Jual Daster Batik

Jual Daster Batik

Mengembangkan Bakat Menulis Meili



Hari ini Meili begitu tergesa menghampiriku. Keringat membasah di keningnya. Wajah hitamnya jadi kelihatan mengkilat karena keringat. "Ma, tahu nggak Meili dapat juara berapa lomba ngarangnya ?" Aku yang masih tadarusan, langsung menghentikan bacaanku dan menoleh ke arahnya, sengaja tidak ingin menebak ;). Masih dalam hitungan detik, Meili sudah tidak sabar  memberitahuku "kabar gembira"yang dinanti-nanti sejak seminggu lalu.

'Ma, aku dapat juara 1. Naila juara 2 !" Matanya tampak berbinar sambil menunjukkan hadiahnya padaku. Barra yang sedang asyik rebahan nonton TV langsung merebut hadiahnya..'Lihat Ka..!. Meili langsung mengepit hadiahnya ketika tangan mungil Barra merebutnya. "Ntar dulu difoto sama Mama !"  Mereka sempat berebutan. Aku langsung memeluk Meili dan bilang "hebat". "Tuh De, kakak Meili juara !"

Kegiatan mengarang sebenarnya sudah dimulai Meili sejak awal kelas 4. Guru kelasnya pandai mendorong anak didiknya berprestasi. Ya, waktu itu, ramai pemberlakukan kurikulum 2013, dimana metode belajarnya dibuat kreatif, tidak monoton, dan pure mengembangkan potensi siswa. Meili sangat senang dengan metode belajar ini. Bu Lia, nama guru kelas Meili kerap menugaskan anak-anak mengarang. Awalnya Meili merasa ragu dengan kemampuannya.


Meili memang "kurang PD" terhadap sesuatu yang dia belum kuasai. Di kelas 3, aku sudah mengajak Meili untuk coba menulis dan mencoba membuatkan blog buatnya. Kami buat blog bareng. Dia yang pilih template dan fotonya (http://dunia-meilia.blogspot.com). Dia mulai suka. Hmm...harus sabar ya mengajak anak agar menyukai kebiasaan baru. 

Mengapa aku minta menekuni menulis ? pertama, karena aku melihat dia punya potensi menulis. Nilai pelajaran mengarangnya cukup bagus. Dia bisa mengembangkan imajinasinya. Kedua, aku rada prihatin dengan perubahannya yang mulai tidak menyukai kegiatan menggambar dan mewarnai. Padahal dia sangat berbakat. Sejak usia 5 tahun, dia sudah aktif mengikuti berbagai lomba mewarnai. Alhamdulillah, meski tidak selalu juara, tetapi bisa mengumpulkan sebanyak 33 piala lomba sampai kelas 2 SD. Dia merasa termotivasi dengan guru mewarnainya yang masih siswa SD itu berprestasi. Aku sempat menge-leskan mewarnai.

Hasrat berprestasi Meili cukup tinggi. Tapi juga mood-nya turun naik dan suka nggak PD-an ketika "lawannya" punya kemampuan lebih. Langsung ngeper dan mendadak menjadi tidak bagus mewarnainya. Hmm kalau sudah begini, mulutku ga berhenti memotivasi. 

"Mama nggak pa pa kok kalau Meili nggak juara. Yang penting mewarnai kamu rapih, tidak keluar garis dan selesai semua. Kalau bagus, nanti mama kasih hadiah." Meski sudah dimotivasi, tetap tidak mempan. Matanya melirik-lirik temannya ;). Kepercayaan dirinya menjadi hilang. Aku suka menjauhkan posisi duduk dengan rekannya yang pandai, biar lebih fokus.

Dan, begitu namanya tidak dipanggil sebagai juara, dia sangat sedih. Hingga akhirnya, perlahan-lahan mundurlah dari kegiatan kompetisi mewarnai. Paling sesekali ikut di lingkungan rumah.



Jam sekolahnya juga sudah melelahkan. Tiap hari, Meili yang kala itu kelas 3, pulang sekitar jam 15:00. Belum lagi mengaji setelahnya. Letih, makanya aku tidak begitu memaksakan dia untuk beraktivitas lebih. Aku pun tidak memaksakan dia ekstra belajar lagi di malam hari. Kecuali jika ada PR. Les mewarnainya sudah lama dihentikan atas permintaannya sendiri.

Sejak tak ada aktivitas lomba, aku melihat ada penurunan pada diri Meili. Dia menjadi tak begitu ambisi untuk berprestasi. Datar sekali. Dia selalu merujuk pada teman mainnya, yang memang tanpa aktivitas kecuali sekolah. Di situlah, aku mulai aktif memotivasi dengan berbagai cara. Ada rewards, jika dia berhasil melakukan sesuatu. Aku putar otakku bagaimana membuat dia antusias untuk berprestasi. Waktu itu, aku baru risain. Sedih juga. Setelah risain kok malah anak menjadi rendah motivasi. 

Teman memang kuat membawa pengaruh. Teman-teman lingkungan rumahnya, tidak dichallenge orang tuanya untuk melakukan aktivitas di luar sekolah. Meili sekolah di swasta dengan jam belajar lebih panjang  dibandingkan dengan SD negeri yang hanya 3 jam di sekolah. Kalau dihitung efektifitasnya, paling cuma 2 jam belajar. Nah, Meili kerap membandingkan perlakuan orang tua teman-teman mainnya.



Maka itu aku pilih aktivitas ngeblog. Alhamdulillah dia suka. Cuma masalahnya, hehe teknis. Kami hanya punya laptop satu. Itu pun aku  pakai untuk kerjaan menulisku untuk klien. Insya Allah, bisa beli laptop lagi buat Meili.

Dia aku dorong mengarang dengan menulis di buku. Buku harian,  salah satu medianya. Kalau dia sedang berada di sekolah, suka aku baca. Meili banyak bercerita tentang teman-temannya. Dia kesal sama siapa, suka dengan siapa. Dan, dia pun bisa memeringkat teman-temannya, mana teman yang baik hati, teman yang suka mengecewakan, teman yang suka mencontek, dan pastinya ada temen cowok yang dia suka. Wahh anakku sudah mulai menyukai lawan jenis. Aku suka pancing, dia tersipu malu.

Memasuki kelas 4, gairah menulisnya timbul lagi. Aku juga rangsang kreativitasnya dalam menentukan topik cerita. Hampir seminggu sekali, kami jalan-jalan untuk mengembangkan imajinasinya. Alhasil, setiap ada pelajaran mengarang, dia runut menceritakan pengalamannya. Dan, rata-rata cerita yang diangkat Meili seputar jalan-jalan ;). Alhamdulillah, efektif juga mengembangkan imajinasi dengan mengajak anak jalan-jalan. Mengapa jalan-jalan ? itu karena Meili suka jalan-jalan.

Ketika kompetisi mengarang di kelasnya, Meili seakan punya amunisi lebih bercerita tentang pengalamannya mudik sekaligus berwisata ke Yogya dan Candi Borobudur. Aku tidak begitu membatasi imajinasi karangannya. Aku hanya mengoreksi tata bahasa huruf besar dan kecil, titik, koma, dan tanda baca lainnya serta alur cerita yang memokus. Aduhh..jadi malu hehe mamanya nggak begitu ahli menulis ;).

Dengan prestasi ini, Meili jadi semangat bikin cerita di Majalah Bobo. Siap-siap naikin moodnya lagi nih kalo turun ;)

Menyikapi Penghina Nabi dan Islam

.

Belakangan ini banyak sekali orang yang mengatasnamakan agama, teriak kalimah Allah tapi perbuatannya sungguh bertolak belakang : membunuh tanpa peri kemanusiaan.

Agama manapun tak akan mentolerir tindakan kekerasan, apalagi sampai menumpahkan darah. Sakit memang rasanya, pabila Nabi kita dihina dina oleh mereka yang tidak menyukai Islam. Tetapi jangan lantas rasa sakit ini kita balas dengan tindakan anarkis hingga kita melupakan harga diri kita sebagai manusia.

Merujuk pada akhlak Rosullullah. Sungguh bergetar membacanya. Beliau kerap dihina, diludahi, dilempari kotoran, bahkan nyawanya selalu diburu untuk diganyang. Darah para sahabat mendidih melihatnya. Ingin rasanya menebas mereka yang selalu menghina Rosulullah. Tetapi apa balasan beliau...justru melarangnya. Beliau dengan sabar dan elegan menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Memaafkan dan tetap teguh menyampaikan risalah Allah dari budi pekerti yang baik. Tetap santun dan penuh kasih merangkul para pembencinya.  Beliau yakin, sesungguhnya ALlahlah yang memberikan  hidayah kepada hamba-Nya.  Dia yang berhak membuka hati dan pikiran manusia untuk melihat kebenaran.

So, jika ada orang2 menghina Islam, cukup bikin tandingannya dengan cara menunjukkan kemuliaan Islam sebagai agama yang rahmatan lil'alamin lewat sikap dan prilakumu. Jangan sekali-kali, dibalas dengan kekerasan. Karena itu akan membuat mereka semakin menyudutkan Islam, semakin mengekalkan "dogma" bahwa Islam agama teroris. Musuh-musuh Islam akan bertambah sorak sorai melihat umat Islam kebakaran jenggot dibakar api kemarahan.



Terkait dengan kejadian  #charliehebdo di Paris, tentang terbunuhnya 12 orang tim redaksi yang kerap membuat berita-berita antagonis tentang agama, termasuk pernah menghina Rosulullah, dalam hal ini sikap muslim yang baik, janganlah mudah tersulut amarah. Apalagi sampai "membenarkan" tindakan penembakan yang membabi buta terhadap mereka, sebagai suatu jihad fisabilillaah, itu sangat keliru.

Lantas bagaimana dengan sikap kita ? kembali pada apa yang dicontohkan Rosulullah, balaslah dengan akhlak yang baik, yang bertolak belakang dengan yang mereka prasangkakan. Buatlah berita-berita tandingan yang menjelaskan tentang kemuliaan Nabi Muhammad, dan terus perbaiki diri. Jangan sampai juga, kita membicarakan akhlak nabi, ehh prilaku kita malah sebaliknya. Ini bagaikan memercikkan air ke muka sendiri. Fenomena inilah yang sedang terjadi di umat. Banyak orang hanya bisa bicara dan berwacana. Tetapi miskin prilaku. Islam menjadi semakin asing di tengah-tengah umat, bisa jadi karena kita yang telah menjauh dari akhlak Rosulullah.

 Menukil sebuah pernyataan fatwa dari
Asy-Syaikh Al-'Allamah Prof. DR. Shalih bin Fauzan :

HUKUM MENYERANG KARTUNIS PENGHINA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU’ALAIHI WA SALLAM !

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

[Fatwa Asy-Syaikh Al-'Allamah Prof. DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, Guru Besar Universitas Al-Imam Muhammad bin Su'ud Al-Islamiyah, Riyadh]

السائل هل يجوز اغتيال الرسام الكافر الذي عرف بوضع الرسوم المسيئة للنبي صلى الله عليه وسلم؟

الشيخ هذا ليس طريقة سليمة الاغتيالات وهذه تزيدهم شرا وغيظا على المسلمين لكن الذي يدحرهم هو رد شبهاتهم وبيان مخازيهم وأما النصرة باليد والسلاح هذه للولي أمر المسلمين وبالجهاد في سبيل الله عز وجل نعم

Tanya: Bolehkah membunuh kartunis kafir yang diketahui membuat gambar karikatur pelecehan terhadap Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam?

Jawab: Penyerangan-penyerangan ini bukan jalan yang tepat untuk menghadapi para penghina Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, cara seperti ini hanya menambah kejelekan dan kebencian mereka terhadap kaum muslimin, tapi hendaklah dihadapi dengan membantah kerancuan penyimpangan dan menjelaskan kesalahan mereka. Adapun menghadapi dengan kekuatan dan senjata adalah tugas pemerintah muslim dan dilakukan dalam Jihad di jalan Allah ‘azza wa jalla. Na’am

Wallahu'alam


tulisan bagus tentang hal ini : 

Al-Quran dan Nabi Muhammad Merespon Blasphemy

Garuda Superhero, Inspirasi Jagoan Anak Indonesia



Garuda, hmm namanya memang Indonesia banget. Si Meili (9 tahun), anakku membayangkan burung Garuda. Sedangkan si Barra (4 tahun), mendengar Mamanya merencanakan mau nonton film Garuda Superhero, serta merta langsung nyamber menyanyikan Garuda Pancasila. Hehhe..

Teaser Garuda Superhero, sudah kami lihat sewaktu kami sekeluarga menonton Merry Riana (28/12). Suara dentuman ledakan yang cukup keras, membuat Barra menutup telinganya. Ma...itu bom meledak..!” Meili pun langsung request, mau nonton Garuda pada tanggal 8 Januari 2015.

Wahh, pucuk cinta ulam pun tiba. Alhamdulillah, nggak pernah menyangka kalau mendapatkan undangan gratis nonton Gala Premier Garuda Superhero di XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan (6/1). Terima kasih Mba Jatu Mursito (film publicist Garuda Superhero) atas undangannya..suprise banget.

Waktu terasa begitu cepat ya Mba Jatu. Rasanya baru kemarin, kita saling sharing tentang media sosial dan proyek menulismu. Ternyata Alhamdulillah filmnya sudah jadi. Bukan main jerih payahmu berduet mesra dengan mantan pacar Mas Shabana Amin, mempromosikan film ini. Mulai dari membuat materi dan merancang promosi di media sosial, roadshow ke berbagai kota, berpameran, workshop animasi film di sejumlah sekolah, meet and greet, sowan ke media, sampai serasa jadi pemilik XXI ya mba..membooking gedung bioskop untuk Gala Premier.

Mba Jatu, tercantik diantara para pria ini. Pak Aminnya ada di paling kanan.


Begitu sampai di XXI Epiwalk, wuihhh sudah padat oleh rekan-rekan media, para aktor dan aktris, serta sejumlah undangan penting lainnya. Serasa jadi wartawan lagi. Bawaan orok wartawanku selalu muncul kalau kumpul-kumpul dengan teman-teman seprofesi dulu. Maunya tanya-tanya banyak dengan para aktor yang bersilweran di hadapanku.  Sepertinya malam itu banyak wartawan foto. Aku kenali beberapa teman fotografer  yang berada di sana.

Pukul 19:00 wib, seluruh undangan sudah memadati theater 6. Bahkan meluber, tak dapat seat. Mereka berkerumun di samping layar, lesehan Hmm,  bagi media, tentu tak menjadi masalah ya, justru jadi lebih seru nonton di XXI rasa layar tancap :)

Malam itu, Gala Premier dibuka dalam dua term, pukul 19:00 dan 21:00 Wib. Aku masuk dalam rombongan media, pemain film dan kru-nya. Ada Slamet Raharjo, Robby Sugara, Rizal Al-Idrus (Garuda), Alexa Key, Inzalna Balqis, Kia Putri dan beberapa pemain lainnya. Termasuk juga sang suradara X Jo, produser Dhoni Ramadhan dan Executive Produser Drs. H Mulyadi. Pastinya ini menjadi pengalaman pertama Meili, bisa nonton bareng artis. Ia sangat senang. 



Sesuai dengan namanya, superhero, film besutan Putaar Production ini memang full menampilkan  kisah heroik seorang jagoan yang bermisi memberantas segala tindak tanduk  kejahatan yang ingin menguasai dunia. Sobat yang gemar superhero, pastinya sudah familiar dong ya  dengan sosok Batman, Superman, Iron Man, atau juga Robocop. Kira-kira seperti itulah..sosok Garuda Superhero disuguhkan. 

Berkiblat pada superhero Hollywood, boleh dikata hampir sepenuhnya  film ini mengadaptasi baik karakter tokoh jagoan, penjahat dan imaji situasi yang menyerupai film Hollywood. Jika Batman punya Gotham City, maka Garuda Superhero pun mengambil fragmen lokasi Metroland City.



Ceritanya, Indonesia digambarkan sebagai negara adidaya yang memiliki peralatan canggih di bidang nuklir luar angkasa. Wow..semoga dream comes true nih. Ketika itu planet bumi sedang dihebohkan oleh ancaman serangan asteroid. Masyarakat dunia panik karena kehidupan akan segera berakhir. Di tengah kepanikan tersebut, Indonesia eksis memberikan solusi yaitu MAT Gatot Kaca, senjata penghancur asteroid berkekuatan 100 kali bom nuklir Hiroshima, Jepang. 

Namun sayang, di tengah upaya Indonesia menghancurkan asteroid ini, munculah King Durja, tokoh antagonis atau penjahat yang diperankan oleh pemain kawakan Slamet Rahardjo.  Ia ingin merebut MAC Gatot Kaca untuk menguasai dunia.  Di sinilah babak pertarungan  dimulai. Sosok Bara Derma (Rizal Al-Idrus) yang tak lain adalah Garuda Superhero muncul untuk menyelamatkan bumi dari misi jahat King Durja. 

Ayah Bara adalah seorang polisi berpangkat rendahan yang mati terbunuh karena menyelamatkan Tuan Derma. Bayi Bara yang bernama Garuda ini kemudian diangkat anak oleh Tuan Derma (Robby Sugara), konglomerat dermawan yang banyak membiayai penelitian ilmiah untuk menyelamatkan bumi. Di tengah keadaan genting, Tuan Derma  disandera King Durja untuk mendapatkan MAC Gatot Kaca. Bara yang kala itu belum menjadi Garuda Superhero sedang  menyepi di Tibet, diminta segera kembali ke Metroland City oleh anak Tuan Derma yang diperankan oleh Inzalna Balqis. 



Dalam suatu perjalanan, Bara bertemu dengan seorang dokter anonim yang juga sedang dalam bahaya. Nyawanya terancam dibunuh oleh mahluk ciptaannya sendiri (mutan) yang mengincar serum penelitiannya. Dokter ini mengenal baik Tuan Derma yang katanya akan membiayai proyek penelitiannya yang belum tuntas. Di sinilah cikal bakal Bara menjadi manusia Superhero. Dokter ini menyuntikan serum sehingga menyulap Bara menjadi manusia berkekuatan super yang sebanding dengan kecanggihan penjahatnya. Dan, tentu saja bisa ditebak, akhir dari film ini, jagoan berhasil memenangkan pertarungan :)

Teknologi CGI


Berdurasi 80 menit,  film bergenre action fantacy ini mengajak penonton menikmati sekuel-sekuel visual yang 90 persen dikemas dengan mengggunakan teknologi  Computer Generated Imagery (CGI). Teknologi ini perdana digunakan dalam industri perfilman Indonesia.

Dalam teknologi CGI, seluruh proses pembuatan film hanya dilatarbelakangi green screen dan berlangsung di studio. Di sini, pemain mutlak dituntut berimajinasi berlaga seperti keadaan sesungguhnya ; menghindari ledakan, dikejar-kejar penjahat, gedung meledak, dan dentuman senjata yang siap merenggut nyawanya. Latar belakang lokasi pun diciptakan penuh rekayasa digital. Kalau bukan aktor yang mumpuni sekaliber Slamet Rahardjo atau Agus Kuncoro, rasanya sulit beradegan imajinatif. 

Jupe sebagai manajer promosi sedang mengcoach anak-anak. 


Yang membanggakan, seluruh proses rekayasa digital dengan animasi matte painting ini dikerjakan oleh animator asli Indonesia. Mereka berasal dari Yogyakarta, Malang, Padang, Jakarta, dan Solo. Namun memang, harus diakui, masih perlu proses penyempurnaan. Sequel-sequelnya masih terlihat kasar. Pemain dan gambaran adegan yang dimainkan seperti bagian yang terpisah. Mungkin kalau tidak 90 persen menggunakan CGI, kekasarannya bisa dieliminasi.

Alurnya dari awal sudah langsung mengajak penonton dalam sebuah pertarungan.  Suara tembakan dan dentuman keras gedung-gedung bertingkat yang hancur dibom. Ya...sebuah ilusi menggambarkan kota yang sedang genting, porak-poranda. Suara-suara keras serangan kota yang sedari awal disuguhkan, memang mengejutkan anak-anak. Bikin kaget, begitulah istilahnya. Meili beberapa kali menutup telinganya.

Tetapi, jangan juga jadi khawatir dengan efek dentuman dan ledakan yang keras ya ayah bunda. Seiring dengan perjalanan durasi, lama-lama jadi terbiasa terdengar di telinga anak. 


Yang patut diapresiasi dalam film ini, meski berkiblat pada Hollywood tetapi sangat memperhatikan norma yang sesuai dengan usia anak-anak. Tidak ada adegan berciuman yang biasanya ditampilkan jagoan yang berhasil memenangkan pertempuran. Begitu pun pertempurannya, nyaris tanpa darah dan kekerasan sadis. Cocok banget dikonsumsi keluarga Indonesia.


Rizal Al Idrus, Garuda Superhero


Sosok Garuda Superhero, Rizal Al Idrus pun dipilih cukup cermat, sengaja bukan dari bintang film yang umum  dikenal di layar kaca. Tetapi lebih melihat pada faktor  “kebersihannya” dari gosip-gosip selebriti, sehingga benar-benar diharapkan dapat menjadi figur teladan bagi anak-anak.  Mengawali karir entertainmennya sebagai bintang  L-Men of the Year 2012, pria asal Gorontalo ini rupanya adalah seorang dokter. Dari segi tampang..hmm pastinya nggak bikin bosen dilihat heheh.

Sayangnya sosok kepribadian Garuda kurang begitu ditonjolkan dalam film ini. Kalau bisa ditonjolkan lebih gamblang tentang kepribadian dan misi hidup yang lebih bermakna dari seorang jagoan, pastinya transfer nilai-nilai patriostisme, ksatria akan lebih mengena pada anak-anak.



By the way, apapun itu, harus diakui PR-nya masih banyak. Namun begitu, keberanian menghadirkan film Garuda Superhero oleh Garuda Sinergi Putaar Sinerma patut diacungi jempol. Ini adalah film superhero pertama yang menggunakan teknologi CGI. Untuk membesutnya pun butuh waktu lama, yaitu 10 tahun. Banyak persiapan yang harus dipenuhi. Tak hanya perkara finansial yang besar, sekaligus juga SDM yang menggarap teknologi tersebut. Kalau hanya selalu menunggu siap baru bergerak, ya tidak bakal siap-siap. Yang terpenting muncul dulu dan lihat respon yang terjadi.

Garuda Superhero adalah penggebrak dan penggairah industri perfilman Indonesia  naik kelas. Diharapkan, ke depannya akan tumbuh subur sineas-sineas Indonesia untuk menciptakan debut yang lebih baik lagi. Kabarnya, film superhero Gundala Putra Petir tengah digarap oleh sutradara Hanung Bramantyo.Makin keren..




Sekarang tinggal kamu nih sobat...! Pedulikah terhadap film-film Indonesia karya anak bangsa ? Kalau peduli, yuk ajak keluarga tonton Garuda Superhero di bioskop kesayangan, mulai tanggal 8 Januari 2015.

Follow fanpage Garuda Superhero dan twitter @GarudaSuperhero
Oya, kostum Garuda Superhero juga dibuat oleh perajin Indonesia loh..Bangga ya.

Strategi Menjual dengan Story Telling di Candi Borubudur



Lebaran lalu (3 Agustus 2014), kami sekeluarga wisata ke Yogyakarta dan Candi Borobudur di Magelang. Meili dan Mbahnya pengin banget ke Candi Borobudur. Ini merupakan kunjungan perdana Meili dan Mbahnya. Kata Meili ingin melihat peninggalan Istana Ratu Balqis yang dipindahkan oleh Nabi Sulaeman. 

Aku memang cerita ke Meili, Candi Borubudur selain dari catatan sejarah Candi Borubudur yang merupakan peninggalan agama Budha yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra pada abad ke-8, juga mencoba memberikan persepsi lain. Bisa jadi candi Budha terbesar di dunia ini memang merupakan salah satu bukti kebesaran Nabi Sulaeman. Hmm..mungkin saja. Aku tidak mau berpanjang-panjang menulis tentang polemik tersebut. Om Google sudah banyak membahasnya :)

Aku hanya ingin bercerita tentang pedagang-pedagang di Candi Borobudur yang berkesan. Kami sampai ke Borobudur dari Yogya sekitar pukul 10:00 Wib. Udara cerah sekali. Alhamdulillah, bisa lebih lama menikmati suasana candi, pikirku. Aku siap dengan kaca mata hitamku. Meili dan Barra pun sudah siaga dengan topi barunya yang dibeli dari seorang pedagang topi. Cukup banyak juga pedagang bersileweran menghampiri setiap tamu yang baru turun dari mobil. Meski kami sudah membawa topi, para pedagang yang kebanyakan ibu-ibu setengah baya tetap gigih menawarkan barang dagangannya. "Sudah beli Bu, makasih ya !", jawabku berulang-ulang sambil berlalu. "Beli lagi Neng,..!" Hehe si Ibu tetap usaha.


Perlahan-lahan matahari menunjukkan kegarangannya. Untungnya di loket suasananya nyaman. Ada kipas angin besar bersembur air, menyejukkan antrian pengunjung. Lama juga kami duduk-duduk di area loket sambil menunggu suami beli tiket. 

Sebelum menelusuri candi, kami menikmati sejumlah fasilitas di area candi. Meili dan Barra nonton film tentang pendirian Candi Borobudur, bermain dengan badut-badut lucu, memperhatikan perajin membatik, dan naik kereta keliling. Udara di taman-taman dengan pepohonan rimbun memberikan kesejukan tersendiri.



 Jarum jam menunjukkan pukul 12:00-an. Suasana di taman masih asyik untuk leyeh-leyeh. Apalagi di hamparan rumput itu banyak pedagang melapak. Badan-badan Candi Borubudur terlihat jelas dari taman. Ibuku pun begitu menikmati suasananya. Hmm...panas kali ya. Nggak tega juga mengajak ibuku, Meili dan Barra menaiki tangga candi. Kami memutuskan menunggu matahari bersinar ramah, sambil makan siang lesehan bermenu gudek.

Tak berapa lama kami duduk-duduk yang disediakan, pedagang hilir mudik menawarkan barang dagangan. Mulai dari gantungan kunci berbentuk candi Borobudur, Prambanan, kaos, tempelan kulkas, pulpen bermotif ukiran batik, asbak, sampai wayang kayu. Harga yang ditawarkan cukup murah. Gantungan kunci ditawarkan Rp 3000-an. Sedangkan untuk pulpen  bambu bermotif ditawarkan "keroyokan', Rp 5000 dapat 5 pulpen. Kami membeli beberapa gantungan kunci, tempelan kulkas dan asbak untuk oleh-oleh.



Hmm...karena kami lumayan "membeli", seorang bapak setengah tua menghampiri dan tersenyum manis kepada kami. Di bahu kanannya, tergendong sebuah bawaan besar. Menyembul di sela-sela seonggok wayang kayu. Bisa ditebak, ia akan menjajakan dagangannya kepada kami. Aku menoleh ke suamiku yang tampak menikmati suasana. "Mas, ada yang jual wayang. Tertarik nggak? tanyaku. Tanpa komentar, suamiku hanya tersenyum ketika bapak itu dengan senyum lebarnya menyapa kami. Jujur, aku ingin langsung mengaba-aba menolak jualan bapak itu. Karena, pasti harganya mahal. 

Barra bermain-main dengan topeng kayu.


Benar saja, bapak itu langsung menawarkan wayang kayunya kepada kami. Setengah berbisik, dekat sekali ke telinga suamiku. Aku jadi tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Suamiku mengangguk-angguk saja. Hmm..jangan-jangan suamiku mau membelinya.

"Berapa pak topeng kayunya ?" tanyaku. " Rp 150 ribu bu, sepasang." jawabnya singkat, tetap dengan senyum yang mengembang. Garis-garis tua eksis di wajahnya. Sesekali ia basuh keringat di keningnya. Timbul iba di hatiku. Ia mengamati anakku Meili yang asyik menikmati makan siangnya. Lamat-lamat terbukalah obrolan ringan diantara kami. 

Rupanya, pria yang mengaku bernama Gimin itu sudah berjualan kerajinan di kawasan wisata Borobudir sejak tahun 1981. Ini sebagai kompensasi atas gusuran rumahnya yang terkena proyek pengembangan Candi Borobudur. Penduduk yang terkena gusuran, diberikan izin untuk berdagang di sekitar Borobudur. 

Bapak beranak dua sekaligus kakek bercucu satu ini berbagi tips kehidupan. Pembicaraannya filosofis, sarat dengan baik-bait Kejawen yang kerap bapakku ajarkan kepadaku, bahwa hidup ini sejatinya sudah ditentukan takarannya oleh Gusti Allah. Dan, setiap diri apapun yang diperbuat, baik maupun buruk, ada balasannya.  Ia juga bercerita tentang mistis di kawasan Candi Borobudur. Ya..obrolan jadi panjang, karena aku terus bertanya dan bertanya. Hmmm..suami lagi-lagi tak berkomentar,  khas dia banget.

Semilir angin berhembus syahdu ketika Pak Gimin bercerita.

Bagi Pak Gimin kebahagiaan itu begitu sederhana, ia hanya meminta kepada Tuhan diberi kenikmatan memperoleh rezeki yg halal dan diridhoi. "Permintaan saya hanya dua, yaitu memiliki badan yg sehat utk bekerja dan Tuhan meridoi setiap yg saya dan keluarga lakukan." katanya.

Ia pun mengingatkan kepada kami agar selalu mendoakan orang lain dan para leluhur. Semakin kita banyak mendoakan keselamatan dan kebahagiaan orang lain, maka itu akan berpulang ke kita juga. Tidak ketinggalan, ia berbicara tentang politik dan Jokowi. Ahh...pas banget dengan seleraku. Barra dan Meili jadi antusias mendengar wejangan bapak 65 thn yg juga pandai mengurut ini.Tanpa terasa satu jam lebih ia bersama kami. 


Hehe, by the way, bagaimana dengan jualannya ? Ternyata, itu tak dilupakannya meski kami sudah larut dalam cerita. Pelan-pelan, ia tawarkan kembali dengan harga spesial.  Suamiku yang sedari awal tak berkomentar, goyah juga. "Kurangi ya harganya..." tawar suami dalam bahasa Jawa, sambil memegang sepasang topeng kayu Rama dan Shinta. Tak ingin kehilangan momen, Pak Gimin langsung menyambutnya. Ia tawarkan harga paket, topeng kayu Rama-Shinta plus 5 wayang kayu Pandawa. Bagus juga wayangnya..Akhirnya deal. Pak Gimin memberikan harga 'spesial"..Kalo tidak salah hampir 200 ribu.

Harga "paket spesial" yang kami kira murah, nyatanya di luar taman, banyak pedagang menjual harga dibawahnya.. Wahh...heheh suamiku hanya tersenyum. "Lah...ini lebih murah !" cerita suamiku yang menemui wayang-wayang itu dijajakan sejumlah pedagang di area luar..


Tampil Cantik dengan Busana Muslim Syar’i di Griya Lahfy


Kemajuan dunia fashion melahirkan banyak ide kreatif model busana muslim. Untuk mendapatkannya pun tidak sulit. Dari pasar tradisional, pusat perbelanjaan moderen hingga butik berkelas banyak ditemui aneka pakaian muslim/muslimah. Bahkan kini sudah membanjir di pasar online. So, nggak ada lagi istilah tidak sempat ke toko atau ke pasar untuk membeli pakaian. Tinggal mantengin di depan laptop atau gajet, berjilid-jilid model busana muslim tersaji lengkap. Salah satunya di toko online pakaian muslim dan muslimah Griya Lahfy

Tinggal sesuaikan dengan tipikal tubuh, syarat syar’i busana muslim dan tidak ketinggalan,  isi kantong juga hehhe. Kalau kata pedagang, ‘ada harga, ada rupa’.. Namun yang terpenting adalah apakah busana muslim yang kita pakai sudah sesuai dengan yang diajarkan Rosulullah. Khusus untuk muslimah, sudah diatur syarat busana syar'i sesuai dengan ketentuan Alquran dan hadish. Diantaranya :

1.     Pakaian menutupi aurat (seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan)
2.     Kainnya tidak tipis apalagi menerawang
3.     Longgar, tidak ketat sehingga lekuk tubuh terlihat
4.    Warnanya tidak mencolok
5.    Tidak menyerupai pakaian laki-laki

Ini hanya beberapa syarat pokok pakaian muslimah yang berupaya saya praktekkan. Meski belum sepenuhnya sempurna, tetapi pelan-pelan dan berproses, Insya Allah bisa sesuai dengan yang Allah perintahkan.

Biar kamu tidak bingung bagaimana harus berbusana muslim syar’i, Griya Lahfy menawarkan banyak pilihan model dan bahan untuk dewasa dan anak-anak. Ada gamis, rok dan blouse, baju koko, mukena sampai jilbab dan khimar. Harganya juga bikin kamu tersenyum. Cara pesannya mudah, kamu tinggal order lewat  SMS, WA, BB atau dengan mengisi formulir pembelian. 

Gaya busana muslimahku


Sebenarnya aku bukan tipe muslimah yang stylish. Aku cenderung suka bergaya casual (celana dan kemeja/kaos). Selama lebih dari lima tahun bergelut di dunia media dengan mobilitas tinggi, aku nyaris tidak memikirkan penampilan. Apalagi jarak tempuh rumah ke kantor (Cileungsi-Gondangdia/Jakarta), lumayan makan waktu. Penampilan yang rapi sedari rumah, tidak jarang “dirusak” oleh suasana kemacetan dan bergelantungan di bis, kereta, atau terkapar angin tukang ojek. Yang penting, menutup aurat, dan tidak ketat,..itu yang ada di benakku :)


Penampilanku dulu waktu liputan.

Aku baru memikirkan penampilan ketika risain dua tahun lalu. Anakku Meili (9 tahun) punya andil besar mengubah penampilanku. Dia rewel sekali ketika pengambilan raport. Ia ingin mamanya berpenampilan seperti ibu-ibu lainnya. Hmm..demi membahagiakan Meili, sekaligus juga menyempurnakan cara berpakaianku dan meninggalkan kesan lama sebagai jurnalis. Alhamdulillah sukses juga aku mengubah penampilan.

Aku mulai memperhatikan cara berhijab di you tube dan meminta adikku mengajarkan hijab ala hijabbers. Banyak memang model busana dan hijab yang menarik hatiku. Tidak jarang aku mendapati model-model yang bagus dikenakan orang lain, tetapi begitu aku pakai, rasanya tidak pantas. Aku juga tidak merasa nyaman. 


Hmm..rupanya memang pakaian itu menunjukkan karakter pemakainya. Semakin kita mengenal diri sendiri, kita akan mudah menentukan seperti apa pakaian yang pantas dikenakan—tentu harus syar’i.  Akhirnya, aku menemukan cara berbusanaku, termasuk juga jenis bahan yang menempel di tubuhku. 
Aku dan adikku yang modis
Aku bersama Meili

Aku suka pakaian yang sederhana, tidak banyak aplikasi model, warna kalem, namun tetap elegan dilihat. Untuk jenis bahannya, aku menyukai bahan katun, jeans, atau sejenisnya, yang tidak begitu menempel lekat di tubuhku dan menyerap keringat. Pasalnya, keringatku agak banyak, kalau bahannya tidak mudah menyerap, wahh bikin nggak PD, selain juga aroma yang ditimbulkan dari bahan yang tidak menyerap keringat. Untuk modelnya, aku pilih yang dapat menutup perutku yang agak besar dan bisa menyiasati bahuku yang rada bidang. 

Alhamdulillah, di Griya Lafy, aku menemukan banyak model busana muslimah yang cocok buatku. Aku suka dengan gamis-gamis ini (lihat gambar). Mukenanya juga bagus-bagus, jadi bikin semangat beribadah. 








Join yuk fanpagenya Griya Lafy untuk mendapatkan update model busana terbaru.


Mendefinisikan Resolusi



Apa resolusimu di tahun 2015 ?

Mungkin diantara sobat sering ya mendengar kata 'resolusi". Kata ini kerap diungkapkan dan menjadi "slogan keren" di penghujung tahun.

Tetapi apa kita sudah benar-benar memahami apa arti resolusi itu ? apakah hanya sebuah untaian harapan dan mimpi di tahun mendatang ?

Mimpi adalah sebuah harapan yang menggerakkan jiwa dan raga bersinergi menggerakkan diri demi mencapai apa yang kita inginkan dan dambakan. Dengan bermimpi, manusia memiliki harapan untuk hidup "lebih hidup".   Semesta pun mendukung setiap gerak energi yang demikian kuat mencapai sesuatu keinginan. Orang bijak berkata, bagi kamu yang bekerja keras, dan penuh keyakinan akan tercapai, jangan khawatir, semesta akan mendukungmu dan siap menyukseskan keinginan dan harapanmu.

Lantas bagaimana dengan resolusi ?
Menilik artinya dari terminologi bahasa, Re, dalam bahasa Inggris artinya "kembali" , "mengembalikan" atau mengulang. Sedangkan "solusi" adalah pemecahan masalah. Jadi, resolusi adalah upaya untuk memberikan solusi kembali terhadap suatu hal yang kita lewati. Ini semacam evaluasi atas permasalahan yang kita hadapi atau persoalan yang dialami di tahun sebelumnya.

Jadi, kita yang sudah bisa menetapkan resolusi, artinya, kita sudah dapat mengevaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Permasalahan yang masih menggantung, telah kita pikirkan bagaimana solusi menyelesaikannya. 






Dalam sebuah postingan di meme tertulis :
“Resolusi tahun 2015 adalah menyelesaikan resolusi di tahun 2014, yang mana resolusi tersebut dibuat tahun 2013..(hmm rupanya resolusi itu merupakan serangkaian upaya sistematis ya :)

Resolusi tidak sekedar menuliskan harapan, melainkan serentetan cara bagaimana kita bisa memecahkan masalah. Misal, di tahun 2015, resolusinya adalah lulus kuliah. Maka kita harus mengevaluasi langkah-langkah apa yang telah kita buat di tahun sebelumnya yang sekiranya bisa menghambat kelulusan kita. Resolusi, tanpa evaluasi itu bagaikan menuliskan harapan di atas air. Percuma. Resolusi butuh langkah kongrit. 




Semoga di tahun 2015, kita bisa menghasilkan resolusi yang tepat untuk menjadikan hidup ini lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah..

Dibalik Cerita Rumah Baca Violette


Idenya sederhana. Hanya ingin 'menyelamatkan" anak sulungnya dari pergaulan di luar rumah. Maklum, memiliki anak yang menjelang remaja, memang musti lihai menjaga. Seperti bermain layangan, harus punya perasaan dan intuisi yang bagus : kapan harus menarik dan mengulur. Lalai sedikit saja, bisa-bisa layangannya putus dihantam layangan lain, nansrang di kabel, atau paling banter nyangkut di pohon.

Sebelumnya Bunda Hapsah, tidak begitu merisaukan anak sulungnya. Ia berfikir, menjaga anak lelaki, tidak begitu repot dibanding anak perempuan. Tetapi melihat pergaulan anak sekarang yang super "kreatif", ia tak bisa  mempercayainya lagi.

Ceritanya Fauzan, diterima masuk STT Telkom. Tahun ini memasuki tahun kedua. Melihat gaya belajarnya yang berbeda dari sebelumnya, timbul rasa curiga. Pulang sore, kemudian masih "tak betah" di rumah. Ketika ditanya, Fauzan mengaku, ia harus mengerjakan berbagai tugas sekolah bersama teman-temannya. Kondisi ini coba dipahami bunda Hapsah dan suaminya. Lama kelamaan, jadi timbul pertanyaan juga. Kok tugasnya hampir setiap hari. Bahkan hari libur pun, Fauzan jarang di rumah. Setelah diteliti, memang benar, Fauzan kerap disibuki tugas membuat makalah.

Pak Ucup, suami bunda Hapsah sepulang kerja masih harus menukang demi kelarnya impian ruang belajar buat Fauzan
Bunda Hapsah dengan sabar terus memantau dan mengajak Fauzan berdiskusi, apa tidak bisa tugas sekolah dikerjakan di rumah. Hmm..akhirnya tercetuslah keinginan Fauzan. Ia merasa tak betah di rumah. Tidak nyaman belajar di rumahnya. Ia membutuhkan ruang nyaman untuk berfikir dan mengkaji lebih dalam tugas-tugas sekolahnya. 

Maklum, keadaan rumah tipe 21/60 itu memang masih terbilang "bangunan dasar". Hampir 10 tahun menempati, bunda hapsah belum total merenovasi. Ya..namanya bangunan rumah sederhana, bahan bangunan yang dipakai kualitasnya biasa, sehingga tak tahan dimakan waktu. Atap rumah juga rajin bocor. Keramik lantai sudah tak terpasang sempurna. Hmm..waktu aku berkunjung ke rumahnya sekitar 3 tahun lalu, memang keadaannya begitu sederhana. 

Silaturahmi kami di Rumah Baca Violette

Suami bunda Hapsah bekerja sebagai supir. Sementara Bunda Hapsah sendiri menjadi guru TK honorer. Dan, sudah hampir setahun berhenti. Kini ia dipercaya menjadi tenaga admininistrasi setengah hari di TK tersebut. Hari-harinya ia optimalkan untuk mendidik ala homeschooling untuk anak bungsunya yang berusia 3 tahun. 

Mereka keluarga sederhana yang begitu konsisten berpegang teguh pada nilai dan akhlak Islam. Ibadahnya selalu terjaga. Sang suami tegas menerapkan aturan shalat di mesjid bagi lelaki.Bersilaturahmi dengannya, membuat kita jadi ingat selalu kepada Allah. Kisah kehidupan mereka kerap menjadi inspirasiku untuk menata hidup yang lebih baik.

Bunda Hapsah adalah teman kecilku semasa di Jakarta. Alhamdulillah silaturahmi kami tidak terputus. Sempat kehilangan kontak setelah aku menikah. Dan, melalui facebook, kami dipertemukan. Rupanya, kami tinggal relatif tak berjauhan. Aku di Cileungsi, dia di Tambun.

Bunda Hapsah kerap bersilaturahmi ke rumah kami. Perjalanan Tambun-Cileungsi lumayan jauh. Tetapi, itu tak menjadi halangan bagi mereka. Malah, aku jadi malu sendiri, jarang main ke rumahnya, karena alasan faktor letak yang jauh. Padahal, mereka hanya naik motor ke rumahku. Pernah beberapa kali bawa mobil kantornya.

---

Bunda Hapsah dan suaminya menarik nafas panjang ketika anaknya menginginkan rumah nyaman untuk belajar. Tabungannya belumlah seberapa. Rasanya tak mungkin bisa merenovasi rumah. Suami meminta bantuan dari ibunya. Itu pun tidak seberapa. Bermodal nekat, demi mewujudkan keinginan anaknya, akhirnya mereka mencoba membenahi minimal menambal kebocoran, mengeramik lantai, dan mengeplur beranda rumahnya. 

Tapi naas, uang tak seberapa itu masih harus "tertipu"oleh ulah tukang bangunan. Kesal itu sudah pasti. Tetapi, meratapi dan terus mengedumel, tentu tak menjadi pahala dan berkah. Harus ada solusinya, diantaranya Muhammad Yusuf atau lebih dikenal dengan Mas Ucup, harus turun menukang juga. Sepulang kerja, ia menyempatkan diri membereskan yang tersisa dari tukang bangunan. Letih tak lagi dirasa. Padahal jarak kantor ke rumahnya, cukup lumayan. Lippo Cikarang-Tambun dengan kendaraan bermotor.

Alhamdulillah, pada hari libur, teman-teman Mas Yusuf berkenan membantu menukang. Alhasil, dalam tempo beberapa minggu, jadilah ruang belajar yang nyaman untuk Fauzan. Namun, dalam perjalanannya, ruang belajar Fauzan ini menjelma menjadi Rumah Baca.

Bisa memiliki Rumah Baca sebenarnya merupakan salah satu impian terpendam Bunda Hapsah. Sejak menjadi pengajar TK Fedus di sekitar rumahnya, dirinya terinspirasi untuk membuat rumah baca. Tetapi karena faktor materi, mimpi itu kembali diurungkan. 

Dalam kesehariannya, Bunda Hapsah kerap memperhatikan pola tingkah anak-anak bermain.  Bukan suatu kebetulan, rumahnya memang berdekatan dengan sekolah dasar. Tak jarang,  ia mendengar langsung, anak-anak kerap berkata kotor diantara teman sepergaulannya. Sholatnya juga tidak terjaga. Main tak kenal berhenti. Miris...seperti itulah gambaran Bunda Hapsah pernah bercerita kepadaku.

Keinginan Fauzan memiliki ruang belajar yang nyaman, bisa jadi adalah jalan Tuhan untuk merealisasikan mimpi Bunda Hapsah. Bismillah, Allah memudahkan jalannya. 

Mulailah bunda Hapsah mengumpulkan buku-buku peninggalan Fauzan dan Fadel, anaknya. Selain itu, ia mengajak teman-temannya untuk menjadi donatur buku yang sudah tidak terpakai di rumah.  Alhamdulillah, dari sejumlah donatur, terkumpulah sedikit demi sedikit  buku-buku pelajaran dan buku cerita. Awal Desember 2014, Rumah Baca Violette "resmi" dibuka.

Tak disangka, dalam tempo singkat, Rumah Baca Violette mendapatkan respon bagus dari anak-anak. Mereka mulai banyak berkunjung. Bunda Hapsah juga aktif mengajak mereka.

Begitu memasuki Zuhur, anak-anak yang masih bermain, diminta untuk shalat berjamaah di salah satu sudut ruangannya. Aktivitas "bermain" mereka pun tak luput dari pantauan Bunda Hapsah. Ia tak segan menegur pabila ada kata-kata yang tak pantas keluar dari mereka. Bagi anak yang rajin, dan telah berbuat baik atau berhasil menjawab pertanyaan, ia memberikan kejutan hadiah cemilan. Asyik dong !



Dari kegiatan mengelola Rumah Baca ini, timbulah ide bisnis  membuat cemilan sehat buat anak-anak. Daripada mereka jajan di luar yang notabene kebersihannya kurang terjamin. Bunda Hapsah pun membuat aneka cemilan yang disukai anak-anak, seperti sosis, tahu bulat. Tiap pekan dijajakan siomay dan donat buatan nenek Fauzan (ibunda Hapsah). Bahkan Fauzan  jadi semangat berwirausaha. Dia mempromosikan es kream khusus untuk hajatan. Hampir tiap akhir pekan Fauzan melayani pembelian es kream di berbagai acara pernikahan dan sunatan.


Wahhh, jadi seru nih Rumah Baca Violette. Bunda Hapsah mempunyai kegiatan baru ; berjualan makanan dan  Fauzan tambah giat belajar. 

Oya, bagi yang memiliki buku-buku tidak terpakai, donasikan yuk ke Rumah Baca Violette ! Koleksinya masih sedikit nih. Daripada buku-buku termakan rayap, lebih baik didonasikan. 
Lokasi  Rumah Baca Violette di Perumahan Villa Bekasi Indah Blok L1 No. 12, Tambun.