberitahu hal ini.  Tidak ada note sedikit pun dari Klikhotel tentang perbedaan kebijakan ini. Setelah diskusi dengan suami, akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan dan mencari hotel lainnya. Ibu Gita berjanji akan mengembalikan uang kami tanpa potongan secepatnya paling dalam waktu seminggu setelah pihak klikhotel mentransfer pembayaran saya ke Rengganis.

Pada saat bersamaan, pada pukul 10:11 wib, saya SMS klik hotel untuk memberitahu permasalahan tersebut. Dari klikhotel, Pak Erick segera menanggapi. Ia berjanji akan memprosesnya alias mengkonfirmasi kembali kepada pihak Hotel Rengganis. Pada pukul 11:32, saya mendapatkan SMS dari Pak Erick, yang memberitahukan pemesanan hotel saya tidak ada masalah. Hotel siap dipakai. Ia menyebut Pak Edo dari pihak hotel Rengganis telah menyetujui bookingan saya. Lah...bagaimana ini ? Kok berbeda lagi. Saya sampaikan respon dari Ibu Gita tentang tidak adanya diskon. Pak Erick tetap berkeyakinan pihak hotel Rengganis telah menyetujui voucher saya. Untuk kepastiannya, Pak Erick akan menghubungi Ibu Gita. Saya pun SMS Ibu Gita tentang progress perbedaan ini.

Tak beberapa lama, Pak Erick menelpon untuk mengabarkan bookingan saya tidak bisa diterima kecuali saya menambah sekitar Rp 400 ribu. Ibu Gita juga menyampaikan hal yang sama. Pak Erick menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan tersebut dan berjanji akan me-refund secepatnya setelah saya memberi tahu rekening. 


Benar saja, begitu saya beri tahu rekening, saya mendapatkan pesan via email yang menegaskan refund akan dilakukan selama 2 x 24 jam, bukan seminggu seperti yang disampaikan Ibu Gita. Tentu saja saya senang mendengarnya. Lebih cepat, lebih baik. Tanpa ada pemotongan sedikit pun. DI klausul reservasi memang dijelaskan untuk pembatalan bisa dikenakan biaya Rp 50.000. Bahkan uang yang sudah ditransfer tidak bisa dikembalikan jika ada pembatalan. Namun dalam kasus saya ini, sama sekali tidak ada pemotongan. Kesalahan terjadi karena adanya kesalahpahaman dan ketidaksingkronan kebijakan antara pihak hotel dan klikhotel.


Pukul 14:08 di hari yang sama (28 Juli), saya mendapatkan email bukti refund dari klik hotel. Dan, sorenya Pak Erick memberitahu refund saya sudah dilakukan. Wahh cepat sekali prosesnya, hanya hitungan jam saja. Saya sangat mengapresiasi layanan Klikhotel.

Sebagai bentuk permohonan maaf dari manajemen Klikhotel, saya mendapatkan Gift Voucher senilai Rp 50 ribu, expire date 28 Juli 2015. Saya jadi tambah salut dengan layanan klikhotel. Terima kasih Klikhotel, sepertinya saya akan menjadi klien setiamu..

Ketika Anak Mulai Memahami Politik

Hingar bingar politik di tanah air memang cukup menyita perhatian. Tak hanya orang dewasa yang “sadar” politik, sekaligus juga anak-anak turut merasakan kegairahan berpolitik. Anakku salah satunya  : Meili (9 tahun) dan Barra (3,5 tahun). Keduanya sampai hapal dengan lagu-lagu kampanye pasangan Wiranto-Hari Tanu yang berjudul Indonesia Jaya karena keseringan tampil di televisi. Tokoh Prabowo dan Wiranto  sudah dihapal mereka. Begitu pun Jokowi yang merupakan pilihan presiden orang tuanya 

Meilia termasuk anak yang kritis. Apapun yang sekiranya mengganjal di hatinya selalu ditanya. Termasuk menanyakan tentang mengapa mamanya pilih Jokowi. Sedangkan, teman-teman di sekolahnya (kelas 3 SD)  selalu menegatifkan Jokowi. Pria asal Solo itu dituduh Cina, kafir, punya banyak preman dan sebagainya. Pertanyaan ini aktif ditanyakan menjelang pileg Maret-April lalu. Aku kaget juga mendengarnya. Anak-anak ternyata tahu juga tentang politik. Dan, tak habis dibayangkan, fitnah dan tuduhan terhadap Jokowi sudah sampai menempel di benak anak-anak kelas 3 SD.

Menurut cerita Meili, teman-temannya sering saling "bergosip politik" menanyakan presiden mana yang dipilih. Meili mengaku sangat bingung. Kenapa Mamanya pilih pemimpin yang kafir dan ia tak menyangka ternyata Jokowi seorang Cina. Aku ingat sekali waktu ramai-ramainya pileg, Meili  tak berhenti menuntutku menjelaskan tentang Joko Widodo. Setiap ada berita Jokowi, aku yang bersamanya melihat berita, langsung diberondong pertanyaan. Emosiku sempat naik juga dengan tuduhan itu karena aku tahu Jokowi tidak seperti itu. Aku tanya ke Meili, dari mana teman-temannya bisa tahu Jokowi itu Cina, Kafir, Apakah dari guru di sekolahnya..Meili menggeleng. Guru di sekolahnya tak pernah menjelaskan tentang politik. Teman-temannya kebanyakan mengetahui tentang Jokowi dari guru ngaji di TPA, ada juga yang tahu dari orang tuanya.Hmm..

 Jadilah hari itu aku jelaskan detil tentang alasan orang tuanya memilih Jokowi. Aku juga tunjukkan beberapa foto Jokowi ke Mekah, mencium tangan ibunya, memperlihatkan bukti-bukti prestasi Jokowi membangun Jakarta dengan menunjukkan Pasar Tanaabang, Waduk Pluit, Kartu Jakarta Sehat sampai pengemis dan topeng monyet.  Untungnya aku masih menyimpan Majalah Venue--media tempat aku pernah bekerja selama 5 tahun—menulis tentang Jokowi mengalokasi pedagang kaki lima, membangun taman-taman di Solo, peduli dengan pasar tradisional dan sebagainya. Aku perlihatkan foto-foto di majalah tersebut.



 Setiap kali kami silaturahmi ke Jakarta, dalam perjalanan aku selalu menjelaskan keberhasilan Jokowi membuat taman-taman kota dan menyamankan pejalan kaki.  Meili melihat langsung  trotoar yang diperlebar dan dipercantik, kursi-kursi taman di sepanjang trotoar, tidak ada rumah-rumah kardus di kolong jembatan di Palmerah dan hampir sepanjang perjalanan dari Cileungsi ke Jakarta, kami tidak menemukan pengemis yang biasanya marak di perempatan jalan dan lampu merah. Intinya aku perlihatkan sejumlah bukti "kerja nyata" Jokowi untuk DKI yang bisa ditangkap Meili. Aku ingin, dia melihat langsung bagaimana seharusnya seorang pemimpin bekerja untuk rakyatnya. Dan, mengapa orang tuanya begitu berharap Jokowi bisa menjadi presiden Indonesia. 

Huff..letih juga sih  menjelaskan panjang lebar saat perjalanan karena  Meili selalu merespon balik dengan komentar-komentar polosnya. Salah satunya ia mengomentari pengendara motor nyelonong masuk ke jalur busway di depan matanya. "Ma..itu ada motor jalan di jalur busway..Bukannya dilarang ya mah..ada dendanya 500 ribu," ujarnya polos. Hapal juga dia, nggak nyangka juga. Aku jabab :"Yaa didenda Meili kalau ketahuan polisi. Orang kita kebanyakan suka melanggar peraturan, susah disiplinnya. Makanya bangsa kita nggak maju-maju. Meili jangan gitu ya. Ada nggak ada polisi tetap taat peraturan. Kalau dilanggar, yang rugi juga kita sendiri, seperti kecelakaan. Memang lebih cepat tetapi berbahaya," jawabku.

Alhamdulillah dengan penjelasanku yang agak gamblang tentang Jokowi,  anakku bisa mengerti dan mampu memberikan penilaian tersendiri terhadap teman-temannya yang memiliki pendapat bersebrangan. Selain itu,  aku pun tak ingin anakku jadi “tukang fitnah” dan “tukang mencela”, sehingga aku berupaya menjelaskan sebijak mungkin tentang sosok Prabowo bahwa dia seorang militer yang berprestasi, pelatih pasukan kebanggaan negeri ini, dan dia juga seorang anak begawan ekonomi, Soemitro Djoyohadikoesoemo. "Kalau Prabowo bagus, kenapa Mama ga pilih Prabowo ? tanyanya. " Hmm karena di hati Mama Jokowi yang cocok memimpin negeri ini. Kan harus sesuai hati nurani," jawabku.

 Memang semula aku berfikir terlalu dini menurutku anak paham soal politik yang notabene konsumsi orang dewasa. Namun, mengingat masifnya iklan capres  dan tayangan politik hampir di sebagian besar di TV, mengundang ketertarikan anak yg “peduli”.

Dengan pengetahuan cukup, Meili berkembang menjadi anak yang “berani berbeda” dari kebanyakan  teman-teman di kelasnya. Dia bisa berdebat dan mencoba meluruskan sesuai yang diketahui Mamanya. "Udah aku jelasin Mah, tetapi tetap aja teman Meili ga percaya..Ya udah Meili diam aja."ujarnya. Dia mengaku, hanya dia dan seorang temannya yang memilih Jokowi. "Cuma aku sama Darin mah yang milih Jokowi," sungutnya. (Belakangan ketika pilpres ia mengaku kalau sebagian guru di sekolahnya banyak memakai atribut bergambar Prabowo-Hatta seperti kaos, topi ber-pin). "Ya udah jangan ribut ya. Biarlah Allah yang Maha Menilai. Yang penting Meili nggak percaya sama mereka ya," terangku. "Yalah Meili ga percaya. Orang Meili liat sendiri di foto FB Mama Jokowi pergi haji dan cium tangan ibunya yang bukan Cina," timpalnya. Aku tersenyum, syukurlah ia tidak mudah terbawa arus kebanyakan.


Aku akui, pemikiran Meili memang sudah di depan. Bisa dibilang seperti ‘orang tua”. Ini diamini pula oleh guru-gurunya di TK dan SD. Meili kalau sudah nanya dan belum menemukan jawaban yang memuaskan, pasti tak berhenti bertanya. Tak hanya persoalan tentang dunia anak-anak saja, tetapi juga kesehatan, artis, politik bahkan persoalan di negeri ini selau ditanyakan ke aku.  Beberapa waktu lalu ramai di TV disiarkan tentang Ahmad Fathonah yang digiring-giring polisi. Dia langsung minta penjelasan kepadaku arti korupsi dan mengapa bertentangan dengan hukum. Wahh, aku pun harus mencari-cari cara menjelaskan yang sesuai  logikanya dengan berbagai analogi yang bisa diterima akalnya. Aku jelaskan intinya, korupsi itu  "mengambil uang/barang yang bukan miliknya dengan cari "melebihkan" anggaran. Aku contohkan, Meili disuruh mama beli garam. Harga aslinya garam Rp 1000, ternyata Meili bilang Rp 2000 ke Mama.. Nah yang dilebihkan Rp1000 itu masuk ke kantong Meili, Itu adalah korupsi Meili. Lantas bagaimana dengan negara. Uang negara jadi abis karena diambilin koruptor dengan cara seperti itu.  Dia mengangguk-ngangguk. Kemudian nyeletuk lagi “ Ahmad itu kan nama kecil Nabi Muhammad, dan Fathonah sifat rosul yaitu cerdas. Kok namanya bagus, kelakuannya jelek ya Mah..”  Aduhh lagi-lagi aku tarik nafas nih..rada bingung menjelaskannya.

Begitu pun ketika kasus Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah ber-jas tahanan KPK, Meili langsung komentar : “Kok ibu itu berkerudung, korupsi juga..” Hmmm beginilah  realitas yang terjadi di mata anak-anak. "Berkerudung kan hanya pakaiannya saja Meili. Perilakunya masih belum sesuai. Meili jangan begitu ya..Malu sebagai orang Islam !" ujarku agak miris juga ketika anak melihat kenyataan dan kontradiksi.

Meili memang tidak seperti anak kebanyakan. Dia suka menonton berita. Bak seorang guru, biasanya ketika nonton bareng mbahnya, Meili pasti “menerjemahkan”kembali pesan-pesan yang disampaikan penyiar. Hehehe menyangka mbahnya tidak mengerti (padahal mengerti). Debat kecil sering kudengar antara Meili dan Mbahnya dalam membahas suatu kasus.

Soal kepemimpinan non muslim tak luput dari keingintahuan Meili. Waktu itu dia masih mengaji di TPA. Guru ngajinya pernah bilang, umat Islam tidak boleh memilih pemimpin  non Islam. Guru itu mencontohkan tentang DKI yang dilanda banjir besar dan lama beberapa waktu lalu disebabkan “hukuman Allah” karena umat Islam telah memilih pemimpin yang tidak jelas agamanya dan  wakilnya non muslim pula. ..”Orang kafir-kristen masuk neraka” katanya menirukan ucapan gurunya. Hmm aku menarik nafas panjang. Melihat anak-anaku tumbuh dan berkembang, aku bersyukur pada Allah diberikan rezeki yang cukup sehingga bisa risain dari kantor dan bekerja di rumah. Hal-hal seperti inilah anak-anak butuh dampingan dan penjelasan berimbang. Sejak awal 2013 aku risain, Meili memang memberiku PR yang lumayan menantang.

Soal pemimpin non muslim dengan contoh Ahok, pelan-pelan aku jelaskan dari sisi nilai-nilai kemanusiaan. Aku bukan ahli tafsir Quran, dan pemahaaman agamaku juga sangat sedikit. Biasanya aku bertanya pada guru ngaji mingguanku. Alhamdulillah, aku punya guru ngaji yang bijaksana dan berpandangan terbuka. Beliau bilang, ‘Selama tujuannya muamalah dan tidak memusuhi Islam. Bahkan memang, orangnya baik dan terbukti amanah, apa yang harus dikhawatirkan. Kita hanya tidak boleh bekerja sama dalam urusan ibadah. Selain itu silahkan, kita bisa berteman dan bersahabat,”begitu penjelasan Ustazah Eti Nasrun, salah satu ustazah yang lumayan disegani di Perumahan Griya Alam Sentosa. Aku juga mengambil dari beberapa referensi. Salah satunya dari http://politik.kompasiana.com/2012/09/12/al-quran-membolehkan-pilih-pemimpin-non-muslim-492673.html

Dari artikel tersebut, aku tukilkan :
Syaikh Qaradhawi yang juga Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional, membagi orang Kafir atau Non-Muslim menjadi dua golongan :
 Pertama, yaitu golongan yang berdamai dengan orang-orang Islam, tidak memerangi dan mengusir mereka dari negeri mereka. Terhadap golongan ini, umat Islam harus berbuat baik dan berbuat adil. Di antaranya memberikan hak-hak politik sebagai warga Negara, yang sama dengan warga Negara lainnya, sehingga mereka tidak merasa terasingkan sebagai sesama anak Ibu Pertiwi.
Sedangkan golongan kedua, adalah golongan yang memusuhi dan memerangi umat Islam, seperti orang-orang Non-Muslim Mekah pada masa permulaan Islam yang sering menindas, menyiksa dan mencelakakan umat Islam. Terhadap golongan ini, umat Islam diharamkan mengangkat mereka sebagai pemimpin atau teman setia.

Pendapat Syaikh Qaradhawi ini didasarkan pada Surat Al-Mumtahanah : 8, yang terjemahnya sebagai berikut:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Meili tak lama mengaji di TPA ini. Alasannya bukan karena aku yang jujur sudah mulai agak khawatir, dengan doktrinisasi.  Tetapi lebih ke soal waktu. Sejak kelas 3, dia berangkat ke sekolah  pukul 6:30 dan pulang pukul 15:00 Wib.  Istirahat sebentar untuk makan dan mandi. Pukul 16:00 sudah harus berangkat lagi mengaji. Sebelumnya ia mengaji di TPA lain ba’da Maghrib. Namun karena tergoda dengan ajakan teman sekelasnya untuk ngaji bareng di TPA lain, aku pun tak kuasa menolak keinginan tersebut. Apalagi TPA yang baru ini cukup banyak anak sehingga Meili bisa lebih banyak bergaul. Anakku termasuk kurang pergaulan. DI TPA yang sebelumnya, hanya beberapa gelintir anak saja yang mengaji. Waktunya juga terbatas. Jadi, biarlah menurutku dia pindah.

Sudah hampir setengah tahun Meili tidak mengaji di luar. Ba’da Maghrib aku mengajarinya mengaji dan hapalan hehehe sekalian menghapal bareng surat-surat Juz Amma. Saat-saat inilah biasanya dia bercerita banyak tentang kehidupan sekolahnya dan teman-teman bermainnya. Usai mengaji, istirahat sebentar baru kemudian belajar sampai pukul 21:00 wib.  Tidak rutin juga. Kadang ada bolongnya, kalo aku ada meeting di luar hingga pulang larut malam. Atau aku yang letih suka tidur setelah Isya. Memang butuh energi ekstra mengajari anak.

Dengan adanya internet sangat membantuku ketika mengajari anak, jadi lebih mudah, langsung dihadapkan dengan contoh-contoh visual. Meili termasuk anak yang tidak suka membaca. Jadi sepenuhnya pengetahuan diperoleh dari mendengarkan penjelasan orang lain. Lucunya, setiap pengetahuan yang didapat dari aku pasti langsung ditransfernya ke mbahnya hehhe..Barra, adiknya (3 thn) juga suka menjadi obyek ceritanya. Bahkan tak jarang aku mendengar ketika bermain dengan teman-temannya Meili kerap menceritakan kembali hal-hal baru yang diketahui dari aku. Diantaranya tentang makamnya nabi Muhammad yang dia lihat di internet. Tentang jejak kapal Nabi Nuh, peristiwa keajaiban haji, misteri Candi Borubuddur dan sebagainya. Meili tipikal anak yang verbal kendati  pendiam juga. Semoga Mama tetap sehat ya Meili. Biar bisa terus mendampingimu dalam menemukan jati dirimu. Aamiin.



Petualangan 1000 Anak ala Rumah Perubahan


Hai teman-teman pernah dengar atau tahu Rumah Perubahan? Jujur, aku baru kali pertama mengetahuinya ketika membaca sebuah info dari teman di media sosial tentang acara petualangan cilik di Rumah Perubahan.

 Yang terbayang di benakku adalah sebuah rumah yang berisi orang-orang yang berkeinginan kuat untuk  maju atau rumah dinamis yang mewadahi, mengakomodasi dan menginspirasi segala kebutuhan orang-orang yang ingin berfikir maju dan menata hidupnya untuk lebih baik.  Hmm..Alhamdulillah penafsiranku rupanya tidak jauh meleset.

Rumah Perubahan memang dilahirkan oleh Rhenald Kasali, seorang pengusaha sekaligus motivator bisnis yang handal negeri ini, bertujuan untuk melakukan perubahan nyata, membebaskan masyarakat, dunia usaha, dan negeri ini dari belenggu yang mengikat kaki, tangan, dan pikiran mereka.

Di alam terbuka di Rumah Perubahan, Rhenald Kasali menerapi pikiran-pikiran yang terbelenggu yang membuat bangsa ini rapuh. Diantaranya pikiran dan sikap yang kurang bersyukur, cepat merasa puas, mudah menyerah, tidak terbuka, senang membangun keributan dan konflik, mudah tersulut amarah, gemar berwacana tanpa bertindak, menciptakan rintangan-rintangan untuk kemajuan, takut menghadapi realita baru dan sebagainya.


Berangkat dari visi tersebut, Rumah Perubahan yang didirikan sejak 7 September 2007 ini memberikan pelatihan dan melakukan berbagai kegiatan sosial yang meliputi  tiga bidang yaitu pendidikan, kesejahteraan sosial dan lingkungan hidup. Salah satu kegiatan sosialnya adalah program 1000 petualangan cilik. Tidak tanggung-tanggung, Rumah Perubahan mengajak  secara cuma-cuma sebanyak 1000 anak  untuk berpetualang mencintai alam.

Petualangan ini dibagi dalam enam batch, mulai bulan Maret hingga September 2014. Sebelumnya, sebagai bentuk dari Social Entrepreneurship, Rumah Perubahan juga telah membangun Rumah Baca Manca dan TK-PAUD Kutilang untuk anak-anak kurang mampu dari segi ekonomi di daerah sekitar lokasi Rumah Perubahan di Jati Murni.


Serunya Berpetualang Mencintai Alam


Aku mendaftarkan anakku, Meilia (8 tahun) dan beberapa anak teman pada batch 1, 23 Maret 2014. Kegiatan ini dimulai pada pukul 08:00 hingga 12:00 WIB. Pukul 07:00, kami sudah harus daftar ulang di Rumah Perubahan yang terletak di Jalan Raya Hankam, Jatimurni, Bekasi. Dengan penuh semangat, Meilia sudah bangun dari jam setengah 5. Biasanya susah banget dibangunin. Udara dingin yang menusuk relung pori-pori rupanya tidak menggoyahkan semangat Meili bangun nyubuh :)

Pagi itu memang cuaca kelabu, matahari hanya mengintip saja dari peraduan. Gemericik hujan akhirnya tak kuasa jatuh juga membasahi bumi. Sepanjang jalan dari Cileungsi ke Jatimurni, hujan terus mengiringi. Sempat ragu dalam hati tentang acara ini, lantaran melihat jadwal acara yang dikirimkan panitia via imel, nyaris sepenuhnya dilaksanakan di luar ruang. Hmm panitia kayaknya harus bikin plan berbeda nih kalau cuaca nggak mendukung,”..pikirku. Aku lihat di belakang, Meili sudah berada di alam mimpi lagi. Hehe ngelanjutin tidurnya.



Sekitar pukul 07:30, kami sudah sampai di area sekitar lokasi Rumah Perubahan. Hujan makin deras aja. Dari kejauhan, nampak iring-iringan anak-anak berpayung dan berjas hujan berjalan penuh semangat. Kami yang memang baru kali pertama ke Rumah Perubahan, sedikit menebak, jangan-jangan itu anak-anak yang akan berpetualang. Dari balik mobil, aku tanya ke Bapak Security yang “mengamankan” iring-iringan anak-anak itu. “Pak, Rumah Perubahan ada di sebelah mana ya ? Masih jauh dari sini ? tanyaku. “Oo nggak bu, tinggal sedikit lagi. Masuk jalan ini dan Ibu ikuti aja anak-anak itu ya," jawab Bapak Security. Aku dan suamiku saling tersenyum melihat semangat anak-anak yang rela berhujan-hujan menuju Rumah Perubahan. Sepertinya puluhan anak-anak itu tinggal tak jauh dari lokasi Rumah Perubahan.

Letak Rumah Perubahan memang agak ke dalam. Kita harus menyusuri jalan setapak yang hanya memuat satu arah mobil. Dari jalan utama sekitar 300 meter. Rumah perubahan benar-benar berada di tengah-tengah pemukiman penduduk yang cukup padat. Kendaraan kami langsung digiring ke area parkir di sebuah hamparan kebun. Hujan masih enggan berhenti. Meili yang sedari tadi tertidur, langsung siaga. ‘Ma, kita ada dimana nih? Tanyanya sambil mengucek-ngucek matanya, mengumpulkan nyawa. “Kita sudah sampai Mel..”jawabku sambil tersenyum dan mengajaknya berjalan kurang lebih 5 menit menuju lokasi. 

Wahh rupanya, di pelataran Rumah Perubahan sudah penuh kendaraan sehingga kendaraan kami tidak kebagian. Luar biasa semangat betul nih anak-anak dan ayah bundanya ;).  Di ruang daftar ulang, anak-anak dengan penuh keceriaan siap bermain.  Mereka yang telah daftar ulang dibagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan usia. Kami pun dibekali snack dan voucher Starbuck. Kakak-kakak mentor dan fasilitator kelompok sudah  kumpul di ruangan. Hmmm hujan masih betah. “Ya Allah, terangkanlah cuacanya. Berilah anak-anak ini kesempatan merasakan petualangan di Rumah Perubahan,” doaku dalam hati.

Ayah bunda mengikuti acara bedah buku berjudul Bunda Lisa di Kafe Embun

Alhamdulillah sekitar pukul 08:30, perlahan tapi pasti matahari sudah mulai eksis beradu tampil dengan gerimis kecil.  Anak-anak tetap tak gentar segera menuju arena bermain. Meili masuk dalam kelompok Matoa. Orang tua diminta tidak mengikuti anak-anak bermain. Panitia telah menyiapkan acara khusus buat ayah bunda yaitu bedah buku yang berjudul "Bunda Lisa". di Kafe Embun.

Bunda lisa yang  tak lain adalah istri Rhenald Kasali ini memiliki jiwa sosial yang tinggi  sehingga mendorong Jombang Sentani Khairen, penulis buku tersebut yang juga seorang mahasiswa dari Prof Rhenald Kasali untuk mengabadikannya dalam sebuah buku biografi. Dalam buku tersebut  dikisahkan pula sisi lain seorang Bunda Lisa yang begitu memberikan arti bagi perjalanan hidup Rhenald Kasali. Ya,  "Dibalik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat dibelakangnya. Dialah itu Bunda Lisa. Romantisnya...;) Aku yang niatnya mau bergabung dengan ayah bunda, ternyata malah larut mengikuti anak-anak bermain. ‘Sekalian reportase lah..heheh,” begitu pikirku.

Arena bermain Rumah Perubahan ternyata sangat luas dalam hamparan rumput yang tertata rapi. Ada hamparan perkebunan sayur, peternakan sapi, Rumah Tempe, tempat pemancingan, kafe dan sejumlah bale-bale santai. Sebanyak 136 anak berusia 3-14 tahun bergiliran sesuai dengan kelompoknya bermain dari pos satu ke pos berikutnya. Khusus untuk anak-anak yang berusia 3-5 tahun, panitia telah menyiapkan permainan sesuai usianya, diantaranya mewarnai, mendengarkan dongeng (story telling), memberi makan sapi, dan sejumlah kegiatan kreatif lainnya.



Di pos 1, kelompok Matoa bermain ‘dinamika kelompok”melalui pesan berantai dari satu teman ke teman lainnya. Jadi, anak-anak dibisikkan oleh kakak mentor kisi-kisi tentang “bentuk” pada sebuah piring. Sebagai medianya, disediakan irisan anggur, pisang, dan jeruk. Wahh anak-anak dengan kepolosan dan kekompakannya men-transfer pesan dari mentor melalui teman ke teman lainnya. Hasilnya, mereka rangkaikan irisan buah itu sesuai pesan yang ditangkap dari teman terakhir. Sejatinya, jika pesan-pesan itu tersampaikan dengan baik akan membentuk wajah tersenyum. Hhehe dari hasil itu, irisan buah hasil kerja sama anak-anak malah berbentuk tak jelas. Meski begitu anak-anak tetap senang. Kakak mentor pun menyampaikan isi dari permainan tersebut dalam bahasa mereka.

Dari pos 1 berlanjut ke pos 2 yang masih berada dalam lokasi yang sama. Di Pos 2 ini, Matoa bercocok tanam kangkung organik. Sebelumnya kakak mentor menjelaskan tentang pentingnya makan sayur-sayuran bagi kesehatan. Anak-anak diminta menyebutkan sayur-sayuran yang mereka kenal. 


Dibimbing kakak mentor, anak-anak tanpa keraguan dan takut becek langsung turun ke sawah memetik kangkung. “Ayo...petik sebanyak-banyaknya ya buat disayur sama bunda di rumah,” seru kakak mentor. Setelah itu mereka mencuci sendiri kangkung hasil petikannya. Siap deh dikemas untuk dibawa pulang. Oya, sebelum mengakhiri pos 2, kakak mentor juga memberikan kejutan hadiah bagi siapa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar.

Pos 3, letaknya lumayan jauh dengan perjalanan setengah mendaki. Di Pos 3 ini, kelompok Matoa bersiap untuk membuat tempe di Rumah Tempe. Rumah Tempe ini memproduksi tempe dengan teknologi moderen dan higienis. Sebelum membuat tempe, panitia membagikan masker, sarung tangan dan ikat kepala. Perlengkapan ini bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Mantab bener serasa jadi chef. Kakak mentor dengan sabar dan suasana fun menjelaskan kronologi pembuatan “tempe embun”. 



Meili yang pernah melihat proses pembuatan tempe dari mbahnya di kampung cukup merasa heran karena proses pembuatan tempe embun ini tidak pakai diinjak-injak kedelainya. Jadi, kedelai yang berkualitas tinggi itu dicuci dan direbus dengan menggunakan air embun yang diperoleh dari teknologi tinggi. Air embun terbukti bebas dari mineral anorganik (sodium/garam, kloride), logam berat (timbal dan merkuri), serta pestisida berbahaya sehingga tempe yang dihasilkan lebih bersih, lebih sehat, lebih higienis dan lebih empuk. Anak-anak merasakan langsung “menguleni” tempe. Setelah dibersihkan dan direbus, setiap anak mengantongi sendiri kedelainya untuk dibawa pulang.
 “Disimpan di tempat yang bersih ya di rumah,” pesan salah satu kakak mentor. Dalam beberapa hari, kedelai yang dikemas itu nanti akan ditumbuhi jamur tempe. Jadi deh tempenya. Oya sebelum mengakhiri sesi ini, kakak mentor memberikan tebakan. Alhamdulillah Meilia dapat menjawab pertanyaan dengan tepat dan cepat. Hadiah berupa lampu belajar lucu berhasil diboyong Meili. Senangnya.


Usai membuat tempe, kerbau sudah menunggu untuk dimandikan. Wahhh, rupanya banyak anak yang takut memegang kerbau sehingga kakak-kakak harus membujuk dan menggendong beberapa anak yang ketakutan. Hehe di kota nggak pernah lihat kerbau ya, jadi agak aneh melihat hewan bertanduk dan bertubuh gemuk hitam itu.

Usai bermain air dengan kerbau, orang tua membantu memandikan anak-anaknya. Panitia mengatur rapi antrian sehingga tidak  terlalu berdesakan. Setelah cantik dan cakep kembali, anak-anak digiring ke halaman rumput bermain tentang dinamika kelompok, bagaimana bisa bekerja sama dengan sinergis menggelindingkan bola pada bilahan bambu. Terlihat team work terbangun dengan penuh keceriaan.


Tibalah pada pos puncak nih yaitu membuat biogas dari kotoran sapi. Meili baru tahu bahwa kotoran sapi yang diolah menjadi biogas bisa dimanfaatkan jadi energi listrik. "Aduhh Ma, bau deh Meili disuruh cium gasnya,” cerita Meili kepadaku yang waktu itu tidak berada di lokasi pembuatan biogas. Aku jelaskan ke Meili, bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan, kendati itu berupa kotoran, nyatanya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia juga. Asal manusia itu mau berfikir dan berani menciptakan,” jelasku ke Meili.

Sambil menunggu anak-anak bermain, ayah bunda dihibur musik percusi dari limbah drum. Bagi ayah bunda yang ingin berbelanja produk sayuran, panitia menyediakan bazar sayuran. Segar-segar sekali sayuranya, langsung dipetik dari kebun. Aku memborong kangkung dan tempe. Kangkung memang menjadi makanan favorit Meili. 


Waktu setengah hari itu benar-benar sangat bermanfaat bagi anak-anak untuk belajar mencintai alam sambil bermain. Pulangnya, anak-anak dibekali lagi sovenir dari sponsor.. Wah makin senang deh. Yuk ayah bunda ajak putra-putrinya ikut Program 1000 Petualangan  Cilik ala Rumah Perubahan. Gratis !. Menurut Nuril Eka, Bussiness Development of Social Change Division Rumah Perubahan, pada batch selanjutnya akan mengikutsertakan anak-anak diffabel. Let's Make a Change in Your Life !