Jual Daster Batik

Jual Daster Batik

Teman Berkhianat, Malah Jadi Berkah

Dalam berbisnis, teman itu memang tidak sedikit yang malah menjadi musuh atau mencoba menusuk dari belakang. Wuiihh serem ya. Tapi jangan membuat Anda jadi malah takut untuk menjalin pertemanan. Terimalah dengan hati dan tangan terbuka siapa saja yang ingin berteman. Karena, kita tidak pernah tahu, siapa saja diantara teman-teman kita itu yang sesungguhnya memang pantas menjadi teman.

 Yaa, kalau saya sih prinsipnya, 'positif thinking" saja. Kalau memang ternyata, ada teman yang niatnya atau berubah jadi negatif ke kita, biarlah Allah saja yang mengurus. Tugas kita hanya mencoba sebaik mungkin menjalin pertemanan. Saya sih percaya, Allah selalu melindungi saya dari orang-orang yang mencoba "mencelakai" atau "menodai" pertemanan dengan cara yang tidak senonoh.

Mau share dikit aja tentang pengalaman saya berteman, yang sampai sekarang, jujur sudah saya maafkan, tapi "tidak anggap pertemanan" lagi. Biasa saja, anggap saja dia tidak pernah menjadi teman saya hahahha. Meski begitu, saya tidak berkeinginan men-delete-nya dari pertemanan di Facebook. Hanya tidak berinteraksi saja dan anggap tidak mengenal untuk mengobati rasa kekesalan yang benar-benar memuncak.

Sebenarnya saya dan dia (cowok) nggak gitu kenal-kenal banget. Hanya pernah satu organisasi di Bandung. Itu pun nggak intens ya berhubungan. Hanya sesekali bertemu dan jalan bareng untuk suatu kegiatan. Setelah lulus, saya kembali ke Jakarta. Dan, dia masih di Bandung, karena memang dia berasal dari salah satu daerah di Jawa Barat. Dan, saya benar-benar tidak mengetahui lagi jejaknya.

 Sekitar 6 tahun kemudian, kami bersilaturahmi kembali melalui facebook. Jadilah obrolan ringan dan cukup mengakrabkan. Rupanya, dia telah menikah dan punya anak. Aku pun begitu, dah punya anak satu. Kami bercerita tentang keluarga masing-masing. Seperti biasalah gaya dia yang menurutku sih norak ya..rayu2, dan memuji. Hehe dikiranya aku perempuan yang mudah hanyut dalam kata-kata manis cowok. 

Dia kerap menghubungi untuk sekedar curhat tentang rumah tangganya. Yaa, aku hanya menjadi pendengar saja dan sedikit kasih masukan. Aku sih mencoba netral. Singkat cerita, akhirnya mereka bercerai. Komunikasi kami sempat terputus sekian tahun. Jujur, aku malas aja ngaledin orang yang cuma curhat aja. . Sesekali kontakan untuk basa-basi kabar.

Kami baru intens berkomunikasi karena ada kepentingan. Saya kebetulan sudah risain dan sedang mengendus-ngendus bisnis yang sesuai. Waktu itu, saya sedang menggarap proyek web content sebuah perusahaan kontraktor. Nah, bukan suatu kebetulan, dia memang membidangi pekerjaan web desain dan sejumlah instalasi IT, atau jaringan gitu deh. Karena ada kepentingan yang sama, sama-sama ingin bisa berbagi informasi proyek, akhirnya kami pun bertemu. Saya bersama tim, dia juga dengan temannya yang seorganisasi di Bandung. Intinya, kami bisa kolaborasi, menggarap proyek di perusahaan yang sama. Jujur, saya sempet terkesan dan percaya 100 persen, dia orang baik dan bisa menjadi teman bisnis. Dia cerita banyak tentang lika-liku membangun bisnis IT dengan "kesendirian"

Kami intens berkomunikasi. Lagi-lagi dia memang sering curhat hal-hal pribadi. Kali ini saya layani, karena memang saya ingin membantu dia mencari pasangan hidup dan sukses dalam bisnisnya.  Kalau nelpon pun lama sekali. Aku  aktif memperkenalkan dia ke sejumlah rekan-rekanku sekaligus promo bisnisku juga : web content, web desain dan instalasi jaringan. Aku percaya diri bakal sukses  dengan berkolaborasi bersamanya. Dia sering menelponku untuk sekedar menanyakan proyek-proyek yang bisa dikerjakan bareng.

Sampai pada suatu ketika, teman dekatku sewaktu kuliah dulu ingin membuat website plus web content-nya.  Sebut saja namanya A. Langsung saja aku ambil kesempatan ini. Dengan gaya marketingku, aku yakinkan A, kami bisa mengerjakan web dan content sesuai harapan. Tapi untuk harga web desain, aku langsung hubungkan A ke temanku itu. Karena, dalam hal ini aku tidak mau intervensi harga web desain. Yang penting bagianku di content dah dialokasi. Lumayan sih angka proyeknya. Konsep web contentnya yang aku tawarkan pun, disetujui A. Dengan semangat full, aku sampaikan ke temenku itu untuk membuat web yang bagus agar proyeknya bisa berkembang biak. Siapa tahu juga si A yang jomblo dan dia yang juga lagi sendiri bisa berhubungan lebih. Karena aku benar-benar menilai dia orang baik. 

Jadilah mereka saling bernegosiasi harga. Herannya, temenku  itu sebut saja B sama sekali tidak melaporkan progressnya ke aku. Aku tahu perkembangan negosiasi bisnis ini dari si A. Si A beberapa kali komplain, karena harga yang diajukan B itu tinggi sekali. Padahal sudah disampaikan, kalau alokasi bujetnya tidak bisa di atas angka proyek untuk penunjukan langsung. Tetapi si B, memberikan harga hampir dua kali lipat. A pun berapa kali minta ubah, hanyaa diubah sedikit. Mau tak mau, ini proyek hampir batal karena tingginya harga yang B buat. Harga dia rupanya belum memasukkan harga content. Padahal aku dah beberapa kali bilang, dari bujet segitu dah termasuk content sekian dan dengan harga jaringan, B pun setuju. 

Tapi, kenyataannya, ketika berhubungungan dengan si A, lain lagi. Aku jadi bingung, apa sih maunya. Si A pun cape bolak balik minta negosiasi harga. Karena aku tahu pasaran web itu berapa, juga  spanneng dengan penawaran yang B ajukan, tinggi sekali. Masa cuma web doang bisa di atas 50 juta..Welehhh...Dan aku dah sampaikan jangan masukkan harga IT atau instalasi lainnya, cuma web  dan contenT. Konyolnya, dia tak pernah men-cc-kan imel penawarannya ke aku. Aku tahu semua harga pengajuannya dari A yang memforward imel-imel penawaran B. Kalau harga dah sesuai dengan bujet A, Si A, malah ingin memperpanjang kontrak sampai setahun untuk content. A sudah sampaikan ke aku harga perpanjangan kontraknya.

Namun, sama si B, perpanjangannya itu dibuat dengan harga content yang sangat murah. Ongkosnya saja sudah tidak mencukupi, bagaimana dengan jasa menulisnya. Sementara, dia membesarkan dana maintenance web. Wahhh,,,setahuku maintenance web itu ga perlu kalee harus dianggarin tiap bulan. Kan bisa sesuai dengan case saja. Kecuali bayar sewa domain yang cuma sekian ratus ribu.

Saya menolak tarif untuk content yang dia ajukan,  dia juga tidak setuju dengan harga yang saya tawarkan. Akhirnya saya mundur, tidak mau mengambil proyek ini daripada ke depannya tidak baik dan tidak sehat bagi hubungan pertemanan. Dari awal dealing proyek pun sudah nggak sreg karena ketidakjujurannya. Tanpa mencoba mencegah kemunduran saya yang mulai agak marah, dia malah   dengan "senang hati" menyetujui. Dan, dia balik menawarkan jasa content sendiri alias content yang ditulisnya sendiri. Temenku si A itu kaget, Lohhh gimana sih, saya justru memberikan proyek ini karena saya percaya sama ika, bukan sama kamu. Kok malah kamu yang mau ambil alih semuanya..."" kata temanku yang menelponku dengan berang. Akhirnya...dengan serta merta A batalkan proyek itu ke dia dan minta saya yang handel semuanya. 

Alhamdulillah, akhirnya saya pegang proyek itu dan kelar sudah. Saya membeli putus web desain dan tinggal saya supervisi hasilnya.  Klienku pun puas, bahkan berniat memberikan lebih banyak proyek lagi. Sementara, B..ehhe say good bye lah.. Aku cuma sms : Cukup tahu tentang kamu..." Sampai saat ini kami tidak berkomunikasi.

Alhamdulillah dengan kasus ini, aku jadi terhindar dari niat buruk teman. Aku langsung menghubungi temannya yang waktu itu diajaknya bertemu aku. Niatnya ingin membatalkan kerja sama menggarapa proyek IT dengannya juga. Tapi rupanya, teleponku malah membuka tabir siapa si B sebenarnya. Menurut temanya,  B itu memang tidak baik dalam berbisnis. Tidak beretika, suka makan proyek sendiri , padahal itu proyek bersama.. Temannya memberikan contoh-contoh kasus yang pernah ditangani bersama yang hasilnya dimakan B sendiri.  Dan, sebenarnya temannya itu sudah malas menjalin relasi dengan si B, tapi  B katanya ingin berubah dan menjual namaku, makanya dia mau ketemu dengan B lagi,

Rencana temannya yang mengajak B untuk menggarap proyek IT, langsung gugur. Dia sudah menaruh curiga, kalau B akan bermain dengan intrik yang sama. "Kasus di depan mata sudah terlihat.."ujar temannya yang menceritakan tentang proyek B di suatu instansi banyak masalah karena ulah si B juga, dan memintanya untuk membantu menyelesaikan.

Wahh bahaya juga ya teman yang seperti ini. Mau berbisnis bareng, malah kitanya yang dimakan. Padahal itu proyek datangnya dari saya. hahaha. Hati-hati deh, semoga kalian tidak bertemu dengan orang kayak gini. Cukup tahu saja..bahwa banyak orang 'berselimut malaikat" malah "menjadi setan" heheh berkahnya, kita yang mau "dimakan" malah kebanjiran proyek. Terima kasih ya Allah. Semoga B sadar, dan mau berubah. Sayang sekali, rejeki tidak berkah kalau prilaku buruknya ini dipertahankan.







Berbisnis Tulisan Itu Writerpreneur

Menjadi penulis memang harus bisa menulis segala hal. Mulai dari hal-hal yang disuka sampai yang tidak disuka, sepertinya harus dilalap. Betul nggak sih ? 

Ya, ada yang bilang kalau mau menjadi penulis handal, setidaknya harus bisa menulis segala hal. Makanya, profesi penulis itu tergolong prestise. Kalau saya, yang tengah menggeluti dunia writerprenuer, atau "penulis bayaran", setidaknya bisa menulis sesuai pesanan klien, that's it. Klien maunya apa, yaaa sebisa mungkin deh dipenuhi. Alhamdulillah, beberapa klien puas. Mulai dari klien pariwisata, kontraktor stand, travel, sampai pemerintahan. Indikasinya mereka puas, ada order berulang ;). Bahkan ada klien pemerintahan  telah mengontrak saya untuk mengisi contentnya selama setahun, plus beberapa publikasi seperti leaflet, buklet, dan katanya sih mau dikasih proyek juga untuk pembuatan buku profil. Alhamdulillah, kalau jadi. 

Tawaran sosial media dari berbagai klien pun mulai berdatangan. Hhehe..tapi belum rejeki, si kliennya kalah bidding. Ada bagusnya juga sih nggak deal, intinya saya harus fokus dulu mengerjakan sejumlah PR sosial media dari klien pemerintahan saya. Jam terbang saya di sosial media juga belum mumpuni. Ya..itung-itung mantepin dulu deh skillnya.

Kali ini saya mendapatkan tawaran membuat profil perusahaan untuk website. Tapi harus dengan bahasa Inggris..Hmm..jujur ga percaya diri ngerjainnya. Mungkin kalau berbicara dalam bahasa Inggris, bisa lah, yang penting lawan bicara mengerti apa yang kita omongkan, dan kita pun bisa merespon yang mereka utarakan. Itu sih kuncinya kalau conversation. Nah, kalau nulis..hmm give up deh. Kebayang complicated-nya mencari vocabulary yang pas sesuai penempatannya, gramarnya, dan sebagainya. Dan, kita pun harus familiar dengan istilah yang biasa dipakai pada dunianya mereka.

 Klien saya ini adalah perusahaan gas. Nggak tanggung-tanggung, klien web saya yang sebenarnya klien perusahaan gas itu meminta saya membuat profil untuk dua perusahaan. Beuhh..satu sisi ini tantangan, sisi lain, lagi-lagi saya ngga PD. Akhirya saya tolak halus dengan alasan belum mahir menulis in english. Sekalipun saya sanggupi, saya butuh translator. Karena yang biasa-biasanya begitu. Saya menulis in bahasa, kemudian ditranslate in english. Klien saya itu pun langsung menyanggupi. Dan, deal deh.

Beberapa hari setelah deal, saya langsung bertemu dengan klien yang perusahaan gas itu. Kantornya di Bakti Tower-Epicentrum, Kuningan. Janjian jam 10, jam 7 saya sudah berangkat dari rumah. Cileungsi-Jakarta dengan segudang kemacetannya, selalu menahan saya di jalan kurang lebih 3-4 jam. Benar saja, sampai di kantor klien pukul 10:00, tepat. Itu pun sudah pakai jasa ojek. Alhamdulillah nggak telat. Di brief sebentar oleh klien web saya, kemudian kami langsung ke perusahaan gas itu. 

Sebelumnya, saya sudah mendalami dunia tata niaga gas dan broswhing tentang perusahaan gas itu termasuk ownernya. Ternyata perusahaan ini belum sama sekali berkenalan dengan google. Sampai jam 3 malam saya pelototin google, tidak juga menemui hasil. Ownernya pun sedikit sekali terdeteksi, Paling cuma lewat facebooknya. Linkedinnya terbatas sekali. Riset mendalam sebelum wawancara memang sudah menjadi SOP. Saya harus menggali sedalam-dalamnya materi dari narasumber. Meski tidak menemukan hasil sesuai harapan, setidaknya dunia bisnis gas sudah saya pahami dan jadi percaya diri menghadapi klien.

Pukul 11 kurang, kami sudah diterima di ruangan klien. Rupanya saya bertemu langsung dengan ownernya. Doi ternyata pernah punya PH advertising dan sangat mengerti dunia desain. Wahh, klien web saya..lumayan habis dikritisi konsep dummynya. Agak berdebar juga bekerja sama dengan klien gas ini, secara doi tau betul dunia copy writer. Untung saja di awal saya sudah memperkenalkan diri sebagai jurnalis, jadi doi bisa langsung menilai seberapa jauh kapabilitas saya. Dan, memang doi di akhir wawancara saya, doi langsung bilang, "beda ya seorang copy writer dan seorang jurnalis itu". Kalau copy writer kerjanya banyak ngopi dan ngeroko," diam trus jadi deh," hahhaha.." katanya. Saya menanggapi," Ya Pak, kalau jurnalis, banyak menggali hal-hal detil untuk mencari sisi menarik dan karakteristik dari suatu obyek.." Doi mengangguk-angguk. 

Rupanya, hasil penggalian saya juga kurang sesuai harapan. Doi tidak mau ditulis secara detil dan gamblang dalam company profilenya. Ia ingin ditulis yang umum-umum saja. Membuat saya jadi bingung. Karena yang saya pahami, untuk service atau produk yang akan dijual setidaknya harus jelas. Nah,,,ini doi malah ga mau didetilkan. "Pokoknya tulis aja melayani banyak hal di bidang energi, Tidak perlu dirinci apa saja."begitu katanya.

Perusahaannya memang baru seumur jagung. Baru didirikan tahun 2012 dan 2013. Mungkin kliennya belum banyak juga. Tapi doi mengaku sudah mengenal dunia bisnis gas sudah lama banget. Hhehe rupanya bapaknya doi seorang konsultan gas. Sejak kecil malah doi mengakui sudah mengenal gas dari melihat bagaimana bapaknya bekerja. Ya iyalah... Whatever, yang jelas, saya bingung menulisnya. Jawabannya umum banget. Saya terus pancing, dia memaparkan detilnya, tapi nggak mau ditulis terperinci alias disebutin apa aja service dan produknya. Bingungkan ...Udah gitu, doi belum memiliki company profile atau sumber-sumber tertulis yang bisa jadi bahan. Minimal service-nya aja deh. Welehh..apa yang mau ditranslate kalau gini. Padahal udah bilang ke translator bakal ada 10 halaman.

Akhirnya semalaman suntuk saya membuat skrip in english langsung. Saya browshing ke segala website perusahaan gas. Mencari kata-kata yang familiar di dunia natural gas sekaligus Mencocokkan "apa yang klien mau". Alhamdulillah kelar satu perusahaan. Perusahaan satunya lagi, masih dikerjakan. Tapi meski dah kelar satu, masih harap-harap cemas, klien setuju atau tidak. Semoga aja nggak ada masalah yang krusiallah alias ga banyak diobrak-abrik lagi. Ya..beginilah sisi dari pekerjaan writerpreneur..





CariCommunity, Menciptakan Mainstream Baru Berjejaring Sosial

Hai Sobat ! Ada kabar menggembirakan nih khususnya bagi kamu yang senang berjejaring sosial. Kini telah hadir CariCommunity.com. Fitur-fitur dan benefit yang ditawarkan CariCommunity  berbeda dari mainstream yang ada seperti facebook, twitter bahkan forum-forum online semacam kaskus, viva forum, kompas forum dan sebagainya. Yang pasti, kamu akan semakin diuntungkan, baik dari sisi jaringan maupun finansial. Penasaran ? simak terus ya..

  

 

CariCommunity lahir dari kebutuhan riel komunitas


Seperti kita tahu ya, internet di Indonesia makin lama makin murah dan cepat. Apalagi teknologi gadget tak mau kalah, makin canggih dan banyak tersedia di pasaran. Tinggal disesuaikan saja dengan isi dompet. Dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah ada. Dan,  sebagian besar telah berfitur sosial media. Makanya tak heran, banyak orang berseloroh “mati gaya” kalau sehari saja tidak ber-online-online ria ;).

Merujuk catatan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia angkanya terus menanjak.  Sampai akhir tahun 2013 sudah mencapai 71,19 juta pengguna atau 28 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Angka tersebut naik 13 persen dibanding  akhir tahun 2012 yang bertengger pada 63 juta orang.

Tak pelak, dunia internet atau sosial media menjadi sasaran empuk pebisnis yang sigap menangkap peluang. Coba aja dilihat fenomenanya pada beranda facebook kamu.  Sekarang banyak bersileweran fanpage dari berbagai perusahaan. Bahkan, wall-wall teman facebookmu pun “mendadak jualan”. Mudahnya orang berjejaring sosial memang membuka saluran cukup efektif bagi UKM-UKM untuk berkembang dan lebih mengenali selera pasar secara lebih dekat. Tak hanya itu, social media juga menjadi lahan potensial untuk wahana pencitraan caleg dan parpol serta berbagai kepentingan lainnya.

Seiring dengan itu, karena luasnya jaringan pertemanan, kini banyak bertumbuhan grub-grub yang dibangun atas dasar keinginan dan kebutuhan bersama. Kamu yang suka bercocok tanam, tinggal cari komunitas berkebun, komunitas pertanian organik dan sebagainya. Yang suka bersepeda, ada banyak komunitas yang senang melakukan touring bersama, penyuka mainan dan games pun mudah mencari salurannya, sampai komunitas emak-emak yang ingin memiliki anak juga ada. Komplit. Bahkan dari grub-grub yang dibuat tertutup dan terbuka melalui jejaring sosial, kamu bisa berdiskusi bebas..  Tak puas lewat facebook dan twiiter, kini komunitas pun banyak merayapi forum-forum diskusi online, seperti kaskus, viva forum, kompas forum dan sebagainya.

Gairah berkomunitas ini diprediksi Wun Fie Loa dan Andi Sjamsu, founder CariCommunity  trennya akan terus menaik. Dunia menjadi makin terspesialisasi. Disinilah mereka melihat banyak  celah yang belum tergarap maksimal untuk mengakomodir dinamika komunitas yang terus bertumbuhan, sehingga lahirlah CariCommunity yang sungguh berbeda dari mainstream. Pengalaman keduanya dalam meretaskan dan memimpin berbagai komunitas memberikan acuan solutif tentang bagaimana komunitas di era maya bisa berkembang sinergis dan mendunia.

CariCommunity Fokus Membidik Komunitas


Jika jejaring sosial yang ada  rata-rata membidik sasaran perorangan atau kebutuhan individu, CariCommunity sebaliknya, fokus meng-grap pasar komunitas atau kegiatan berkelompok. Ia memfasilitasi komunitas untuk saling berkomunikasi dan berkoordinasi dengan mudah dan efektif, serta membuka peluang besar untuk berkembang  lebih optimal lintas negara.

Cara bergabungnya dirancang semudah mungkin dan sederhana. Sehingga bagi kamu yang baru ingin menerjuni dunia jejaring sosial, bisa langsung tune in. Fitur-fitur dalam CariCommunity juga mudah diaplikasikan. Kamu tidak perlu harus menggunakan facebook atau twitter untuk mengakses CariCommunity. Tinggal daftar aja mengikuti petunjuk yang tertera yang kemudian akan dikonfirmasi melalui email beberapa saat setelah mendaftar.

Ini halaman dashboard kamu. Tinggal diisi deh menu-menu yang tertera di dana.

Begitu meng-klik link tautan yang dikirim ke email, kamu akan langsung dihadapkan pada  dashboard. Di sana terdapat berbagai menu yang berhubungan dengan kegiatan komunitas. Nah, tinggal  buat deh profil kamu atau mendaftarkan komunitasmu di sini. CariCommunity telah menyiapkan fitur khusus bagi yang ingin mendaftarkan anggota komunitasnya secara massal. Kamu hanya perlu  menyiapkan  nama dan alamat email masing-masing anggota. Selain itu, kamu yang suka bikin komunitas, bisa membangun komunitas lebih beragam melalui  CariCommunity. Tentu  komunitas yang sesuai dengan minat, hobi dan kebutuhan kamu ya. 

Bagi yang sedang berbisnis, sangat dianjurkan mendaftarkan dalam direktori yang tersedia. Pada dasboard   tercantum fitur business and service. Cukup daftarkan saja bisnis dan penawaran jasa kamu di sini ya. Siapa tahu ada yang kebetulan sedang mencari jasa atau produk yang kamu tawarkan, deal deh. Wahh keren ya.  Kalian tidak perlu susah lagi membangun jaringan dan relasi.

Ini halaman bisnis saya yang saya masukkan dalam dasboard Business and Service juga ter-link di Direktori

CariCommunity Menguntungkan Anggotanya

Nah, ini benefit yang benar-benar melawan mainstream jejaring sosial saat ini. Apa pasal ? Menurut Andi Sjamsu, pendiri CariCommunity seperti dikutip dalam Swa, orang banyak menggunakan jejaring sosial untuk berbagai kepentingan karena gratisnya. Tetapi, padahal yang tampak gratis ini, kata Andi, sesungguhnya hanya memperkaya orang lain. “Kami pikir kalau betul-betul kami mau membantu anggota kami, maka kami musti memberikan kembali kepada mereka,” tutur Andi dalam petikan wawancara dengan Swa.

Jadi, konsepnya adalah bagi hasil dengan komunitas pengguna, seiring dengan misi CariCommunity untuk membesarkan komunitas juga. Ukuran bagi hasil ini dihitung dari seberapa besar keaktifan grub dalam membesarkan dan menyukseskan CariCommunity. Fair kan ?

Bentuk revenue sharing-nya bermacam-macam, diantaranya komunitas akan mendapatkan 10 persen dari semua pendapatan iklan platform CariCommunity. Pendapatan iklan ini diperoleh dari beberapa penyedia jasa layanan iklan (ad engine companies) yang dihitung dari page view dan klik.

Dari 10 persen tersebut, 5 persen langsung diberikan kepada komunitas berdasarkan pageview yang diperoleh dari aktivitas bulanan anggota, dan 5 persennya lagi diberikan melalui sebuah dana bersama yang dialokasikan per wilayah geografis, yang dikalkulasi berdasarkan  keseluruhan aktivitas yang terjadi di wilayah tersebut. Supaya pageviewnya banyak, tentu aktivitas kamu melalui CariCommunity juga harus banyak alias aktif deh.

Di luar itu masih ada bonus  Grup 5 %, yaitu CariCommunity akan memberikan bonus ke komunitas sebagai bagi hasil pendapatan iklan yang diperoleh dari aktivitas komunitas di forum CariCommunity. Bonus tersebut diberikan langsung kepada bendahara komunitas untuk kepentingan komunitas juga. Contohnya, dari forum suatu komunitas di CariCommunity terkumpul pendapatan Rp-sekian, nah pendapatan ini langsung diberikan kepada komunitas tersebut.

Tentunya untuk memperoleh pendapat Grub 5 % ini, komunitas tersebut harus aktif dan ramai. Seperti kontinyu meng-update news, berkomentar atas news yang diupdate, social sharing ke situs-situs lain seperti facebook, twitter, instagram, Pinterest dan sebagainya. Dengan makin ramai artinya semakin besar pula eksposur iklan dan jumlah klik terhadap iklan yang ada di sana.

CariCommunity juga mengalokasikan dana untuk program Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar 5 persen atau yang dinamakan ‘Regional 5%. Program CSR Regional 5% ini diberikan kepada komunitas yang terdaftar pada CariCommunity, jika mereka melaksanakan aktivitas sosial atau CSR. Jadi, pabila suatu komunitas akan menyelenggarakan kegiatan sosial seperti konser amal, bisa mengajukan proposal kegiatan ke pihak CariCommunity. Dana ini disiapkan per regional daerah atau provinsi.

 Syarat proposal disetujui juga tidak susah kok, seperti proposal kegiatan pada umumnya yang menjelaskan banyaknya dana yang diperlukan dalam suatu kegiatan, waktu kegiatan dan aktivitasnya, bagaimana kegiatan tersebut dipromosikan serta ukuran kesuksesannya. Wahh, dengan gabung di CariCommunity, dijamin kamu bakal tambah gaul dan untung. Gabung yuk !

Daster Batik Sambungan


Ibu Maryam, pembuat daster batik sambungan memulai usahanya sejak tahun 1990-an di daerah Kemanggisan Palmerah, Jakarta Barat. Awalnya, ibu empat anak ini adalah seorang penjahit konveksi. Semula, helai demi helai kain batik potongan daster konveksi banyak dibuangnya. Makin hari limbah batik terus menumpuk di rumahnya. Apalagi jika petugas kebersihan terlambat datang.

Untuk mengurangi sampah, potongan bekas kain batik kerap digunakannya untuk lap-lap debu, kain pel atau sapu tangan. Ketika menyambung helai demi helai kain itu, perempuan kelahiran Purworejo 60 tahun silam ini kepikiran untuk menyulapnya menjadi sesuatu yang lebih berguna. Mulailah ia kumpulkan dengan telaten potongan kain sesuai dengan warna dan motifnya. Ia buat taplak meja, penutup TV, rok, hingga daster anak dan dewasa.

Ibu Maryam bukanlah lulusan kursus menjahit. Keahlian menjahit daster dipelajari secara otodidak. Bukan suatu kebetulan, di lingkungan rumahnya banyak berdiri konveksi aneka batik. Inilah peluang untuk mendapatkan penghasilan..begitu suara hatinya.

 Bermodal tekad kuat untuk membantu perekonomian suaminya, akhirnya ia dipercaya oleh salah satu pengusaha konveksi sebagai tenaga penjahitnya selama beberapa tahun. Hingga ia pun berkreasi membuat daster dari sisa potongan daster konveksi. Dulu, konveksi memang tidak memotong tepat sesuai pola.  Pejahit dituntut kreatif mengkreasikan dan memantaskan model daster dengan memotong sendiri.

Tak disangkanya juga, ia berhasil mengkreasikan potongan-potongan yang tidak terpakai itu menjadi sebuah daster cantik yang bisa dipakai sendiri dan anak-anaknya.  Maklum, perekonomian keluarganya kala itu belum begitu mampu untuk banyak membeli pakaian. Untuk memenuhi kebutuhan pokok saja masih kembang-kempis.

Hampir setiap hari, anak dan ibu Maryam memakai daster sambungan itu.  Rupanya tetangga banyak juga yang tertarik. Ia pun tak perhitungan. Jika ada yang berminat,  dengan senang hati diberi. Bahkan, setiap saudara yang bersilaturahmi ke rumahnya, selalu diberikan oleh-oleh daster. Ada beberapa tetangga yang merasa tidak enak dibagi, membeli dengan harga se-ikhlasnya.  Hingga timbul ide untuk "membisniskannya" sebagai penghasilan tambahan. Upah menjahit konveksi tidaklah membuat  hidup layak kala itu. Sekodi yang berisi 20 daster, upahnya hanya Rp 2.500. Belum lagi,  konveksi yang mempekerjakan Ibu Maryam kerap telat membayar gajian.Hmmm



Satu demi satu daster sambungan dikumpulkannya. Ia tawarkan kepada tetangga terdekat atau siapa saja yang ingin menjualnya kembali. Dari segi harga memang lebih murah dibanding daster batik utuh sehingga banyak yang tertarik.  Atas dorongan suami, Ibu Maryam memperkenalkan daster sambungannya ke sejumlah pasar di Jakarta, diantaranya Tanaabang, Palmerah, Kopro, Slipi, Kebayoran Lama, Jatinegara, dan Kramat Jati. Alhamdulillah, disambut antusias penjual di pasar. Ibu Maryam bekerja sangat giat. Usai menyelesaikan jahitan konveksinya, ia segera beralih membuat daster sambungan. Cukup melelahkan juga. Namun, setelah dirasa penghasilannya lebih baik dibanding hanya sebagai penjahit konveksi, ia  berhenti.

Ia membeli kain-kain batik sisa potongan daster dari sejumlah pengusaha konveksi yang ada di sekitar rumahnya. Pengusaha konveksi batik tempat ia bekerja sempat heran dan tidak percaya, kain sisa potongan bisa disulap menjadi daster batik. Sehingga kain-kain sisa itu  mereka berikan cuma-cuma bagi siapa saja yang meminta. Namun, karena dilihat menghasilkan, mereka tergoda juga untuk ikut membisniskannya heheh

Ide mengkreasikan potongan kain menjadi daster ini juga menginspirasi sejumlah penjahit. Mereka banyak  yang ikut membuat daster sekedar untuk dipakai sendiri. Kalangan pengusaha batik akhirnya  mulai menertibkan potongan dan hanya memotong dengan ukuran pas. Sisa potongan itu akhirnya mereka jual kepada penjahit yang berminat sampai sekarang ini. Dari segi harga, potongan kain yang sejatinya adalah sisa, dijual cukup mahal. Jadi, Ibu Maryam harus extra memberikan layanan yang memuaskan dengan menyambungnya dengan jahitan halus, diobras, dan dibentuk dengan model yang unik. Daster sambungan memang menciptakan motif tersendiri yang berbeda dengan batik utuh. Alhamdulillah, rejeki memang sudah diatur Allah SWT, dan jalan rejeki Ibu Maryam sampai saat ini masih melalui usaha jahitan daster batik sambungan. Dari usaha jahitan inilah, ia berhasil menguliahkan anak-anaknya hingga sarjana.


Kini, Ibu Maryam tinggal bersama anak pertamanya di Perumahan Griya Alam Sentosa Blok X 23/1 Cileungsi. Sambil menemani dua orang cucunya, nenek dengan empat cucu ini tetap meneruskan usaha jahitannya. Hanya berbeda pemasarannya saja. Tidak ke pasar-pasar karena produksi yang tidak banyak.  Sulit sekali menemukan penjahit yang bisa membuat daster sambungan sehingga Ibu Maryam membuatnya sendiri. Meski begitu Alhamdulillah, dari kreasinya, Ibu Maryam  telah memberikan penghasilan tambahan bagi ibu-ibu rumah tangga yang menjadi penjualnya, termasuk tetangganya yang ikut membantu mengobras.


Kisah ini diambil dari catatan Fanspage Daster Batik Sambungan

Rejeki Maling

Setiap mahluk memang dijamin rejekinya sama Allah SWT, tanpa terkecuali mereka yang berprofesi sebagai maling atau pencuri. Mungkin setiap maling juga berdoa kali ya sebelum melancarkan operasinya agar berhasil. Masalah berkah dan tidak berkah rejeki yang diperoleh dari mencuri barang orang, pastinya hanya ada di kepala orang yang ‘beriman’.

Yang penting bagi si maling, eksekusi memindahkan barang atau uang orang lain berhasil masuk ke kantong sendiri; bisa makan enak, beli barang idaman, dan sebagainya. Terserah deh urusan halal dan tidak halal karena menurut maling, itu sudah masuk ke ranah etika moral agama dan susila. Kalau moral maling, barang atau uang hasil curian bisa dibagi rata ke tim yang terlibat dan tidak mengambil kawasan maling lainnya. Makanya ada sebutan maling spesialis jemuran, spesialis motor, spesialis sepeda, spesialis burung piaraan, spesialis tape mobil dan sebagainya.

Ngomong-ngomong soal rejeki maling nih, saya mau cerita tentang kejadian yang dialami tetangga saya beberapa hari lalu. Sepeda anak lelakinya yang seharga Rp 1,6 juta raib dari rumahnya. Tak disangka, padahal tetangga saya ini termasuk orang yang rapi dan waspada. Pagar rumahnya juga tinggi, dan tertutup rapat oleh lapisan hitam. Dari luar, orang tidak bisa melihat properti yang ditaruh di halaman rumah yang berpagar itu. Tetangga saya juga jarang membuka pintu jika tidak perlu. Rumahnya memang persis berada di pinggir jalan utama. Begitu pintu terbuka saja, debu jalanan langsung hinggap.

Seperti biasanya, sebuah sepeda motor, dan dua buah sepeda anaknya ditaruh di halaman rumah yang tidak begitu luas. Agak berjejal, terlebih setelah rumahnya direnovasi dengan kamar yang dimajukan. Sebelumnya hanya ada sebuah sepeda motor dan sepeda mini. Baru enam bulan ini, mereka membeli sepeda sport untuk anak pertamanya yang mulai memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP).


Malam kejadian itu tidak seperti malam-malam sebelumnya. Biasanya,  kamar yang menjorok ke halaman rumahnya itu ditiduri orang tua dan seorang anak perempuannya. Sementara, anak lelaki mereka tidur di kamar tengah. Bahkan, tidak jarang sekeluarga tidur bersama di kamar depan. Namun, malam itu apes, boleh dikatakan begitu. Karena hawa dingin, mereka memilih kamar tengah. Tidak seperti biasanya, menurut pengakuan Mama Ninit - nama tetangga saya, malam itu ia tidak bisa tidur, gelisah. Suaminya pun demikian. Untuk mengusir kegelisahannya, ia memijit kaki suaminya sehingga tak berapa lama, Mama Ninit  ikut terlelap.

Sekitar pukul 01:00, ia terbangun lantaran perutnya mulas. Biasanya,  tak pernah mulas malam-malam, padahal siang tak makan yang aneh-aneh.  Dan, biasanya juga, ia selalu menyempatkan diri melongok ke luar sekedar melihat situasi dan kondisi di luar dari arah kamarnya. Namun, malam itu urung dilakukan. Setelah dari toilet, sempat pula ia mengambill kayu putih di ruang tengah. Pukul 02:00, ia masih belum tidur di kamarnya, membalur minyak kayu putih. Jarum jam terus berputar mengiringi detik-detik kantuk mereka hingga subuh.

Betapa terkejutnya begitu pintu rumah dibuka, sang suami tak menemukan sepeda sport anak lelakinya itu. Ban sepeda mini anak perempuannya juga dikempeskan. Terlihat, jejak kaki di lantai dan goresan sepeda di tembok rumah. Rupanya si maling memanjat dari pagar rumah. Hmm..malam itu sukses bagi maling. Sejak kejadian itu, tetangga saya lebih ekstra lagi menjaga propertinya. Motor dan sepeda mini anak perempuannya ditaruh di dalam.

Kejadian serupa juga menimpa tetangga saya yang lain. Tidak tanggung-tanggung, dalam satu malam, maling berhasil mengambil dua burung plus kandangnya. Burung tetangga saya memang belum lama ingin dibeli temannya. Tetapi karena sayang, tetangga saya tidak mau menjualnya. Eh,.malah diambil maling. Malam apes itu, tetangga yang biasanya selalu memasukkan burung  ke dalam rumahnya, ia lupa. Burungnya masih terongggok di halaman rumah dengan pintu pagar terkunci. Sempat kepikiran mau memasukkan setelah menidurkan anaknya. Keesokan harinya, burung plus kandangnya sudah tidak berada di tempatnya. 

Saudara saya juga mengalami hal sama. Motor Yamaha kerennya seharga Rp 20 juta  dicuri. Padahal  tinggal tiga bulan cicilan.  Saudara saya pun terbilang hati-hati menjaga barangnya. Setiap keluar rumah, pintu pagar selalu dikunci. Pagi itu, sepulang dari salat subuh di musala yang tak tak jauh dari rumahnya, saudara saya tumben lupa untuk mengunci pagar. Hanya diselipkan saja ujungnya, yang sebenarnya juga jika dibuka, terdengar gaduh. Subuh itu benar-benar subuh kesuksesan maling. Dalam waktu beberapa detik saja, motor Yamahanya raib. Maling..maling ... rejeki memang telah diatur oleh-Nya meski melalui jalan yang melanggar aturan-Nya.

Terlepas dari soal maling, bagi kita yang masih aware dengan keberkahan rejeki, hikmah barang kecurian sangat besar. Jika kita ikhlas, semoga Allah kasih gantinya dengan sesuatu yang melebihi barang itu. Barang yang kecurian juga merupakan peringatan dari Allah atas rejeki kita. Bisa jadi, kita kurang sedekah atau ada rejeki yang tidak berkah di dalamnya. Allah membersihkan rejeki kita dengan cara demikian. Terus introspeksi diri dan berprasangka positif . Inshaa Allah, jika kita merasa jalan mendapatkan rejeki sudah benar, semoga itu menjadi ujian untuk meningkatkan derajat kita sebagai mahluk-Nya.

Yang pasti, Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha halal hamba-Nya sekecil apapun itu. Dan, bagi si maling, semoga disadarkan. Karena rejeki yang diperoleh dengan cara mencuri itu tidak ada keberkahan. Ia menjadi semakin haus mengambil barang orang, hidupnya gelisah,  tidak tenang. Belum lagi ujian penyakit dan berbagai masalah buruk yang bakal menimpanya di kemudian hari. Yuk kita bersihkan rejeki melalui sedekah. Selalu introspeksi terhadap rejeki yang kita dapatkan, siapa tahu tanpa disadari, kita luput dari jalan memperoleh rejeki barokah dan halal.Instrospeksi.


Dasbor bermasalah tidak bisa posting ? Cek Browshernya !

Sudah dua hari dasbor blogger bermasalah, tidak bisa posting (entry baru) dan edit postingan. Halaman entry tiba-tiba  blank. Tetapi untuk aplikasi lainnya, lancar-lancar saja. Tentu  ini membuat saya yang sedang giat ngeblog sedikit kesal. Mau tidak mau, konsentrasi saya jadi terbagi untuk membenahi dasbor yang sedang bermasalah.

Saya mencari informasi lewat browshing. Macam-macam analisis dari rekan-rekan blogger yang mempunyai masalah sama dengan saya. Ada yang bilang, koneksi internet lemot, browsher yang dipakai sedang bermasalah, account blogger kita diblokir karena ada pelanggaran, sistem bloggernya sedang proses maintainance sehingga kita harus sabar menunggu beberapa hari dan sebagainya.

Saya coba cari solusi satu-satu dari faktor penyebabnya. Pertama dari browsher, yang semula menggunakan mozilla, saya ganti menjadi chrome. Alhamdulillah, di chrome halaman entry dan edit postingan bisa dibuka, tetapi begitu mau uplod foto atau gambar tidak bisa. Saya coba cara manual, dengan menggunakan html foto atau gambar yang ingin kita ulplod, caranya :

1.    Foto yang ingin diuplod pindahkan dulu. Bisa ke Facebook, flicker, photobucket, google+. Lebih mudah saya pakai account google+. Bagi yang belum memiliki account google+ buat dulu ya. Bagi yang sudah punya, langkahnya seperti uplod foto biasa. Setelah diuplod, foto tersebut diklik sehingga keluar sesuai dengan ukuran aslinya. Kode html foto diperoleh dari meng-klik kanan foto itu dan pilih “copy image location”. 



2.    Pilih notepad pada PC anda, dan  kode html akan muncul setelah anda pastekan pada notepad. 
Seperti berikut ini :

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgg9HK8OFg0xda5E8TJTFgQlZSiJMPRExzi0QvONVPtDxBh3elw9aCXQiuFSJpj3Q27flfM00RSl4_DvgwhJx6bt-f36Ywb3krhpYJAIBHQzx7E8M31ZNQGEI0Mq5YIygySvNp-dYgz7Vdc/w803-h406-no/bahagia+itu.jpg

3.    Kembali ke entry, pilih html yang terletak di sebelah compose. Tentukan lokasi yang ingin anda uplodkan fotonya. Cari kode ini, ganti warna merah dengan kode html foto Anda.

<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"> <a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgg9HK8OFg0xda5E8TJTFgQlZSiJMPRExzi0QvONVPtDxBh3elw9aCXQiuFSJpj3Q27flfM00RSl4_DvgwhJx6bt-f36Ywb3krhpYJAIBHQzx7E8M31ZNQGEI0Mq5YIygySvNp-dYgz7Vdc/w803-h406-no/bahagia+itu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="323" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgg9HK8OFg0xda5E8TJTFgQlZSiJMPRExzi0QvONVPtDxBh3elw9aCXQiuFSJpj3Q27flfM00RSl4_DvgwhJx6bt-f36Ywb3krhpYJAIBHQzx7E8M31ZNQGEI0Mq5YIygySvNp-dYgz7Vdc/w803-h406-no/bahagia+itu.jpg" width="640" /></a></div>

4.    Kemudian, klik compose, atur ukurannya sesuai kebutuhan.

Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan masalah postingan dengan menggunakan browsher chrome. Lantas apa kabar mozila saya ? sepertinya memang ada masalah. Tiada jalan lain, sepertinya harus direfresh. Sejumlah tutorial refresh mozilla banyak diulas oleh rekan-rekan blogger. Akhirnya saya coba untuk menginstal refresh otomatis. Bisa buka di sini. Ikuti petunjuknya. Alhamdulillah, mozilla saya kembali normal dan saya bisa memposting sekaligus mengedit postingan.

Semoga bermanfaat menjadi solusi tidak bisa posting dan edit postingan pada dasbor blogger.

Kumpulan Emak Blogger, Tempat Ngayapnya Emak Ngenet


Bagi yang merasa emak-emak atau yang menuju jadi emak, suka ngenet dan senang berbagi, mari merayap ke Kumpulan Emak Blogger (KEB) ! Dijamin bakal nyesel. Nyesel sangat, kenapa nggak dari dulu mengenal komunitas ini. He hehe itulah yang aku rasakan sejak bergabung pada pertengahan 2013. Tepatnya ketika aku mengikrarkan diri menjadi blogger. 

Awalnya aku mengetahui komunitas ini secara selintas di stasiun televisi. Aku lupa di stasiun TV apa. Seorang presenter mewawancarai beberapa orang wanita cantik berkerudung. Mungkin salah satunya Mak Mira kali ya..serius lupa karena sambil beberes rumah melihatnya. Dari segi nama ‘Emak” pun sudah menarik hatiku. Pemilihan nama yang begitu sederhana, populer, dan terkesan enerjik. Namun karena kesibukan di kantor, Kumpulan Emak Blogger ini sempat hanya mengendap di benak saja. 

Kurang lebih setahun berselang, saat  sudah bebas dari rutinitas kantor, aku teringat dengan komunitas ini. Kayaknya pas nih dengan passion-ku yang suka nulis. Aku browshing di google mencari komunitas ini.  Alhamdulillah dapat alamat situsnya, twitter dan grubnya langsung. Wahh, asyik juga komunitas ini, benar-benar edukatif buat emak-emak yang ingin eksis berkarya lewat blog. 

Tetapi waktu itu, aku belum punya blog yang bagus. Jadi nggak PD juga buat memperkenalkan diri. Duniaku memang menulis, tetapi ehhe masih bingung mau buat blog tentang apa. Aku sebenarnya bukan tipe yang suka curhat-curhatan di blog..agak pemalu heheh. Akhirnya, aku buat blog yang berisi tentang bisnis hotel, sesuai dengan bidang garapanku sewaktu menjadi wartawan di majalah MICE dan pariwisata. Ya, sekalian membangun hubungan juga dengan beberapa klien hotel yang masih sering kirim imel tentang propertinya. Kepikiran mau bisnis online dengan topik perhotelan. Mulailah di sela-sela kesibukanku sebagai writerpreneur, aku menulis sejumlah artikel tentang bisnis hotel. Blogku : http://seputarhotel.blogspot.com. Setelah rada penuhan, mulailah aku gabung di KEB. Tetapi, lagi-lagi aku belum memperkenalkan diri, hanya jadi silent reader aja, me-like postingan yang menarik. Menjelajahi beberapa blog emak. Paling kalau ikut lomba blog, KEB jadi tempat sharing.

Wahh, ternyata KEB ini begitu hidup. Dalam sehari bisa lebih dari 10 postingan blog emak-emak. Ada yang  berbagi resep masakan, cerita perjalanan, mendidik anak, tutorial blog,kontes-kontesan blog dan sebagainya. Bahkan, sampai dini hari pun, beberapa emak masih aja ada yang posting. Energi emak memang tiada habisnya. Siang sibuk ngurus anak dan keluarga, malam masih bisa ngayap di KEB sambil posting. Dapur KEB ngebul terus ! Tersedia santapan pagi, siang, sore, malam hingga dini hari. 

Anggota KEB juga amat beragam, dari yang merasa skill menulisnya biasa saja sampai yang sudah jadi suhu kumpul di sini, saling berbagi dengan penuh kerendahan hati. Sampai pada suatu ketika blogku ada masalah, dan share dengan salah satu anggota KEB, Mbak Susan namanya, ehhh segera  direspon. Dengan penuh kesabaran, Mba Susan membimbingku untuk menyelesaikan masalah pada blogku. Bukan main aku jadi terharu dengan kebaikan beliau. Padahal belum saling kenal, tetapi sudah dengan seriusnya ingin membantuku. Sebagai bentuk rasa terima kasih yang ternilai, aku mulai mengajak Mbak Susan bekerja sama, menulis di beberapa proyek penulisanku. Semoga tahun ini bisa lebih banyak bekerja sama ya Mbak Susan. 

Founder KEB juga Subhanallah begitu ikhlas berbagi pengetahuan dan membimbing emak-emak yang ingin maju di dunia blogger. Meski menulis adalah pekerjaanku, tetapi rasanya skill aku belum seberapa dibanding emak-emak di sini. Aku merasa harus perlu mengasah untuk menulis yang bertutur, mengalir, sebebas-bebasnya dengan gaya sendiri ala blogger. Berbeda sekali, menulis gaya wartawan yang selama ini aku geluti. Ternyata enak juga menulis gaya bebas ala blogger. Bisa setidaknya memperingan beban di dada, mengusir penat, dan relaks. 

Mulailah aku buat blog lagi, khusus tentang keluarga dan curahan hati. Menulis di blog memang bisa menjadi terapi (testimoni). Makanya tak heran, jika ada yang sampai keranjingan menulis blog. Sehari saja tidak menuangkan isi hati di blog, rasanya seperti sayur tanpa garam. Hehhe cuma aku belum sampai ke level itu. Kalau lagi banyak pesanan tulisan, blog jadi mengendap. Untuk refresh, biasanya saya ikutan lomba lagi. Meski jarang menang, tetapi sudah sangat senang bisa mengukur kemampuan diri. Dan, yang membanggakan, rupanya dari emak-emak di KEB banyak eksis sebagai pemenang. Saluttt sekali. Pantaslah jika KEB selama ini aku istilahkan sebagai Kumpulan Emak Berprestasi..Berpretastasi bukan hanya menang lomba, tetapi dalam segala hal untuk menginspirasi emak-emak agar bisa  berkembang dan maju bersama. 

Selamat ulang tahun KEB yang ke-2. Semoga makin eksis, makin menginspirasi, sesuai dengan semboyannya ‘Inspirasi Perempuan,’Kami Ada untuk Berbagi”..Bangga menjadi anggota Kumpulan Emak Blogger. Terima kasih untuk Makmin yang dengan konsistennya menjaga ketertiban para anggota KEB. Biarpun komunitas, jika dikelola dengan profesional dan penuh kasih sayang, hasilnya terasa di dalam hati. Ayo emak-emak yang masih bingung cari tempat ngayap yang asyik, gabung aja di Kumpulan Emak Blogger ! itulah bunyi promoku ke sejumlah teman-temanku.

Ketika Kujemput Jodohku di Milis Itu...

Jodoh..hmmm (sambil tarik nafas panjang), memang penuh misteri. Ada yang penuh lika-liku menemukannya hingga menguras emosi dan air mata, ada juga yang dengan mudah. Namun, apapun itu jalannya, bagi yang akhirnya sudah menemukan pujaan hati dan bersedia mengikat janji untuk selalu bersama dalam suka dan duka, terus beryukur ya. Karena, kesediaan bersama untuk waktu lama bahkan hingga azal menjemput, sekali lagi bukanlah perkara enteng. 

Tak ayal, karena takutnya mengemban janji itu, tidak sedikit yang memutuskan tidak menikah. Atau, cukup ‘senang-senang sesaat” sekedar menyalurkan nafsunya. Bahkan, konyolnya lagi, untuk kesenangan sesaat seakan di-halal-kan dengan adanya kawin kontrak yang kini mulai marak dilakukan oleh oknum ustad juga. Na’udzubillah. 

Pernikahan, jujur sempat membuatku khawatir. Khawatir apakah aku dan suamiku kelak mampu menjalaninya. Ketertarikanku pada dunia pernikahan, sudah dimulai sejak SMU. Waktu itu aku kerap membaca artikel “Oh Mama Oh Papa’ pada suatu majalah wanita terkenal di zaman itu. Artikel yang mengulas kisah nyata tentang kehidupan rumah tangga dan hubungan sepasang anak manusia yang mengharu biru. Ya, kehidupan rumah tangga dideskripsikan menjadi persoalan yang begitu pelik. Apalagi, sejak kecil aku kerap mendengar keributan dari rumah tangga  tetangga sebelah yang berujung pada perceraian. Belum lagi rumah tangga saudaraku yang tak kunjung damai. Syukurlah, rumah tangga orang tua meski tak mulus-mulus amat, masih bisa harmonis. 

Pengetahuan dini tentang pernikahan  menjadi motivasi kuat bagiku untuk tidak sembarang memilih sosok pendamping hidup. Sejak SMU,  ketika benih-benih suka pada lawan jenis tumbuh, aku sudah memasang kuda-kuda,  berdoa minta diberikan suami yang baik, soleh, dan bertanggung jawab. Hehe doa yang lumayan serius untuk anak SMU.

Karena aku suka berorganisasi dan senang dengan figur pemimpin yang bertanggung jawab,  kriteria suamiku bertambah dalam doaku ; suami yang suka berorganisasi, seorang pemimpin yang bijaksana, bertanggung jawab dan pintar.  Doa minta jodoh dan keturunan yang baik seperti yang termaktub dalam QS Al Afurqan : 74 : Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imaama...tak pernah berhenti kupanjatkan pada setiap akhir salatku.

 Aku pun menancapkan niat dalam hati, hanya lelaki yang bakal jadi suamiku yang akan aku ajak ke rumah. Masa itu, aku aktif di organisasi keagamaan di sekolah yang memang melarang pacaran sebelum nikah. Alhamdulillah, konsep no pacaran, aku pegang teguh sampai jenjang pernikahan. 

 Sempat berkomitmen 

 Menjelang kelulusan sarjana, Allah menjawab doaku selama ini. Aku dipertemukan dengan seorang pria, kakak angkatanku di kampus. Jarak angkatan kami cukup jauh. Aku angkatan 97, dia 93. Jurusannya pun berbeda sehingga kami tak pernah berjumpa di kampus. Justru kami bertemu di kantornya saat aku baru merencanakan skripsi tentang pemberitaan konflik Sampit di medianya. Dia diminta pemrednya menjadi pembimbing skripsiku. 

Rupanya, pertemuan kami pertama kali, menimbulkan kesan baginya. Sementara, aku biasa saja. Hanya senang karena dia pintar dan banyak pengetahuan. Tak berapa lama, tiba-tiba dia  “menembakku” langsung untuk dijadikan istrinya via imel. Aku sempat tidak menanggapi. Karena, saat bertemu, dia begitu serius dan tidak menunjukkan ingin berhubungan yang lebih. Tetapi imel-imelnya terus meyakinkanku bahwa dia serius.

Di tengah keraguan, dan rada opurtunis juga supaya skripsiku lancar, akhirnya aku coba jalani dulu komitmen untuk berteman lebih dalam. Sebelumnya aku juga mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang dia dari beberapa rekanku yang pernah seorganisasi dengannya, juga dari beberapa dosen. Rupanya, dia cukup terkenal di kampus sehingga tidak ada alasan untuk menolak ajakan seriusnya untuk menikah.  Di sisi lain, aku bersyukur karena dia adalah sosok pria yang aku cari : soleh, aktif berorganisasi, pintar, rajin membaca, dan bereputasi baik karena tanggung jawabnya yang tinggi. Hanya saja dia sangat serius.   Allah benar-benar mengabulkan permohonanku selama ini, cetusku.

 Kurang lebih enam bulan kami jalani melalui hubungan jarak jauh : Jakarta-Bandung. Kami begitu akrab berkomunikasi via imel dan telepon. Namun, tak dimungkiri, ada perasaan berbeda di hatiku ketika bertemu. Ada rasa ketidaknyamanan saat bersamanya. Aku jadi seperti bertemu dengan dosen. Dan, seperti punya PR, untuk mengumpulkan banyak pengetahuan agar bisa nyambung berkomunikasi. 

Karena dia wartawan, tentu pengetahuannya sangat luas. Aku merasa tidak percaya diri. Padahal berbagai informasi dan pemberitaan politik dan humaniora sudah kulalap. Tetapi tetap merasa kurang saja saat bersamanya. Sehingga kalau bertemu, aku jadi kikuk, dan tidak bisa bebas berdiskusi. Tetapi, kalau komunikasi via imel, lancar-lancar saja. 

 Akhirnya, aku evaluasi kembali hubungan kami. Aku mencoba menanyakan komitmennya. Dia mantab menjawab, ingin menikah denganku. Namun, saat aku desak soal waktu menikah. Dia menjawab, sekitar 2-3 tahun lagi. Alasannya, penghasilannya masih belum cukup. Hmm..aku menarik nafas. Waktu 2-3 tahun bukanlah sebentar. Belum tentu tiga tahun kemudian, kami berjodoh. 

Akhirnya dengan berat hati, bulan Juli 2002, terpaksa aku putuskan hubungan itu. Dia sempat meralat agar akhir Desember 2002 kami menikah. Tetapi tetap, aku katakan, kita berteman biasa saja sampai Allah mempertemukan kami kembali. Waktu itu skripsiku juga belum selesai. Biarlah, aku jadi lebih mandiri mengerjakannya. November 2002, Alhamdulillah aku berhasil menjadi Sarjana Komunikasi. Soal cinta, aku memang lebih banyak pada logika.

 Mailing List Sahabat

 Aku tak pernah menyangka, mailing list sebuah perkumpulan islam di fakultas teknik universitas ternama di negeri ini menjadi sejarah dalam hidupku.  Berawal dari seorang sahabatku sewaktu SMU yang kuliah di sana, kerap mengirimkan imel seputar keislaman dari milis tersebut.   Aku sangat senang membaca  artikel  yang di-forward-kannya. Sehingga, aku memutuskan bergabung menjadi bagian anggota milis itu pada Oktober 2001. Agak malu juga bergabung karena bukan bagian dari mahasiswa Universitas Indonesia. Tapi kata sahabatku (kini sudah almarhumah), tidak masalah dari mahasiswa di luar UI. 

Setahun lebih aku bergabung dengan komunitas mailing list tersebut tanpa memberikan data dan memperkenalkan diri. Statusku pun sudah menjadi wartawan di sebuah majalah mingguan bisnis dan hukum.

Dunia media memang merupakan passion-ku.  Aku begitu sibuk menikmati petulangan menguber sumber berita. Aku hanya berfikir bagaimana bekerja yang baik agar beritaku layak muat, gajiku bisa untuk membiayai kuliah adik dan membantu kebutuhan sehari-hari orang tuaku. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Terasa betul tanggung jawab yang harus dipikul.

Dunia wartawan memang tidak mudah dijalani, terutama bagi wanita. Waktu itu, satu kantor, perempuan hanya dua orang. Selebihnya, laki-laki  matang usia. Tak pelak, kehadiran wanita kerap menjadi bulan-bulanan digoda para lelaki di kantorku. Sempat merasa risih juga ketika beberapa orang ada yang tertarik kepadaku. Bahkan, ada yang nekat memberanikan diri ingin selalu bersamaku kemanapun aku liputan. Wahh...sedangkan aku sama sekali tidak tertarik padanya. Keadaan ini sempat membuatku resah dan mengganggu pekerjaanku. Selintas aku ingin keluar dari kantor yang mematangkan jiwa kewartawananku. Tetapi, di sisi lain, pengalamanku masih seumur jagung. Belum PD juga untuk melamar di media lain. Biarlah, disabarin aja, itung-itung belajar, hiburku. 

Namun, kian hari, ketidaknyamanan lingkungan terasa begitu mengganggu konsentrasiku. Hingga akhirnya, tercetus solusi “menikah” untuk menghindari kejarannya. Tetapi menikah dengan siapa ? heheh aku juga belum punya pacar. Memang keasyikan bekerja, meluputkan perhatianku untuk segera menikah. Dalam bayanganku, kalau aku menikah, pasti tidak bisa lagi menjadi jurnalis. Suami mana yang rela istrinya bekerja larut malam. Liputan bersama dengan fotografer cowok, boncengan sepanjang hari. Waduhh...antara siap dan tidak siap juga meninggalkan petualangan ini.

Sampai pada suatu ketika, aku liputan di luar kota dan bertemu dengan seorang jurnalis wanita. Kami sekamar. Sepanjang malam, kami ngobrol tentang banyak hal, salah satunya tentang pernikahan.  Ocehannya malam itu rupanya kena di hati dan membuka pikiranku. Usianya sudah lebih dari 35 tahun, belum menikah. Sedangkan aku baru 23 tahun. Intinya, wartawati dari sebuah tabloid ekonomi di Jakarta itu memintaku untuk berfikir lagi tentang profesi jurnalis. Kata-kata terakhir yang masih kuingat darinya adalah,”Mumpung belum terlambat, sebaiknya kamu berfikir untuk menikah dari sekarang,” Ia merasa  sudah terlambat menikah. Ada rasa tidak butuh pendamping hidup, lantaran begitu asyik bergulat dengan kesibukan dan deadline. Hmmm.. ada benarnya juga. Mau sampai kapan aku menjalani hidup seperti ini.

 Pria di kantorku makin aktif mendekatiku. Sungguh membuatku jadi ilfil. Tak ada cara lain, kecuali memohon pada Allah agar dikuatkan. Aku termasuk wanita yang tidak bisa judes dengan pria. Namun begitu, aku berupaya bergaul dengan wajar, dan tak memberikan harapan apapun. Dalam kondisi yang tidak enak, aku bilang ke Allah, aku ingin menikah. Kalau dulu aku meminta sejumlah syarat untuk pendamping hidup, tetapi kali ini, aku hanya berdoa meminta yang terbaik saja menurut Allah. Karena Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Ustadz pun selalu mengatakan, kalau ingin mendapatkan suami yang baik, kita harus menjadi orang yang lebih baik. 

 Teguran Moderator Itu

Setelah lebih dari setahun menjadi anggota pasif  di milis sahabatku, akhirnya moderator melayangkan imel kepadaku. Pada waktu itu memang ada kebijakan pendataan kembali anggota milis.  

> > > --- afifudin wrote: 
> > > > Untuk pendataan, Ana harap antum mau mengisi 
> > > > formulir di bawah ini dan mereply-nya. 
> > > > 

 Email ini sempat aku acuhkan. Untuk kali kedua, moderator kembali mengingatkanku agar mengirimkan biodata. Merasa tidak enak juga, dan merasa bersalah, tidak permisi dulu bertamu, akhirnya  biodata kukirim ke milis tersebut. 
 ----- Original Message ----- 
> > From: "kartina sari" > > 
To: > > Sent: Saturday, March 29, 2003 3:44 PM 
> > Subject: Re: .: fusi-04 :. Biodata 
> > > Assalamu'alaikum, 
> > >  Maaf ya, kalau sejak saya ikut milis ini pada bulan Oktober  2001, saya belum mengisi data diri saya.Terus terang  saya senang bisa menjadi anggota milis ini karena saya mendapat banyak masukan tentang wawasan keislaman.
 > > > Nama : Kartina Ika Sari
 > > > Fakultas : Ilmu Komunikasi UNPAD, 
 > > >Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran, angkatan 97 (lulus)  Pekerjaan : wartawan majalah TRUST (bisnis dan  hukum)
 > > > No. telp : kantor: 7228981, HP 0815 9390445
 > > > Alamat : Palmerah Barat Rt 003/010 No. 41 Jakarta Barat
 > > > Pesan/kesan : Kuatkan ukhuwah, timba wawasan dan ghiroh keislaman salah satunya melalui milis ini. 
 > > > Terima kasih. 

 Dua hari kemudian, aku mendapatkan imel balasan. Aku kira dari moderator, ternyata dari salah seorang anggota milis juga. 
 From: "Teguh Setiono"  
To: "kartina sari" Sent: Monday, March 31, 2003 11:27 AM
 Subject: Re: Fw: .: fusi-04 :. Biodata 
 > > boleh kenal lebih lanjut enggak ya........ 

 Jadilah percakapan ringan via imel. Rupanya pria dibalik nama Teguh Setiono itu bekerja di industri farmasi. Bukan suatu kebetulan, majalahku tengah mengangkat berita tentang industri farmasi. Lumayanlah buat nambah-nambah channel untuk  background liputanku, pikirku.

 Seminggu setelah perkenalan via imel, kami kopi darat dengan tujuan wawancara. Jujur, aku tidak ada feeling apa-apa. Tetapi memang, dari gaya tulisannya via imel, sepertinya ada maksud lain tersembunyi. Tetapi, tidak kuhiraukan. Statusnya sama seperti narasumberku lainnya.

 ####

 Sabtu hari itu, dia pulang setengah hari. Kami janjian di kantorku. Rupanya, kantornya tidak begitu jauh dengan kantorku. Hmm dari segi penampilan, apalagi wajah, aku benar-benar tidak tertarik. Makanya, aku tidak  canggung  saat kami berboncengan menuju sebuah mal di Blok M, Kebayoran Baru. Aku sudah menganggapnya seperti teman-teman cowokku lainnya. 
Aku sudah menyiapkan recorder dan catatan kecil. Barangkali ada informasi penting yang perlu dicatat. Tetapi ternyata pertemuan itu tidak membuahkan hasil bagi liputanku. Dia terlalu pendiam, dan hanya menjawab sekadarnya. Padahal aku sudah memancing dengan sejumlah pertanyaan yang butuh jawaban eksploratif. Hmm  aku jadi underestimate. Wah, salah orang nih. Tidak ada hasilnya hampir satu jam ngulik-ngulik pertanyaan tentang peta industri farmasi, minimal dari perusahaannya sendiri. Usut punya usut, dia juga bukan mahasiswa UI. Statusnya di milis itu sama denganku, anggota terselubung yang hanya ingin menambah pengetahuan tentang keislaman. 

Selama pertemuan, dia banyak memandangiku. Hufff...aku mulai tidak nyaman dengan situasi ini. Langsung saja aku to the point menanyakan maksud  sebenarnya bertemu. Dia menjawab tenang, mau kenal aku saja dan berharap bisa ke jenjang hubungan yang lebih. Waduhhh...aku nggak bisa berkomentar apapun. Hanya terdiam dan “mengaburkan” diri ke toilet untuk menenangkan diri. 

Di dalam toilet, aku berfikir keras bagaimana menolak ajakan pertemanan khusus darinya. Meski di sisi lain aku memang tengah meminta jodoh kepada Allah. Tetapi gimana ya, aku sama sekali nggak tertarik. Ya Allah maafkan hamba-Mu yang kurang bersyukur dan ikhlas menjalani ujianmu. Lantas, Aku teringat bagaimana aku memutuskan hubungan dengan pria ta’arufku dulu. Ketika ditanya menikah, dia langsung menawar. Siapa tahu begitu ditanya pernikahan, dia juga nawar waktu. Ini celah bagiku untuk  langsung meng- cut detik itu juga. 

 Begitu balik dari toilet, bagaikan punya kekuatan menang, tanpa embel-embel lagi, aku lancarkan peluruku. “Oke, terima kasih kalau mas mau mengenalku lebih dekat. Tetapi maaf mas, aku tidak mau berkomitmen. Kecuali sudah pasti akan menikah. Dan, itu pun tidak lama prosesnya. Maksimal enam bulan. Kalau dalam jangka waktu enam bulan tidak melamarku. Ya sudah kita berteman saja,” ujarku lugas.

 Mendengar pernyataanku, dia malah langsung menjawab, “ Baiklah, saya akan melamar kamu segera.” Waduhhh...aku kaget betul. Aku nggak mau kalah. Aku langsung berondong lagi dengan berbagai pertanyaan tentang visi rumah tangga dalam pandangannya. Aku juga menasbihkan diriku bukan istri solehah seperti dambaannya. Aku bilang, seandainya aku jadi istri kamu, kedudukanku adalah sebagai partner yang sejajar. Aku tidak mau diperlakukan seperti istri  yang melulu disibukkan dengan mencuci, menyetrika dan segudang pekerjaan rumah tangga. Aku katakan, aku paling malas mencuci, meyetrika dan sebagainya. Aku juga bilang,  tidak bisa memasak, ingin tetap bekerja sebagai wartawan, dan sebagainya yang jelek-jelek. 

Tetapi, dia tetap  menjawab enteng,” Aku mencari istri bukan pembantu. Kalau kamu nggak mau mencuci, menyetrika dan sebagainya, bisa cari pembantu. Tugas merawat anak merupakan tanggung jawab bersama," jawabnya. Dan, dia tidak melarangku untuk menjadi wartawan setelah menikah.  Jujur, mendengar pernyataannya tentang kehidupan rumah tangga, aku jadi klik. Visi dan misi kami ada kesamaan dalam memandang sebuah rumah tangga, rejeki, dan hikmah hidup.

Kurang lebih dua jam kami bertemu dan merasa ada peluang dariku, dia langsung ingin mengantarku ke rumah. Aku tidak mengijinkannya. Tetapi dia memaksa.  Akhirnya kami pulang bersama. Ibu dan adikku yang melihat aku dibonceng lelaki, mengiranya tukang ojek. Ibu dan adik baru nyadar ketika  dengan sopannya dia memberi salam. Aku langsung mengenalkan dia kepada orang tuaku. Aku kira dia hanya ingin bertatap muka dan ngobrol ringan dengan orang tuaku. Ternyata, tanpa kuduga, dia langsung menyatakan ingin menjadikan aku istrinya. Wahh sontak bapakku kaget. Nggak ada angin, nggak ada hujan, anak sulungnya dilamar seorang lelaki. Selama ini aku belum pernah cerita soal kekasih apalagi calon suami. Membawa pria masuk ke rumahku pun belum pernah.

Tanggal 20 April 2003, dia menepati tantanganku sebelum enam bulan sudah melamar. Dia memboyong orang tuanya dari Kebumen, ditemani tiga kakaknya yang juga membawa keluarganya untuk melamarku. Kami merencanakan menikah tanggal 20 Mei 2003. Tetapi atas kesepakatan keluarga dari kedua belah pihak, akhirnya pernikahan kami ditunda sampai tahun depan. Baik orang tuaku maupun orang tuanya, masih meragukan komitmen kami yang baru bertemu dalam hitungan hari langsung memutuskan menikah. Apalagi kenalnya sebatas dari internet. Keduanya tidak saling mengenal, tidak ada rekan dekat  yang setidaknya menjadi referensi salah satu diantara kami.  Argumen mereka, memilih suami, jangan seperti membeli kucing dalam karung. Hmm menyerahlah aku ketika cincin emas dilingkari di jariku oleh ibunya. 

Dia bukan yang Kuinginkan, melainkan yang Kubutuhkan

Kurang lebih 10 bulan kami jalani proses ta’aruf. Selama perjalanan itu, sejak bertemu  tidak ada yang berubah darinya. Kecuali,  tampak lebih rapi dengan potongan rambut lebih pendek. Dia tetap pendiam, irit bicara, kalau ditanya, jawabannya singkat. Sementara aku, banyak bicara. Jadi aku harus banyak mengorek tentang segala hal. Tapi herannya, tetap dijawab singkat dan paling cuma senyum atau anggukan kepala. Suaranya pun kecil. Aku mendapatkan gambaran jelas tentang dirinya melalui imel-imel dia dalam memperkenalkan diri. Dia bisa panjang lebar menjelaskan via tulisan. 


Selain itu, dia juga tidak suka membaca, seperti yang aku inginkan. Tak juga suka berorganisasi, sedangkan aku super aktif. Intinya, dia tipe cowok rumahan. Dia sangat tenang, cermat, tidak grasak grusuk, tidak panikan, berbeda sekali dengan aku. Wahh...karakter kami bagai langit dan bumi. Yang menyamakan kami hanya kesukaan pada makanan saja heheh sama-sama suka asinan dan tidak begitu senang dengan perempuan yang berdandan. Wah pas dong, aku paling males dengan dandan.  Gaya  sporty, nyaris tanpa make up

 Sepanjang waktu itu, aku terus berdoa, minta dipermudah jika memang dia yang terbaik. Kalau memang bukan jodoh, agar dijauhkan dan diselesaikan sesuai dengan cara Allah. Yang jelas, makin hari, aku merasa makin nyaman bersamanya, merasa menjadi diriku sendiri, tanpa ada kepura-puraan untuk menjadi seperti orang lain. Dia pun tampil apa adanya. Kami benar-benar eksis dengan keadaan diri masing-masing.Benih-benih suka yang ditumbuhkan dari sikap apa adanya mulai menghinggapi hatiku.

 Sampai pada tanggal pelaminan, Sabtu, 14 Februari 2004. Hari itu, pasangan yang ingin menikah banyak sekali.  Mungkin karena momen hari valentine. Aku juga baru ngeh kalau pilihan tanggal pernikahan kami bertepatan dengan Hari Kasih Sayang. Kami hampir tidak mendapat waktu menikah hari itu. Sampai malam jadwal penuh. Kalau mau, paling di pagi hari, pukul 07:00, jadwal pertama penghulu itu.  Ya, akhirnya Alhamdulillah, menikahlah kami pada jam tersebut.

 14 Februari 2014, tepat 10 tahun pernikahan kami. Tak henti bibir ini mengucap syukur pada-Mu ya Allah. Kami masih teguh dalam perjanjian itu. Dia tetap tak berubah, sebelum dan sesudah menikah, memang seperti itulah orangnya. Kami pun tak saling menuntut untuk berubah. Seandainya kami ingin berubah ke arah yang lebih baik, itu karena kesadaran kami yang memang seharusnya berubah. Bukan karena desakan, apalagi paksaan. Sampai akhirnya aku memutuskan risain menjadi wartawan setelah 9 tahun bergelut di dunia media, karena kesadaran ingin lebih memperhatikan perkembangan dua buah hatiku. Dia tak pernah menyuruh untuk berhenti, semuanya diserahkan kepadaku.

 Tak dimungkiri  riak-riak kecil dalam biduk rumah tangga kami selalu ada. Bagaimana tidak, dua pribadi yang sangat berbeda disatukan dalam ikatan pernikahan.    Riak itu aku pandang sebagai tanda penyesuaian  dan menjadi hal yang wajar  sepanjang tidak menyangkut yang prinsip. Dia tak hanya menjadi seorang suami dan ayah bagi anak-anak kami, tetapi sekaligus juga sahabat dan partner kerja karena kami berkolaborasi dalam bisnis bersama. Di sisa hidup kami, impian kami pun sederhana, hanya ingin selamat dunia dan akhirat dengan rejeki yang barokah. Semoga ya Allah. 

Tulisan ini disertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat